Youth Life Maze

Youth Life Maze
Masalah Kecil Di Sekolah?!


__ADS_3

Hari ini hari senin, hari minggu kemarin kulalui dengan tenang tanpa adanya gangguan dan aku juga berhasil menulis apa yang aku pikirkan dan berhasil mendapatkan outline untuk novelku, dan hari ini tugas akan dikumpulkan, aku penasaran apakah Aithan berhasil menyelesaikan tugasnya atau tidak, dan yahhh.... Aku bisa menebak dari raut wajahnya dari kejauhan terlihat seperti meminta s.o.s, dia merasa sudah terjebak di sebuah pulau tak berpenghuni, seperti sudah terjebak selama puluhan tahun. Dan ya... Aithan langsung menghampiriku sebelum bel masuk dan meminta jawaban tugas yang sudah ku selesaikan, "Al.... Liat jawabanmu dongg.. Plisss... Ya???" Mukanya yang sangat pasrah dan memelas meminta tolong dari Aithan sangatlah sulit untuk ditolak. Dan ya, akhirnya aku menyerah pada tatapan penuh kepasrahan itu dan memberikan beberapa jawaban yang berkemungkinan tidak bisa Aithan jawab, dan beberapa soal yang mudah aku coba bantu, "Kau beruntung yah, tugas yang mau dikumpulin itu 3 pelajaran terakhir." Ucapku dengan raut wajah sedikit iri sambil melihat Aithan yang sedang fokus menulis jawaban.


Ia pun terhenti menulis, "Huhh... Kalau masalah kayak begini aja bisa dibilang aku sangat beruntung, kalau masalah gacha, itu beda lagii hikss...." Ucapnya dengan wajah yang cemberut dan pasrah itu.


Aku menghela nafas, "Hahh... Terserah kau, yang penting selesaikan dulu nulis jawabannya."


"Oke oke, santai aja kalo itu." Aithan terlihat serius ketika aku menyuruhnya untuk cepat menyelesaikan menulis jawabanku. Dan setelah selesai menyontek soal yang sulit, sekarang aku mencoba membantu Aithan dengan soal yang lebih mudah, dan ya sesuai dugaanku, Aithan benar-benar sangat sulit untuk diajari, terlebih lagi soal matematika, benar-benar tidak ada 1 pun rumus yang dia ingat, dan sudah hampir masuk jam pertama, dan Aithan masih saja belum mengerjakan 1 pun soal, wajah Aithan terlihat sangat depresi karena tidak mampu mengalahkan 1 soal saja, dan akhirnya ia menyerah, "Ahhhh... Syalan siapa sih yang memasukkan alfabet ke soal matematika, menyusahkan hidup aja sih!" Dengan nada yang kesal.


"Huhh.. Padahal ini soal dasar tentang transformasi geometri, ini saja soal yang paling dasar loh Aithan." Jawabku dengan santai.


"Inii?!! Ini soal paling dasar... Syalan kalau soal yang kayak begini aja udah paling dasar, gimana nanti yang lebih susah dikit, fyuhh... Untungnya aku lebih memilih Saibou buat lanjutan sekolah ku, kalau aku milih sekolah negeri udah pasti gak bisa sih." Aithan benar-benar beruntung bisa dibilang, karena ia sudah diizinkan untuk mendaftar di Saibou Inter High School, dan Saibou Inter High School itu ada ujian masuk yang katanya sulit, tapi kalau melihat Aithan sepertinya tidak akan ada masalah, dan kalau melihat diriku ini, sepertinya aku adalah orang yang tidak beruntung karena kedua orang tua ku sepertinya sangat tidak ingin anaknya menjadi apa yang anaknya inginkan, pada akhirnya mereka hanya mementingkan diri sendiri.


"Udahlah, mendingan aku main game, masih ada 20 menit sebelum bel masuk kan, itu berarti aku bisa menyelesaikan daily mission, sip lah waktunya bermain." Aithan pun sepertinya akan mulai memasuki dunianya sendiri, dan ya benar saja tak sampai 2 menit ia sudah masuk ke dunianya, Aithan memasang earphonenya, sulit untuk membuatnya sadar kembali.


Dan 20 menit pun sudah berlalu, bel masuk sudah berbunyi, tapi Aithan masih belum mendengar bel masuk. Pelajaran pertama adalah IPA, dan kebetulan sekali gurunya adalah guru killer, beliau adalah Pak Ridwan, beliau adalah satu-satunya guru yang hanya mengajar pelajaran IPA di kelasku, entah apa alasannya, di kelas yang lain beliau mengajar Bahasa Indonesia, dan juga kepribadian dan sifat beliau ketika mengajar kelasku dan kelas lain juga berbeda, yah mungkin karena kelasku ini banyak sekali murid berandalan di kelasku, dan mungkin saja Pak Ridwan menginginkan metode pembelajaran yang ketat untuk anak didiknya.


Pelajaran pun dimulai, dan Aithan masih saja bermain game, tidak memperhatikan sekitarnya.Sudah 20 menit sejak pelajaran dimulai, Aithan masih belum kembali ke dunia nyata, dan Pak Ridwan juga sepertinya belum memperhatikan para muridnya beliau sedang fokus menulis materi dan menyampaikan materi, materi yang ditulisnya benar-benar banyak, bahkan aku saja menulis sampai 5 lembar, itu jumlah yang sangat banyak walaupun aku sudah merangkum intinya, mencatat rumusnya, kalau yang tidak bisa merangkum materi mungkin bisa dapat 8-10 lembar, beruntung aku bisa merangkum inti materi. Dan akhirnya setelah 20 menit menulis, dan 20 menit lagi untuk menjelaskan materi, beliau mulai memperhatikan sekitarnya, dan ya keadaan di kelas benar-benar sunyi tanpa adanya obrolan antar teman sebangku, bahkan tidak ada satupun yang berbisik-bisik, mungkin saking takutnya mereka dengan Pak Ridwan yang galak ini. Lalu tiba-tiba, "Ok... Aithan, coba jawab pertanyaan berikut ini." Lalu Pak Ridwan menulis sebuah soal transformator, soal yang cukup sulit menurutku.


"Nak Aithan? Kok diam saja...." Pak Ridwan sepertinya masih belum menyadari kalau Aithan masih bermain game di hpnya, dan ya percuma saja aku memberi tahu Aithan karena jika ia sudah larut ke dunia gamenya, ia tidak akan bisa diganggu gugat kecuali dengan mengambil hpnya, dan tentu saja aku tidak mungkin mengambil hpnya, karena tempat duduk kami saja jauh dan jika aku mengambil hpnya sudah dipastikan aku akan kena omel Pak Ridwan karena berjalan di kelas saat jam pelajaran.


Pada akhirnya Pak Ridwan pun menghampiri mejanya Aithan dan menyadari kalau dari tadi Aithan tidak mendengarkan pelajarannya setelah 40 menit dan ya bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya, "Ekhemm... Nak Aithan jadi game yang ada di hp kamu ini lebih penting daripada pelajaran bapak ya? Yaa benar sekali pelajaran IPA memang tidak akan 100% digunakan di dalam kehidupan nak Aithan, tapi kalau Bapak lagi ngajar gini memangnya diperbolehkan ya bermain game hmm nak Aithan??" Sambil mengambil hp Aithan dari tangannya, Pak Ridwan memang terlihat tidak marah sama sekali, tapi menurutku kata kata yang beliau pilih ini sangatlah mengerikan, apalagi beliau mengatakannya dengan wajah yang sangat tenang dan tersenyum.


Aithan terlihat terkejut dan panik saat menyadari kalau di depannya itu adalah Pak Ridwan, "Ehh ada bapak... Apa kabar pak.... Baik baik aja kan hehehe... Emm anuu pak... HP saya bisa dikembalikan gak pak hehe, saya butuh banget pak hp soalnya pak." Ucap Aithan, ekspresinya ketakutan, ia berkeringat sangat banyak dan kakinya pun ikut bergemetar, 1 kelas pun menertawakan kelakuan Aithan yang yah memang sangat wajar jika 1 kelas menertawakannya. Aithan pun menatap ke arah ku dengan harapan meminta bantuan ke panglima yang sedang berada di markas besar yang diisi dengan prajurit tingkat atas.


"Iya iyaa hpnya bapak balikin, tap-" Pak Ridwan belum selesai berbicara dengan bersemangat, Aithan memotong, "Benerann pakk?? Wah bapak ternyata baik bangett yaa.. Makasih banyak loh pak." Ucap Aithan yang sedang bersemangat.


Pak Ridwan kemudian menjewer telinga Aithan dan menyeretnya, "Iya hpnya bapak balikin kok... Tapi sini ikut bapak dulu ke ruang guru!" Secara tiba-tiba Pak Ridwan menaikkan nada bicaranya.


"Ah, pak sakit pak... Al.. Toloonggg....." Aithan pun ditarik sampai keluar dari kelas, aku pun hanya terdiam dan bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Setelah Pak Ridwan keluar dari kelas, kelas pun menjadi sangat ramai, dipenuhi dengan orang yang berbincang-bincang, dan bercanda, karena aku tidak suka tempat bising seperti ini, aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin.


......................


Sesampainya di kantin, aku melihat seseorang yang terlihat sangat familiar bagiku, "Hahaha... Hmm.. Ahh, Alachii~" Yap dia adalah Nala, ia melambaikan tangannya dan berjalan ke arahku, sepertinya tadi Nala sedang berbincang dengan ibu kantin.

__ADS_1


Nala pun tepat berada di depanku, "Hee... Alachii ngapain di kantin?? Lagi bolos yaa?? Wah wah gak disangka, ternyata Alachii anak yang nakal.." Nala sepertinya ingin meledekku.


"Hahh.. Mana ada anak sepertiku ini membolos, aku cuman mau beli air minum doang, lagian gurunya lagi keluar sebentar, jadi aku bisa memanfaatkan waktu yang sebentar nan berharga ini untuk membeli air minum, lagian aku haus." Jawabku mencoba menghindar dari Nala yang sedang meledekku. Aku pun segera menuju ke freezer yang diisi beragam minuman, dan mengambil air mineral, lalu aku membayarnya, dan aku pun ngin segera kembali ke kelas.


Tiba-tiba Nala menghentikan langkahku, "Alachii, kok kamu gak kaget ya kalau ternyata kita 1 sekolah?" Kukira Nala mau apa ternyata hanya menanyakan hal ini kah.


"Buat apa aku kaget? Ya bisa dibilang aku sedikit gak menyangka sih kalo kamu ternyata sekolah di sini, tapi yah selebihnya biasa aja." Jawabku


"Udah kan gak ada yang mau dibahas lagi? Aku mau buru buru balik ke kelas nih, takut guru killernya udah ada di kelas." Tanyaku dengan sedikit terburu-buru.


"Nggak, udah sana Alachii balik ke kelas, guru killer kalo udah marah serem lohh hahah..." Nala mendorongku dengan tangan kecilnya.


......................


Beruntung aku karena Pak Ridwan belum kembali ke kelas, tapi aku penasaran gimana nasibnya Aithan. "Ringgg, jam pertama sudah berakhir, jam kedua akan segera dimulai." Bel pertanda jam pertama berakhir, namun Pak Ridwan dan Aithan masih belum nampak di kelas. Sudah 15 menit berjalan di jam pelajaran kedua, tapi mereka berdua masih belum kembali, aku jadi merasa khawatir dengan Aithan. Saat hendak aku ingin ke ruang guru mencari Aithan, tiba-tiba Aithan dan Pak Ridwan membuka pintu dan Pak Ridwan melihatku yang ingin keluar kelas, "Mau kemana kamu Alvaro?" Tanya Pak Ridwan.


"Eh.. Ini Pak saya mau ke toilet hehe.." Karena sedikit kaget aku spontan menjawab.


"Ohh, yasudah jangan lama-lama ya." Pak Ridwan memberiku izin untuk pergi ke toilet. Tentu saja itu bohong, Aithan sepertinya terlihat ingin membicarakan sesuatu, dan sebelum aku benar-benar pergi ke toilet aku membisikkan sesuatu ke Aithan, "Nanti ngomonginnya pas jam istirahat." Dan aku pun pergi ke toilet.


......................


"Hmm yaahh... Bisa tolong bantuin aku gak Al?" Aithan meminta tolong dengan sopan, apa yang telah terjadi pada otak Aithan setelah dibawa ke ruang guru sama Pak Ridwan. Ini Aithan loh jarang jarang dia minta tolong dengan sopan begini.


"Minta tolong apa?" Tanyaku


Tiba-tiba Aithan terlihat mengumpulkan sebuah chakra terpendam yang kemungkinan akan menghasilkan energi sangat besar, dan aku sudah tau akan bagaimana jadinya, "Tolongg ambil kembali hpku pliss, ayoo bantu aku buat ngambil hpku kembali, aku udah tau di mana Pak Ridwan menyimpan hpku, ayo bantu aku yaa, soalnya banner waifu kesayanganku itu hari ini bakal berakhirr.. Hikss aku harus nguli ruby buat guaranteed karakter yang pasti dapat di banner, sayang banget aaarghhh udah tinggal 20× gacha lagiii dan aku udah pasti bawa pulang waifu kesayanganku, yaaa..." Aithan terlihat sangat lemah lembut dan pasrah saat meminta tolong kepadaku, ya dia memang ahlinya kalau membujukku untuk melakukan apa yang dia mau.


"Huhh... Memangnya kalau berhasil dapet lagi hpnya, kan bisa ketauan kalo hp yg disita itu ilang." Aku mencoba untuk menghindari kelakuan tidak terpuji ini.


"Hehe, kalau itu tenang ajaa.." Aithan mengeluarkan hp yang sama dengan hp yang disita.


"Hahh.. Kalau gitu gak usah ngambil hp yang disita kan?" Bingung sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Aithan, padahal dia punya 2 hp tapi masih ingin mengambil hp yang satunya lagi.

__ADS_1


"Itu... Masalahnya aku lupa password akunku hehe..." Ya, aku tidak akan kaget kalau itu Aithan.


"Ohh iya, sama bantu aku buat dapet nilai 89 pelajaran IPA di ujian nanti yaa.. Walaupun aku mau menukar hp yang ini tapi tetep aja aku gak mau kehilangan hp cadanganku." Aithan sangat banyak meminta bantuan padaku hari ini.


Aku menghela nafas dan pada akhirnya aku membantu Aithan juga, kalau masalah membantu Aithan untuk belajar, mungkin bisa dipikirkan nanti, untuk sekarang aku akan membantu Aithan mengambil kembali hp miliknya. Dan kami berdua pun memutuskan untuk memulai misi menukar hp ini setelah pulang sekolah.


Sebelum aku dan Aithan memulai misi itu, Aithan masih belum menyelesaikan 3 soal matematika. Dan sekarang sudah mendekati waktu jam pelajaran matematika, pada akhirnya Aithan selesai mengerjakan secara asal-asalan, katanya yang penting selesai. Aku pun mendapatkan nilai sempurna, sedangkan Aithan hanya mendapat nilai 69. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku sendiri tidak tau.


......................


Bel pulang pun berbunyi. Karena dia tau hp yang disitanya itu disimpan dimana, aku hanya mengikutinya dan siapa yang menyangka kalau ternyata hp Aithan disimpan di gudang penyimpanan barang tak terpakai. Keamanan dari gudang penyimpanan lumayan ketat, aku melihat setidaknya ada 2-4 anggota OSIS yang menjaga gudang, dan entah bagaimana Aithan benar-benar ahli dalam menghindari para anggota OSIS itu. Ternyata di gudang penyimpanan ini, banyak sekali hp yang sepertinya itu adalah hasil sitaan dari para guru, kami memutuskan berpencar untuk mencari hp Aithan, dan setelah kira-kira 11 menit, Aithan berhasil menemukan hpnya dan langsung menukarnya.


"Bantuin aku bawa ini." Aithan menunjuk sebuah meja yang keliatannya sudah sangat lama berada di gedung ini, tapi aku masih tidak tau untuk apa.


Kami pun segera keluar tapi ya sesuai dugaanku ini tidak akan semudah itu, ternyata meja tadi akan digunakan untuk ini, salah satu anggota OSIS, dan ia tanpa basa-basi langsung menanyakan apa yang aku dan Aithan lakukan di gudang ini, padahal murid lain tidak ada yang pernah datang kesini kecuali jika diberikan izin, aku saja baru tahu hal seperti ini, karena ya pada dasarnya aku tidak tertarik untuk pergi ke gudang, aku juga sebenarnya tidak peduli gimana Aithan bisa tau bagaimana caranya masuk padahal ia tidak punya izin ke gudang ini.


"Ekhemm... Mohon maaf sebelumnya kalau kami tiba-tiba berada di kawasan gudang ini, saya di sini hanya mau mengambil meja bekas ini, Pak Ridwan menyuruh kami." Sambil menunjukkan meja bekas yang ada di belakangku. Lalu, Aithan menunjukkan sebuah surat apalah entah, tapi sepertinya itu adalah surat izin untuk masuk ke gudang.


Anggota OSIS itu pun mengecek surat izin milik Aithan, lalu kami pun diperbolehkan untuk lewat. Huh, ternyata semudah itu, kataku dalam hati.


......................


"Wahahahah... Ternyata segampang itu ngebodohin OSIS dan aku juga berhasil dapet hpku kembalii... Aaaaa surga dunia aku akhirnya membawamu pulangg sayangkuu." Kami pun sudah berada di gerbang sekolah dan meja yang aku dan Aithan gunakan untuk membohongi anggota OSIS pun ditaruh di belakang kelas, dan ya Aithan nampak sangat bahagia, aku senang bisa membantunya, walaupun ini bisa dibilang tindakan kriminal.


"Yasudah lah, yang penting kau berhasil mendapatkan kembali hpmu, dan aku mau pulang sekarang." Aku tidak mau berlama-lama berada di lingkungan sekolah karena kejadian tadi.


"Hmm.. Kamu gak penasaran apa yang sebenarnya terjadi kah Al? Padahal aku gak bakal kaget kalau kamu bakalan nanya beberapa hal." Aithan bertanya sebelum aku pulang.


Aku yang sudah melewati gerbang pun berbalik badan, "Yahh... Aku tidak begitu peduli sih, dan kalau kamu gak mau aku tau, yaa lebih baik aku tidak menanyakannya kan? Aku hanya merasa senang sudah bisa membantumu, Aithan." Ucapku sambil sedikit tersenyum.


Aithan terlihat sangat senang ketika aku mengatakan hal itu, dan akhirnya kami berdua berpisah karena Aithan dijemput oleh supirnya, dan kami pun saling melambaikan tangan.


......................

__ADS_1


"Aku pulang." Setelah membantu Aithan akhirnya aku sampai di rumah, dan saat aku masuk, di tangga ada ibuku yang sedang memegang sebuah struk belanja yang entah familiar jika kulihat, ibuku pun langsung menuju ke arah ku, diikuti Aruna yang terlihat panik.


"Apa ini Alvaro!! Jelasin sekarang juga!" Ibuku menunjukkan struk yang tadi dipegangnya dengan ekspresi kecewa dan marah, dan ternyata itu adalah struk untuk novel pembelianku. Kalau begini habislah sudah....


__ADS_2