Youth Life Maze

Youth Life Maze
Keluargaku


__ADS_3

...----------------...


"Aku pulang" kata yang sering kuucapkan saat pertama sampai di rumah, sudah menjadi kebiasaan ku mengatakan hal ini, karena aku terlalu sering menonton anime dan juga membaca manga. Tidak akan ada yang merespon salam ku, itu sudah jadi hal yang biasa untukku.


Aku menuju dapur, dapur yang berukuran 3x3 itu adalah tempat yang akan kutuju sepulang sekolah untuk mencari cemilan yang akan ku makan untuk dimakan di malam hari.


Saat sudah tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Setelah dari dapur dan mengambil cemilan, aku naik ke atas menuju kamarku, meletakkan tas di sudut kamar dan segera mengganti baju untuk tidur.


Sebelum mandi, aku memutuskan untuk membereskan sebagian kecil pekerjaan rumahku dan menata buku-buku pelajaran yang bertumpuk di meja belajar. Setelah itu, aku masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dingin.


Air dingin dari shower langsung mengalir di atas tubuhku. Awalnya, rasanya cukup menggigil dan membuatku merinding.


Namun setelah beberapa saat, tubuhku mulai terbiasa dengan suhu dingin dan sensasi menyegarkan yang ditimbulkannya.


Sambil merasakan nikmatnya mandi di shower dingin, aku memandang ke kaca dan melihat refleksi diriku di sana.


"Lihatlah dirimu yang menyedihkan ini" Aku mengatakan hal yang sangat negatif untuk merendahkan diri sendiri. Rambut hitam basah yang turun menutupi seluruh wajahku, aku terlihat seperti mayat hidup, yah. Joke tidak lucu yang hanya membuat diri sendiri tertawa, dan tidak bisa membuat orang lain tertawa.


Diri ku ini tidak memiliki wajah yang tampan, bisa dibilang wajah ku hanyai wajah yang rata rata, tidak tampan maupun jelek. Postur tubuhku lumayan berisi, tetapi aku tidak mempunyai otot di mana-mana hanya ada otot yang terlihat jelas di otot biceps ku, tentu saja aku melatih otot-otot ku yang lain, tapi entah mengapa otot biceps ku lah yang berkembang dengan cukup pesat.


Selain hobiku adalah menulis, aku juga suka melakukan workout, tetapi aku jarang melakukannya karena jadwal yang kumiliki cukup padat. Meski begitu aku tetap bisa melakukan workout kalau punya waktu cukup luang seperti di hari sabtu atau minggu.


Setelah memakai sabun, sikat gigi, mencuci muka, dan lain-lain yang biasa dilakukan saat mandi, akhirnya aku selesai mandi, setelah mandi aku langsung memakai handuk yang sudah ditaruh di belakang pintu, handuk memang sudah tersimpan di belakang pintu, jadi aku tidak perlu mengambil handuk lain yang ada di lemari, tentu saja aku selalu mengganti handuk setiap 1 minggu sekali.


Setelah terasa segar sehabis mandi dan sudah memakai baju, jam sudah menunjukkan waktu makan malam, aku segera bergegas turun ke bawah dan bersiap untuk makan malam.


Kedua orang tua ku sudah duduk di tempatnya masing-masing, begitu pula dengan adikku, adikku duduk di samping ayah, sedangkan aku akan duduk disamping ibu.


Aruna Chaesa Yui dia adalah adik perempuan ku, dia adalah satu-satunya orang yang ada di anggota keluarga ku yang sangat mendukung diri ku untuk menjadi seorang novelis. Aruna berumur dua belas tahun, umur kami terpaut tiga tahun. Aruna adalah perempuan yang cantik, rambut pendeknya yang berwarna coklat, pipinya yang cabi dan matanya yang berwarna coklat. Aruna mempunyai sifat penyayang dan lembut kepadaku.


