
"Aku sudah membagi 30% saham resort keluarga Zhong tapi kenapa aku hanya dapat 20% dari propertimu ?" Chenle memasang wajah kesal. Bahkan di hadapan wajah garang Yuta dia sama sekali tidak takut.
Chenle dan Yuta memang membuat janji temu tanpa sepengetahuan Yuhi. Sebenarnya Yuta juga meminta untuk bertemu adiknya itu tapi Chenle terus menghalanginya. Dalam pantauan Chenle, Yuta masihlah orang jahat yang berada satu kubu dengan Kris dan dia harus mewaspadainya.
"Itu bukan kemauanku, itu kemauannya." Jawab Yuta. Lelaki itu memberikan lembran data pada Chenle.
"Ini proposal proyek pengembangan hotel Nakazono, 20% menurutku sudah lumayan." Lanjut Yuta.
Chenle memeriksa lembaran itu dengan seksama. Meskipun dia masih berstatus sebagai mahasiswa bisnis, pengetahuan Chenle tentang bisnis tidak bisa di anggap remeh. Terbukti dengan beberapa aset keluarga yang dia urus bisa berkembang dengan signifikan.
"Nakazono itu hotel besar, hotel yang tidak pernah sepi, kemungkinan keberhasilan pembangunan resort disana sangat besar." Yuta kembali meyakinkannya.
"Yah mau bagaimana lagi. Berapapun saham yang ku dapatkan, toh Yuhi sudah terlanjur menikah denganku. Aku tidak bisa protes lagi tentang ini." Chenle menutup lembarannya. Lelaki itu menyamankan dirinya dengan duduk bersandar sembari menyilangkan kaki. Mata tajamnya bertemu dengan mata Yuta yang tak kalah tajamnya.
"Apa Yuhi baik-baik saja?" Suara Yuta sedikit melembut begitu juga sorot matanya. Tidak bisa di pungkiri kalau dia mengkhawatirkan adiknya.
"Tentu saja. Aku menjaganya dengan baik, tidak seperti dirimu."
Yuta tidak membalas hinaan itu. Bahkan ia hanya diam seolah mengamininya.
"Aku memang tidak terlalu menyukaimu, tapi karena Yuhi percaya padamu, aku juga akan percaya padamu. " Yuta kembali memasang wajah seriusnya.
"Tolong jaga dia. Karena aku tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Kris kedepannya. "
"Dia tidak berhak menyentuh Yuhi lagi. Dia milikku sekarang."
Yuta menatap sorot kesungguhan dari kedua iris gelap Chenle. Dalam dirinya dia merasa agak tenang karena Yuhi sepertinya tidak salah pilih orang.
"Aku akan melakukan apapun agar dia tidak mengganggu keluargamu."
"Aku memegang janjimu kakak ipar."
...****************...
Chenle tidak ada jadwal kuliah, lebih tepatnya dia masih cuti pasca menikah.
Selepas pertemuannya dengan Yuta, Chenle langsung pulang. Namun kegelisahan tiba-tiba melintasi pikirannya. Pasalnya lelaki itu tidak menemukan Yuhi dimanapun bahkan di kamar mereka. Mungkinkah Yuhi keluar tanpa sepengetahuannya?
Peringatan Yuta tentang betapa gilanya Kris membuat Chenle semakin khawatir. Bagaimana jika pria gila itu berubah pikiran dan membawa Yuhi pergi lagi ?
__ADS_1
Bahkan setelah aset yang dia berikan pada Kris untuk menikahi Yuhi, Kris yang tamak bisa melakukan hal licik semacam itu.
"Dimana Yuhi ?" Tanya Chenle untuk kesekian kalinya pada maid yang kebetulan melintas di lantai 4. Namun mereka sama-sama menjawab tidak tau.
Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon bagian resepsionis rumahnya. Mereka bilang Yuhi tidak keluar rumah seharian itu artinya dia masih disini.
Entah karena rumahnya yang terlalu luas atau bagaimana, mencari Yuhi saja rasanya seperti mencari seorang anak yang hilang di taman bermain.
Lelaki itu berkeliling, tidak ke semua tempat dalam rumahnya. Hanya ke tempat dimana kemungkinan Yuhi akan kesana. Dan dapur adalah tempat yang paling pertama muncul di pikiran Chenle.
Benar saja, gadis itu sedang ada disana bersama sederet macaron di atas loyang.
"Sedang apa ?" Tanya Chenle ketika ia berjalan menghampiri meja dapur.
"Ah.. aku sedang mengerjakan tugas kuliahku." Yuhi melirik Chenle sekali lalu kembali fokus membaca resep.
