Young Master

Young Master
Ayuzawa's tragic Story


__ADS_3

Disamping kata 'Tolong' ternyata Na Jaemin juga lemah terhadap kata 'kumohon'.


Terbukti dengan kesuksesan Yuhi membujuk lelaki itu dengan tatapan memohon terbaiknya. Jaemin tidak melakukan persiapan apapun, kepergian mereka juga sangat mendadak. Yuhi langsung mengajaknya ke bandara saat malam setelah rencana dadakannya tadi sore. Dan sebelum tengah malam Yuhi dan Jaemin sudah mendarat di Tokyo.


2 orang itu terburu-buru menaiki taxi yang di pesan Yuhi. Jaemin menurut saja karena dia belum pernah ke Jepang dan tidak bisa berbahasa Jepang.


Ini juga pertama kalinya bagi Jaemin mendengar Yuhi bicara bahasa Jepang. Sesungguhnya gadis itu terlihat sangat menggairahkan ketika bicara dengan aksen Jepangnya.


Suaranya terdengar seperti di anime, intonasinya menggemaskan dan entah karena otak Jaemin yang kotor atau bagaimana, lelaki itu seperti mendengar setengah ******* Yuhi dari tiap kata yang dia ucapkan.


"Apa yang lucu? Kenapa senyum-senyum?" Yuhi menatap Jaemin bingung setelah dia melakukan tawar menawar dengan supir taxi. Gadis itu duduk di samping Jaemin sambil memeluk tasnya.


"Bahasa Jepangmu sangat bagus ya." Celetuk Jaemin. Dia masih senyum-senyum sembari mengalihkan tatapannya ke luar jendela.


Ini tidak bisa dibiarkan. Jaemin merasa berdebar hanya dengan menatap Yuhi.


Dalam hatinya ia berteriak keras kalau gadis di sampingnya ini adalah istri temannya.


Sekali lagi, 'ISTRI TEMANNYA'


Dan Jaemin tidak boleh macam-macam dengannya.


Penampakan hotel Nakazono sudah banyak berubah meskipun ini pertama kalinya bagi Yuhi mengunjungi tempat itu tapi dulu dia sering melihat foto tempat itu di ponsel Yuta.


Meskipun letaknya di pusat kota Tokyo tapi hotel Nakazono lebih memilih desain Eropa klasik sebagai ciri khasnya. Interior di dalamnya pun sangat kental dengan kesan klasik ala bangsa romawi.


Tidak ada orang yang mengenali Yuhi disana, Kris tidak pernah memperkenalkannya pada publik atau pada para bawahannya di Jepang. Kebanyakan dari mereka mengira bahwa Yuta adalah putra tunggal keluarga Naka.


Yuhi berjalan ke arah resepsionis di ikuti Jaemin yang mengekor di belakangnya.


2 orang resepsionis itu tampak waspada ketika Yuhi menanyakan nomor kamar salah satu tamu penting di hotel itu. 'Zhong Chenle'.


"Aku istrinya."


"Maaf nona tapi kami tidak bisa memberitahumu." Wanita berseragam rapih itu tampak membuat kontak mata dengan security seolah meminta 2 pria tambun yang berdiri di pintu masuk itu untuk mengusir Yuhi.


Yuhi memutar matanya. Sebenarnya dia tidak ingin berlaku sejauh ini namun dia tidak punya pilihan lain selain memperlihatkan kartu identitasnya. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa Yuhi tebak. 2 wanita penjaga meja resepsionis itu terkejut membaca namanya, lebih tepatnya marganya.


"Nona... Naka??" Gumamnya lirih. Wanita itu menatap kartu identitasnya dan wajah Yuhi bergantian. Dia mencoba meyakinkan penglihatannya kalau foto yang ada di kartu identitas itu benar Yuhi.


"A-anda.. siapanya tuan besar Naka?"


"Putrinya."


"Ti-tidak mungkin..."


Yuhi tau ini akan jadi rumit. Dia datang diam-diam ke Jepang jadi dia tidak akan menelepon Chenle untuk menanyakan nomor kamarnya. Sebaliknya gadis itu justru kepikiran Yuta.

__ADS_1


"Tidak percaya?? Aku bisa menelepon Naka Yuta sekarang." Yuhi menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sambungan teleponnya dengan Yuta. Tapi lelaki itu tidak menjawab teleponnya, sepertinya Yuta sedang sibuk.


"Tidak perlu." Seorang wanita tua datang menyela.


Wanita itu berjalan mendekati meja resepsionis diikuti seorang pengawal perempuan yang menjaganya.


"Ne-nenek.." itu adalah Nenek Chenle, bahkan Jaemin bisa mengenalinya.


"Ikut denganku."


...*********...


Yuhi tidak mengira akan bertemu nenek Chenle di jepang. Bahkan keterkejutannya itu membuat dia sadar akan pertemuan terakhir mereka yang berakhir tidak baik. Yuhi mendadak jadi merasa sungkan dan bersalah pada wanita itu.


Nenek Chenle membawa Yuhi ke restaurant privat yang ada di lantai dasar hotel.


Dia duduk lebih dulu dan menatap Yuhi seolah bertanya kenapa gadis itu tidak ikut duduk dan malah menatapnya?


"Nenek... Aku minta maaf untuk pertemuan terakhir kita di Shanghai. Aku berlaku tidak sopan padamu." Yuhi menunduk dengan wajah bersalah.


Sementara Jaemin yang berdiri di sampingnya tampak cuek. Dia duduk lebih dulu di hadapan nenek Chenle dan memasang serbet di pangkuannya.


