Wrong Revenge

Wrong Revenge
Eps 2


__ADS_3

" saya adalah ayahnya zeline " ucap pria itu dengan satu tarikan nafas


Membuat Rosa tiba-tiba jadi linglung


Berbeda dengan zeline yang terkejut mendengar pernyataan pria dewasa di depannya, benarkah apa yang dikatakan pria itu.


" Saya butuh buktinya, saya tidak akan membiarkan anda membawa Zelin begitu saja" balasnya setelah berhasil menguasai dirinya


Pria itu yang tidak ingin membuat keributan di depan makan wanita yang pernah mengisi relung hatinya itu pun, memberikan bukti kepada wanita itu berupa foto dirinya dan Celine dan terkahir hasil DNA-nya dengan zeline putri kecilnya.


Rosa yang melihat itu menutup mulutnya tidak percaya, benarkah.


Jika ia maka hal itu sungguh membuat ia lega karena itu berarti zeline tidak akan hidup sebatang kara! Karena ada pria itu yang akan menjaganya dan melindunginya dari kejamnya dunia ini.


" Apa sekarang kamu sudah percaya" ucapnya


" Hm, maaf atas sikap lancang saya" balasnya meringis


Malu karena dengan sengaja menuduh dan mencurigai pria itu.


" Tidak masalah, saya mengerti kekhawatiran anda" timpalnya


" Hm sekali lagi maaf tuan..." Gantung nya karena memang ia tidak mengetahui nama pria itu


" Panggil James saja "


Itulah awal dari pertemuan dirinya dengan sang ayah, zeline yang masih kecil mau tidak mau harus ikut bersama James yang merupakan ayah biologisnya karena ibunya telah meninggal.


" Hufh" menghela nafas berat


Ketika kembali mengingat kenangan yang lalu.


Zeline segera bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju bathroom untuk membersihkan diri sebelum beraktivitas.


Beberapa menit ia sudah selesai mandi, dengan dibalut handuk yang menutupi sebatas dada sampai paha, ia berjalan menuju ruang ganti baju yang berada di sebelah kiri kamarnya.


Pilihannya jatuh pada dress sebatas paha dengan warna cream yang pass membalut tubuhnya yang indah, Zelin beralih kemeja riasnya ia memoles sedikit bedak tipis diwajahnya dan juga lipstik pink di bibinya.


Menambah kesan menawan, wajahnya yang memang sudah cantik tambah cantik setelah memakai sedikit riasan.


" Ok selesai" ucapnya pada diri sendiri setelah memastikan penampilannya sudah ok.


Ia mengambil tas ransel yang sudah ia siapkan sebelum ke kamar mandi, berjalan keluar kamar menuju ke bawah.


Karena kamarnya terletak di lantai atas.


Tak tak tak


Bunyi langkah kaki yang menuruni tangga mengalihkan atensi semua orang yang ada di meja makan.


" Pagi sayang" sapa Sintia ibunya


Lebih tepatnya ibu tirinya


Zeline tidak menjawab Sapan itu ia terus berjalan menuju kursi tempat duduknya.


Sintia hanya bisa menghela nafas berat

__ADS_1


" Apa seperti ini sikap kamu sama orang yang lebih tua zel" James angkat suara


Ia sudah mencoba bersabar menghadapi sikap zeline selama ini,tapi tidak untuk kali ini gadis itu sudah dewasa bukan lagi anak kecil atau gadis remaja yang masih labil.


Dia sudah kuliah dan seharusnya mengerti akan sopan santun.


" Zeline Pradipta, ayah bicara padamu" suara James kian meninggi


Saat tidak mendapati balasan apapun dari zeline.


" Mas..." Sintia mencoba menenangkan


Tapi terhenti karena..


Prang


Suara sendok makan yang di letakkan secara kasar, menghentikan ucapan Sintia.


" Anda tidak perlu membela saya, karena saya tidak butuh itu" kalimat itu zeline tujukan pada Sintia yang berusaha menenangkan ayahnya.


Bagi Zeline ia sudah biasa mendapatkan amarah ayahnya, bukan hanya kata-kata tapi juga pukulan tapi zeline tidak pernah mempermasalahkannya.


Tapi jika ibu tirinya itu mulai ikut campur maka di situlah zeline tidak terima.


Ia muak dengan sikap wanita paruh baya itu, zeline benci sikap lembut yang selama ini di berikan oleh Sintia karena baginya itu semua hanyalah kedok wanita itu untuk menutupi kebusukannya.