"Bukannya kau cuti?" Chenle mengamati lekat macaron berwarna pink di atas meja.
"Hanya 1 hari, dan aku harus mengerjakan tugas susulan."
Chenle diam sejenak. Dia berbalik untuk melihat sekitar. Beberapa maid ada di sekitar mereka untuk bersih-bersih lalu seorang kepala maid mendekatinya.
Chenle tersenyum miring dan mendekati Yuhi yang masih sibuk dengan buku resepnya. Lelaki itu berdiri di belakang Yuhi, sangat dekat hingga kedua tubuh mereka saling menempel. Yuhi agak terkejut ketika tangan Chenle tiba-tiba melingkar di perutnya. Lelaki itu memeluknya dari belakang.
"Tidak apa, aku hanya sedang ingin berduaan dengan istriku."
Kepala maid itu tersenyum canggung lalu mengisyaratkan bawahannya untuk segera meninggalkan dapur dan memberi privasi untuk tuannya.
"Chenle... " Yuhi mencoba memprotes. Dia mencekal tangan Chenle tapi tidak berhasil menyingkirkannya dari perutnya.
"Yuhi, aku merelakan aset berhargaku demi menikahimu, masa peluk saja tidak boleh." Lelaki itu membuat wajah merengut yang lucu.
"Ya tapi.. tidak di depan mereka juga."
Chenle baru sadar kalau wajah Yuhi bersemu merah. Lelaki itu tersenyum lalu membalik tubuh Yuhi untuk menghadapnya.
"Aku bertemu kakakmu tadi. "
Kedua mata Yuhi melotot.
__ADS_1
"Tadi? Kenapa tidak mengajakku..??" Ada nada protes dalam pertanyaan Yuhi.
"Aku masih belum bisa percaya padanya. Aku tidak tau dia ada di pihak Kris atau di pihakmu."
Yuhi memutar kepalanya jengah.
"Mana ponselmu." Pinta Chenle dengan menengadahkan tangannya.
"Mau apa? " Yuhi belum mendengar alasannya tapi dia sudah merogoh ponsel di sakunya dan memberikannya pada Chenle.
Lelaki itu mengambil ponsel Yuhi lalu memberikan gadis itu ponsel baru dengan model terbaru.
"Pakai ini. Aku tidak mau Kris ataupun Yuta menghubungimu."
Yuhi berdecak. Kedua tangan Yuhi memegang lengan Chenle dan mencengkeramnya.
"Kakakku ada di pihakku, bagaimana bisa kau meragukannya? Dia yang selalu membelaku Chenle. Dan
sekarang kau melarangku menghubunginya?"
Chenle mengedikkan bahu dengan kedua sudut bibir yang tertarik kebawah.
"Aku hanya waspada Yuhi."
Chenle menangkupkan tangannya di kedua pipi Yuhi. Dia tidak pernah begitu akrab dengan wanita terutama dengan Yuhi. Mereka bahkan tidak saling kenal 3 minggu lalu dan tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Tapi anehnya Chenle sama sekali tidak canggung berada dalam posisi ini.
Seperti ini bahkan terasa nyaman untuknya.
"Berjanjilah padaku untuk tidak pergi kemanapun tanpa seijinku. Aku tidak tau apa yang papimu rencanakan, aku tidak mau dia membawamu pergi. " Chenle menatap dalam kedua iris Yuhi yang memikat. Mengunci tatapan gadis itu agar tetap berada dalam lingkup pandangnya.
Yuhi hampir saja terbuai dengan perkataan Chenle. Secara tidak langsung Chenle mengakui jika dia tidak ingin kehilangan Yuhi, tapi gadis itu tidak ingin terlalu percaya diri. Chenle menikahinya karena kasihan bukan karena cinta. Yuhi harus tau diri.
"Ch-Chenle... " berada dalam tatapan Chenle yang dalam membuat jantung Yuhi tidak aman. Gadis itu melepaskan kontak mereka lebih dulu dan menunduk, namun Chenle tidak membiarkan hal itu terjadi. Chenle mengangkat dagu Yuhi agar gadis itu kembali mendongak untuk menatapnya.
"Kau tau.. tidak ada untungnya aku menikahimu, untuk itu meski kau tidak senang setidaknya turuti ucapanku." Nada suara Chenle merendah dan dia tampak sedikit kecewa.
"Iya.. oke.. aku berjanji akan meminta ijinmu."
"Aku tidak akan menyakitimu, tapi sebagai konsekuensi dari pernikahan ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu meskipun kau memohon sambil berlutut kepadaku."
__ADS_1
Bersambung....