"Tidak. Itu bukan salahmu, itu salahku. " Wanita tua itu masih menatap Yuhi yang tidak kunjung duduk.


"Tidak usah dipikirkan. Ayo kita duduk dan makan dulu."


Yuhi duduk di samping Jaemin. Sedikit melirik lelaki itu yang sibuk menggulung pastanya dengan garpu. Yuhi bahkan heran Jaemin bisa makan lebih dulu tanpa sungkan hingga Yuhi harus menyenggol lutut Jaemin dengan kakinya.


"Aku tidak sungkan. Nenek Chenle nenekku juga." Katanya.


Wanita tua di hadapan mereka terkekeh melihat perilaku Jaemin.


"Benar, dia salah satu cucuku yang nakal."


Tampaknya Jaemin cukup akrab dengan keluarga Chenle. Yuhi baru tau itu.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, ini soal orang tuamu."


Senyuman di bibir Yuhi perlahan memudar. Gadis itu berubah tegang dan menegakkan punggungnya.


"Naka Hiro Kris, dia dulu adalah pria lembut yang sangat mencintai istrinya. "


Fakta itu sedikit membuat Yuhi terkejut. Bagaimana tidak, pria kejam yang selama ini dia kenal disebut sebagai pria lembut???


Tidak masuk akal !!


"Sampai saat dimana kau lahir dan Ayuzawa Yukina meninggal 4 hari setelah melahirkanmu, Kris berubah."

__ADS_1


Tunggu.


Ibunya meninggal?? Lalu.. siapa sosok wanita yang selama ini merawatnya dan menyanyikan lagu tidur untuknya ??? Dan juga siapa wanita yang di bakar hidup-hidup oleh anak buah Kris di depan matanya??


"Ma-mami meninggal 4 hari setelah melahirkanku???" Yuhi menatap nenek dengan serius dan wanita tua itu mengangguk pelan.


"Ya. Dia terkena pre eklamsia."


"Jadi gosip tentang tuan Naka yang membunuh istrinya itu tidak benar?" Jaemin yang sibuk mengunyah mendadak meletakkan garpunya. Dia ikut larut dalam pembicaraan serius itu.


Sementara Nenek Chenle menggeleng, menyangkal pernyataannya.


"Wanita yang mengasuhmu selama ini bukanlah Yukina. Wanita itu adalah Ayuzawa Yukino, adik kembar Yukina."


Nenek Chenle menatap Yuhi dalam. Dia tau fakta ini akan membuat Yuhi sangat shock, tapi wanita tua itu berpikir jika Yuhi harus segera tau kebenarannya.


"Kematian Yukina membuat Kris sangat terpukul. Pria itu tertekan dan menyalahkanmu atas kematian Yukina. Itulah kenapa dia tidak bisa menerima kehadiranmu dan dia mulai percaya kalau anak perempuan adalah pembawa sial. Setelah itu Kris memutuskan untuk kembali ke Jepang, sesekali dia kembali ke rumahnya yang ada di Korea untuk mengawasi bisnisnya. "


Yuhi meremas kedua tangannya yang berkeringat dengan ekspresi yang sulit terbaca.


" Dari apa yang aku dengar, kau di asuh oleh Yukino di korea, namun beberapa tahun setelahnya aku mendengar kabar kematian wanita itu."


Nafas Yuhi terasa sesak. Gadis itu bisa melihat kembali potongan memorinya yang selama ini membuatnya sesak. Dia sudah tau sekarang, wanita dalam mimpinya itu bukanlah ibunya, melainkan adik ibunya yang di bunuh secara tragis tepat di depan matanya.


Kekejaman Kris membuatnya jatuh dalam trauma yang mendalam. Dan ketakutan itu sudah menghantuinya selama bertahun-tahun. Suara lirih Yukino yang menyanyikannya lagu tidur sebelum tubuhnya menjadi abu. Suara itu terdengar begitu menyayat dan bergema seperti penggalan film horor yang menakutkan.


"Dia.... Membunuhnya.." Gumaman Yuhi menggambarkan betapa sesaknya gadis itu sekarang.


Yuhi tidak tahan lagi. Dia merasa tercekik dengan bayangan-bayangan kematian Yukino yang muncul di kepalanya setiap kali dia memejamkan mata.


"Yuhi..." Jaemin menatap gadis itu khawatir. Wajah Yuhi berubah menjadi pucat pasi.


Yuhi berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengenyahkan bayangan itu dari dalam otaknya.


"Yuhi.. kau baik-baik saja?? " Tanya Jaemin.


"Aku melihatnya sendiri, di depan mataku. Aku ... Aku..." Kedua kelopak mata Yuhi terpejam rapat, dia tidak sanggup menggambarkan adegan sadis itu. Mengingatnya sungguh menyakitkan.


Nenek Chenle berdiri dari kursinya dan menghampiri Yuhi. Ini pastilah berat untuk gadis itu. Usianya terlalu muda untuk menjadi saksi pembunuhan seseorang.


Meskipun tidak tau apa yang terjadi di masa lalu tapi nenek bisa memahami trauma mendalam Yuhi. Wanita tua itu menunduk di hadapannya lalu memeluknya.


"Ini pasti berat untukmu." Wanita itu mengusap punggung Yuhi untuk menenangkannya. Memberikan gadis itu kenyamanan agar dia merasa aman dalam dekapannya.


"Jangan menangis Yuhi, nanti maskaramu luntur." Celetukan Jaemin tidak mengenal situasi memang. 


Nenek memukul paha Jaemin setelah itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2