
Chenle memenuhi janjinya untuk membawa Yuhi jalan-jalan sebelum mereka pulang ke korea.
Yuhi tidak meminta yang aneh-aneh, hanya mengitari mall saja dia sudah senang. Bahkan Chenle harus memaksanya membeli sesuatu disana agar mereka pulang tidak dengan tangan kosong.
"Ambillah beberapa Yuhi, kalau kau tidak mau memilih biar aku yang pilihkan." Kata Chenle. Mereka ada di salah satu butik ternama dengan koleksi pakaian pria dan wanita yang sangat lengkap.
"Aku tidak ingin belanja Chenle."
Chenle bukan tipe orang yang akan mengulangi lagi perkataannya. Lelaki itu berjalan mendahului Yuhi lalu mengambil beberapa dress.
"Hey.. hey.. aku tidak butuh dress." Yuhi mencoba menahan tangan Chenle. Lelaki itu berhenti sesaat untuk menatap Yuhi.
"Kau istri Zhong Chenle tentu saja kau butuh dress. "
Yuhi tidak paham maksudnya tapi yang jelas dia akan tetap menolak.
"Chenle, jangan berlebihan. Kita tidak perlu membeli yang tidak di butuhkan. Itu pemborosan."
"Tidak boros, butik ini milikku."
Oh iya, Yuhi lupa sekaya apa suaminya. Harusnya dia sudah menduga itu.
" yah.. terserah saja lah..." Dia menyerah.
Chenle dan Yuhi berputar di area pakaian tidur. Chenle mengambil 2 piyama untuk dirinya sendiri dan memilih lingerie untuk Yuhi. Melihat itu Yuhi kembali melayangkan protes.
"Hey.. hey.. aku tidak pakai yang sepeti itu."
"Aku ingin melihatmu memakainya." Chenle menyeringai.
Owh.. baru membayangkan Yuhi memakai ini saja sudah membuat Chenle berdebar. Rasanya dia sudah tidak bisa lagi menunggu perasaan Yuhi berubah padanya, karena lelaki itu sudah merasa lebih dari rasa kecanduan pada Yuhi.
"Itu terlalu terbuka Chenle, sama saja seperti telanjang !!"
"Tapi ini seksi Yuhi." Chenle memamerkan lingerie merah berbahan lace yang transparan. Memakainya sama saja dengan telanjang. Yuhi tidak mau mengambil resiko masuk angin karena memakai itu saat tidur.
Sebagai gantinya Yuhi memilih salah satu gaun tidur berbahan satin yang lebih terlihat manusiawi. Chenle juga tidak menolak pilihannya karena lelaki itu malas berdebat.
****************
Mereka kembali ke korea saat itu juga. Yuhi tidak sempat bertemu nenek saat pulang karena nenek Chenle harus ke rumah sakit untuk terapi. Sebenarnya dia masih merasa tidak enak dengan nenek karena bicara tidak sopan di meja makan. Namun dalam pembelaannya Yuhi juga tidak sepenuhnya salah. Dia tidak akan menyalahkan sisi sensitifnya yang labil. Siapapun berhak tersinggung.
__ADS_1
"Kenapa diam?" Chenle yang sedang menyetir jadi sedikit khawatir melihat diamnya Yuhi. Bahkan gadis itu sudah diam sejak di atas pesawat tadi.
"Aku hanya merasa tidak enak dengan nenekmu." Yuhi menyandarkan kepalanya ke belakang dengan tatapan yang jatuh menatap tangannya.
"Nenekku bukan orang pendendam, tidak usah dipikirkan. " Chenle merasa usahanya untuk menenangkan Yuhi sia-sia karena gadis itu masih tampak murung.
"Mau makan di luar?" Adalah pertanyaan pengalihan yang coba Chenle lontarkan untuk mengembalikan mood Yuhi.
Sayangnya gadis itu menggeleng.
Chenle menghela napasnya. Lelaki itu menepikan mobilnya di rest area terdekat lalu mematikan mesinnya. Yuhi yang tidak tau alasan Chenle berhenti kini mulai melirik lelaki itu.
"Kenapa berhenti ?"
Chenle melepas sabuk pengamannya agar tubuhnya leluasa saat menghadap Yuhi. Satu tangannya terulur menyentuh pipi gadis itu.
"Kurasa istriku butuh pelukan." Senyuman lembut Chenle membuat hati Yuhi menghangat. Gadis itu merentangkan tangannya untuk memeluk Chenle.
