
From Chenle:
Tolong jaga Yuhi untukku.
Sebuah kalimat singkat yang sebenarnya sangat Jaemin benci. Kalimat itu bermakna perintah dan sialnya itu terdengar seperti mantra magis yang tidak bisa untuk Jaemin tolak.
Chenle meneleponnya semalam, dia bilang akan ke jepang. Dan Jaemin tidak mengerti kenapa lelaki berdarah china itu harus menitipkan istri tercintanya pada Jaemin. Tidak taukah Chenle kalau Jaemin berusaha sekuat tenaga untuk move on dari Yuhi?
Jaemin memang tidak pernah menunjukkan perasaannya secara gamblang, lelaki itu lebih memilih langsung melamar Yuhi dari pada harus melakukan hal bodoh yang disebut 'berpacaran'.
Jaemin itu sedikit kaku dalam sebuah hubungan romansa semacam ini, meskipun beberapa kali dia melakukan pendekatan dengan Yuhi dan berusaha akrab dengannya, tapi Jaemin tidak memiliki nyali untuk menyatakan cintanya secara langsung.
Jaemin tipikal lelaki yang senang untuk mengagumi dalam diam dan langsung maju untuk melamar ketika dirinya siap.
Tapi sekali lagi dia tekankan kalau dirinya itu seorang amatiran, teorinya pada Yuhi 100% gagal dan berujung pada penolakan gadis itu. Sejujurnya Jaemin menyesal sekarang.
Dan sekarang saat dia berusaha mengabaikan perasaannya pada sosok yang tak mungkin lagi dia miliki, Chenle justru bersikap bodoh dengan mengumpankan Yuhi padanya. Jika saja suami Yuhi bukan Chenle, mungkin Jaemin akan berlaku sadis untuk membawa Yuhi pergi.
'Tolong jaga Yuhi untukku.'
Jaemin bahkan tidak mengerti maksud permintaan itu.
Menjaga Yuhi dari apa?
Bukankah dia hanya pergi ke jepang selama 3 hari?
Kenapa dia bersikap berlebihan seolah akan ada gerombolan monster yang akan menangkap Yuhi?
"Merepotkan saja." Jaemin bahkan terus mengeluh dan mengumpat beberapa kali sepanjang jalannya menuju ruang praktek cullinary art.
Yuhi ada disana ketika Jaemin tiba, gadis itu sedang berada di tengah jam pelajaran rempah dan terlihat sedang meracik dan meramu seperti seorang penyihir.
Pada akhirnya Jaemin tetap menuruti perintah Chenle yang dia anggap merepotkan itu. Berlagak seperti seorang penguntit yang mengikuti Yuhi kemanapun. Jaemin juga membolos kelasnya karena takut sesuatu akan terjadi pada Yuhi. Dia bahkan sempat mengikuti Yuhi dan Giselle sampai ke mall dan mendengar semua percakapan mereka.
"Ck.. Apa yang sebenarnya kulakukan? Kenapa aku mau saja disuruh-suruh?" keluhnya.
Wanita itu seperti tidak pernah kehabisan tenaga ketika sudah berhadapan dengan hal yang bertema 'belanja'. Yuhi dan Giselle masuk ke satu persatu toko tanpa membeli apapun. Mereka hanya membandingkan harga kemudian memikirkan perbandingannya dengan serius seolah sedang berdiskusi tentang hutang negara.
Rasanya sangat merepotkan bagi Jaemin. Lelaki itu yakin Chenle memberikan Yuhi cukup uang bahkan jika gadis itu berencana membeli satu toko sekalipun, lalu kenapa dia harus repot-repot membandingkan harga? Bukankah ini terlalu membuang waktu?
__ADS_1
Wanita dan belanja memang tidak baik jika di letakkan dalam satu kalimat. Cukup kali ini saja Jaemin menguntit wanita yang sedang belanja. Lututnya sudah linu dan bergetar, pergelangan kakinya sangat pegal.
Jaemin berjongkok dengan wajah nelangsa di samping vending machine ketika Giselle dan Yuhi memutuskan untuk berpisah di pintu keluar. Giselle sudah di jemput supirnya sementara Yuhi terlihat masih menunggu jemputan.
Jaemin yang berniat mengambil nafas sejenak tiba-tiba panik karena dia kehilangan jejak Yuhi. Lelaki itu berlari dengan cepat ke tempat dimana Yuhi berdiri sebelumnya lalu menatap kesekelilingnya.
"Sial kemana dia..." dengusnya.
