
Hawa dingin yang berhembus malam itu seolah membawa kabar jika musim gugur akan segera tiba. Kegusaran angin yang tak terbelenggu membuat daun-daun berjatuhan dan terbang kemana-mana.
Sama seperti ambisi Yuta yang tidak bisa lagi dia tahan. Yuta bersikap egois kali ini. Tidak peduli seberapa lelahnya dia setibanya dari Jepang dan kesiapan Yuhi menghadapi kenyataan, lelaki itu ingin memaksakan kehendaknya untuk segera mengakhiri misteri ini.
Yuta,Yuhi, dan Chenle berdiri mematung di depan sebuah pintu usang berwarna merah muda didampingi segerombol polisi dan seorang ahli psikologis.
Suasana rumahnya saat ini benar-benar sunyi. Kris tidak pulang dari Jepang, pria itu masih menetap disana, dan hanya ada beberapa maid yang ikut menonton jalannya penyelidikan.
Yuta menyerahkan kunci itu pada salah seorang polisi dan menunggu pintu itu terbuka dengan hati berdebar.
Yuhi meremas bagian depan dress-nya. Perasaannya campur aduk antara rasa takut, cemas dan juga penasaran. Yuhi tidak tau mengapa dia begitu terganggu dengan ruangan itu setiap kali dia melewatinya, dan dia selalu di hantui rasa ketakutan tanpa dia tau penyebabnya.
Pintu usang itu akhirnya terbuka, dengan aroma formalin yang menyengat menyambut mereka. Yuta masuk lebih dulu dengan menekan tombol lampu redup berwarna kuning yang membuat tempat itu tak cukup terang untuk bisa melihat dengan jelas.
Suasana mencekam itu begitu terasa meskipun Yuta tak memiliki memori apapun tentang tempat itu dan ketakutan yang tiba-tiba menjamahnya sama sekali tidak berdasar. Lelaki itu menatap kosong pada lantai kayu lapuk dengan jejak menghitam di tengahnya, lantai itu hangus, seperti pernah ada api yang bergelung di atasnya.
Tatapan mata Yuta perlahan mengedar, menatap sebuah peti mati kaca yang terletak rapi diatas meja kayu dengan ukiran aksara Jepang kuno. Langkah kakinya perlahan melambat. Menatap lamat-lamat tubuh tak bernyawa seorang wanita yang terbaring cantik dengan yukata putih bergambar bunga lily.
Wajah itu tidak asing untuknya tapi dia juga tidak mengingat dengan jelas setiap detail anatomy nya. Yuta mengenalinya meskipun wajah itu terlihat lebih pucat dari apa yang tergambar dalam ingatannya.
Lelaki itu berhenti tepat di depan peti mati, kaki-kakinya mendadak lemas dan membuatnya jatuh bersimpuh di depan peti mati ibunya. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan selain tangisan pedih dan penyesalannya.
Sementara Yuhi masih membeku di tengah ruangan. Wajah pucat itu tampak persis seperti dalam mimpinya, namun bukan wajah Yukina yang tertidur yang dia lihat, melainkan wajah Yukino yang lemah dengan nyala api yang melahap tubuhnya.
Yuhi tidak bisa mengendalikan ini. Jantungnya berdetak sangat cepat dengan nafasnya yang memburu. Bekas hangus di bawah telapak kakinya seolah hidup dan membawa kembali gambaran menyeramkan tentang tragedi malam itu.
Lantai kayu itu seolah kembali menyala, dengan api yang meliuk-liuk di depan matanya. Nada lirih dari seorang wanita itu kembali mengalun di dalam kepalanya.
Sungguh Yuhi tidak ingin mendengarnya lagi, Yuhi membenci suara itu. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan tangan berharap suara itu akan hilang dari kepalanya, tapi itu sia-sia. Suara lirih itu bergaung semakin keras menyanyikan lagu tidur untuknya dan bersautan dengan suara api yang memakan tubuh seorang wanita.
__ADS_1
Yuhi menangis, dia bersusah payah untuk tidak berteriak. Langkah kakinya mulai gusar dan melangkah mundur dengan tidak sabaran hingga dia hampir jatuh kebelakang jika saja Chenle tidak menangkap tubunya.
"Dia mati... Chenle dia mati... " Lirih Yuhi dengan kepala menggeleng cepat.
"Api itu membakarnya... Dia mati.. dia menatapku.."
