Young Master

Young Master
Husband's Pampering Practice


__ADS_3

Chenle tidak menemukan Yuhi di kampus selama 2 hari terakhir. Saat dia mengirim pesan untuk Yuhi, gadis itu bilang sedang mengambil cuti kuliah untuk persiapan pernikahan mereka.


Chenle juga tidak berniat mendatangi Yuhi di rumahnya namun mama nya memaksa Chenle untuk membawakan teh herbal untuk gadis itu.


Chenle beruntung karena Kris tidak ada di rumah namun dia tidak seberuntung itu ketika melihat Yuta berdiri dengan wajah garangnya di depan pintu utama. Lelaki itu tampak berkeringat dengan sebilah samurai terbuka di tangannya. Bisa di pastikan Yuta baru saja berlatih main basket.


"Halo kakak ipar." Sapa Chenle . Dia tidak sungkan untuk tidak memakai bahasa formal pada Yuta.


"Mau apa kesini?" Tanya Yuta galak.


"Bertemu istriku lah.." Chenle tersenyum sombong.


"Masih calon. Belum jadi istri. " Sergah Yuta.


"Pulang sana.."


"Iri aja kakak ipar. Pasti jomblo ya.." ledek Chenle . Dengan wajah galak Yuta yang seperti pimpinan geng yakuza nyali Chenle bisa di bilang sangat besar.


"Banyak omong..." Yuta menarik samurainya namun Chenle cepat-cepat memotong.


"Eiyyy.. sabar kakak ipar. Aku kesini membawa bingkisan dari ibu suri." Chenle menaik turunkan alisnya.


"Nah.. ini brownies buatan mama khusus untukmu. Dia juga bilang kalau kau kesepian kau boleh datang kerumah untuk makan bersama kami."


Yuta terdiam setelah menerima bento box berisi brownies dari mamanya Chenle . Entah kenapa dia merasa hatinya menghangat.


"Hey Chenle . Apa kau sungguh-sungguh menyukai adikku? Kau tidak menikahinya karena kasihan kan?" Yuta bertanya begitu karena dia yakin Yuhi memberitau Chenle tentang keluarganya.


Dan Yuta juga yakin kalau adiknya lah yang memohon pada Chenle untuk menikahinya.


Wajah jenaka Chenle berubah serius. Dengan tatapan tajam yang menatap Yuta.


"Kalau aku menikahinya karena kasihan memangnya kenapa? "


Tangan Yuta mengepal tapi Chenle sama sekali tidak gentar.


"Kau tidak bisa menjanjikan kebebasan pada adikmu dan hanya aku yang bisa." Chenle maju selangkah dan berhenti ketika pundaknya bersinggungan dengan pundak Yuta.

__ADS_1


"Kau tidak sedang dalam posisi bisa menolakku tuan Naka. Tapi sebagai gantinya aku bisa menjanjikanmu satu hal, aku tidak akan menyakiti Yuhi seperti yang bedebah itu lakukan."


****************


Seorang maid mengatakan kalau Yuhi sedang belajar. Padahal jelas-jelas Yuhi bilang kalau dia sedang cuti kuliah.


Maid itu akhirnya mengantarkan Chenle ke ruang belajar Yuhi yang ada di sebelah taman belakang. Dan benar saja Yuhi ada di sana bersama seorang gurunya. Mereka duduk di lantai kayu dengan meja kecil di antara mereka.


Chenle sungguh tidak mengerti dengan kata 'belajar' yang maid Yuhi maksud sebelumnya karena lelaki itu tidak melihat buku apapun di atas meja, justru dia melihat sebuah dildo silicone yang sedang di genggam Yuhi.


Gadis itu tampak terkejut dengan kedatangan Chenle dan refleks menyembunyikan dildo itu di bawah bantal duduknya.


"Che-Chenle ..." dia juga tergagap.


Seorang maid dan guru Yuhi menunduk sopan pada Chenle lalu berjalan keluar untuk memberi kedua sejoli itu privasi.


"Maid bilang kau sedang belajar." Chenle memancing. Dia tidak bisa menahan seringaiannya.


"Memang." Jawab Yuhi agak gugup. Gadis itu semakin gelisah ketika Chenle duduk di hadapannya.


"Belajar apa?"


"Benarkah? Di keluargaku tidak ada yang seperti itu."


"Di keluarga kami itu wajib untuk gadis jepang yang akan menikah. "


Chenle semakin tertarik dengan obrolan ini. Dan melihat wajah panik Yuhi yang sangat kentara, Itu menjadi hiburan lain untuknya.


"Menarik sekali. Coba beritau aku.."


Yuhi melirik Chenle gugup. Bahkan buliran keringat dingin meluncur bebas dari pelipisnya.


"Ti-tidak ada yang menarik. Hanya pelajaran dasar tentang merawat suami dan semacamnya..."


"Memanjakan suami???" Pancing Chenle .


"Iya..." jawab Yuhi tanpa sengaja.

__ADS_1


'Sial, laki-laki cabul ini pasti berpikir macam-macam.' Batin Yuhi.


"Tidak mau praktek langsung saja? Belajar teori saja tidak seru loh .."


" Chenle Zhong ... " Yuhi memukul lengan Chenle cukup keras dan membuat lelaki itu meringis.


"Auuh.. galak sekali."


"Mau apa kesini???" Yuhi terlihat kesal sekarang.


"Mamaku menyuruhku membawa teh herbal untukmu. Tadi sudah kutitipkan pada maid. "


"Ooh.."  Jawab Yuhi. Dia diam karena tidak tau mau bicara apa lagi.


"Mm.. apa luka di punggungmu sudah sembuh? "


"kurasa bekasnya masih ada."


"Mamaku memilihkan gaun dengan punggung terbuka untukmu. Dan aku juga merahasiakan perihal lukamu darinya. Apa kau mau aku menyuruh mama memilih gaun yang lebih tertutup..??"


Yuhi terlihat berpikir sesaat. Raut wajah berpikirnya terlihat menggemaskan di mata Chenle .


"Tidak usah. Aku yakin mamamu sangat menyukai gaun itu, aku tidak mau membuatnya kecewa karena menolak pilihannya. "


"Lalu lukamu?"


Entah kenapa Yuhi melihat ekspresi Chenle yang seolah sedang khawatir padanya. Tapi Yuhi tidak mau salah mengira dan besar kepala.


"Aku akan merawat bekasnya sebaik mungkin jangan khawatir."  Yuhi menggeser duduknya karena kakinya yang sudah kesemutan. Tanpa sadar bantal duduk yang ia duduki ikut bergeser dan menampakkan benda yang tadi ia sembunyikan.


Seringaian nakal Chenle pun kembali terbit. Lelaki itu condong ke arah Yuhi dan mengambil benda elastis itu dengan cepat.


"Waaahh... sayangnya punyaku lebih besar. Kau seharusnya memakai dildo yang lebih besar lagi."


Yuhi melotot.


"Dasar laki-laki cabull... !!!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2