
Hawa dingin pagi ini membuatku bangun lebih cepat dari biasanya, saat aku melihat jam weker ku, aku bangun 1 jam lebih cepat. Hari ini adalah hari jum'at, hari terakhir untuk bersekolah di minggu ini.
Aku bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu, aku kembali duduk di meja belajar dan mulai mempelajari hampir seluruh materi yang sudah dipelajari.
Setelah belajar selama kira kira 35 menit, aku mengambil waktu untuk beristirahat, mengambil HP ku dan mulai dengan mengakses medsos, dan diakhiri dengan bermain game. Setelah selesai bermain HP aku melakukan olahraga ringan, setelah selesai olahraga ringan, aku pun bersiap untuk mandi, sebelum alarm ku berbunyi, aku segera mematikan alarmku, dan aku pun masuk ke kamar mandi dan mandi menggunakan shower dingin lagi.
Setelah selesai mandi, aku mulai memakai seragam sekolah ku, dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah siap aku pergi ke dapur untuk membuat sarapan, aku biasanya sarapan hanya dengan sandwich, hari ini pun begitu.
Meja makan kali ini sangatlah sepi, mungkin karena ayahku sudah berangkat dari pag tadi, dan ibu jam segini biasanya akan jogging pagi, jadi di meja makan hanya ada aku dan Aruna, tapi entah mengapa suasana dengan Aruna kali ini terasa canggung,
"Pagi, Aru." Aku mencoba membuka percakapan.
"Hmm.. Pagi Naru nii-chan." Dia membalas ucapan selamat pagiku dengan nada yang lemas, mukanya masih terlihat mengantuk dan juga terlihat tidak bersemangat.
"Masih pagi loh, masa gak ada semangatnya sama sekali sih, kamu masih muda loh Aru..." Aku mencoba menyemangati Aruna, dia terlihat sama sekali tidak bersemangat, bukan seperti dirinya yang biasa.
"Hmm.. Bukannya Naru nii-chan yang terlalu bersemangat, kalo Aru sih malesss bangett sekolah di hari Jum'at, huhuu..." Aruna yang terlihat tidak bersemangat menidurkan kepalanya di meja makan.
"Kenapa tuh kira kira? Apa ada yang menggangumu Aru, pagi ini dirimu benar-benar berbeda yah.."
"Huhh... Abissnyaa hari ini Aru bakal banyak tugas praktek di sekolahhh.. Huhuuu.. Aru males banget tauu Naru nii-chan." Walaupun masih pagi dia sudah mengeluh hanya karena tugas praktek, kukira dia menjadi dirinya yang berbeda gara gara kemarin, ternyata ini Aruna yang biasanya, aku tidak perlu khawatir untuk saat ini.
"Yaampun Aru, kakak kira kau punya masalah di sekolah, tapi cuman karena tugas praktek toh, cuman tugas sih dibawa santai aja sih." Ucapku sambil membuat sandwich untuk kami berdua.
"Naru nii-chan sih enak, udah pinter, punya tujuan hidup, bahkan mungkin Naru nii-chan punya bakat, huhuu, irinyaa...." Aruna mengeluh hal yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan.
"Hahh... Kau masih anak SD, tapi sudah berpikiran seperti itu, kau ini punya masa depan yang cerah loh kalau kau tidak terus terusan mengeluh soal tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah." Ucapku dengan niat membuat Aruna kembali bersemangat.
"Ngomong sih gampang, tapi, enggak ngeluh karena tugas ituuu... Wuihhh susah banget tau Naru nii-chan."
"Apa Aru merasa menderita karena tugas? Hahh.. Anak SD zaman sekarang hanya karena tugas aja ngeluh." Tanpa kusadari aku ikut mengeluh karena kelakuan dari Aruna yang menjengkelkan pagi ini.
"Hmpphh... Aru tahun depan juga udah SMP kok, kalo menderita sama tugas, ya tentu enggak lah, cuman yaaa... Aaahhh sudahlah, mendingan kita makan sekarang, kalau enggak nanti kita telat." Setelah ia berhenti mengeluh, Aruna mengambil bagian sandwich yang sudah kubuat, dan memakannya.
Huh ngomong ngomong dia udah enggak manggil onii-chan yah, tapi dengan sebutan nii-chan juga sebenarnya sama aja sih. Gumamku dalam hati.
Setelah memakan sandwich dan sudah bersiap, aku pun berangkat sekolah, melambaikan tanganku ke Aruna, karena sekolah kami berada di arah yang berbeda, aku ke sekolah jalan kaki, sedangkan Aruna pergi dengan naik taksi.
......................
__ADS_1
Jam 6:23, aku sudah sampai di depan gerbang sekolah, sekolah SMP ku lumayan besar dan adanya pohon yang rindang, membuat sekolah terasa sejuk, dan juga banyak siswa yang baru berdatangan, dan juga ada yang sudah datang sedang berjalan-jalan di lingkungan sekolah, ada yang jalan bersama temannya, sendirian, maupun ada yang terlihat berjalan bersama pacarnya.
