Young Master

Young Master
Love is Irreplaceable (END)


__ADS_3

"Jadi.... mm... Kalian sedang kencan? Apa aku mengganggu ???"


Yuhi sedang berada di cafe, duduk di hadapan sepasang sejoli bernama Naka Yuta dan Choi Sunhye.


Sunhye menggeleng cepat diiringi senyuman sebagai jawaban sementara Yuta sudah berwajah masam sejak Yuhi datang.


Sebenarnya Sunhye senang Yuhi datang karena sejak tadi suasana di antara dirinya dan Yuta tidak terlalu menyenangkan. Yuta lebih banyak diam dari pada mengajaknya bicara.


"Kak... "


Yuta menatap Yuhi.


"Kalau wajahmu menyeramkan begitu, Sunhye akan takut. "


"Kenapa kau tidak pulang saja dan malah mengikutiku kesini?" Yuta melipat tangannya di depan dada dan bersandar. Ini adalah pertama kalinya Yuta merasa terganggu dengan kehadiran adiknya.


"Aku sedang bosan di rumah."


"Kalian bertengkar lagi?" Tebak Yuta. Dan lelaki itu bisa mencium kebohongan Yuhi meski gadis itu menyangkal.


"Tidak. Sudah ku bilang aku hanya bosan." Yuhi mengalihkan pandangannya pada Sunhye.


"Sunhye .. bukankah dia tidak seru?? Terlalu dingin iya kan???"


"Eh... Hehe.. ti-tidak begitu.." Sunhye menggeleng dengan senyuman tidak enak, tapi dia berkedip 2 kali pada Yuhi seolah pernyataan Yuhi memang benar.


Yuhi tersenyum penuh arti lalu menyingkirkan gelas jus di antara Yuta dan Sunhye.


Gadis itu menarik tangan Yuta yang menganggur di atas meja lalu dia letakkan di atas tangan Sunhye.


"Begini terlihat lebih romantis." Katanya.


Yuhi mengedipkan sebelah mata, Sunhye terlihat canggung sementara Yuta tampak malu dengan kedua telinganya yang memerah.


"Yuhi... " Yuhi menoleh pada seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di samping meja mereka.


Gadis itu mendongak dan melihat wajah datar Chenle. Yuhi langsung melengos dengan wajah cemberut


"Ayo pulang." Chenle menarik lengan Yuhi tapi gadis itu menepisnya.


"Ayolah jangan ganggu orang pacaran." Kata Chenle lagi.


"Kau membuat Yuhi marah lagi?" Yuta melemparkan tatapan tajamnya pada Chenle.


"Tidak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain..." Pandangan Chenle beralih pada tangan Yuta yang menggenggam tangan mungil Sunhye. Tidak cuma menggenggam, Yuta mungkin tidak sadar telah meremas tangan itu dengan kuat.


"...... Urus saja urusanmu sendiri, lihat kau hampir meremukkan tangannya." Chenle menunjuk Sunhye dengan dagunya. Lalu acuh tak acuh menarik lengan Yuhi dengan kuat.


"Sakit !! Lepaskan !!!"


"Ayo kita bicara di mobil. "


Yuhi sebenarnya ingin menolak, tapi karena mereka tanpa sengaja telah membuat keributan kecil di cafe dan membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka, Yuhi akhirnya mau menuruti Chenle.


Mobil Tesla kebanggaan Chenle sudah terparkir rapi di depan cafe. Chenle juga sudah membukakan pintu untuk Yuhi namun gadis itu tidak mau masuk.


"Jika kau mau merayuku dan memintaku hamil sekarang, maaf aku menolak. " Yuhi bersedekap dengan wajah galak yang baru pertama kali Chenle lihat.


Chenle tidak menghiraukannya. Lelaki itu menarik Yuhi sedikit kasar dan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya. Chenle menunduk dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Yuhi. Wajahnya tepat berada di depan wajah Yuhi dan memaksa gadis itu sedikit mundur untuk menghindarinya.


"Maaf...." Lirih Chenle.