" Jaga ucapan kamu zeline, dia adalah ibumu" bentak James


Bangkit dari duduknya


Suasana meja makan yang seharusnya tenang menjadi mencekam karena perdebatan ayah dan anak itu.


" Dia bukan ibuku! Ibuku sudah mati" sarkas zeline tidak kalah tinggi


Plak


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus miliknya dari sang ayah.


Deg jantung zeline terasa berdetak kencang


James menatap tangan yang tadi ia gunakan menampar putrinya, tidak terbesit dalam pikirannya melayang kan tangan itu di wajah Zelin tapi karena emosi ia tidak menyadari telah melakukannya.


Sintia menatap terkejut hal itu.


Sementara para pelayan yang ada di sana menunduk kepala mereka tidak berani menatap kejadian itu.


" Sayang, ayah tidak....."


Tanpa mendengarkan penjelasan sang ayah, zeline berlari keluar dari ruangan itu menuju pintu keluar.


James hanya bisa diam mematung, menyesali perbuatannya.


Ia juga tidak tahu mengapa setiap kali berhadapan dengan zeline saat emosi ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


" Sayang, aku tidak sengaja melakukannya" ucapnya menjelaskan pada sang istri


Sintia yang mendengar itu hanya bisa menatap kecewa pada James, tidak seharusnya suaminya itu lepas kendali.

__ADS_1


Ke adaan ini akan memperburuk hubungan ia dan zeline.


Sintia memilih berlalu dari sana meninggalkan James yang berteriak memanggilnya, berusaha menjelaskan tapi tidak di dengar oleh sang istri.


***


Sintia masuk ke dalam kamarnya


Ia menutup pintu itu dan menguncinya dari luar, ia butuh waktu sendiri dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Wanita paruh baya itu berjalan menuju tempat tidurnya, mendudukkan diri di kasur empuk itu.


Ia mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, mengapa semua ini bisa terjadi di keluarganya! Awalnya saat pertama kali suaminya membawa pulang zeline dan memperkenalkan kepadanya dengan lapang dada ia membuka tangan lebar menyambut tubuh kecil itu dalam dekapannya.


Walaupun ada rasa kecewa yang teramat pada suaminya karena telah mengkhianatinya sampai punya anak dengan wanita lain tapi Sintia mencoba menerima kenyataan pahit itu.


Semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak akan bisa berubah.


Jika kalian bertanya mengapa ia tidak menceraikan suaminya setelah mengetahui kenyataan itu, maka jawabnya karena Sintia tidak ingin membuat putrinya kehilangan pigur seorang ayah! Yah saat itu Sintia juga sudah melahirkan anak pertamanya yang bernama Safira Pradipta yang usianya lebih tua dua tahun dari zeline.


Bukan hal mudah membesarkan seorang anak sendirian, di mana akan banyak gosip miring yang harus di terima putrinya bila ia meminta cerai sehingga Sintia memilih mengorbankan perasaannya demi sang buah hati.


Di samping itu ia juga sudah jatuh cinta pada gadis kecil bernama zeline jovanka, gadis malang yang tidak tahu apapun itu berhasil mengobati sedikit luka di hatinya.


Sintia pun sudah menganggap zeline seperti putri kandungnya sendiri, karena itu kebahagiaan mulai kembali mewarnai kehidupan mereka! Safira putrinya pun menerima keberadaan zeline sebagai adiknya.


Membuat kebahagiaan keluarga Pradipta semakin lengkap, tapi ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama, tepatnya saat zeline berumur 15 tahun gadis itu mulai menunjukkan perubahan besar.


Dia yang dulunya, penurut dan ceria berubah menjadi anak pembangkang dan dingin terhadap keluarganya! Kebencian dapat Sintia rasakan dari putri tirinya itu, tatapan tajamnya yang menatap dirinya seakan pisau tajam yang bisa menebas musuhnya kapan saja.


Sintia tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya itu, saat di tanya pun bukannya menjawab zeline malah akan mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakiti hati.


Sehingga Sintia memutuskan berpura-pura tidak terjadi apapun dengan terus mengajak bicara zeline berharap putrinya itu kembali seperti semula.


Tapi harapannya itu ternyata salah, semakin putrinya dewasa kebenciannya pun semakin besar dan Sintia takut hal itu akan mencelakai putrinya zeline.


" Huf" menghela nafas berat " mama harap semua itu hanya firasat mama saja, mama tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu" gumamnya menatap foto di mana ada dirinya dan kedua putrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2