Sebagai kakaknya tentu saja aku sangat menyayangi adikku satu-satunya, karena dia juga sangat mendukung ku. Walaupun terkadang sifat manjanya itu menyulitkan ku.


Aku mulai duduk di tempat makanku, aku bisa merasakan keadaan yang sangat tegang di meja makan kali ini, lalu ibuku bertanya.


"Darimana saja kamu Alvaro, kamu pulang terlalu sore!" Raut wajah ibu terlihat sangat kesal. Aruna menatapku dengan ekspresi khawatir ketika ibu bertanya.


"Aku habis dari toko buku, membeli buku yang kuinginkan." Aku menjaga ekspresi wajahku untuk tetap tenang sambil menjelaskan tanpa menyebutkan novel yang kubeli, karena jika aku menyebutkannya pasti akan ada sedikit perselisihan terjadi.


"Buku apa yang kamu beli sampai sampai kamu pulang terlalu larut seperti ini?" Pertanyaan dari ayah ku sempat bisa membuat ku terdiam sementara.

__ADS_1


"Iya itu benar, seharusnya kalau kamu sudah mempunyai inisiatif untuk membeli buku yang kau butuhkan seharusnya tidak perlu selama itu bukan?!" Sekarang giliran pertanyaan dari ibu ku yang membuatku gugup.


"Aku pulang telat karena aku berbincang dulu dengan Aithan, soal membeli buku itu saat aku sampai di toko buku aku langsung membelinya tanpa berlama-lama di sana." Aku menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada kedua orang tua ku.


Namun, ibuku terus memandang ku dengan tatapan tajam. "Hah, lagi lagi Aithan, dia adalah penghambat dalam hidupmu iya kan Alvaro?" Ibu langsung memberikan sebuah pendapat yang sangat bisa memancing emosi ku, ibu memang sangat pandai untuk memancing emosi ku, tapi saat ini aku tidak boleh emosi.


Karena jika aku berhasil terpancing emosi, aku dipastikan telah jatuh ke dalam perangkap mereka berdua, jadi aku harus tetap tenang.


Aku merasakan denyut nadi di leherku semakin cepat. Sambil mencoba tetap tenang, aku menjawab, "Ibu, ayah, saat ini aku hanya ingin makan malam dengan tenang, apa tidak bisa sehari saja makan malam ku tenang? Aku sudah bosan karena hampir setiap makan malam aku selalu berdebat dengan kalian, dan itu dimulai saat aku mulai menyukai novel dan berkata ingin menjadi novelis, apa yang salah dengan itu?" Saat aku berbicara, aku melihat Aruna memberikan senyum kecil padaku.


Aku merasa sedikit lega karena adikku mendukungku. Namun, orang tuaku masih terlihat tidak puas dengan jawabanku.


"Tentu saja itu salah, karena kamu adalah anak pertama kami, kamu harus terus meneruskan bisnis ini, lagipula menjadi penulis atau apapun itu masa depan mu belum terjamin." Ayahku memberikan pandangannya tentang masa depanku yang membuatku merasa kecewa.


"Ayah mu benar, menjadi seorang penulis atau sejenisnya tidak memastikan kamu akan sukses dan terkenal Alvaro, jadi lebih baik kamu meneruskan apa yang sudah ayah mu mulai, itu lebih menjanjikan Alvaro." Ibuku meneruskan.


Walaupun aku sedikit merasa takut, aku tetap menjaga ekspresi tenang, sekaligus sedikit menghela nafas, "Ayah, ibu, sudah berapa kali kalian mengatakan hal yang sama berulang kali? Aku sudah tau menjadi penulis atau novelis tidak menjamin masa depan yang cerah, apalagi jika karyanya tidak diminati khalayak, tetapi tetap saja aku sudah membulatkan impian ku untuk menjadi novelis!" Dengan yakin aku mengeluarkan pendapat yang pasti tidak akan disetujui oleh mereka.


