
Ibuku terus-terusan menatapku dengan tatapan yang sangat tajam dan membuatku hanya terdiam, "Kamu beli novel kan waktu pergi ke toko buku! Sudah begitu harga bukunya sampai 250 ribu pula padahal cuma 1 buku... Mahal banget Alvaro!!! 250 ribu itu bisa kamu tabung buat masa depanmu!! Bukann buat beli novel yang kayak beginii... Gak berguna tau Alvaro!"
Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa, Aruna terlihat sangat mengkhawatirkanku.
Aku mencoba tetap tenang dan menjawab, "Aku membeli novel itu untuk kujadikan sebagai referensi untuk aku menulis novel. Lagipula walaupun harganya mahal kan, aku membelinya dengan uangku sendiri, ibu seharusnya tidak usah terlalu peduli bukan?" Aruna pun hanya melihat dan ia mencoba menenangkanku dengan senyumannya.
"Alvaro!! Kamu ini... Sudah berani melawan yah??!Memangnya kalau kamu sudah membaca keseluruhan novel ini, apa kamu bisa menciptakan buku yang seperti ini juga!??" Pertanyaan dari Ibuku ini sangatlah tidak masuk akal, dan juga bisa memancing emosi.
"Ya mustahil lah, kalau aku bisa benar-benar membuat buku yang semacam itu, aku harus menghabiskan waktu bertahun-tahun di dunia penulisan, dan selama itu aku sudah dipastikan akan merasakan rasanya gagal dan sukses menulis sebuah buku. Terlebih lagi, kalau novel." Jawabku dengan mencoba tetap bersikap tenang dan terlihat tidak takut, disaat ibuku terlihat sangatlah menakutkan.
Tatapannya terlalu tajam, membuat bulu kuduk ku merinding. Lalu Ibu pun mengatakan, "Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau kau habiskan uangmu untuk membeli buku, cara sukses untuk menjadi pebisnis di tahun 2026? Bukankah itu akan lebih bagus Alvaro?! Masa depanmu akan lebih terjamin."
"Kalau begitu, apa jika aku selesai membaca beberapa halaman saja buku tentang bisnis itu, apa aku sudah dijamin langsung sukses?" Aku mencoba bertanya kembali dengan pertanyaan sama, seperti yang Ibuku lontarkan tadi.
Emosi Ibuku sepertinya sudah memuncak, lalu Ibuku mengambil sesuatu dari kantung bajunya, itu terlihat seperti sebuah poster perlombaan.
Aruna tampak khawatir saat Ibu mengeluarkan poster itu, dan Aruna tampak berbincang sedikit dengan Ibu sebelum menunjukkan poster itu, "Apa Ibu serius soal ini? Bukannya itu terlalu berlebihan bu?" Aruna mengatakan itu sambil melihat ke arah ku dengan tatapan khawatir.
"Ini lebih baik daripada tidak sama sekali kan? Lagipula kamu terlalu khawatir sama kakakmu sendiri Aruna." Ibuku terlihat sangat lembut jika berbicara dengan Aruna. Perlakuan yang hampir tidak pernah kurasakan sejak kecil.
Ibuku dengan emosi yang meluap pun langsung menunjukkan poster yang dilipat itu, "Baiklah.... Kalau kamu benar-benar serius untuk menjadi seorang penulis novel coba buktikan di sini! Dan kamu harus meraih minimal juara ke 3!"
__ADS_1
Setelah kulihat lagi itu adalah poster perlombaan antar pelajar tingkat Nasional, pelajar di sini itu yang termasuk semua kategori pelajar. Bisa saja aku akan menghadapi karya dari siswa-siswi Saibou.
Lagipula, untuk orang yang belum pernah mengikuti perlombaan menulis novel selama hidupku tiba-tiba dipaksa untuk mengikuti perlombaan tingkat Nasional... Bukannya ini terlalu cepat.
"Tapi... Jika aku berhasil meraih juara ke 3, apa aku diizinkan untuk melanjutkan pendidikanku di Saibou Inter High School?" Aku dengan berani mencoba menanyakan apa yang bisa menguntungkanku jika aku berhasil meraih juara ke 3.
"Tentu saja. Kamu akan dibebaskan untuk memilih menjadi apa yang kamu inginkan. Itu jika kamu berhasil meraih juara 3, kalau tidak berhasil, kamu harus menuruti apa yang ibu dan ayahmu ini inginkan." Jawab ibu. Jawaban dari ibuku sebenarnya sudah cukup untuk memuaskanku dan bisa juga menjadi motivasi untukku.
Aku pun menerima tantangan dari ibuku dengan nada bicara yang bersemangat, karena, ini adalah yang terbaik untukku. Aku bisa membuktikan kalau aku serius untuk menjadi novelis.
