Young Master

Young Master
Heart Pieces


__ADS_3

Malam ini dingin, bahkan ketika sinar rembulan tampak meredup, bias kerinduan yang tersembunyi itu mulai terasa.


Chenle tidak pulang selama 2 hari, dan Yuhi tidak perlu bertanya dimana dia berada, karena dia sudah tau jawabannya.


Yuhi mungkin berpikir dirinya terlalu ceroboh. Atau mungkin juga sedikit bodoh karena tidak berpikir panjang tentang sebuah pernikahan.


Seperti yang orang bilang, jangan pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya. Sepertinya sekarang Yuhi tau alasannya. Tapi ini adalah salahnya sendiri, dia terlalu berambisi untuk bebas hingga dia tidak memperhitungkan kehidupan Chenle di masa lalu.


Yuhi pikir ini akan baik-baik saja. Dia yang asing dengan cinta merasa sombong kalau dia juga tidak akan jatuh cinta. Menikah lalu bercerai dengan  Chenle justru adalah tujuan awalnya.


Namun tampaknya perasaan itu berubah. Yuhi masih meragukannya tapi dia tidak menampik jika menjalani hari-hari bersama Chenle membuatnya merasa terbiasa. Terlalu nayaman dalam posisi itu hingga Yuhi lupa kalau Chenle bukan miliknya.


Helaan nafas Yuhi sama sekali tidak melepaskan sesaknya, gadis itu cukup hanya tersenyum menatap keatas cahaya rembulan yang meredup, berharap air matanya tidak jatuh.


Yuhi akan menjadi pembangkang hari ini, gadis itu meninggalkan mansion Chenle seperti rapunzel yang kabur dari menara dengan rambutnya.


Berjalan tanpa tunjuan di pinggir trotoar jalanan yang mulai sepi. Yuhi memeluk dirinya sendiri ketika angin dingin membuatnya sedikit menggigil.


Ini adalah pasar namdaemun, itu terletak di depan area elit mansion Chenle dan Yuhi berjalan sampai sana. Sekedar untuk mengalihkan sedihnya.


"Aku senang kau baik-baik saja."


Gumaman seseorang membuat Yuhi menoleh ke belakang. Mengabsen satu-persatu orang yang berlalu lalang berharap menemukan sumber suara itu.

__ADS_1


"Nona Yuhi.."


Yuhi sangat mengenali suara itu, bahkan hatinya bergetar ketika mendengarnya. Yuhi mengedarkan pandangannya lebih cepat berharap kalau ini bukan halusinasinya.


Pandangannya jatuh pada wanita tua berpakaian lusuh yang duduk di depan kedai ikan laut. Wajahnya yang keriput tak membuat Yuhi pangling, bahkan Yuhi sangat-sangat merindukannya. Wanita itu...


"Bibi Ahn.."


Yuhi tersenyum tapi matanya mengeluarkan air mata. Gadis itu tak sabar hanya sekedar melangkah, jadi dia berlari mendekat ke arah wanita renta itu lalu memeluknya sangat erat.


"Bibi Ahn.... Bibi Ahn..." panggilnya berulang kali, dia setengah tidak percaya kalau  akan bertemu kembali dengannya.


Bibi Ahn adalah pengasuh Yuhi sejak dia bayi. Mereka terakhir bertemu sebelum Yuhi menikah, dan Yuhi juga mendengar kalau bibi Ahn berhenti bekerja pada Kris setelah Yuhi menikah.


Yuhi tidak sanggup menjawabnya. Air matanya tidak mau berhenti mengalir dan membuatnya terisak sangat keras.


Bibi Ahn sangat tau sesuatu pasti terjadi pada Yuhi. Wanita tua itu bergegas menutup kedainya dan membawa Yuhi masuk. Bukan apa-apa, dia hanya takut para ajudan Kris tau kalau Yuhi menemuinya.


Di luar mendadak hujan, deru suaranya sangat berisik hingga suara isakan Yuhi seperti teredam.


Yuhi telah menceritakan semuanya. Tentang Chenle, tentang Ryujin, tentang mimpi-mimpi buruknya, Semuanya. Dia sepeti anak-anak yang sedang mengadu, mengumbar semua keluh kesah yang tertahan dalam hatinya.


Bibi Ahn memeluknya, inilah yang paling Yuhi rindukan. Pelukan hangat bibi Ahn yang sangat tulus. Seperti pelukan ibunya.

__ADS_1


"Nona Yuhi. Tidak peduli seberapa jauh tuan muda Zhong pergi, dia pasti akan kembali padamu, karena kau adalah rumahnya."


"Tidak bibi, Ryujin adalah rumahnya, dan sekarang dia kembali ke rumahnya."


"Nona.. kaulah istrinya, kau adalah semestanya. Apapun yang dia lakukan diluar sana, yang perlu anda lakukan hanya tersenyum dan menyambutnya setiap kali dia kembali...."


Yuhi menatap senyuman tulus bibi Ahn, dan bagaimana wanita itu berkata dengan lembut.


"Jadilah tempat ternyaman untuknya pulang."


Yuhi diam, masih menatap  manik mata bibi Ahn dengan wajah lesunya. Dia tidak yakin apakah dia bisa menjadi tempat nyaman itu untuk Chenle. Yuhi juga tidak yakin apakah dia ini adalah rumah untuk Chenle kembali, ataukah dia hanya sekedar tempat singgah untuk lelaki itu.


Suara ketukan di pintu membuyarkan pemikirannya. Yuhi maupun bibi Ahn menoleh ke arah pintu yang belum menutup sempurna. Ketakutan itu sempat menyapa mereka, pasalnya selama ini Kris sedang mencari-cari bibi Ahn. Karena hanya wanita tua itulah saksi mata atas pembunuhan ibu Yuhi.


Namun kekhawatiran mereka tampaknya berakhir sia-sia. Seseorang yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu itu adalah Yuta. Satu tangan lelaki itu berada di kepala, memegang rambutnya yang basah terkena hujan.



"Yuhi...???"


"Kakak..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2