Dari kejauhan di jalan aku melihat sebuah mobil yang kemungkinan ditumpangi oleh Aithan, sepertinya dia baru sampai, dia berangkat sekolah diantarkan oleh supirnya menggunakan mobil.
Dan yap, Aithan turun dari mobil sebelum sampai gerbang depan, lalu dia langsung menyadari keberadaanku, memang teman baikku sangat hebat bisa mengetahui keberadaanku di tengah keramaian seperti ini.
"Oiiii... Al, met pagi!" Aithan berlari ke arahku dengan senyumannya yang lebar.
Aku pun menghela nafasku, "Huhh.. Masih pagi aku sudah harus meladeni 2 orang yang mempunyai sifat yang berbeda di pagi hari ini, yang satu ini terlalu bersemangat, dan yang satu tadi kebanyakan mengeluh."
"Hey hey hey, pagi pagi gini udah keliatan lemes aja masbro." Dia sudah ada di depan mataku dengan mata yang terlihat sangat bahagia di pagi hari ini.
"Than, kau, pagi pagi begini bukannya terlalu bahagia yah, memangnya ada apaan?" Aku penasaran apa yang membuatnya sangat terlihat bahagia pagi ini.
"Hehem, coba kau tebak wahai teman baikku, Al." Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menyuruhku untuk menebak apa yang ada di dalam pikirannya, benar-benar merepotkan, tapi yah asal menebak juga bukanlah masalah.
"Hmm... Biar ku tebak, kau akhirnya berhasil mendapatkan waifu kesayanganmu di game gacha yang sering kau mainkan?" Dengan tebakan asal entah mengapa aku sedikit yakin dengan tebakan asal ini, karena sudah lama dia menginginkan waifu idamannya di game gacha.
"Tentu saja bukan itu wahai teman baikku, taa-tapii aku belum juga membawa pulang waifu kesayangankuu arghhhh...." Wajahnya yang tadi terlihat ceria dan bahagia, sudah berubah menjadi wajah penuh kecewa dan penyesalan.
"Ohh.. Kukira kau sudah berhasil membawanya pulang haha, maaf maaf." Istilah pulang di game gacha adalah istilah setelah berhasil mendapatkan karakter yang kita incar.
"Lupainn soal itu, yang ngebuat diriku senang itu bukan setelah berhasil membawa pulang waifu kesayanganku, tapi tentu saja kalau aku berhasil membawanya pulang aku akan sangat senang sekalii, sayangnya aku mempunyai luck issue sepertinya di sini." Aithan terlihat sangat sedih jika sudah membahas game gacha satu ini karena dia tidak pernah hoki.
"Ah, ah maaf maaf bukan ini yang mau aku bahas, hikss.. Sebenarnya aku sudah melihat lihat soal Saibou Inter High School ini, dan yapp sekolah itu terlihat sangat menarik Al, jadi aku sudah memutuskan masa SMA ku akan berada di Saibou Inter High School." Dann itulah dia hal yang membuatnya terlihat sangat bahagia dari tadi, yah aku senang akhirnya Aithan sudah mendapatkan pilihan untuk sekolah lanjutannya di tingkat SMA
"Akhirnya, yah, kau sudah menentukan. tujuan SMA mu ya, baguslah."
"Hohoho, aku juga sudah dapat izin dari kedua orang tuaku, sesuai dugaanmu Al." Terlihat wajahnya sangat senang karena diizinkannya dia untuk pergi ke Saibou Inter High School.
"Yah sudah kuduga, orang tuamu itu tidak ketat, tidak seperti orang tuaku."
"Hmm, yah mungkin kau benar, apa orang tuamu itu sangatlah keras kepala Al?" Tanya Aithan
"Hahh, sudahlah tidak usah dibahas, ayo lebih baik kita ke kelas, sebentar lagi bel masuk berbunyi." Sambil mengalihkan pembicaraan, aku mulai bergegas menuju kelas.
"Hehh... Tunggu aku oii." Aithan mulai berlari ke arahku.
......................
__ADS_1
"Dan dengan ini, pelajaran hari ini selesai, jangan lupa belajar lagi di rumah yah, karena mulai minggu depan kalian akan ujian semester." Dan begitulah sekolah hari ini berakhir, dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru, Aithan yang terlihat lemas, letih, lesu menghampiriku yang duduk di belakang dekat jendela,
"Huhuuu.... tugas kali ini, banyakk bangett..." Aku merasakan dejavu setelah mendengar yang diucapkannya dengan seseorang hari ini.
Aithan dengan memasang wajah memohonnya, "Nanti aku liatt PR yang punyamu ya hehe..."
"Hahh.. Enak aja, kerjain sendiri lah, tugasnya juga masih gampang." Karena aku merasa akan membuang banyak stamina jika aku meladeninya sekarang, aku membereskan peralatan sekolah dan buku ku untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Yaa, kalau menurutmu gampang, itu berarti soalnya susahh.. Oii tunggu dulu dongg, jangan pulang dulu." Mukanya terlihat seperti orang yang sedang terjebak di backroom.