Diluar dugaan Yuhi justru berdiri di belakangnya dan menepuk bahu Jaemin.
Lelaki itu mengumpat dalam geramannya karena terkejut.
"Kenapa kau mengikutiku??" tanya Yuhi to the poin. Sebenarnya dia sudah sadar kalau Jaemin mengikutinya sejak pulang kuliah tadi.
"Siapa juga yang mengikutimu." Jaemin berusaha mengelak. Lelaki itu menggaruk belakang kepalanya dan menatap ke arah jalanan.
"Jangan bohong."
"Ck.. Iya-iya.. Aku ketahuan.."
"Kenapa?" Yuhi mengulang pertanyaannya karena belum mendapat jawaban yang memuaskan dari Jaemin.
"Chenle yang menyuruhku. Dia memintaku menjagamu."
Yuhi berdecak, tampaknya Chenle menjadi overprotective padanya.
Sebenarnya Yuhi senang Chenle memperdulikannya, hanya saja ini berlebihan.
Yuhi memutar tubuhnya menatap Jaemin dan sebaliknya Jaemin juga menatapnya dengan bingung. Gadis itu seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi mimiknya terlihat ragu.
Yuhi berkedip sekali dan Jaemin balas berkedip dua kali, saling pandang selama beberapa saat dan terlihat menimbang-nimbang, Yuhi akhirnya bicara.
"Hey Na Jaemin, antarkan aku ke Jepang ya."
"APA??? Tidak !!"
"Oh.. ayolah..."
"Tidak mau !!"
__ADS_1
"Na Jaemin.."
...********...
"Pesawat akan mendarat 5 menit lagi tuan Naka."
Seorang pria berumur dengan jenggot yang telah memutih, menunduk hormat padanya. Pria itu diam selama beberapa saat untuk menunggu perintah selanjutnya tapi tuannya itu hanya diam mematung dengan pandangan kosong.
Naka Yuta, seorang dengan gestur wajah tegas dan terkesan galak itu tampak lebih mendung dari biasanya. Air muka nya murung dengan pandangan mata yang sedikit buram karena air mata.
Yuta adalah pria tangguh, dia pria kuat, tapi khusus hari ini lelaki itu menjadi lebih melankolis. Hatinya mencelos ketika kebenaran itu telah ia dengar sendiri dengan telinganya.
Kebenaran itu telah mengubah arah pandangnya. Separuh hatinya menaruh sisi simpati untuk Kris namun begitu ia teringat akan perlakuan pria itu pada Yuhi, kemarahan Yuta kembali memuncak.
Ini bukan salah Yuhi, kematian itu tidak ada hubungannya dengan Yuhi. Harusnya Kris bisa bersikap lebih manusiawi dengan tidak memperlakukan putrinya seperti seorang pembunuh.
Pesawat pribadi milik keluarganya mendarat mulus beberapa menit kemudian. Yuta berjalan keluar dengan 2 orang pengawalnya.
Di pintu keluar bandara sudah ada seorang supir yang menunggunya. Dengan setelah jadi rapi dia menunduk pada Yuta.
"Dimana papi? " Tanya Yuta dalam suara rendah. Lelaki itu masuk ke mobil dan menyamankan dirinya disana.
"Tuan besar ada di hotel Nakazono tuan."
"Bawa aku kesana."
Suasana menegangkan itu tidak akan pernah lepas manakala ayah dan anak itu akan bertemu, bahkan semua pengawal dan bawahan keluarga Naka sudah hafal dengan situasi ini.
Namun atmosfir hari ini sedikit lebih menyeramkan dari biasanya. Bahkan sang supir hanya bisa mengangguk karena suaranya tercekat di tenggorokan.
Sorot mata Yuta terlihat sangat dingin. Dengan hembusan nafas tenang seperti seorang pembunuh dalam kegelapan. Dewa kematian seolah sedang mengintai mereka dengan sabit kematian yang siap menghunus.
Ketenangan itu tidak akan pernah tercipta dalam silsilah keluarga Naka. Entah tragedi apa lagi yang akan terjadi hari ini. Yang jelas jika tuan besar mereka murka maka para bawahan lah yang akan celaka.
Hal yang paling tidak adil di dunia ini adalah ketika kemurkaan Kris itu bisa dikendalikan oleh Yuta. Diam-diam sang supir meliriknya dari kaca dashboard berharap si sulung Naka tidak akan membuat ulah yang fatal hari ini.
Bersambung....
__ADS_1