Lalu aku mengambil poster itu dari tangan ibuku. Aku saat ini termotivasi untuk segera menulis novel ku.
Tapi di saat aku hendak kembali ke kamarku, Ibu mengingatkan ku, "Ibu hampir lupa, masalah biaya hidup jika kamu benar telah berhasil memulai karier mu sebagai penulis...." Soal biaya hidup yah, kukira apa. Aku tidak akan berharap terlalu tinggi kalau mereka akan membiayai hidupku nanti.
Yap, sepertinya mereka memang tidak akan terlalu ikut campur dengan kehidupanku jika berhasil jadi novelis. Jika berhasil yah... Perlombaan ini bisa menjadi sebuah pijakan yang akan mengubah hidupku untuk selamanya. Jika aku berhasil meraih juara 3 aku akan diizinkan menjadi apa yang kuinginkan, setidaknya itulah janji Ibu kepadaku. Kalau gagal, aku akan menjadi penerus bisnis mereka.
Jadi ini adalah 50:50. Aku harus berjuang semaksimal mungkin. Aku pun kembali ke kamarku, Aruna mengikutiku sampai kamar.
"Kenapa? Kamu khawatir Aru?"
"Ya iyalah... Lagian kan itu lomba tingkat Nasional loh Naru nii-chan, wajar aja kan Aru khawatir." Tampak ekspresi Aruna benar-benar sangat mengkhawatirkanku. Sifatnya yang seperti ini membuatku bersemangat.
__ADS_1
Aku mengelus kepala Aruna, "Hahaha... Sifatmu yang seperti inilah yang kakak suka Aru. Tenang saja, tidak usah terlalu mengkhawatirkan kakak. Kakakmu ini pasti bisa kok." Jawabku, mencoba untuk menenangkannya.
Aruna tampaknya tersipu malu. Ia langsung berlari ke arah kamarnya. Yah, setidaknya untuk saat ini belum akan ada masalah. Aku pun masuk ke kamar dan segera mandi.
......................
Setelah selesai mandi, aku mencoba memikirkan judul novel yang akan kubuat. Aku melihat-lihat poster itu, lomba sudah dimulai dari awal bulan April, sekarang ini sudah mendekati akhir di bulan April, dan batas waktu untuk mengirimkan novel yang akan diikutsertakan adalah 1 Juni.
Kupikir 1 bulan cukup untuk menyelesaikan novel ini. Persyaratan dari novelnya harus berbentuk fisik, minimal 10 bab, cerita diharuskan sudah tamat. Dan hadiahnya juga benar-benar besar, untuk juara 3 saja aku bisa mendapat uang tunai sebesar Rp. 3.000,000. Bahkan ada Juara harapan disini, akan ada 3 orang yang menjadi Juara harapan, kalau Juara 1-3 hanya akan ada satu pemenang yah...
Aku sudah memikirkan temanya, dan tema yang akan kuambil adalah tentang Perang Dunia. Ya aku ingin membuat novel bertema Perang Dunia, walaupun aku tidak pernah merasakan sensasi Perang itu secara langsung, tapi aku mempunyai imajinasi yang cukup liar untuk membuatnya, aku merasa sangat yakin akan hal ini.
Dan 20 menit pun berlalu..... Sudah mendekati waktu makan malam, tapi ide untuk judul novelnya masih tak kunjung datang. Aku pun menyerah untuk sementara dan turun untuk bersiap untuk makan malam.
......................
Jam 19:11, makan malam pun selesai. Ayah dan Ibuku hanya membicarakan tentang perlombaan itu, tidak ada yang begitu spesifik di pembicaraan itu, hanya pengulangan dari pembicaraanku dengan Ibu tadi sore.
Saat ini aku sudah kembali ke kamar, aku masih saja buntu ide untuk menentukan judul dari novelku ini. Waktu terus berjalan tapi, aku masih kebingungan untuk menentukan judul, aku memutuskan untuk bermain hp sebentar.
Aku membuka aplikasi WA, Aithan membuat story, aku melihatnya dan itu ternyata hanya karakter perempuan incarannya, dia membuat story itu dengan caption 'AKHIRNYAAA ISTRIIKU PULANGG' Yah... Aithan banget.
__ADS_1
Setelah hampir 1 jam tidak menemukan sebuah ide untuk menentukan judul, aku akhirnya mencoba menulis prolognya saja.
Jam 21:13, aku sudah menulis hampir 500 kata, setelah melihat jam, aku belajar untuk mengulang pelajaran hari ini. Setelah selesai aku pun bersiap untuk tidur. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat perlombaan itu di akhir pekan.