"Apa ?? Aku tidak dengar." Yuhi menatapnya.


"Maaf, aku salah. Aku tidak seharusnya meremehkan tugas mulia seorang wanita. " Chenle menatap kedua mata Yuhi dengan meyakinkan.


"Dan aku tidak akan memaksamu lagi untuk hamil. Kau berhak atas tubuhmu, aku akan menunggu sampai kau siap."


Senyuman Yuhi terukir tipis di wajahnya. Namun itu hanya sesaat karena setelah itu hanya sebelah bibirnya saja yang terangkat membentuk sebuah seringai kecil.


"Baiklah. Kau harus menunggu dan tidak boleh menyentuhku lagi sampai aku siap hamil."


Chenle diam sesaat. Mencoba menelaah maksud Yuhi dengan dua mata berkedip-kedip lucu.


"Hey !! Mana bisa begitu." Protesnya. Bibirnya sudah cemberut seperti anak bebek mau menangis.

__ADS_1


"Aku lelah minum obat jadi kau harus menahan diri untuk tidak menghamiliku."


"Tidak mau !"


"Harus mau. "


"Cerewet yah ... Mau di cium??"


"Mau!"


Chenle tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Dia menatap Yuhi gemas seperti ingin menerkam gadis itu.


"Kalau saja tidak sedang di pinggir jalan mungkin aku sudah memakanmu sekarang juga."


ʕ⁠'⁠•⁠ᴥ⁠•⁠'⁠ʔʕ⁠'⁠•⁠ᴥ⁠•⁠'⁠ʔʕ⁠'⁠•⁠ᴥ⁠•⁠'⁠ʔ


Semuanya terasa begitu cepat karena kenangan-kenangan baik yang datang setiap hari membuat Yuhi tidak lagi


memikirkan soal waktu.


Yuhi menikmati saat-saat nya bersama Chenle dan kehangatan keluarganya. Sejujurnya dia merasa hangat di hatinya karena berada di tengah keluarga yang menyayanginya.


Setelah banyak kebahagiaan menyelimuti Yuhi, kini giliran Naka Yuta. Lelaki itu akan segera menikah hari ini. Sebuah hotel mewah milik keluarga Choi Sunhye lah yang menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.


Rencana pernikahan itu dilaksanakan lebih awal dari rencana sebenarnya. Ini karena orang tua Sunhye yang enggan menunggu. Mereka takut Yuta akan memutuskan hubungan sepihak lagi.


Malika tertawa di depan pelaminan karena menatap Yuta yang tampak tidak akrab dengan Sunhye. Bahkan hanya berpegangan tangan saja sudah membuat telinga lelaki itu memerah.


"Apa mereka yakin mau menikah? Suasananya canggung sekali."


Yuhi melirik Chenle yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu baru saja kembali dari meja makanan dan saat ini sedang menyantap salad buah yang membentuk bukit kecil di piringnya.


"Kak Yuta bukan tipe pria brengsek yang akan meminta free trial sebelum menikah. " Nada sindiran Yuhi begitu menusuk. Chenle meletakkan priring saladnya dengan kasar lalu menatapnya tidak terima.


"Setidaknya dia tidak di paksa menikahi seorang gadis. Sementara aku..."


Yuhi langsung melempar tatapan tajamnya, membuat Chenle langsung tersenyum kaku karena takut Yuhi marah.


"Bercanda sayang." Lelaki itu memeluk Yuhi dari belakang dan mencium puncak kepalanya.


Yuhi langsung menatap mata Chenle lagi. Sementara Chenle memasang wajah polosnya.


"Apa? Memangnya aku salah? "


"Pertanyaanmu sama sekali tidak berbobot."


"Yah... semua lelaki yang menikah pasti berpikir ke arah sana. Aku yakin di dalam kepala kakakmu sekarang juga memikirkan hal yang sama."


Yuhi memegang tangan Chenle yang melingkar di perutnya lalu menarik lepas pelukan lelaki itu.


"Jadi itu isi kepalamu saat menikah denganku?"


