Young Master

Young Master
Ryujin


__ADS_3

Katakanlah Chenle dibutakan oleh cinta. Bahkan rasa cintanya pada Ryujin itu tidak bersyarat hingga dengan mudahnya Chenle menerima kembali gadis itu.


Dia bukan tak tau, seorang Zhong Chenle yang berkuasa pastinya sudah mencari tau.


Ryujin tidak berniat sama sekali menghubunginya ketika dia pindah ke New York bahkan terlihat memang sengaja melakukannya. Chenle juga tau Ryujin menjalin hubungan dengan beberapa pria disana.


Chenle marah, Chenle kecewa, tapi kebenciannya terasa semu. Ketika dia bertemu lagi dengan Ryujin, Chenle tidak mampu membenci gadis itu. Rasanya hambar dan sesak. Dia tau Ryujin mempermainkannya tapi Chenle tidak mampu membencinya.


"Zhong Chenle..." Renjun memanggilnya dengan nada protes. Lelaki berwajah manis itu duduk dan memandang Chenle tidak biasa.


"Hmm???"


"Kau gila? Kenapa kau dan Ryujin.... uhhh.." bahkan Renjun tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tatapan lelaki itu menatap punggung seorang gadis pirang yang tengah memesan makanan di meja kasir. Mereka kini tengah ada di cafetaria depan kampus.


"Apa kau muak denganku Renjunah..? Sama aku juga.." tatapan Chenle kosong, rasanya sangat hampa. Perasaannya mengambang di antara hati dan logikanya yang berseteru.


"Kau tidak memikirkan perasaan Yuhi?"


Chenle menghela nafas dan mengangguk.


"Entahlah... aku ingin memikirkannya, tapi hatiku seperti diperbudak oleh Ryujin. "


"Chenle... " Renjun mengeluh sekali lagi, seperti tidak habis pikir kalau Chenle bisa sebrengsek ini.


Lelaki itu mendadak diam ketika Ryujin kembali membawa pesanannya dan menyapa Renjun dengan ramah.


"Oh.. hai Renjun. Lama tidak bertemu.." katanya.

__ADS_1


Renjun sama sekali tidak memberinya senyuman.


Renjun  juga tetap disana bersama Ryujin dan Chenle sampai keduanya selesai makan. Seolah dia tidak rela kalau sepupunya itu berduaan saja dengan Ryujin.


Chenle tau Renjun pasti kecewa padanya, bahkan berulang kali mereka saling tatap. Tapi Chenle tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini.


"Chenle temani aku belanja setelah ini ya..." pinta Ryujin. Dan lagi-lagi dia mengiyakan padahal Renjun juga tau kalau pulang sekolah Chenle biasanya akan pergi dengan Yuhi.


"Zhong Chenle kau sudah gila." itu ucapan Renjun yang dia ucapkan tanpa suara. Seolah sudah muak melihat kedua insan itu, Renjun hampir beranjak pergi tapi dia urungkan karena melihat Yuhi yang baru keluar dari kampus dan tengah berdiri di seberang jalan.


"Renjun, tolong antar Yuhi pulang hmm.."  Chenle berbisik pelan di telinganya sebelum dia keluar.


Chenle berjalan ke mobilnya dengan Ryujin yang menggandengnya. Lelaki itu membukakan pintu mobilnya untuk Ryujin dan sempat menatap Yuhi di seberang jalan. Pandangan mereka bertemu, Yuhi melambai ke arahnya tapi Chenle justru memberinya tatapan datar. Dan dia masuk ke dalam mobil mengacuhkannya.


...*******...


"Yuhi...." Renjun menghampiri Yuhi yang mematung di trotoar. Pandangan gadis itu masih menatap jalanan yang di tinggalkan Chenle beberapa menit lalu.


Renjun menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia tidak tau harus menjawab apa. Renjun tidak berkeinginan untuk mencampuri urusan rumah tangga Chenle tapi dia juga merasa tidak enak pada Yuhi.


"Yuhi.. sebenarnya ... "


"Apa gadis itu yang bernama Ryujin?"


Renjun tampak terkejut,


"Kau tau Ryujin?"

__ADS_1


Yuhi menggeleng, senyuman sedikit pudar dari wajahnya.


"Aku hanya pernah mendengar namanya dari Giselle, tapi aku tidak mengenalnya. "


"Aku minta maaf..."


Yuhi mengerutkan keningnya. Tidak tau apa alasan Renjun meminta maaf padanya.


"Kau tidak salah." Gadis itu memaksakan senyumannya agar Renjun tidak terlalu merasa bersalah.


Gadis itu berjalan sedikit mundur lalu duduk di salah satu kursi halte di depan kampus dan Renjun mengikutinya.


"Pernikahan kami tidak di dasari atas cinta, ini semua hanya semata-mata karena aku meminta bantuan pada Chenle. Bahkan aku sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi.."


"Kau tidak sedih?"


Pernikahan Chenle dan Yuhi sudah berlangsung lebih dari 3 bulan, dan selama  hidup bersama tidak mungkin Yuhi tidak merasakan apa-apa pada Chenle kan, meskipun itu hanya sebatas rasa nyaman.


"Ya, aku sedih. Tapi aku tidak berhak. "


Gadis itu menunduk memainkan jemarinya. Ini adalah cara Yuhi mengalihkan perhatiannya agar dia tidak menangis.


"Bukan Ryujin yang ada di antara hubungan kami tapi akulah yang ada di tengah hubungan mereka. "


Renjun diam, Yuhi mungkin benar soal dia yang berada di tengah hubungan Chenle dan Ryujin tapi situasi ini juga tidak bisa di benarkan. Bagaimanapun hubungan Yuhi dan Chenle adalah hubungan pernikahan yang sah, tidak peduli siapa yang merebut siapa, yang jelas Chenle harusnya berada di pihak Yuhi.


Keduanya terdiam sampai suasana kampus benar-benar sepi. Yuhi terlalu larut dalam perasaannya dan Renjun tidak tau harus berbuat apa. Pada akhirnya dia hanya memandangi Yuhi yang bersikap seolah dia biasa saja padahal jelas-jelas Renjun tau bagaimana air mata itu berkumpul di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Ayo ku antar pulang.."


Bersambung.....


__ADS_2