Young Master

Young Master
Tuan Muda Meresahkan


__ADS_3

"Chenle.... Chenlee...."  panggil Yuhi.


Ini sudah hari kedua sejak merajuknya tuan muda Zhong Chenle dan Yuhi merasa galau.


Bahkan saat pulang Chenle masih mengabaikannya dan berlalu begitu saja.


"Tuan muda memang suka begitu nona.."  kata bibi Han, kepala pelayan sekaligus pengasuh Chenle sejak bayi.


"Lalu aku harus bagaimana???" Yuhi tampak lemas. Dia menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tamu. Sejak siang Yuhi sengaja menunggu Chenle di depan pintu masuk. Yuhi yang kebetulan libur memutuskan untuk menaruh perhatian lebih pada perselisihannya dengan Chenle. Bahkan Yuhi terus menunggu Chenle pulang sampai matahari akan terbenam.


Para maid mengkhawatirkannya bahkan 2 orang resepsionis mengambilkannya bantal agar Yuhi tidak lelah. Tapi saat lelaki itu datang apa yang dia dapat?


Yuhi tetap di acuhkan.


"Biasanya Nyonya besar akan membujuknya dengan sesuatu yang paling tuan muda inginkan."


'Memangnya apa yang Chenle inginkan..?' Pikir Yuhi.


Bertepatan dengan itu, Irene dan Steve pulang. Steve tersenyum ramah seperti biasanya. Sementara Irene menaruh perhatian lebih pada menantunya itu.


"Apa terjadi sesuatu? Chenle belum pulang?"


Yuhi baru saja akan menjawab tapi ternyata bibi Han sudah mewakilinya.


"Tuan muda merajuk."


"Aaah.. masalah kemarin..  belum selesai juga ya??"


Yuhi menggeleng dengan lesu.


"Kemarilah.. aku tunjukkan caranya." Kata Irene.


Yuhi ragu cara ini akan berhasil. Irene hanya menyuruh Yuhi membawa sebotol Bokbunja ke kamar. Dia bilang Chenle sangat menyukainya.


Bokbunja sendiri adalah sejenis wine, hanya saja bokbunja berbahan dasar Blackberry.


Saat sedang badmood Chenle biasanya suka minum itu. Setidaknya begitulah penjelasan Irene.


Chenle tidak ada di kamar ketika Yuhi masuk, tapi Yuhi bisa mendengar suara shower yang menyala di kamar mandi. Gadis itu akhirnya memakai kesempatan itu untuk mengganti pakaiannya dulu sebelum menemani Chenle minum.


Hanya berselang 5 menit dan Chenle keluar dari kamar mandi. Lelaki itu sedikit terkejut melihat penampilan Yuhi yang duduk di atas ranjangnya dengan mengenakan gaun tidur yang mereka beli di shanghai tempo hari.

__ADS_1



Yuhi yang sedang memakai lotion nya tampaknya tidak sadar akan kehadiran Chenle. Gadis itu hanya fokus meratakan lotion di sekujur kakinya dengan posisi menyamping.


'Sial. Dia mau merayuku ya.' Batin Chenle. Dia menelan ludah ketika gaun tidur Yuhi terangkat sampai ke pertengahan paha.


Chenle membuang wajahnya ke arah lain. Mencoba menyibukkan dirinya dengan hair dryer dan fokus mengeringkan rambutnya.


Suara hair dryer membuat Yuhi tersadar kalau Chenle sudah selesai mandi. Gadis itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Biar ku bantu." Yuhi merebut hair dryer dari tangan Chenle dan memaksa lelaki itu duduk di depan meja riasnya.


Yuhi yang berdiri di depan Chenle membuat wajah Chenle berhadapan langsung dengan dadanya. Seolah Yuhi sudah merencanakan siasat kejam ini untuk menyiksa hasrat Chenle padahal Yuhi tidak bermaksud begitu.  Yuhi sepenuhnya tidak sadar kalau mata Chenle terus mengintip ke arah belahan dadanya.


"Aku membawakanmu bokbunja." Kata Yuhi. Chenle hanya bergumam.


"Tuan Zhong..."


"Hmm.."


"Maaf.." 


"Jangan marah hmm?"  Sebisa mungkin Yuhi memasang wajah memelasnya.


"Baiklah." Chenle akhirnya menyerah. Entah kenapa telinga Chenle berubah warna menjadi merah, dan dia sedikit hilang fokus ketika Yuhi menggandengnya ke sofa.


Yuhi memang sudah sering menemani Chenle minum. Dia akan jadi orang yang menuangkan alkohol di gelas Chenle setiap kali mereka minum. Tapi khusus malam ini, hanya Chenle saja yang minum karena Yuhi belum makan malam, dia tidak mau minum saat perut kosong.


Chenle baru menenggak setengah dari gelas bokbunja yang Yuhi siapkan. Alis lelaki itu berkerut, dia mengangkat gelas itu lalu mencium aroma alkohol di dalamnya.


"Kenapa? Rasanya aneh? Apa sudah expired??" Yuhi memeriksa tanggal expired di botol tapi tidak ada yang salah dengan itu.


"Rasanya berbeda." Kata Chenle.


"Benarkah?" Yuhi baru akan mengambil alih gelas Chenle dan berniat mencobanya tapi Chenle melarang.


"Tunggu..." entah bagaimana Chenle merasa tubunya panas dan berkeringat. Alkohol memang bisa menghangatkan tubuh, tapi kali ini rasanya sedikit berlebihan.


Lelaki itu merasa gelisah tanpa sebab, tangannya berkeringat dan ada sesuatu yang terbangun di bawah sana.


"Chenle kau baik-baik saja? Wajahmu merah. Apa kau keracunan??"

__ADS_1


"Darimana kau dapat ini?" Chenle menatap Yuhi tajam. Yuhi pikir Chenle kembali marah padanya.


"M-mama yang memberikannya."


"Ughh.. sial.."


"Ke-kenapa....???"


"Kurasa ini obat perangsang."


Yuhi melebarkan kedua matanya. Tapi di sisi lain dia juga kasihan melihat Chenle yang gelisah. Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi lalu pergi ke kamar mandi.


"Menjauhlah dariku kalau mau selamat." Katanya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Yuhi menggigit bibir bawahnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu Chenle menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Tapi sudah 30 menit berlalu lelaki itu masih disana. Bahkan suara shower kamar mandi juga sudah tidak terdengar lagi.


"Chenle.... kau baik-baik saja ? " Yuhi mengetuk pintu kamar mandinya 2 kali. Tapi Chenle tidak menjawab.


'Apa dia pingsan?' Pikir Yuhi.


"Chenle... "


Yuhi tau ini mungkin ide yang buruk, tapi dia sungguh kasihan dan khawatir dengan keadaan Chenle. Gadis itu pun akhirnya nekat membuka pintu kamar mandi untuk mengecek keadaan Chenle, meskipun Yuhi tau ini sama saja seperti menyerahkan dirinya kepada harimau lapar. Tapi toh Yuhi sudah bertekad kalau dia akan menyerahkan semuanya untuk Chenle sebagai balas budi.


Yuhi terkejut. Sebagai seorang gadis perawan yang belum pernah memiliki hubungan apapun dengan pria, ini pertama kalinya bagi Yuhi melihat lelaki telanjang.


Chenle berdiri di bawah shower dengan wajah berantakan dan tersiksa. Dia berusaha membelakangi Yuhi untuk menutupi asetnya.


"Kenapa malah masuk???" Kata Chenle sedikit terengah.


"A-aku akan membantumu.." Yuhi berjalan mendekat. Dia sangat berhati-hati saat memutar tubuh Chenle menghadapnya.


"Yuhiii...." Suara Chenle terdengar manja dan tatapannya tampak memohon. 


"Kau yakin??" Chenle bertanya sekali lagi sebelum Yuhi meraih kepalanya.


"Diam dan lakukan saja."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2