
Malam hari
" Mau kemana kamu"
Tanya Jason dengan suara tegas, melihat Zeline yang berjalan turun dari tangga.
Dengan penampilan yang rapi, Jason bisa menebak jika putri bungsunya itu pasti ingin keluar rumah lagi.
Bertanya walaupun ia sudah tahu jawabnya.
" Zeline apa kamu tidak dengar papa sedang bertanya padamu" ulangnya
Saat melihat Zeline malah melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan darinya.
Suasana menjadi hening seketika di mana Safira dan Sintia yang sibuk memilih desain untuk pernikahan pun terhenti, saat mendengar suara Jason yang meninggi.
" Jalan-jalan" jawabnya singkat tanpa membalik tubuh
" Kamu tidak boleh keluar, kembali kekamar mu sekarang" balas Jason dengan suara keras
Emosi pria paruh baya itu berhasil tersulut karena sikap kurang ajar yang zeline tunjukkan, menjawabnya tanpa menatap kearahnya.
Zeline mengepakkan tangannya menahan amarah yang saat ini sedang menguasai dirinya
" ZELINE Ap...." Bentak Jason
" Papa tidak berhak untuk mengatur ku, baik itu tentang apa yang aku lakukan atau apa yang aku inginkan" sarkasnya
Memotong ucapan Jason
Seketika ruangan itu berubah mencekam di mana ayah dan anak itu sudah saling di kuasai emosi.
" Apa seperti ini sikap kamu saat bicara dengan orang tua zeline, apa ini yang kamu pelajari selama sekolah sampai kamu kuliah hah" bentaknya menggelegar
" Mas suda ..."
Sintia yang ingin menengahi terdiam saat melihat Jason mengangkat tangan kanannya pertanda untuk dirinya tidak ikut campur dalam hal ini.
" Selama ini papa terlalu mendiamkan semua sikap dan perilaku mu, sehingga kamu menjadi seperti ini! Papa masih memaklumi sikap kamu saat kamu masih remaja karena papa tahu saat itu kamu masih remaja labil yang sedang dalam masa pubertas! Tapi ternyata dugaan papa salah? semakin kamu beranjak dewasa justru sikap dan perilaku mu semakin tidak terkendali dan terkontrol bahkan kamu sudah berani melawan saat di nasehati" ucap Jason dengan suara tegas menatap kecewa pada Putrinya itu
Safira menatap sedih kearah ayah dan adiknya, hari yang seharusnya bahagia karena kabar pernikahannya justru menjadi bumerang karena perselisihan antara ayah dan sang adik.
Zeline tetap diam menatap wajah ayahnya, tidak ada raut apapun di wajahnya datar hanya itu.
" Papa tidak mengerti apa yang terjadi padamu, kamu tidak pernah mengatakannya! Kamu tiba-tiba membenci ibumu yang selama ini menya......"
" Dia bukan ibuku" selah zeline
" Lihat, kamu yang dulu tidak akan pernah memotong ucapan papa, tapi sekarang! Apa ini akibat dari pergaulan mu di luar sana, bergaul dengan orang-orang tidak jelas itu"
__ADS_1
Zeline mengetatkan rahangnya, tidak terima sang ayah menjelekkan kedua sahabat baiknya
" Mereka bukan orang yang seperti papa katakan, mereka lebih berarti dalam hidup zelin lebih dari apapun" tekannya
" Mulai hari ini papa melarang mu bertemu dengan mereka, apapun pendapat mu tentang mereka bagi papa tetap saja mereka yang telah memberikan pengaruh tidak baik untuk mu! Apa kamu meng...."
" Zelin bisa mempertimbangkan apapun yang papa minta tapi untuk kali ini Zelin minta maaf, karena Zelin tidak bisa mengabulkan permintaan papa" setelah mengatakan kalimat terakhirnya ia berjalan cepat keluar dari ruangan itu
Meninggalkan sang ayah yang making dirundung emosi dengan penolakan yang ia berikanlah, ia bisa mendengar suara menggelegar ayahnya yang memintanya berhenti tapi zeline tidak memperdulikannya.
