
......................
Masih di hari yang sama, sore hari, cuaca sore hari ini benar-benar membuatku tenang, selain langit sore yang terlihat sangat indah dengan percampuran warna merah dan oranye, angin sore di hari itu terasa sangat menyejukkan tubuh.
Di perjalanan pulang aku pergi ke minimarket, jarak sekolah SMP ku ke rumah tidaklah begitu jauh, aku berangkat jalan kaki sekaligus berolahraga kecil, seperti berlari.
Aku pun sampai di depan minimarket, aku masuk dan membeli minuman isotonik dan beberapa makanan ringan. Setelah selesai membeli makanan dan minuman di minimarket, aku memutuskan untuk pergi ke toko buku, aku ingin membeli stok buku dan alat tulis karena persediaan buku dan alat tulisku hampir habis.
Huhh.. Kok aku berharap bertemu dengan cewek yang kemarin yah... Aku sendiri bingung apa yang sebenarnya ada di pikiranku.
Aku pun masuk ke dalam toko buku kemarin, aku pun sampai di rak alat tulis dan mengambil alat tulis yang dibutuhkan, aku pun melanjutkan menuju rak buku, karena aku membutuhkan buku baru untuk melatih skill penulisan ku, setelah mendapat beberapa buku, aku pun segera menuju ke kasir untuk membayar semua peralatan yang kubutuhkan.
Saat dalam perjalanan menuju kasir, aku tertabrak seseorang, "Uhh... Anak kecil?" Aku melihat anak kecil yang sedang membawa banyak buku di tangannya, dia terjatuh dan bukunya berserakan ke mana-mana.
"Ahhhahh..... Hmm, enak aja manggil Nala anak kecil, Nala cuman pendek aja kok, kata ibu, Nala masih bisa tumbuh tinggi." Ia terlihat sedikit kesakitan sambil mengusap kakinya, dan berbicara dengan nada lemas.
"Huh.. Kau bukan anak kecil? Tapi kau terlihat lebih kecil dari adikku yang masih kelas 6 SD." Ucapku, sambil mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
"Hehh, enak aja kalo ngomong yah, gini juga Nala udah kelas 2 SMP tau, masa iya Nala dibandingin sama anak SD.." Ucapnya dengan wajah cemberut dan pipinya yang mengembang seperti adonan terlihat sangat lucu sama seperti wajah Aruna saat dia ngambek.
Aku membantu mengambil bukunya yang berserakan, ternyata setelah aku ambil beberapa buku itu, "Hmm.. Ini semua manga kan?" Aku bertanya sambil menunjukkan manga yang kuambil dari lantai.
"Huhmm.. Ahh iya, Nala suka sama hal yang berbau manga dan anime, memangnya salah ya? Ngomong ngomong gak usah repot repot bantuin Nala, Nala bisa sendiri kok.." Jawabnya dan menyuruhku untuk tidak membantunya sambil melambaikan tangannya dengan cepat.
"Hmm, gak ada yang salah sih dari menyukai manga, aku juga kebetulan suka manga, anime dan sejenisnya." Jawabku sambil mengambil sisa manga yang berserakan.
"Hmmm.... Kakak mungkin benar, ihh... Dibilang gausah capek capek bantuin Nala..." Namanya Nala yah, saat bilang seperti itu ia juga mengambil sisa manga yang berserakan.
__ADS_1
"Haha, gausah segan segan, mungkin aku juga salah karena tidak memperhatikan jalan."
"Mnmm, jelas kalau Nala yang salah disini." Ucapnya sambil menggelengkan kepala dan menyusun semua manganya itu di lantai.
"Hmm.. Kamu membeli semua manga ini, untuk apa? Kukira kau memborong satu series yang sudah punya banyak volume, ternyata semuanya judul yang berbeda yah." Karena aku sedikit bingung apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
"Hmm... Kenapa Nala membeli banyak manga yah.. Dan juga kenapa Nala membeli series yang berbeda-beda, hmm... Emang iya? Hah Nala gk sadar, yah itu gak terlalu pentingkan ,intinya Nala cinta manga." Dia, benar-benar aneh, itulah yang kupikirkan setelah mendengar apa yang ia katakan.
"Ohh iya, aku belum mengenalkan diriku, Aku Nala Zeina Putri, kakak bisa panggil aku Nala, mohon bantuannya ya kak." Ia baru mengenalkan dirinya setelah kami berbincang cukup lama, tapi cara dia mengenalkan dirinya, benar-benar sopan, ya sama seperti yang ada di anime anime dan gaya jejepangan, ia menundukkan kepalanya dan menaruh telapak tangannya menyilang di bawah perutnya.
"Kalau aku Alvaro Nagiru, tidak usah memanggilku kakak, kita cuman beda 1 tahun kok, santai aja." Itu perkenalan singkat dariku.
Nala Zeina Putri, adalah cewek yang mempunyai tinggi mungkin hanya sekitar 145-150 cm, bisa dibilang dia adalah loli, rambutnya panjang, dan saat ini Nala sedang memakai mode rambut ponytail. Rambutnya berwarna coklat terang, matanya berwarna hitam, dan kulitnya yang putih dan terlihat mulus benar-benar bisa terlihat dengan di bawah matahari sore, aku merasakan dejavu saat ini.
