
" ZELINE"
zeline kenal betul siapa pemilik suara seperti toa itu, siapa lagi kalau bukan Serania Simperler.
Sahabatnya yang sangat ia hindari malam ini, justru muncul di depannya tanpa di duga.
Dan di sinilah mereka duduk di ruang tamu rumah Karin, Zelin dengan wajah dingin diam seribu bahasa mendengar suara Sera yang sedari tadi menceramahi dirinya.
Bukan karena sadar tapi ia pusing mendengar suara Sera yang sudah seperti kicauan burung beo yang tidak ada habisnya.
" Loh, bisa diam nggak sih! Berisik tau nggak" kesalnya
Lagian kenapa juga dari sekian banyaknya jalan, kenapa Sera harus berada dijalan yang di lalui zeline jadinya gadis cerewet itu melihatnya ugal-ugalan dan mengejarnya hingga kerumah Karin.
Waktu ketenangannya tidak akan pernah ada selama ada gadis cerewet ini.
" Berisik kata loh,gue udah ngomong panjang lebar itu juga buat kebaikan loh zel" semprotnya
Karin hanya diam menyaksikan siaran langsung di depannya itu
" Yah-yah gue udah denger, jadi mending loh diam! Pusing gue denger suara loh yang kaya burung beo " kesalnya
" Enak aja loh nyamain suara **** gue dengan burung beo, dasar teman laknat " sewotnya tidak terima.
" Stop, Jika kalian datang kesini cuman buat berantem! Mending kalian cari tempat lain gue mau istirahat " ucapnya menyela dengan ancaman
Membuat Sera langsung diam seketika, berbeda dengan zeline yang cuek saja mendengar ancaman Karin.
" Jadi apa yang membuat loh berdua, datang kerumah gue" tanya setelah suasana mulai tenang
" Gue mau nginep" singkatnya
"Nginep di sini maksud loh" sahutnya memperjelas yang hanya di jawab deheman oleh Zelin.
Karin tidak bertanya lagi, ia sudah tahu betul watak Zelin! Jika sahabatnya itu ingin menginap dirumahnya atau bahkan di rumah Sera itu berarti dia lagi punya masalah.
Jadi baik Karin ataupun Sera tidak akan bertanya lebih lanjut lagi, menunggu biar Zelin sendiri yang menjelaskan kepada mereka.
" Terus loh"pertanyaan yang di tujukan pada Sera
" Gue mau ngajak loh keluar, sekalian kita jemput Zelin tapi karena dia juga udah ada disini sekalian aja kita langsung cus" ucapnya panjang lebar
" Kemana" sahut Zelin.
" Club'" ucapnya semangat
__ADS_1
Tanpa mengucapkan apapun Zelin langsung bangkit dari duduknya menandakan bahwa gadis itu menyetujui ajakan Sera, Karin yang melihat itu hanya bisa menghela nafas berat ia tidak punya pilihan Selain ikut dengan kedua temannya walaupun ia merasa lelah saat ini.
Tapi Karin tidak akan membiarkan kedua ledis itu pergi berdua saja bagaimana pun diluar itu berbahaya. Pikirnya
Walaupun bukan hal yang pertama bagi mereka ketempat itu, setiap ada kesempatan atau masalah mereka pasti melarikan diri ke club' untuk menenangkan diri dengan meminum alkohol sampai mabuk agar bisa melupakan masalah yang sedang di hadapi walau hanya sejenak saja.
Hanya sebatas itu, karena ketiganya juga tahu batas bergaul! Baik zelin,Sera atau pun Karin tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pria yang ada di sana mereka tetap menjaga diri agar tidak jatuh pada pergaulan bebas yang bisa membuat mereka menyesal di kemudian hari.
Di tambah club' yang mereka datangi adalah milik sepupu Sera jadi mereka aman-aman saja karena ada yang menjaga mereka saat mabuk.
***
" Bagaimana sayang" tanya James
Yang di jawab gelengan kepala oleh Sintia
" Tidak di angkat pa" balasnya
" Anak itu" rahang James mengeras pertanda ia sedang marah.
