
Halo halo, aku Aithan Delvian, aku adalah raja Iblis sekaligus teman terbaik Al. Hal yang membuatku senang adalah, menjahili Al, bermain game, gacha ku wangy, workout, dan membaca manga sejenisnya.
Aku di sini sedang menggantikan Al yang sedang berlibur di Valhalla.
Haha, bercanda, tapi sepertinya candaan ku tidak lucu sama sekali ya, maaf, aku sudah berusaha semaksimal mungkin.
Sudahlah, lupakan lawakan ku yang cringe tadi. Oke, hari ini, sebenernya masih hari Jum'at, hari dimana pembagian rapot, jadi yah, nikmati sajalah cerita yang akan Aithan-sama ini bawakan!
......................
Di pagi yang indah ini, aku sudah menghela nafas lumayan lama, "Hari ini, pembagian rapot yah, aku penasaran akan dapat peringkat berapa aku di kelas, kalau Al sih, udah pasti pertama lah ya."
Aku berjalan ke arah kelas dengan lambat, aku benar-benar takut dengan nilai ku di rapot nanti. Padahal, kedua orang tuaku tidak seketat dan sekeras orang tuanya Al, tapi tetap aja aku merasa harus ada yang bisa dibanggakan dari diriku ini.
Apa sih, pagi-pagi begini udah meremehkan diri sendiri, diriku yang sebenarnya kan enggak begini, semangat semangat.
Aku pun sampai di kelas, Al sudah duduk di tempat duduknya seperti biasa, keliatannya dia lagi membaca manga. Aku pun menghampirinya, "Oyy, ohayou," ucapku sambil tersenyum dengan lebar.
Al menutup manganya dan melihat ke arahku, "Ohayou, Aithan."
Aku sedikit kaget, karena Al membalas salam pagiku dengan normal, "Kauu... Kenapa?? Sakit? Ayo kita ke uks."
"Haha, apa sih, aku gak apa apa, lagian emangnya kenapa kau mengira aku sakit?" tanya Al.
"Kauu, sangat berbeda dari biasanya saat ini, aku jadi takut..."
"Huuh.. Terserah lah." Al kembali membaca manga nya.
"Hahaha, itu baru Al yang kukenal," ucapku sambil menepuk-nepuk punggung Al.
"Huhhh, kau juga seperti biasanya yah, aneh."
"Fufu, aku memang sudah ditakdirkan seperti ini."
Lalu bel masuk pun berbunyi, aku pun langsung duduk ke tempat duduk ku. Aku pun mengambil HP ku dari kantung baju, dan meng scroll sosial media.
Hampir 12 menit berlalu semenjak bel berbunyi, wali kelas kami pun akhirnya sampai di kelas. Tapi, aku masih tetap bermain HP ku.
Setelah wali kelas selesai dengan salam dan nasihat yang cukup lama, akhirnya pengumuman peringkat pun akan disebutkan.
Aku sangat yakin kalau my bestofriendo, Al bakalan dapat peringkat pertama. Sedangkan diriku cuma mengincar 10 besar, berhasil dapat 10 besar aja, aku bisa sangat bangga.
"Baik, bapak akan umumkan peringkat 3 besar di kelas ini."
"Peringkat ketiga diraih oleh, ananda, Anka Chizu."
1 kelas dipenuhi dengan tepuk tangan yang cukup ramai, lalu wali kelas pun melanjutkan.
"Peringkat kedua diraih oleh, ananda Aini Melanie." Tepuk tangan bahkan lebih ramai saat mendengar nama Aini disebut.
Yah, mereka lagi, yang berubah hanya Aini saja yang naik jadi peringkat kedua, yang sebelumnya peringkat 2 itu milik Anka.
"Lalu, peringkat pertama diraih oleh..."
"Paling juga, Al," gumamku pelan.
"Alvaro Nagiru, selamat, karena telah mendapat peringkat pertama berturut-turut dari kelas 1."
Suasana kelas pun menjadi hening, samar-samar terdengar olehku ada yang menjelekkan Al, kata-kata seperti, "Hahh.. Dia lagi ya, membosankan banget."
"Dia pasti menyogok guru kan, gak mungkin dia terus-terusan dapet peringkat pertama, bahkan Anka sama Aini aja bersaing buat dapetin peringkatnya."
"Iya, dia pasti menyogok, dengar dengar, orang tuanya kaya, jadi kemungkinan dia untuk menyogok para guru sangatlah besar."
__ADS_1
"Mungkin dia adalah jenius yang dibuat oleh Tuhan, itu pasti."
"Dia? Jenius? Gak mungkin banget lahh, hahaha."
"Haahh.. Lagipula dia gak punya teman selain Aithan kan, aku kasihan padanya."
Saat itu juga, aku merasa sangat kesal, mereka bahkan tidak tahu apa yang sudah dialami oleh Al.
Aku tidak tau apa yang ada di pikiran Al, tapi sepertinya dia tidak begitu memedulikan komentar negatif yang dilontarkan teman sekelas, padahal mereka membicarakannya tepat di depan orangnya langsung.
HP ku pun berdering karena notif yang kudapat, itu adalah pesan dari Al, 'Tidak usah terlalu dipedulikan, aku sudah terbiasa mendapatkan pendapat negatif orang lain tentang diriku semenjak SD.'
Kau, kuat sekali yah, Al. Lalu, mereka bertiga yang meraih peringkat 3 besar pun maju ke depan.
Mereka pun difoto, untuk dimasukkan ke album kelas, sang juara bertahan, itulah albumnya.
Terdengar seperti omong kosong, entahlah, soalnya murid di kelas ini hampir tidak ada satupun yang menghargai perjuangan Al sama sekali, kecuali diriku.
Bahkan, peringkat ke 2 dan 3, menatap Al dengan wajah yang penuh kebencian, aku tidak paham.
Aku mencoba membuka mulutku yang sudah tersegel, aku sudah tidak tahan, karena hampir tiap tahun ini selalu terjadi, "Ya, teruslah saja memberikan komentar negatif kalian terhadap Al," ucapku dengan nada yang tegas. "Tapi, perlu kalian ingat, itu tidak akan merubah fakta bahwa Al adalah murid terpintar di kelas ini. Dia bekerja keras dan pantas mendapatkan penghargaan atas prestasinya."
Teman-teman sekelasnya terdiam sejenak, kaget dengan keberanian diriku yang akhirnya mengutarakan apa yang sudah lama aku pendam. Beberapa dari mereka mengangkat alis, sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala dengan cemoohan.
"Hahh... Apaan nih, satu-satunya teman Alvaro yang buka mulut," sahut salah satu teman sekelas dengan nada meremehkan. "Biasanya juga diem aja kan. Lihat saja tuh, si Alvaro tidak terlalu peduli, hahah."
Aku yang sudah cukup terbawa emosi langsung melontarkan jawabanku, "Yah, yah, teruslah berbicara dengan mulutmu yang tidak bisa mendapatkan prestasi apapun."
Salah satu dari mereka sepertinya ada yang ingin menantang ku, "Hee... Mungkin memang benar kami tidak ada prestasi di kelas, tapi mungkin salah satu dari kami ada yang berprestasi di luar sekolah, kau sendiri gimana, apa ada prestasi yang bisa ku banggakan??" tatapan orang itu terasa sangat tajam dan langsung menembus tubuhku.
Aku, masih belum mempunyai apa-apa untuk dibanggakan, akuu... Harus apa.
Tiba-tiba, Al menghentikan perdebatan ini, "Sudahlah, tidak ada gunanya kalian berdebat, kalian mungkin memang punya pendapat kalian masing-masing tentang diriku, dan bisa jadi kalian juga mempunyai prestasi dan juga kelebihan masing-masing, sebaiknya juga, hanya karena diriku, kalian berdebat," ucap Al dengan wajah tenangnya.
Meskipun aku terbawa emosi dan melontarkan kata-kata yang kurang bijaksana, Al dengan bijaksana menghentikan perdebatan tersebut. Sikap dewasa Al menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya menghormati perbedaan dan menekankan bahwa perdebatan tersebut tidak akan membawa manfaat apa pun.
Lalu setelah kejadian itu, wali kelas kami pun memberikan rapot kami, aku hanya berhasil mendapatkan peringkat 16 dari 35 siswa, itu lumayan menurutku, karena sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan peringkat 16 seperti ini.
Setelah 2 jam, pembagian rapot pun selesai.
"Akhirnya selesai yahh.." aku meregangkan tubuhku, begitu pula dengan Al.
"Yahh.. Setidaknya aku bisa santai sekarang."
"Hehe, maaf soal keributan yang tadi aku buat," ujarku sambil mengusap kepalaku, aku merasa bersalah.
Al hanya tersenyum, "Haha, santai-santai, aku udah terbiasa dengan kelakuanmu yang asal ceplos itu, tapi sebenarnya selama ini kau sudah menahan cukup lama yah."
"Yah begitulah," Al terlihat cukup murung di saat dia mengatakan aku sudah menahannya, "Berhubung saat ini masih siang, dan kau juga meraih peringkat pertama di kelas lagi, ayo traktir aku," lanjutku untuk mencairkan suasana.
"Yah, bolehlah, sesekali aku traktir," jawab Al sedikit tersenyum.
"Yeayy, ayooo," aku pun menarik tangan Al.
......................
"Uhh.. Sekarang kita ada di mana," tanyaku.
"Ini adalah kafe favoritku, yah mungkin orang seperti mu tidak akan terlalu suka tempatnya, tapi nikmatilah."
"Oke.. Aku rasa aku cuma harus menikmatinya saja kan, gampang gampang," ujarku.
"Baiklah, ayo kalau gitu."
__ADS_1
Lalu kami pun memesan makanan, dan minuman, lalu berbincang selama 3 jam nonstop. Aku dan Al berbincang tentang banyak hal, ada soal masa depan, anime dan sejenisnya, konspirasi, membahas tentang sejarah, dan masih banyak lagi.
Aku berhasil membuat sebuah percakapan yang hampir tiada henti, Al pun sepertinya sangat terhibur.
Saat aku melihat HP ku, 14:33, udah jam segini aja, ujarku dalam hati.
"Kau mau pulang, Al?" tanyaku.
Al yang sedang menyedot minumannya pun menjawab, "Slurpp, uhh.. Sudah jam segini yah, pulang gak yah.." jawabnya.
"Udahlah, mendingan kau pulang, selesaikan itu novel buatanmu, setelah selesai ayo kita main lagi," ujarku sambil tersenyum.
"Yahh.. Kau benar, baiklah, berhubung aku yang traktir, aku akan bayar semua yang sudah kita pesan tadi," ucapnya, Al pun pergi ke arah kasir
Aku pun langsung mengejar Al, "Ummm.. Setelah aku pikir, mendingan aku aja sih yang traktir, soalnya kan kau yang dapet rangking 1."
"Uhh.. Aku gak masalah sih sebenarnya mentraktir kau."
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, tidak, tidak, sudahlah mendingan aku yang traktir."
"Hmm... Ya terserah lah, kalau begitu, dah, sampai ketemu lagi," Al melambaikan tangannya.
"Yaa, sampai ketemu lagii," aku membalas lambaian Al.
......................
Setelah selesai membayar, aku kembali ke rumah ku, karena tidak ada yang ingin kulakukan, aku pun hanya menggambar.
Waktu jam makan malam pun tiba, aku pun turun ke dapur dan berkumpul dengan keluarga ku.
"Hohoo, My Del, is there something bad happen?" tanya papaku.
"Uhhh.. There's nothing," jawabku.
"Hmhm, i see, then is there something good happens?“ papaku bertanya lagi.
"Yaa, ada sih," jawabku.
"Hei, hei, heii, kalau your daddy bertanya pake Bahasa Inggris, jawab juga pake Bahasa Inggris dongg," ujar papaku.
Yah, begitulah papaku, dia orang yang sangat asik, sifat sok asik ku ini adalah keturunan darinya, jadi yah, begitulah.
"Btw, apa yang bikin kamu seneng sayang?" tanya mamahku.
"Yahh, sebenernya gak ada, gak ada, hehe," jawabku, karena malas meneruskan percakapan ini, aku langsung fokus untuk makan.
"Hmmm... Apakah, kamu sudah mendapatkan cewek yang nyataa, My Del??" papaku bertanya hal yang mustahil.
"Uhh.. Itu kan mustahil, papa," jawabku.
"Ahahahahaa, benar juga yaa, wahahaha," tawa dari ayahku ini terasa sangat menyakitkan ku.
"Sudahlah, honey, jangan meledek anak kita," mamah ku pun membantuku.
"You're right, my honeyy," papa dan mamahku pun akhirnya mulai menggoda satu sama lain.
"Ohh, noo, i'm feel getting shoot by cupid arrow."
"Ohh, noo, my honey, everything is gonna be alright."
Ugh.... Mereka, membuat ku iri aja.
Setelah selesai makan malam, aku pun kembali menyelesaikan gambar yang tadi kubuat, dan aku pun tidur di jam 10 malam.
__ADS_1
......................
Sipp, kira-kira, begitulah side story yang ku bawakan ini, aku Aithan Delvian, bye, semoga kalian terhibur, ciao....