"Sudah aku bilang kan.. semua laki-laki pasti memikirkannya."


"Lalu.. kenapa kau tidak langsung menyerangku saat malam pertama?"


"I-ituu karena... A-aku malu."


Yuhi bisa melihat semburat merah muda di pipi Chenle. Suaminya itu sedang tersipu rupanya.


Tatapan Yuhi kembali mengarah ke pelaminan. Menatap Yuta yang irit senyum dan Sunhye yang sumringah. Kedua mempelai itu sangat berlawanan seperti api dan es.


Tidak banyak tamu yang datang. Hanya dari keluarga inti Sunhye dan beberapa kerabatnya, sementara dari pihak keluarga Naka hanya Yuhi yang datang.


Yuhi sedikit sedih mengingat hal itu. Mereka tidak punya keluarga, apalagi kerabat. Kris tidak bisa hadir karena dia ada di penjara.


Namun hal lain yang membuat Yuhi benar-benar tersentuh adalah ketika keluarga Chenle hadir sebagai perwakilan keluarganya. Bukankah keluarga Zhong itu seperti malaikat?


Mulai dari sesepuhnya sampai pada cucu tampan mereka, Zhong Chenle, semua memiliki hati yang hangat. Bahkan sampai sekarang Yuhi masih merasa berhutang budi pada Chenle yang mau menikahinya meskipun dia tidak di untungkan sama sekali dalam pernikahan itu.


Yuhi merasa beruntung telah memilih Chenle dan kini dia juga merasa bangga menjadi pemilik hatinya.


"Kenapa menatapku seperti itu??"


Chenle menaruh curiga pada senyuman Yuhi saat gadis itu menatapnya dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Aku cuma merasa beruntung."


"Karena punya suami tampan sepertiku?"


Belum juga di puji tapi wajah Chenle sudah menyombong. Yuhi menarik lengan Chenle dan berjinjit untuk bisa mencapai telinga suaminya.


"Iya. Terima kasih sudah mau menikah denganku." Bisiknya.


Chenle tersenyum, mereka saling menatap untuk beberapa saat sampai Chenle benar-benar tidak tahan untuk mencium pipi Yuhi.


"Yuhi.. "


"Hmm???"


"Ke kamar yuk.."


Yuhi melotot.


"Mau apa?"


"Main..."


Yuhi tau betul maksud Chenle, tapi dia ingin pura-pura tidak tau saja.


"Main apa??"


Chenle berdecak kesal atas ketidakpekaan istrinya. Lelaki itu berkacak pinggang.


"Kan sudah sering, kok masih tanya."


Yuhi tersenyum simpul. Satu tangannya terangkat untuk mencubit pipi Chenle yang menggemaskan.


"Baiklah."


"Asiiik.... Kau di atas ya. Aku mau di bawah." Chenle kegirangan lalu menarik tangan Yuhi keluar dari aula pernikahan. Kamar mereka ada di lantai 12 mungkin butuh beberapa menit untuk sampai kesana.


"Kau akan cepat keluar kalau di bawah." Ledek Yuhi. Chenle tidak terima.


"Aku akan menahannya."


"Aku tidak yakin Chenle. Biasanya baru aku duduki saja kau sudah teriak."


"Aaahh Yuhiii... "


"Kita taruhan, yang keluar duluan harus memasak sarapan selama sebulan."


"Oke, siapa takut."


°


°


°


°


°


Bonus


"Yuhi kau belanja pakai black card ku??"


"Iya, sebenarnya aku mau balas dendam dengan membuatmu kesal dan menghabiskan uangmu."


Chenle menyeringai.


"Apa hanya sampai situ kemampuan belanjamu? Belum juga 2M, uangku masih banyak. "


Yuhi memutar matanya lelah, menatap Chenle yang menyombong sudah jadi rutinitasnya.


"Aku sudah membeli setengah isi mall sampai kakiku sakit. "


" Harusnya beli mall nya sekalian sayang. Suamimu ini kan kaya."


THE END

__ADS_1


__ADS_2