" Apa Zelin biasa seperti ini! Tidak pulang padahal hari sudah malam" Safira angkat bicara
Saat ini ketiganya duduk di ruang tamu setelah makan malam, tadinya mereka masih menunggu Zelin sekalian makan malam bersama tapi yang ditunggu tidak menampakkan hidupnya sama sekali sehingga mereka makan malam lebih dulu.
Dan menunggu Zelin di ruang keluarga sekalian mengobrol, tapi sampai jam menunjuk angka 11 malam Zelin belum juga pulang Sintia sudah beberapa kali menelponnya tapi hanya suara operator yang menjawab panggilannya.
Ia tahu hal itu karena Zelin memang sering tidak pulang, jika ditanya ia hanya menjawab singkat yaitu menginap di rumah teman.
" Besok biar papa yang bicara padanya, anak itu semakin hari semakin berulah"
Setelah mengatakan itu James bejalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas, Sintia hanya bisa menghela nafas ia menatap putri pertamanya.
" Istirahatlah, kamu pasti lelah seharian bersama mama di taman" ucapannya lembut mengusap rambut panjang milik Safira.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya tapi ia tidak menanyakannya, karena melihat gurat lelah di wajah ibunya sehingga ia memutuskan mengiyakan ucapan Sintia
" Good night ma" ucapnya berlalu dari sana menuju kamarnya yang juga berada di lantai atas
Dekat dengan kamar sang adik, sedang kamar ibu dan ayahnya berada di sebelah kamarnya, posisinya Safira berada di tengah-tengah adik dan orangtuanya.
Sedangkan di lantai bawah berisi kamar tamu, ruang makan dan ruang keluarga!
Tempat untuk para pekerja ada di belakang rumah milik keluarga Pradipta yaitu di paviliun, mereka akan langsung istirahat setelah keluarga Pradipta selesai makan malam
***
__ADS_1
Sementara itu orang yang mereka tunggu-tunggu saat ini sedang berada di club' malam terkenal di Jakarta.
Di club' itu hanya di isi oleh orang -orang dengan Kanton tebal bagaimana pun sekali minum bisa mengeluarkan uang jutaan rupiah, tapi hal itu juga setimpal dengan pelayanan yang di dapatkan.
" Zel udah nanti loh bisa mabuk" Karin menghalangi zeline yang ingin kembali menenggak wine di gelasnya
Ini sudah yang ke lima gelas ia minum, padahal Karin tahu kadar minum Zelin hanya dua gelas saja jika tidak ia pasti akan mabuk berat.
Berbeda dengan dirinya yang memang buruk dalam hal minum karena jika Karin minum sedikit saja ia pasti akan langsung mabuk.
Jadi Karin tidak ikut minum ia sudah kapok bangun di pagi hari dengan kepala yang sangat sakit dan berat ia tidak ingin merasakannya lagi.
Sedangkan kedua temannya masih bisa dikatakan baik karena Sera sanggup minum sebanyak lima gelas sedangkan Zelin dua gelas setidaknya kadar minum temannya tidak seburuk dirinya.
"Balikin minuman gue Rin, gue masih mau minum" ucapannya berusaha meraih gelas miliknya di tangan Karin
Jangan tanya di mana Sera Karena gadis itu sudah turun kelantai dansa dan ikut berjoget dengan banyak orang, Karin tidak mengkhawatirkannya karena ada Kristal sepupu Sera yang menjaganya.
" Tidak loh udah mabuk, sekarang kita harus balik" balasnya
" Gue nggak mabuk, gue cuman pusing dikit" elaknya
Karin memutar bola matanya malas, tidak mabuk katanya lihat bagaimana kelakuan Zelin sekarang yang katanya tidak mabuk tapi sudah baring di sofa panjang itu sembari memeluk botol wine kosong dan mengajaknya mengobrol.
Menganggap botol itu adalah dirinya, Karin benar-benar kesal tapi untungnya zeline sedang mabuk jadi ia masih bisa mentolerir hal itu.
" Loh tunggu di sini, gue mau panggil Sera dulu" ucapnya sarat akan perintah
Ia pun pergi dari sana saat melihat Zelin mengangguk kepalanya, padahal Karin tahu bahwa orang mabuk tidak akan pernah mengerti apa yang kita katakan.
Ia hanya berharap kali ini gadis itu tidak berulah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung