
Flashback ~
"Papi.. bolehkah Yuhi duduk di pangkuanmu?" Dua bola mata bulat itu berbinar menatap penuh harap pada laki-laki dewasa di hadapannya. Laki-laki yang bahkan menatapnya dengan bringas tanpa ada sedikitpun kasih sayang di dalamnya.
Bukan jawaban yang Yuhi kecil dapat melainkan sebuah mangkuk kayu yang melayang mengenai kepalanya.
"Anak pembawa sial sepertimu tidak pantas berada di pangkuanku, dasar menjijikkan!!" Teriak Kris.
"Pergi kau !!!"
Yuhi kecil menatap sedih pria yang berstatus sebagai ayah biologisnya itu. Gadis kecil itu juga menatap iri Yuta sang kakak yang bisa dengan bebas bemanja dengan sang ayah dan duduk di pangkuannya. Satu tangannya menyentuh pelipisnya yang memar ketika pengasuh menuntunnya kembali ke gudang yang telah di ubah menjadi kamarnya.
Flashback end~
Derasnya hujan sama sekali tidak mengganggu Yuhi, bahkan gadis itu tidak takut berdiri di luar balkon dengan kepala yang mendongak ke atas. Membiarkan rintikan hujan itu menyamarkan air matanya.
Dingin dari air hujan dan deru angin sama sekali tidak mengganggunya. Yuhi bahkan merasa seolah tubuhnya mati rasa. Dia tidak lagi merasakan dingin ataupun panas melainkan hanya rasa sakit di hatinya.
Satu tangannya terulur ke depan, menengadah setiap tetes air yang mengalir turun. Mengabaikan kilatan cahaya yang beriringan dengan gemuruh. Tanpa takut Yuhi bahkan menghadapi gemuruh di depan matanya.
Chenle yang baru masuk melihat Yuhi di balkon kamar dan dia tampak khawatir. Tubuh Yuhi basah kuyup. Kulit gadis itu bahkan sangat pucat. Chenle berjalan keluar balkon. Sama seperti Yuhi, dia juga tidak memperdulikan air hujan yang membasahi tubuhnya. Lelaki itu berdiri di belakang Yuhi dan memeluknya dari belakang tanpa berkata apapun.
"Apakah anak perempuan tidak pantas mendapatkan kasih sayang? "
Chenle tau Yuhi tidak mengutarakan kalimat tersebut sebagai pertanyaan. Jadi dia hanya akan berperan sebagai pendengar gadis itu saja sekarang.
"Aku tidak pernah tau kalau aku adalah anak yang tidak diinginkan, aku baru sadar itu setelah ibuku mati....." Yuhi menghela napas untuk menahan isakannya.
".... saat dimana kakakku makan di atas meja sementara aku hanya boleh makan di lantai seperti anjing, kakakku selalu mendapat pakaian baru sementara aku mendapat bekas pakaiannya yang usang. Kakakku selalu mendapat makan daging sementara aku hanya makan sayur sisa..." Yuhi sedikit berteriak, meluapkan semua kekecewaan yang selama ini dia pendam.
"Kak Yuta memiliki banyak kasih sayang dari papi sementara aku di anggap sebagai anak pembawa sial yang menjijikkan...
Mengapa dia memperlakukan aku dengan berbeda hanya karena aku anak perempuan?? Kenapaaa????"
Chenle memeluk Yuhi semankin erat. Air mata lelaki itu bahkan ikut menetes merasakan betapa sakitnya Yuhi saat itu.
"Zhong Chenle...." panggil Yuhi.
Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Chenle.
"Jika keluargamu hanya menyukai anak laki-laki, maaf mungkin aku akan memilih tidak memiliki anak selamanya. Aku..." Perkataan Yuhi terjeda oleh isakannya.
"Aku tidak mau anak perempuanku kelak memiliki nasib yang sama denganku."
Kedua tangan Chenle menangkup pipi Yuhi yang dingin. Dua iris matanya tampak teduh dan menatap dalam kedua mata Yuhi.
"Akan ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah padaku."
Tangan Chenle bergerak turun, merengkuh tubuh Yuhi yang rapuh. Gadis itu telah menerima banyak luka, baik itu di batinnya maupun di fisiknya. Dan itu membuat Chenle merasa sangat bersalah pada Yuhi. Chenle merasa gagal melindungi gadis itu dan menyembuhkan luka batinnya.
"Aku akan menyayangi anak kita dengan adil baik itu perempuan atau laki-laki. Aku tidak akan membiarkan mereka merasakan luka yang sama denganmu. Aku berjanji."
...****************...
Hujan sudah berhenti sejak tengah malam lalu. Menyisakan titik-titik air yang menetes dari dahan pohon palm di samping balkon.
Yuhi tidak demam setelah membiarkan tubuhnya di bawah hujan selama ber jam-jam. Terima kasih kepada tuan muda Zhong Chenle yang memeluknya di ranjang semalaman dan membuat Yuhi merasa hangat di tubuh dan hatinya.
__ADS_1
Lelaki itu masih tidur. Dan Yuhi senang bisa memperhatikan wajah tidurnya.
Bukankah dia beruntung??
Mendapatkan paket lengkap pria kaya, baik, lembut, dan tampan dalam satu tubuh bernama Zhong Chenle rasanya seperti mendapat Jackpot. Bahkan jika Chenle benar akan mengurungnya di menara seperti rapunzel rasanya Yuhi rela asalkan itu bersamanya.
Lelaki itu tidur dalam damai meski matahati telah meninggi. Mereka bahkan melewatkan jam sarapan pagi ini.
Chenle meletakkan kepalanya di atas dada Yuhi dan memeluk tubuhnya seperti guling, bahkan tangan lelaki itu tanpa sadar mengelus gumpalan kenyal yang menempel di dadanya.
Yuhi hanya diam saja dengan kelakuan suaminya. Sejak awal Yuhi sudah bertekad akan merelakan tubuhnya untuk Chenle sebagai bentuk balas budinya.
"Chenle... " Yuhi mengelus rambut Chenle dengan sayang dan membuat tidur Chenle semakin lelap.
Tunggu !!!
Dengan sayang....???
"Chenle.. sudah siang.." panggil Yuhi lagi. Chenle bergumam dan sedikit menggeliat. Tangannya yang tadi diam kini kembali *******-***** di area terlarang itu hingga membuat Yuhi menggeliat geli dan menahan pergerakannya.
"Jam berapa???" Tanyanya dengan suara parau.
"Jam 9."
Chenle membuka matanya perlahan tanpa mengubah posisi nyaman ini.
Ketika kesadaran perlahan kembali merasukinya, saat itulah Chenle sadar dimana letak tangannya.
Laki-laki itu terkejut dan langsung menarik tangannya menjauh, dia juga menyingkirkan kepalanya dari dada Yuhi.
"Maaf." Gumamnya.
Chenle duduk dan merenggangkan tubuhnya. Dia juga melirik ke arah nakas untuk mencari ponselnya.
"Aku akan mandi dulu." Kata Yuhi, gadis itu memgambil 15 menit waktunya untuk mandi lalu kembali ke kamar.
Chenle menyusulnya 10 menit kemudian.
"Chenle..." panggil Yuhi ketika Chenle mengenakan kaos yang Yuhi pilihkan untuknya.
"Hm??"
"Jalan-jalan yuk.."
"Aku malas Yuhi, mau main game sambil tiduran." Chenle menguap lebar lalu menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Kalau begitu aku akan pergi dengan Giselle."
"Tidak boleh !!!" Potong Chenle cepat.
Dia melirik Yuhi yang cemberut lucu dan membuatnya tidak tahan untuk tidak tertawa.
" Aku bosaaaaan...." Nada protes Yuhi terdengar seperti rengekan di telinga Chenle. Lelaki itu meletakkan kembali ponselnya lalu fokus memperhatikan wajah merajuk Yuhi yang menggemaskan.
"Baiklah... tapi cium dulu." Chenle berniat menggodanya. Dalam benaknya Yuhi akan tampak seperti gadis dalam drama yang akan menolak berciuman sambil malu-malu, mengingat saat ciuman pertama mereka sebelumnya Yuhi masih tampak canggung.