"Yuhi.." Chenle memeluk tubuh bergetar Yuhi dan menarik gadis itu keluar.
"HENTIKAN !!! kumohon jangan bernyanyi di kepalaku.." teriak Yuhi.
Chenle tidak tau harus berbuat apa, menyuruh Yuhi tenang itu sia-sia. Gadis itu trauma. Itu adalah sebuah luka psikologis yang tidak bisa di hentikan hanya karena kau memintanya untuk tenang.
Yuhi menangis histeris dalam pelukannya. Gadis itu tidak terkendali sampai-sampai seorang dokter ahli psikologi yang Chenle minta untuk mendampingi mereka harus menyuntikkan obat penenang pada Yuhi.
Chenle sudah menduga ini akan terjadi. Dan pilihan tepat baginya untuk meminta seorang ahli mendampingi mereka.
Tangisan Yuhi perlahan mereda, tubuhnya perlahan melemah dengan tatapan kosong yang tak berdaya. Kantuk mulai menyerangnya ketika nafas gadis itu perlahan mulai teratur dan dia jatuh tertidur dalam pelukan Chenle.
"Yuhi melihat semuanya." Gumam Yuta.
Lelaki itu duduk berhadapan dengan Chenle di sofa kamar Yuhi. Yuta menoleh menatap tubuh Yuhi yang terbaring tenang di ranjang. Miris menyapa hatinya, membayangkan betapa tersiksanya Yuhi selama ini. Bergulat dengan kenangan menyeramkan yang tidak bisa di tolerir oleh alam bawah sadarnya.
"Yuhi yang masih berumur 5 tahun melihat pembunuhan itu di depan matanya sendiri. Aku tidak bisa membayangkan betapa takutnya dia saat itu."
Chenle ikut menoleh menatap tubuh Yuhi. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya.
"Wanita di peti itu ibumu?"
Yuta mengangguk lalu dia mengambil nafas berat seolah dia sulit menerima kenyataan ini.
__ADS_1
"Lalu... Siapa yang dia bunuh?"
"Saudari kembar ibuku. Namanya Ayuzawa Yukino. Selama ini yang merawat Yuhi saat bayi adalah dia. Dan aku salah mengira dia ibuku."
Yuta tidak di Korea saat ibunya meninggal, bahkan dia tidak tau kalau Yukina meninggal 4 hari setelah melahirkan Yuhi.
Kris menyembunyikan ini darinya dengan membawa Ayuzawa Yukino, kembaran sang ibu untuk berpura-pura menjadi Yukina.
"Kasus ini hanya memiliki 1 saksi mata, dia adalah pelayan ibuku dulu sekaligus Pengasuh Yuhi."
Chenle masih setia menjadi pendengar, dia menatap Yuta dengan segenap sisi simpatinya.
"Kris menyalahkan Yuhi atas kematian ibu kami. Dia juga menjadikan bibi Yukino pelampiasan atas kesedihannya...." Yuta lagi-lagi harus menghela nafas. Ini terlalu tragis untuk di ceritakan.
"..... Bibi Yukino melahirkan seorang putri hasil perbuatan Kris dan membuat Kris murka, dia membakar tubuh bibi Yukino beserta putri mereka yang masih bayi, dan itu tepat di depan mata Yuhi."
Chenle ikut menghela nafas. Tidak bisa membayangkan tragedi mengenaskan yang Yuhi alami di masa lalu. Chenle saja merasa merinding hanya dengan mendengar cerita ini, lalu bagaimana dengan Yuhi yang mengalaminya langsung??
Bahkan usianya masih 5 tahun saat itu.
"Yuhi sering mengigau, dia bilang wanita itu bernyanyi untuknya sampai api melahap seluruh tubuhnya." Kata Chenle. Lelaki itu menunduk memainkan jari-jarinya dengan gelisah. Dia menjadi sedikit stres karena membayangkan cerita Yuta barusan.
"Ya.. dan aku bodoh tidak tau tragedi sebesar itu telah menimpa adikku."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Yuta diam. Penyesalan itu akan selalu mendampingi jiwanya ketika dia menatap wajah Yuhi. Dia merasa gagal melindungi Yuhi. Dan merasa bersalah akan trauma mendalam yang di alami gadis itu.
"Jangan khawatir, aku akan meminta seorang profesional untuk mengatasi traumanya meskipun ini sedikit terlambat."
__ADS_1
Bersambung...