
Hari senin, hari di mana ujian akan berlangsung. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak berpikir, aku menjadi sulit sekali untuk fokus. Bahkan Aithan pun mengkhawatirkanku, katanya aku terlihat seperti memiliki banyak yang dipikirkan, dan wajahku terlihat pucat, katanya. Padahal ini masih hari pertama ujian dan aku biasanya tidak seperti ini, mungkin ini karena aku terlalu banyak berpikir untuk novel yang akan ku ikut sertakan di lomba itu.
Saat ini adalah ujian pelajaran Bahasa Indonesia. Ujian pertama di hari ini. Aku benar-benar sangat sulit untuk fokus. Sudah sekitar 20 menit ujian dimulai, aku masih belum menjawab 1 pun soal. Aneh.. Ini bukanlah diriku sama sekali, padahal aku sudah belajar, tapi aku masih saja belum bisa menjawab 1 pun soal. Aku memutuskan untuk izin ke toilet terlebih dahulu untuk menenangkan diri.
......................
Setelah berada di kamar mandi, aku mencuci muka ku. Aku menatap cermin selama 4 menit kedepan dan melihat pantulan dari diriku yang terlihat sangat tidak berguna ini. Apa yang terjadi dengan dirimu bodoh, kau sama sekali bukan seperti dirimu yang biasanya. Aku bergumam dengan diriku sendiri, beruntungnya, tidak ada siapapun di sana, jadi, aku tidak merasa itu memalukan berbicara dengan diri sendiri.
Setelah selesai untuk mencoba menenangkan diri, entah mengapa itu rasanya seperti sia-sia saja, aku masih mempunyai banyak hal yang kupikirkan. Kalau begini terus aku tidak akan pernah bisa tenang dan fokus.
Huhh... Ini pasti karena aku terlalu bodoh, karena, aku tidak bisa sama sekali memikirkan ide untuk menulis novel yang sebagus mungkin. Arghh pikiranku makin kacau, aku benar-benar sulit untuk fokus saat ini.
Di saat aku sedang menuju dalam perjalanan kembali ke kelas, aku bertemu Nala, yang kelihatannya baru saja dari toilet. Nala melihat ku dan menghampiriku, lalu bertanya dengan wajah khawatir, "Kamu kenapa Alachii? Kok muka kamu keliatan pucet gitu?"
"Ahh... Aku terlihat pucat yah. Aku gapapa sih, cuman kurang tidur aja hehe." Jawabku dengan senyum yang terpaksa.
"Kamu.. Keliatan lagi banyak yang dipikirin yah.. Mau cerita?" Nala menatap muka ku, dan sedikit mendekati ku.
"Aku.. Gapapa sih serius..." Jawabku, dengan mencoba terlihat tetap tenang.
"Yaudah deh, kalau gitu. Kalau ada masalah, atau ada yang mau kamu ceritain, kamu bisa cerita ke aku kok! Kalau nggak, bisa ke orang lain juga kan. Tentu saja orang yang kamu percaya."
"Gak baik loh, menyimpan masalah yang kamu hadapi sendirian di pikiran kamu sendiri. Kamu bisa minta bantuan atau pendapat orang lain juga kan." Kata Nala dengan tersenyum sangat manis. Lalu Nala melambaikan tangannya dan kami pun berpisah.
Aku tidak mau mencoba membebani pikiran Nala dengan menceritakan masalah apa yang sedang kuhadapi. Jadi, kupikir lebih baik aku tidak menceritakannya. Lagipula, kami baru kenal belum lama ini, jadi aku lebih baik tidak menggangu nya.
......................
Akhirnya aku bisa sedikit merasa lebih baik setelah mendengar apa yang dikatakan Nala. Aku pun bisa menyelesaikan semua soal ujian Bahasa Indonesia dengan hasil yang seharusnya cukup bagus.
__ADS_1
Saat ini adalah jam istirahat, jadi, aku akan menghabiskan waktu istirahat ku untuk belajar di taman, sekaligus menenangkan diri dengan pemandangan taman yang menenangkan.
Setelah 10 menit, ketenangan ku akhirnya berakhir dengan datangnya Aithan yang membawa banyak sekali plastik yang berisi makanan.
"Oii.. Al, nih aku beliin banyak makanan." Dia tersenyum sambil menaruh banyak plastik yang berisi makanan di dekatku.
"Kenapa nih, tiba-tiba?" Tanyaku dengan curiga.
"Hmmm... Apa, kau gak berterimakasih, sama sekali sama teman terbaikmu yang sudah perhatian ini. Aku ngerasa sedih tau." Aithan benar-benar terlihat sangat sedih.
"Aku.. Gak paham, maksudku dalam rangka apa kau memberiku makanan sebanyak ini, kalau masalah berterimakasih sih, ya makasih."
Aithan kembali ke mood-nya yang sangat enerjik, "Hahaha, gak usah banyak tanya, makan aja makan nih." Aithan memaksaku untuk membuka mulut.
"Nih, nih, ahmhhm...." Pada akhirnya, aku membuka mulutku dan memakan apa yang Aithan paksa untuk masuk ke dalam mulutku.
Setelah selesai mengunyah aku menghela nafas, "Huhh... Aku benar-benar gak paham.. Aithan."
"Maka dari itu, sekarang gak usah mikirin apapun dan buat dirimu senyaman mungkin dan makanlah yang banyak yah. Karena katanya makan sebanyak mungkin saat banyak yang dipikirkan itu membuatmu merasa senang dan tenang loh." Katanya.
"Hahaha, denger dari mana kau tentang makan banyak membuat seseorang tenang hahaha..." Aku tertawa puas setelah Aithan mencoba menenangkanku.
"Makasih ya."
Aithan terlihat bangga, karena dia merasa seperti sudah menyelesaikan misi yang sangat berat.
"Kalau kau mau, kau bisa cerita lohh.. Aku bakal mendengarkan dan memberi saran sebisa mungkin." Aithan sepertinya benar-benar peduli dengan diriku.
Aku pun akhirnya berpikir, apa sebaiknya aku cerita soal ini sama Aithan, karena, dia pasti akan membantuku juga.
__ADS_1
Aku menyiapkan diriku sebelum bercerita tentang apa yang ada di pikiranku selama ini. "Aku, sebenarnya mengikuti lomba yang kubicarkan dengan Elina di hari Jum'at itu, aku ingin meraih juara 3, karena aku diwajibkan meraih juara 3 untuk pembuktian keseriusan ku untuk menjadi novelis. Dan, setelah aku membaca novel buatan Elina, itu membuatku menjadi sadar, kalau, meraih juara 3 tidaklah semudah itu. Aku yakin banyak sekali orang yang mempunyai cerita yang menarik selain Elina. Aku.. Tidak bisa memikirkan ide cerita yang menarik sama sekali..."
Aithan mendengarkan dengan serius, lalu mengatakan, "Oke, lalu kenapa kau tidak buat cerita yang sebisa mungkin kau bisa buat? Itu kan lebih enak, hasil akhir mungkin tidak akan sesuai ekspetasi, tapi, setidaknya kau sudah berjuang hingga akhir kan?" Yap, Aithan seperti ini lah yang membuatku bisa bebas bercerita apapun dengannya, dia adalah teman terbaik yang pernah kudapatkan.
"Masalahnya, ini adalah tantangan dari ibuku, dan aku menerimanya, karena, aku pikir, tidak ada cara lain selain menerima tantangannya ini untuk membuktikan kalau aku serius menjadi novelis. Aku tidak akan diperbolehkan menjadi novelis jika aku gagal meraih juara ke 3." Kataku.
"Ya.. Itu, beneran sulit yah. Tapi, ini adalah sebuah kesempatan besar untuk mu ya kan, Al?"
"Ya begitulah."
Lalu keadaan pun menjadi hening tanpa sepatah katapun terucapkan di antara kami berdua.
Setelah kira-kira 5 menit berlalu tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami berdua, Aithan pun akhirnya membuka mulutnya, dan berkata, "Yaa, pada akhirnya, kau cuma bisa membuat cerita yang hanya bisa kau buat, bukan berarti orang lain bisa membuat juga apa yang kau buat bukan?"
"Biar ku tebak, kalau kau gagal meraih juara 3 ini, kau harus menuruti kemauan mereka kan?" Aithan menebak tepat sasaran.
"Yap, kau memang benar-benar jenius yah kalau masalah seperti ini."
"Hahaha, makasih makasih." Aithan kegirangan setelah kubilang jenius.
"Bagaimana kalau, selama seminggu ini, kita kan ujian, nah kau sepertinya tidak usah terlalu memikirkan tentang novelmu itu. Dan, setelah ujian berakhir, kau benar-benar bisa fokus dengan novelmu itu kan? Kalau kau kesulitan akan kubantu kok.. Tenang." Aithan tersenyum, dan terlihat dapat bisa diandalkan kali ini.
"Ya.. Akan kuikuti saran darimu. Setelah cerita seperti ini, aku merasa lebih baik dan tenang, terimakasih banyak yah my bestfriend!" Aku mengucapkan hal itu sambil menahan urat malu ku. Ini adalah kata-kata yang akan kugunakan sekali dalam seumur hidup, aku yakin.
Wajah Aithan terlihat seperti menahan sebuah bencana yang akan membuat diriku malu, dan yapp, "Pfftt... Ahahahha.. Iya, iya, sama-sama my bestfriend.... Hahahaha." Sudah kuduga, Aithan pasti akan meledek ku. Terserah lah yang penting aku merasa lebih baik sekarang.
"Udahlah, ayo kita ke kelas, bel masuk udah bunyi tuh." Kataku sambil menyembunyikan rasa malu ku.
"Oke, oke, my bestfriend." Aithan tampaknya akan sulit berhenti meledek ku saat ini.
__ADS_1
......................
Dan, hari senin ini pun berakhir. Beruntungnya aku mempunyai Aithan untuk teman curhat ku, setidaknya aku harus fokus untuk mendapatkan nilai yang memuaskan di ujian sekolah terakhir ini! Lalu setelah itu, aku akan mengalihkan fokus ku ke novel untuk diikutsertakan untuk perlombaan itu.