"Ehh..... Kita cuman beda setahun kamu pasti boong kann???" Nala terlihat sangat terkejut dengan perkenalanku, mukanya terlihat sangat tidak percaya dan mencurigai ku karena ku bilang Nala dan aku berbeda 1 tahun.
"Yahh, tinggiku cuman 176 cm, gak setinggi itu kok, kamunya aja yang terlalu pendek." Aku menjahili Nala dan sedikit tertawa.
Nala terlihat kesal saat dijahili, dan dia mencoba memukul kepalaku tetapi tidak sampai, kelakuannya yang seperti anak kecil ini sangat terlihat menggemaskan.
Setelah aku merasa puas menjahilinya, aku pun mengajaknya untuk ke kasir, "Haha, sudahlah ayo kita ke kasir, kamu mau membeli itu semua kan?"
"Ohh tentu sajaa karena aku kan sangat mencintai mangaaa~~" Ia terlihat seperti maniak buku, ia memang orang yang sangat aneh.
"Terserahlah, ayo aku bantu membawa beberapa manga itu." Aku mengambil sebagian manga yang ingin ia beli.
"Hehe.. Makasih Alvaro." Kami berdua berjalan bersama menuju kasir.
__ADS_1
"Hmmm..." Nala terlihat seperti memikirkan sesuatu, "Hmmm...." Dia memikirkan apa sebenarnya.
"Lagi mikirin apa, Nala?"
"Hmm.. Nama Alvaro terlalu kepanjangan gak sih? Aku lagi mikirin nama panggilan yang cocok sama kamu." Dia mikirin nama panggilan buatku? Huhh, dia benar-benar orang yang aneh yah. Bagaimana mungkin orang sepolos dirinya langsung ingin memberikanku nama panggilan saat kami baru saja bertemu di hari ini.
Wajahnya yang terlihat sangat polos kemudian membuka percakapan saat kami baru sampai di kasir, "Ahhh.. Nala sudah putuskan untuk nama panggilan Alvaro, bagaimana kalau kupanggil Alachii."
"Hmm.. Itu nama panggilan yang aneh, Nala." Aku merespon dengan merasa kebingungan dari nama panggilan yang diberikan Nala untukku.
"Enggak ahh... Malah aku merasa lebih enak memanggil Alvaro dengan sebutan Alachii~~" Wajahnya terlihat sangat menyeringai ketika dia sudah mendapatkan panggilan untukku, dan juga saat dia memanggilku dengan sebutan Alachii.
Alachii, nama panggilan yang menurutku sangat aneh, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Tapi yah sudahlah aku tidak begitu memedulikan orang mau memanggilku apa, saat ini aku merasa dejavu lagi, setelah kupikirkan, Nala mungkin mirip dengan kelakuan Aruna.
Lalu akupun sudah membayar semua buku dan alat tulis yang kubeli, dan menunggu Nala membayar semua manga yang ia ambil.
"Baik, harga semua komik ini jadi 300.000 Rp, ya, kak." Kasir selesai mengscan seluruh manga yang diambil Nala dan memberikan harganya.
"Tuh, 300.000 Rp tuh harganya, ada gak uangnya??" Tanyaku dengan wajah ragu melihat ke arah Nala, dan yaa.. Wajahnya terlihat panik mungkin ketika dia tau harga seluruh manga yang ia cintai harganya di luar jangkauannya.
Saat kukira dia tidak punya uang yang cukup untuk membayar semua manganya, tiba tiba ia mengeluarkan dompet, "Huhuhu.. Uang jajan bulanan yang ibu udah kasih ke Nala harus dipake buat beli manga ini, maafkan aku ibu, tapi Nala gak punya pilihan lain..." Wajahnya terlihat pasrah, aku pun segera menghentikan Nala.
"Uang jajanmu gak usah dipake semua buat beli manga Nala, sini aku pilihin manga yang bagus dari awal aja ya." Ucapku sambil menghentikan Nala yang mau menghamburkan uang jajannya untuk membeli manga.
Aku pun memilih beberapa manga yang bagus dari awal cerita dan alurnya yang mudah dipahami untuk Nala. Setelah selesai, aku dan Nala sudah mau berpisah, tapi Nala menghentikanku, "Nee.. Alachii, minta nomer hpmu dongg..." Ia terlihat seperti memohon daripada meminta nomerku.
"Huhh, buat apa?" Tanyaku, walaupun seharusnya aku sudah tau dia mau apa dengan meminta nomerku.
__ADS_1
"Duh, pake nanya, ya buat ngobrol aja sih~ jarang jarang aku punya teman cowok yang hobinya sama." Dia terlihat sangat senang sekali ketika menjawab pertanyaanku. Yah aku juga bisa tau apa yang dirasakannya kalau punya kenalan yang bisa diajak ngobrol hobi yang sama. Aku pun memberikannya nomerku, dan kami pun berpisah dan saling melambaikan tangan. Pertemuan dengan seseorang yang baru lagi hari ini yah, saat aku sampai rumah, jam sudah menunjukkan pukul 4:43, aku segera masuk ke kamar, mandi, memakai baju tidur, makan malam, bersantai sejenak dengan membaca novel, bermain HP, lalu akupun tidur.