Tapi dugaan itu sepertinya meleset, gadis itu bersikap agresif. Yuhi yang masih mengenakan bathrobe pink itu dengan berani naik ke atas sofa lalu duduk di pangkuannya. Tangan Yuhi melingkar di leher Chenle dengan pose siap menerkam. Chenle bahkan bergidik ngeri melihat tatapan lapar Yuhi.
__ADS_1
"Y-yu...."
Belum sempat Chenle melanjutkan kalimatnya, lelaki itu sudah di bungkam oleh bibir lembut Yuhi. Hanya sebuah kecupan karena Yuhi seorang amatiran. Gadis itu segera menjauhkan kepalanya setelah beberapa saat.
Chenle masih terkejut tapi lelaki itu terlihat bisa mengkondisikan debaran jantungnya dan tetap tenang. Yah.. diluarnya Chenle terlihat tenang, entah dalammnya.
"Kau mau menggodaku hmm???"
"Tidak, aku maunya jalan-jalan." Jawab Yuhi. Kedua tangannya masih mengalung di leher Chenle.
"Tanganmu Yuhi..."
"Apa?? Aku hanya memegang rambut." Yuhi berkilah meski dia sadar tangannya bergerak di luar jalurnya dan mulai mengelus leher Chenle.
"Kukira kau wanita polos, ternyata aku salah."Chenle menurunkan tangan Yuhi yang terasa mengganggu lalu memberinya tatapan mengejek. Sebenarnya Chenle senang hanya saja kulitnya sangat sensitif dan mudah geli. Chenle tidak tahan.
"Ayolah aku bukan wanita nakal. Kau berani menyentuh dadaku selagi tidur sementara aku hanya memegang lehermu, itu tidak adil."
"Aku suka menyentuh tapi tidak suka di sentuh."
Yuhi memajukan bibirnya pertanda dia masih kesal.
"Aku sudah menciummu. Ayo jalan-jalan sekarang."
"Kau sebut itu mencium? Itu hanya mengecup."
"Terserah!!" Yuhi mulai kesal. Dia akan beranjak dari pangkuan Chenle tapi lelaki itu menahannya.
" Mau kemana? Urusan kita belum selesai."
"Ayolah.. keburu hujan Chenle..." Yuhi cemberut, wajahnya terlihat agak panik ketika melihat mendung di luar jendela.
Chenle tidak peduli itu. Satu tangannya terulur untuk menahan tengkuk Yuhi lalu dia kembali menciumnya.
Yuhi awalnya tidak berminat karena yang dia inginkan adalah ciuman itu segera usai dan mereka pergi jalan-jalan. Namun dasar Chenle yang sangat pro bermain di bibirnya dan menggodanya ikut serta dalam permainan panas itu membuat Yuhi tidak tahan. Gadis itu mulai memejamkan matanya bahkan kembali mengalungkan tangan di leher Chenle.
Ketika tubuh Chenle bersandar ke belakang otomatis Yuhi jatuh ke depan, dengan tubuh mereka yang saling menempel.
Tangan Chenle tidak tinggal diam, dia berani menarik lepas tali bathrobe Yuhi dan menariknya turun. Hingga pundak dan dada Yuhi yang hanya berbalut bra soft pink terpampang jelas.
Bersamaan dengan itu, hujan tiba-tiba mengguyur dengan sangat deras dan merebut atensi Yuhi. Gadis itu menyudahi ciumannya secara sepihak lalu kembali memasang wajah cemberut.
"Tuh kan.. hujan..." dia memukul dada Chenle kesal.
"Ak.. aw... sakit Yuhi..." keluh Chenle. Dia menahan tangan Yuhi.
"Ini gara-gara kau..." Yuhi merajuk dan beranjak dari pangkuan Chenle.
"Hey.. tidak mau melanjutkannya ?? Yuhi..."
Yuhi tidak menggubris. Dia bahkan malas membenarkan bathrobenya dan langsung melompat ke ranjang.
"Yuhi.."
"Aku sedang datang bulan !!!" Ketusnya.
Fix. Dia merajuk.
__ADS_1
Bersambung....