"Jangan merasa bersalah, karena kau tidak salah. Setiap orang berhak tersinggung ketika ranah pribadinya di campuri...." Chenle mengusap punggung Yuhi.
".... tapi percayalah, nenekku orangnya baik. "
Yuhi melepas pelukannya dan menatap Chenle dengan maniknya yang berkaca.
"Biarkan saja, kan kau hidup denganku bukan dengan nenek."
Yuhi masih terlihat murung dengan bibir bawahnya yang maju kedepan.
Tidak taukah dia kalau Chenle selalu tergoda untuk melahap bibir peach nya itu?
"Suatu saat nenek pasti mengerti." Chenle mengecup singkat bibir Yuhi lalu kembali bersiap menjalankan mobilnya.
****************
Keesokan harinya dimana Yuhi telah menyelesaikan kesibukannya di ruang praktik, gadis itu akan beristirahat sejenak di taman. Duduk pada bangku kayu sambil mengistirahatkan kakinya yang nyeri.
Berdiri beberapa Jam di belakang meja dapur rasanya sangat melelahkan. Apa lagi dia harus banyak membungkuk ketika plating hidangannya. Ya, Jurusan Cullinary Art yang Yuhi ambil memamg lebih banyak praktiknya daripada teori, itu sangat menguras tenaganya. Belum lagi jika dia harus mengulangi proses memasaknya. Rasanya sangat stress.
Yuhi baru akan meneguk sebotol air mineral dingin yang ia bawa ketika bangku yang dia duduki bergoyang. Seseorang duduk di sampingnya. Yuhi awalnya hanya melirik tapi begitu tau siapa pemilik tubuh itu, Yuhi jadi mengaktifkan alarm waspada dalam dirinya.
"Jangan khawatir, aku datang dengan damai." Kata Sunhye. Gadis yang sebelumnya sempat melabrak Yuhi itu tampak lebih jinak dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Yuhi bertanya hanya untuk basa-basi. Selain itu dia juga tidak menurunkan kewaspadaannya. Mana tau Sunhye menusuknya dari belakang kan?
"Aku yang seharusnya bertanya itu padamu." Kata Sunhye. Yuhi mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Maksudmu?"
Sunhye memutar tubuhnya 30° ke arah Yuhi hingga mereka bisa saling menatap. Wajah gadis itu tampak frustasi.
"Apa kau punya masalah dengan keluargaku?"
Yuhi menggeleng dengan ragu,
"Kurasa tidak."
"Kau yakin..?? Tapi kenapa keluarga Naka selalu cari masalah dengan keluargaku? "
'Bukannya terbalik? Bukannya Sunhye yang selama ini cari masalah?' Batin Yuhi.
"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu... "
"Naka Yuta..." Sahut Sunhye. Yuhi terkejut ketika Sunhye tau siapa kakaknya.
"Naka Yuta melamarku dua setengah tahun yang lalu. Aku benar-benar menyukainya tapi tiba-tiba dia membatalkan pertunangan kami dan memutus kontrak kerja sama dengan perusahaan keluargaku."
"Apa ??" Yuhi melotot. Sungguh dia tidak tau Yuta pernah melamar seorang gadis. Yuta tidak pernah memberitaunya.
Tapi... benarkah Yuta melakukan itu?
Maksudnya... yahh... Yuhi tau, kakak laki-lakinya itu berhati lembut, tidak mungkin dia mencampakkan seorang gadis.
"Lalu sekarang, saat aku menyukai Zhong Chenle dan mau melamarnya kau justru merebutnya dariku." Mata Sunhye berkaca. Sungguh penampilan gadis itu sekarang sangat berbeda dengan gadis bar-bar yang melabraknya beberapa waktu lalu.
"Sunhye... aku tidak tau kalau kakakku pernah melamarmu." Kata Yuhi, dia merasa tidak enak pada Sunhye.
"Dan soal Zhong Chenle..." Yuhi menggantung kalimatnya. Dia sedikit menimbang-nimbang apakah dia akan berkata jujur atau tidak.
"Mm.. sebenarnya kami sudah menikah 2 bulan lalu."
"APA???" Sunhye mungkin bertingkah berlebihan. Gadis itu berteriak dengan 2 mata hampir melompat keluar. Tidak sampai disitu saja, gadis itu juga berdiri menjauh dari Yuhi seolah Yuhi pembawa virus mematikan.
"Ternyata benar ya... keluargamu sangat licik. Oh Ya Tuhan.. kenapa kau menciptkan orang jahat semacam ini."
__ADS_1
Bersambung....