"Huhh, padahal tugasnya gak nyampe 20 soal masih aja ngeluh."
"Hei, hei, hei, walaupun cuman 5 soal, tapi itu kan baru 1 pelajaran, belum 2 pelajaran lain.." Dia benar-benar mengatakannya, cuman 15 soal aja ngeluh terus yah
"Ituu, berarti kan cuman 15 soal loh, gak banyak banget perasaan, kau terlalu lebay tau." Aku mengeluarkan raut wajah yang sedikit geram karena Aithan.
"Tapi kan, kan, semua tugas hari ini itu tugas buat hari seninn, pelajaran hari ini sama senin kan sama, jadi aku bakal kesusahan nyelesain tugasnya huhu...." Dia benar-benar terlihat seperti zombie, hanya karena tugas.
"Hahh.... Memangnya di akhir pekan kau pakai untuk apa? Kan bisa pakai waktu 2-3 jam dari 48 jam di akhir pekan, masa iya kau pakai waktu 48 jam itu untuk bermain saja."
"Hmm, tapi kan tapi kan, dari 48 jam itu, 1 hari aku memakai waktu 8 jam untuk tidur, jadi 2 hari akan menjadi 16 jam, dan tersisa 32 jam, dann anggap saja aku mandi sehari 30 menit, dan aku mandi 2 kali sehari, yang berarti sudah terpakai 2 jam lagi, dan menyisakan 30 jam, terus anggap saja aku makan 3 kali sehari, dan setiap makan memakan waktu 10 menit, jadi sehari nya 30 menit untuk aku makan, dan 2 hari itu terpakai 1 jam, dan sekarang tersisa 29 jam, nah di akhir pekan, aku biasanya bermain game bisa sampai 20 jam, dan itu harus 20 jam aku bermain karena kalau tidak aku akan mengalami stress berlebih, karena itu adalah hal yang wajib dilakukan di akhir pekan. Dan sekarang berarti tersisa 9 jam, biasanya aku olahraga itu bisa memakan 1-2 jam dalam sehari, jadi kalau 2 hari itu bisa memakan waktu 2-4 jam, sekarang tersisa 5 jam dari 48 jam itu, dan 4 jam itu akan kugunakan untuk menggambar, berbincang dengan keluargaku, kini tersisa 1 jam saja, dan 1 jam itu adalah total waktu yang kugunakan untuk beristirahat dari segala aktivitas yang telah kulakukan. Jadi aku tidak punya waktu untuk mengerjakan tugas." Alasan yang diberikannya benar-benar tidak masuk akal. Dengan menunjukkan ekspresinya yang memaksakan terlihat seperti seorang profesor ketika menjelaskan waktu yang ia gunakan di akhir pekan terlihat tidak cocok dengan mukanya.
Jika Aithan bisa berpikir dan menjelaskan secara rinci seperti ini, kenapa dia tidak bisa menggunakan pemikirannya di saat pelajaran biasa.
"Alasan teruss, bagaimana kau mau maju jika di akhir pekan kau tidak menggunakan 2-3 jam mu untuk belajar sesuatu."
"Aku belajar kok, cuman aku belajar untuk mengimprove skill menggambarku, kalau belajar pelajaran sih, biasanya aku bakal melakukannya kalau sudah dekat dengan ujian." Ucapnya dengan nada yang sedikit lemas.
"Ngomong ngomong kau bisa berpikiran seperti itu kenapa tidak kau gunakan saat belajar, kau mungkin tidak sebodoh yang kukira kalau kau bisa berpikir seperti itu kalau kau gunakan saat belajar."
Wajahnya terlihat pasrah, "Hahh... Mana bisa lah, hal ini dan itu jelas beda tau."
"Hahh, terserahlah, aku mau pulang sekarang." Aku segera bangun dari tempat duduk ku dan menggendong tasku.
"Yah, baiklah, aku juga mau pulang." Aithan ingin pulang, jarang sekali melihat dia tidak mengajak pergi ke kantin dulu.
"Saranku, lebih baik setelah pulang kau langsung mengerjakan tugas aja, walaupun mungkin cuman bisa selesai 1-2 soal, setidaknya kau sudah menyicil tugasnya." Aku mencoba memberikan saran kepada Aithan si pemalas, sambil berjalan.
Aithan mengeluh, "Hahhhh.... Gak gak gak, abis pulang aku mau langsung main game gacha favoritku, dan langsung nguli buat dapetin waifu kesayanganku."
__ADS_1
"Terserah lah, aku cuman mau ngasih saran doang." Dan kamipun berjalan bersama sampai di depan gerbang. Setelah akan berpisah kami saling melambaikan tangan.
Baiklah, waktunya menggunakan akhir pekan ini dengan berlatih menulis novel! ucapku dengan semangat dalam hati.