
Yuhi kelelahan. Gadis itu terbaring lemah di ranjangnya sampai pukul 10 pagi. Tubuhnya terasa remuk dan bagian bawahnya sedikit nyeri. Yuhi tidak pernah mengira melayani seorang Zhong Chenle di ranjang rasanya seperti habis bekerja rodi.
Sementara lelaki itu juga masih terlelap sambil memeluk perutnya. Chenle benar-benar kehabisan tenaga dan tak kuasa membuka mata.
"Chenle.." oh lihatlah.. suara Yuhi bahkan hampir habis.
"Zhong Chenle.." Yuhi menggoyang-goyangkan lengan Chenle.
"Ng...? " suara parau Chenle terdengar begitu seksi.
"Aku lapar. Aku belum makan sejak semalam."
Chenle melepaskan pelukannya di perut Yuhi lalu beranjak duduk dengan enggan dan memakai pakaiannya. Lelaki itu menatap Yuhi sejenak untuk memastikan kondisi istrinya.
Chenle tersenyum melihat jejak-jejak perbuatannya semalam di sepanjang leher dan pundak Yuhi. Dia tidak sadar telah membuka peternakan ****** disana.
"Kenapa senyum-senyum?" Yuhi bangun dan membenarkan letak tali gaun tidurnya.
"Semalam sangat luar biasa. Terima kasih." Chenle mengecup pipi Yuhi, lalu beralih mengecup bibirnya.
Pipi Yuhi bersemu merah. Dia malu mengingat kejadian semalam.
"Iya.. " Yuhi akan mengikuti Chenle keluar namun lututnya terasa lemah dan gemetar. Dia tidak sanggup berdiri.
"Hey disini saja. Aku akan meminta maid menyiapkan sarapan."
Yuhi mengangguk dan menunggu selama 10 menit. Tapi saat Chenle kembali, bukan seorang maid yang mengantar makanannya melainkan Irene, mama Chenle. Hal itu membuat Yuhi malu dan panik secara bersamaan.
"M-mama..."
"Ya ampun Chenle." Irene membulatkan matanya melihat keadaan Yuhi, terutama bekas kemerahan di sepanjang leher dan bahunya.
__ADS_1
"Dasar anak nakal... sudah mama bilang jangan terlalu lama, lihatlah Yuhi sampai lemas begitu.."
"Akk... mama..hentikan.." Chenle menepis tangan Irene.
"Chenle kan tidak tahan, lagipula ini salah mama juga."
Sepasang ibu dan anak itu terus bertengkar membahas masalah semalam seperti sedang membahas menu sarapan hari ini. Chenle sama sekali tidak malu, sebaliknya Yuhi lah yang malu. Hal-hal seperti ini harusnya hanya mereka yang tau, kenapa Chenle malah bercerita pada ibunya.
'Dasar anak mama.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuhi memutuskan bolos kuliah karena Chenle. Dia terlalu frustasi pada kissmark di seluruh lehernya, selain itu tubuhnya juga terlalu lelah hingga dia malas bergerak.
Dan Chenle pun akhirnya ikut membolos juga alasannya mau menemani Yuhi di rumah. Alhasil kedua suami istri itu hanya bermalasan di atas ranjang dan menonton netflix seharian.
Sebuah rekor luar biasa ketika hari sudah menjelang sore dan Chenle belum menyentuh game di ponselnya sama sekali. Yuhi benar-benar mengalihkan dunianya hingga Chenle gagal berpaling.
"Chenle.. geli.." Yuhi mencoba menghindar ketika Chenle terus menciumi lehernya.
"Tapi aku belum mandi." Yuhi menahan kening Chenle dengan ujung telunjuknya.
"Tidak usah mandi, aku juga tidak mandi."
"Dasar jorok."
Chenle tersenyum miring,
"Ayo mandi bersama." Gagasan itu terdengar seperti ancaman di telinga Yuhi. Entah kenapa dia jadi merinding membayangkan serangan zombie akan terjadi lagi kalau mereka mandi bersama.
Kenapa Yuhi sebut serangan Zombie?
__ADS_1
Yah karena dia baru sadar betapa brutalnya Chenle kalau sudah melakukan 'itu'. Kamar mereka jadi berantakan, handle di kamar mandi patah, kap lampu tidur juga patah, bahkan salah satu kaki ranjang mereka jadi miring dan mereka harus ganti ranjang baru tadi siang. Entah bagaimana Chenle melakukannya semalam. Untungnya tubuh Yuhi tidak rusak.
"Tidak. Kita baru saja mengganti ranjang baru. Jangan sampai rusak lagi."
Chenle menyeringai. Dia meraih dagu Yuhi dan mencium pipinya. Chenle lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yuhi dan berbisik.
"Kita lakukan di bathtub."
"Chenlee... oh ya ampun aku sungguh tidak mengira wajah polos sepertimu memiliki fantasi liar seperti ini."
"Hey sayang, siapa bilang aku polos hm??"
Yuhi benar-benar ngeri sekarang.
"Memangnya kau tidak lelah ?" Bahkan Yuhi masih lelah karena semalam.
"Kau yang menawarkan dirimu padaku semalam honey.. dan sekarang aku kecanduan. Kau harus bertanggung jawab hmm.."
"Yaa.. Zhong Chenle.. aku hanya membantumu bukannya berterima kasih malah menuntutku."
Chenle terkekeh. Kedua tangannya memeluk perut Yuhi semakin erat.
"Iya, aku sangat berterima kasih. Sebagai bentuk terima kasihku aku akan memberimu trial sekali lagi."
"Yaa Zhong Chenle !!"
"Ayolah Yuhi, aku pun tau kau berteriak keenakan semalam..."
"Jangan membahasnya !!"
Chenle terkekeh melihat wajah memerah Yuhi. Gadis itu tidak marah, dia hanya malu. Dan Chenle suka melihat setiap perubahan ekspresinya.
__ADS_1
Chenle memutar kepala Yuhi dan mulai menciumnya tanpa ampun. Bahkan ia tidak berniat memberikan Yuhi belas kasihannya hari ini. Mungkin Yuhi akan semakin tenggelam dalam kenikmatan dunia yang Chenle berikan hingga dia tidak ingat lagi tentang hari esok.
Bersambung....