Young Master

Young Master
Determination


__ADS_3

Yuhi terbangun ketika matahari sudah meninggi. Dia bingung, seperti orang ling-lung.


Duduk di atas ranjang dengan rambut berantakan dan pandangan mata yang seperti mencari seseorang namun dia harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan apa yang dia cari.


'Apakah yang tadi itu mimpi???' Pikirnya.


Apakah saat Chenle memeluknya itu mimpi? Tapi ... tapi kenapa rasanya sangat nyata??


Yuhi duduk merenung. Teringat kembali akan mimpinya yang seperti kaset rusak. Berputar menampakkan adegan blur yang hanya sepotong-sepotong.


'Gadis kecil pembunuh....'


Bahkan kalimat itu masih bergema di kepalanya, seperti penggalan kejadian yang terus berulang tapi Yuhi tidak mengingatnya.


Siapa???


Siapa gadis kecil yang dimaksud?


Dirinya kah??


Lalu...


Siapa yang dia bunuh?


Apa yang sebenarnya terjadi di malam itu ???


Ingin rasamya Yuhi menanyakan itu pada Kris tapi membuka topik lama yang sensitif itu mungkin akan membuat Kris murka.


Yuhi bergerak perlahan ke pinggiran ranjang. Menurunkan kakinya yang kaku dan membiarkannya menyentuh lantai kayu kamarnya. Dia tidak melakukan apapun, sampai seseorang yang baru keluar dari kamar mandi menyadarkannya.


'Ini bukan mimpi'


Chenle keluar dari kamar mandi, itu artinya Chenle benar-benar memeluknya semalam.


"Chenle...."


Lelaki itu mengusap kepalanya dengan handuk kecil.


Tatapan Yuhi jatuh pada lebam di pipinya, terlihat berwarna keunguan yang sangat kentara di wajah Chenle yang  putih.

__ADS_1


"Wajahmu kenapa?"  Mata Yuhi berubah panik. Gadis itu berjalan menghampirinya.


"Tanda cinta dari kakak ipar." Jawab Chenle setengah bercanda. Dia hanya tidak mau Yuhi terlalu khawatir.


"Kak Yuta ?" Dua iris indah itu terbelalak kaget.


Tangan kiri Yuhi terangkat menyentuh pipi Chenle yang tidak luka lalu kepala Yuhi mendongak untuk mengamati lebamnya.


"Ini pasti sakit...." tatapan Yuhi berubah sedih.


"Aku tidak apa-apa."


"Duduklah, akan ku obati."


Yuhi mengambil salep lebam yang selalu dia simpan di laci meja belajarnya. Ya, bibi Ahn selalu menyiapkan benda itu disana karena Yuhi sering terluka akibat di pukuli.


Dan sekarang Yuhi akan memakainya untuk Chenle.


Chenle duduk di pinggiran ranjang Yuhi dan menurut saja ketika Yuhi memintanya mendongak. Gadis itu berdiri di hadapannya dan tengah fokus mengoleskan gel di tulang pipinya. Chenle mengamatinya, memandang wajah serius Yuhi lekat-lekat kemudian dia tersenyum kecil.


Perasaannya tidaklah salah. Ada rasa bahagia yang dia rasakan ketika menatap Yuhi, dan ada rasa rindu ketika Yuhi tidak di dekatnya. Cinta itu nyata, dan hanya Yuhi pemilik hatinya sekarang.


"Apa kau bertemu papi semalam?"


"Dia tidak marah?"


"Wajahnya agak menyeramkan, tapi dia mengijinkanku menemuimu. "


Yuhi tersenyum. Gerakan tangannya berhenti dan dia beranjak duduk di samping Chenle dengan wajah menunduk.


"Chenle... aku pernah bilang bahwa aku sangat ceroboh, aku mungkin juga egois karena telah memaksamu menikahiku tanpa memikirkan perasaanmu....."


Yuhi memainkan tutup botol salep di pangkuannya. Gadis itu terus menunduk tanpa berani menatap Chenle.


".......  aku sungguh tidak apa-apa kalau kau memilih Ryujin dan meninggalkanku. Aku sudah pernah bilang kan bahwa tujuanku menikah adalah untuk bercerai di kemudian hari. Jadi.. tidak apa-apa, tinggalkan aku, dan berbahagialah bersama Ryujin."


"Apa kau tidak mencintaiku?"


Pertanyaan Chenle sukses membuat Yuhi menatapnya. Lalu tatapan Yuhi kembali jatuh ke pangkuannya dengan guratan sedih yang sangat kentara.

__ADS_1


Bohong kalau dia berkata dia tidak merasakan apapun. Selama 3 bulan dia menikah, Chenle selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan mereka mengambil peran sebagai suami istri sungguhan, saling peduli, saling berbalas kasih sayang. Meskipun kata cinta itu tidak pernah terucap, namun bahasa tubuh mereka bisa menjelaskan semuanya.


"Sebenarnya aku tidak berusaha menghindarimu 3 hari ini, aku hanya berusaha menghindari perasaanku sendiri dengan cara menghindarimu...." Chenle memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Yuhi yang menunduk.


"... dan aku di rumah Renjun, bukan di rumah Ryujin. Waktu dan jarak yang ku ambil telah menjawab semuanya. Apakah perasaanku itu semakin memudar ataukah semakin besar."


Yuhi masih tidak mau menatapnya hingga Chenle harus meraih sisi rahangnya dan memaksa gadis itu menatapnya.


Kedua iris lembut itu berair, Yuhi selalu begitu, dia akan menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Apakah kau mau tau jawabannya?"


Yuhi mengangguk lemah,


"Waktu dan jarak  telah menjawab semuanya, tentang perasaanku pada Ryujin yang memudar tapi tidak untukmu, meskipun itu hanya 3 hari, tapi aku benar-benar hampir mati karena merindukanmu. Aku terus mengelak dari perasaanku sampai pukulan Yuta membuat otakku bekerja seperti semestinya."


Yuhi masih menatapnya seperti orang bodoh dengan mata berair. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan Chenle dan hanya diam menatap Chenle seperti anak anjing yang menunggu makanan.


"Kau masih tidak mengerti???"


Yuhi menggeleng polos,


"Aku mencintaimu Yuhi.. "


Yuhi berkedip sampai 3 kali sebelum senyuman itu terkembang di bibirnya. Lalu dia memeluk Chenle sangat erat.


"Kau mau tau jawabanku???" Tanya Yuhi kemudian.


"Tidak perlu. Karena aku sudah tau kalau kau juga mencintaiku kan."


"Siapa bilang? Kau terlalu percaya diri tuan muda."


"Wajahmu tidak bisa berbohong."  Balas Chenle. 


Chenle menarik Yuhi sampai tubuh mereka jatuh ke rajang. Saling berpelukan dan merengkuh. Chenle mengecup kepala Yuhi sangat lama, mencurahkan seluruh kerinduannya pada gadis itu.


"Yuhi... kau tidak keramas ya?? Rambutmu bau." Guraunya. Yuhi tidak marah, dia justru diam saja dan menenggelamkan wajahnya di dada Chenle.


"Aku lupa mandi 3 hari belakangan."

__ADS_1


"Oh God..."


Bersambung....


__ADS_2