" Zeline berhenti kamu...." Ucap Jason dengan suara keras.
Yang bisa di dengar oleh semua orang yang ada di dalam mansion itu.
***
" Zelin mana sih, loh benar udah kasih tahu dia kan" tanya Karin pada Sera.
Mereka sudah satu jam menunggu di tempat biasa tapi zeline belum juga menampakkan batang hidungnya.
Mereka janjian akan menghabiskan waktu malam ini dengan senang-senang, mengingat akhir akhir ini mereka di buat pusing dengan penyusunan skripsi yang harus mereka selesaikan agar bisa cepat-cepat menyelesaikan kuliah.
Lebih tepatnya yang di buat pusing adalah Karin dan Sera mengingat otak mereka yang memang pas-pasan dengan IQ rata-rata berbeda dengan zeline sahabat mereka yang memiliki otak encer dengan IQ tertinggi.
Sehingga saat pertama kali menyerahkan skripsinya dosen pembimbing langsung menerimanya, puas dengan hasil yang di buat oleh zeline
Berbeda dengan dirinya dan Sera
satu bulan kerja keras mereka membuahkan hasil skripsi yang berapa kali di tolak oleh dosen pembimbing masing-masing akhirnya diterima.
Hal itu tentu di sambut bahagia oleh Karin dan Sera, masa tersulit dalam hidup Meraka telah terlewati dengan sepakat keduanya ingin merayakan keberhasilan itu! Tidak lupa mengajak Zeline sahabat mereka yang juga turut ikut campur dalam penyelesaian skripsi mereka sehingga skripsi mereka bisa lolos.
" Coba loh telpon lagi, siapa tahu tuh anak lupa lagi" perintahnya
" Iya-iya sabar Napa" gerutunya
Sahabatnya yang satu ini memang suka memerintah, seperti bos saja dia juga kan punya hp kenapa tidak menelepon sendiri gerutunya
Baru saja dirinya ingin menelpon, orang yang sedari tadi di tunggu sudah lebih dulu menghubunginya.
" Kenapa?" Tanyanya
" Zelin telpon" balasnya
" Ya udah, buruan angkat" ucapnya
Sera dengan segera menjawab panggilan dari zeline.
" Loh dimana zel?" Tanyanya dengan suara keras saat menjawab panggilan dari zeline" loh tahu kita udah nungguin loh satu jam lebih, tapi loh masih. Belum nongol juga! Loh nyangkut di mana" cerocosnya panjang lebar.
__ADS_1
Tidak memberi kesempatan kepada orang di sebrang sana untuk bicara
Mengomeli zeline karena membuat mereka menunggu lama, ia mengeluarkan semua unek-uneknya melalui sambungan telpon,Sampai Sura seseorang di sebrang sana menginstruksi berhasil membuat mulut mercon Sera berhenti berkicau bagai burung beo.
Ia kembali melihat nama kontak yang menelponnya
zeline
Nomor itu memang milik sahabatnya, tapi mengapa yang menjawabnya bukan zeline tapi orang lain
" Ada apa?" Karin yang penasaran pun bertanya
Sera menatap kearah Karin, dengan ponsel yang masih berada di telinganya! Mendengarkan apa yang akan di katakan selanjutnya oleh orang tersebut.
" Ra" Karin menggoyang lengan Sera berusaha menyadarkan wanita itu yang terlihat linglung" loh kenapa, zeline ada apa dengannya" Tanaya beruntun tidak tenang
Ia merasakan firasat buruk akan sang sahabat
" Zeline di...a" saking terkejutnya mendengar kabar itu Sera tidak sanggup menyampaikannya
Karin mengangguk " ia Zelin kenapa, loh tarik nafas dulu! Baru ceritakan" ucapnya menenangkan
Sera mengikuti ucapan Karin setelah merasa tenang, ia tidak dapat membendung air matanya yang mengalir begitu saja.
" Zelin Rin, dia kecelakaan"
Deg
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung