
Yuhi merasa bimbang pada masalah yang tidak berkaitan dengan dirinya. Masalah Sunhye dan Yuta harusnya bukan sesuatu yang penting untuk Yuhi tapi Yuhi terus saja kepikiran.
Yuhi ingin sekali menemui Yuta dan bertanya apa alasan lelaki itu mencampakkan Sunhye. Tapi sayangnya Chenle sudah menukar ponselnya. Dan ponsel Yuhi yang baru hanya berisi nomor Chenle, nomor supir, kepala pelayan dan juga Giselle.
Entah sedang beruntung atau ikatan batin di antara mereka sangat kuat, mobil Yuta tiba-tiba saja terparkir di samping gerbang universitas Yuhi sore itu. Yuhi mengenalinya karena mobil yang di pakai Yuta adalah edisi khusus dari jepang dimana tidak ada orang Korea yang punya.
Gadis itu melihat ke arah sekitar untuk memastikan tidak ada mobil Chenle di sekitar kampus sebelum dia memakai kupluk jaketnya dan berlari menghampiri mobil kakaknya.
Yuhi langsung masuk ke kursi belakang tanpa mengetuk pintu. Yuta ada di sana, memakai pakaian santai yang sangat jarang ia kenakan.
"Kak..."
Yuta tersenyum sambil mengusap kepala Yuhi.
"Syukurlah, sepertinya kau hidup dengan baik."
Melihat bagaimana penampilan Yuhi, wajahnya yang cerah dan tubuhnya yang sedikit berisi, tampaknya Chenle benar-benar memenuhi janjinya untuk menjaga Yuhi dengan baik.
"Kak.. aku butuh penjelasan. "
"Tentang apa?" Melihat wajah serius adiknya, senyuman Yuta perlahan memudar.
"Kakak pernah melamar Choi Sunhye ?"
Wajah Yuta tiba-tiba menjadi sendu, dengan tatapannya yang jatuh kebawah.
"Hm.."
"Jadi benar kau mencampakkannya?? Kenapa???"
Yuta menghela napasnya. Yuhi pasti sudah salah paham melihat bagaimana kecewanya wajah gadis itu.
"Sunhye seumuran denganmu. Dia masih kelas 2 SMA saat keluarganya mengirimiku proposal pernikahan. Bukan aku yang melamarnya tapi kepala keluarga Choi yang mengirim proposalnya pada keluarga kita...."
Yuta menatap Yuhi yang masih menunggu kelanjutannya.
"Singkat cerita kami bertunangan karena Sunhye masih sekolah. Perjanjian kerja sama juga sudah di sepakati, sayangnya tidak ada perjanjian pra nikah di atas kertas. Setahun kemudian perusahaan keluarga Choi anjlok dan merugi, papi tidak mau melanjutkan kerja sama dan meminta memutus kontrak secara sepihak. Begitu juga dengan pertunangan kami."
__ADS_1
"Tapi kan.. kakak bisa menolak...."
"Tidak bisa." Yuta memotong.
"Kenapa? Bukankah papi selalu mendengarkanmu? Kau tidak akan dimarahi." Entah kenapa Yuhi terbawa perasaan. Dia bisa merasakan betapa sakitnya Sunhye saat itu.
"Bukan aku tapi kau."
Yuhi menatap kedua manik Yuta dengan serius.
"Apa kau ingat saat tiba-tiba papi marah lalu mencambukmu..?? Itu bukan karena dia kalah judi atau kalah di pasar dagang. Itu karena aku...." Yuta merasakan perih di hatinya ketika mengingat hal itu. Betapa dia sangat merasa bersalah pada Yuhi.
"....Setiap aku membuat kesalahan, papi tidak marah padaku tapi dia melampiaskannya padamu. Setiap aku membangkang, setiap aku membantah, dia akan selalu menghukummu. Itu membuatku sakit. Perasaan bersalah setiap mendengar rintihanmu dan suara cambuk yang menyakitkan itu membuatku sesak. Aku di hantui perasaan bersalahku padamu Yuhi. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti semua perkataannya karena aku tidak mau kau menjadi pelampiasan kemarahannya lagi."
Yuta membelai sebelah pipi Yuhi, lalu menyelipkan anak rambut gadis itu di belakang telinga.
"Tapi saat ini, saat kau sudah aman bersama Chenle, Aku tidak akan takut padanya lagi.."
Yuhi mengangkat kepalanya, menatap aura dingin yang terpancar di kedua iris kelam Yuta.
"Apa rencanamu??" Entah kenapa hal itu membuat Yuhi khawatir.
"Aku akan mengungkap betapa kejinya lelaki itu. Lelaki yang bahkan tidak becus mengambil peran sebagai seorang ayah."
"Aku tidak peduli." Yuta memotongnya dengan nada tinggi.
"Aku akan membalas kematian mami dan juga penderitaanmu."
Belum sempat Yuhi menjawab atau memikirkan kalimat yang tepat untuk menahan Yuta. Sebuah mobil tesla hitam melintas di samping mereka dan berhenti tepat di depan mobil Yuta.
Yuhi sangat kenal mobil siapa itu. Bahkan kini dia juga sadar kalau jiwanya juga terancam.
"Gawat." Bisiknya.
"Kenapa? " Tanya Yuta penasaran. Dia juga memperhatikan mobil di depannya.
"Itu Chenle. Dia melarangku menemuimu."
"Apa Chenle akan memarahimu? Biar aku yang bicara padanya..."
Yuhi menahan tangan Yuta agar lelaki itu tidak keluar mobil. Yuhi takut terjadi keributan disini.
__ADS_1
"Chenle tidak akan marah. Aku akan membujuknya. " Yuhi bersiap akan keluar mobil.
"Bagaimana cara kau membujuknya???"
"Kakak tidak perlu tau."
"Yuhi tunggu !! Bawa ini." Yuta memberikan tumpukan buku yang di bungkus kain.
"Apa ini..?"
"Titipan bibi Ahn."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuhi berpindah dari mobil Yuta ke mobil Chenle.
Wajah Chenle tampak menyeramkan bahkan tanpa lelaki itu memberinya tatapan tajam. Aura menyeramkan yang dipancarkannya cukup membuat Yuhi merinding.
"Ehh... sayang.." Yuhi tidak tau darimana dia bisa belajar merayu seperti ini. Bahkan menyebut kata 'sayang' saja perutnya terasa geli.
"Sudah berani membantah ya..?"
Chenle menatapnya dan membuat Yuhi semakin tertekan.
'Ya Tuhan. Aku ingin menghilang.' Batin Yuhi.
"Tidak.. bukan begitu.."
"Kau sudah tertangkap basah. Tidak usah mengelak."
"Chenle... aku hanya menemui kakakku. Kenapa kau memperlakukanku seolah aku sedang selingkuh? "
okey. Saatnya membela diri Yuhi.
"Kau tidak mematuhi aturanku."
"Zhong Chenle.."
"Kita pulang." Kata Chenle pada supirnya.
Chenle tidak mengindahkan apapun argumen Yuhi. Lelaki itu bahkan mengacuhkan Yuhi sepanjang jalan.
__ADS_1
Bersambung....