
Yuhi beruntung dia pulang 30 menit lebih dulu dari Chenle. Yuta yang mengantarnya pulang setelah Yuhi pergi diam-diam dan tentunya Yuhi tidak akan menceritakan pada Yuta tentang masalahnya dan Chenle. Yuhi tidak mau Chenle berakhir babak belur di tangan Yuta.
Chenle yang baru keluar dari kamar mandi terlihat agak canggung dan kaku. Mungkin juga dia merasa bersalah setelah 2 hari tidak pulang dan tidak mengabari Yuhi. Tapi Yuhi tidak bertanya apapun padanya. Gadis itu hanya tersenyum dan menawarinya makan malam. Namun Chenle menolak.
"Mau ku temani minum?" Tawar Yuhi.
Chenle tidak terlihat baik. Lelaki itu banyak melamun dan wajahnya tidak secerah biasanya.
Yuhi tidak tau apakah ini karena Ryujin ataukah karena rasa bersalah Chenle padanya. Namun Yuhi tidak ingin bertanya atau mencari tau. Dia akan mengikuti saran bibi Ahn untuk membuat Chenle nyaman.
"Boleh."
Chenle berjalan ke arah sofanya dan menyalakan tv. Tidak ada yang ingin dia lihat di tv, hanya saja suasana sunyi itu akan membuatnya semakin canggung pada Yuhi.
Gadis itu kembali dengan sebotol wine beberapa saat kemudian. Chenle memberanikan diri untuk menatapnya karena sejak dia pulang tadi Chenle sengaja menghindari tatapan Yuhi.
Gadis itu mengenakan gaun tidur satin dengan warna softpink yang tampak sangat serasi dengan warna kulitnya. Itu adalah gaun tidur favorite Chenle, dia membelikan itu untuk Yuhi sebagai hadiah pernikahan dan dia senang melihat Yuhi memakainya.
Yuhi meletakkan wine nya di meja lalu duduk di samping Chenle dengan senyuman lembutnya.
__ADS_1
Perasaaan bersalah pada akhirnya kembali menghantui Chenle. Dia membayangkan seandainya saja Yuhi tau kalau dia diam-diam menemui Ryujin, gadis itu pasti akan membencinya. Bahkan ketika Chenle mengingat kembali akan janjinya pada Yuhi kalau dia tidak akan meninggalkan gadis itu, dia merasa lebih buruk dari sampah.
"Kenapa wajahmu muram? " Yuhi memberinya tatapan lembut, dan dia kembali tersenyum ketika mata mereka bertemu.
"Aku tau semuanya."
"Kau tau?" Okey. Chenle terkejut akan hal itu.
Lelaki itu menatap senyuman Yuhi yang memudar dan gadis itu mencoba menyembunyikan sorot sedih di matanya dengan menatap televisi.
"Aku tau. Dan aku tidak akan marah. Aku tidak punya hak untuk marah jadi... tidak perlu merasa bersalah."
"Akulah yang memaksa datang. Aku tidak memperhitungkan semuanya dengan baik, aku bahkan mengabaikan masa depanmu. Jadi... apapun yang kau lakukan dan siapapun yang kau pilih, aku tidak akan mengusikmu."
Yuhi tau akan sangat sulit menahan air matanya. Bahkan kalimat itu telah menyakiti dirinya sendiri. Hatinya begitu terpuruk meski dia memaksakan senyumannya.
"Apakah kau masih ingin bercerai dariku??" Chenle bersandar di sofanya dengan tatapan kosong ke depan. Kalimatnya mungkin terlalu frontal hingga membuat Yuhi mendadak membeku selama beberapa saat sebelum gadis itu menyibukkan diri untuk membuka botol wine.
"Entahlah... aku sudah tidak memikirkannya lagi setelah kau bilang tidak akan menceraikanku. Sejujurnya aku mulai bergantung padamu.. " Yuhi memutar alat pembuka tugup botol itu seperti tanpa tenaga tapi dia tetap melakukannya.
__ADS_1
"Tapi kalau kau berubah pikiran, aku tidak apa-apa."
"Maafkan aku.." Chenle berkata lirih. Lelaki itu kembali menatap Yuhi dan tidak sengaja melihat air mata gadis itu jatuh. Tapi Yuhi berusaha menutupinya dengan membelakangi Chenle dan pura-pura sibuk dengan tutup botol.
"Yuhi.."
"Maaf.. sepertinya aku tidak bisa menemanimu minum."
Air mata gadis itu tidak bisa lagi dia tahan. Yuhi mendongak keatas dan mengusap kasar air matanya.
"A-aku akan ke toilet." Dia bahkan masih memaksakan senyumannya meski air matanya tidak bisa di ajak kerja sama. Dan Yuhi berjalan tergesa-gesa masuk ke toilet. Sungguh, dia tidak ingin Chenle melihatnya menangis tapi dia tidak bisa.
Chenle menghela nafas kasar. Untuk beberapa alasan hatinya juga ikut sakit. Lelaki itu bimbang. Dia tidak ingin meninggalkan Yuhi, tapi dia juga ingin bersama Ryujin.
Suara isakan Yuhi yang terdengar sampai ke kamar membuat hatinya berdenyut nyeri. Mengetahui bahwa dirinyalah alasan gadis itu menangis membuat Chenle jauh lebih sakit. Chenle sungguh ingin berpaling seolah kisahnya dengan Yuhi tidak pernah tertulis dalam takdirnya. Namun hati nuraninya menolak meninggalkan Yuhi sendirian.
Jika perpisahan ini terjadi, Chenle mungkin masih punya Ryujin, tapi Yuhi tidak punya siapapun. Gadis itu akan menahan sakitnya seorang diri.
Bersambung...
__ADS_1