"Sekali tidak ya tidak, ibu tidak akan pernah mengizinkanmu menjadi seorang penulis." Sesuai dugaanku ibu sudah pasti tidak mengizinkannya. Lalu ayah dengan ekspresi santainya bertanya, "Memangnya apa yang membuatmu sangat ingin menjadi seorang penulis? Apa para penulis itu membayar biaya hidup mu?"


Wajah ayah yang selalu terlihat tenang di berbagai situasi terkadang membuatku kagum dan ngeri di saat yang bersamaan.


Sepertinya karena aku adalah anaknya, aku juga mewarisi sifat tenang di berbagai situasi, walaupun dulu aku hampir tidak bisa tenang jika menghadapi situasi seperti saat ini, tapi saat ini mulai berbeda, aku yang sudah hampir menguasai emosi diriku sendiri ini sangatlah menguntungkanku, karena dari dulu aku selalu mengikuti apa yang orang tua ku inginkan, tetapi kini aku bisa menentang apa yang mereka inginkan.


"Mau aku jelaskan berapa kali pun kalian mungkin tidak akan mengerti bagaimana novel telah merubah sedikit hidupku." Aku pun menutup percakapan saat ini, suasana menjadi hening, tanpa ada sepatah kata maupun percakapan, aku pun fokus untuk makan malam saja.


Aruna tiba-tiba membuka pembicaraan, "Ahh... Makan malam kali ini enak yahh.." Ucap Aruna dengan senyum yang terpaksa.


Selesai makan, aku pun bangun dari tempat makan, dan mencuci piring bekas makan yang kupakai, setelah selesai mencuci piring aku pun kembali ke kamar tanpa mengucap sepatah kata apapun kepada kedua orang tua ku.


Setelah sampai di kamar, aku langsung mengambil novel yang tadi ku beli 'The Fault In Our Stars', itu adalah romance novel yang sangat ingin kubeli.


Lalu aku pun duduk di kasur dan mulai membaca novel tersebut. Saat sedang asik membaca novel, ada yang mengetuk pintu kamarku, aku bergegas pergi untuk membuka pintu, yap, Aruna dialah adikku yang mengetuk pintu kamarku, aku sudah selalu menduga kalau dia akan pergi ke kamarku kalau aku habis berargumen dengan kedua orang tua ku.


"Apa? Mau ngomongin sesuatu?" Aku bertanya dengan wajah datar.


"Nggak, aku cuman mau liat kak Naru doang kok, hehe~ " Ucap Aruna.


Aruna selalu saja mengatakan hal yang tidak bisa kumengerti kalau sudah seperti ini,

__ADS_1


"Hah, kalau gak ada apa-apa cepet balik ke kamarmu sana." Sambil mengeluh, aku menyuruh Aruna untuk kembali ke kamarnya, karena aku ingin segera membaca novel yang kubeli.


"Hehhh.... Padahal Aru sudah mengkhawatirkan kak Naru lohh~ " Dengan sudah menunjukan sifat manjanya, aku akan mulai kesulitan meladeninya.


"Gak usah khawatirkan kakak, kakak baik baik saja kok." Aku mulai melangkahkan kakiku untuk kembali ke kamar dan menutup pintu, tapi, Aru menahan tanganku yang hendak menutup pintu, "Nee.. Onii-chan~" Deg, dengan wajahnya yang masih polos mengatakan itu, aku sempat terdiam mendengar apa yang keluar dari mulut Aruna,


"Hah, dari mana kamu tau kata itu." Aku menanyakan hal yang seharusnya sudah aku tau, tapi tetap saja mendengar kalimat itu langsung dari Aruna, adikku sendiri aku merasa aneh.


"Hehehe... kak Naru pasti senang kan dipanggil begitu~ " Ucap Aruna dengan wajah yang menyeringai


"Hah, mana ada jangan ngarang deh." Dengan tenang aku menjawab, kemanjaan dan keusilan darinya lah yang lebih membuatku lelah dibandingkan berdebat dengan kedua orang tuaku.


"Hehh.. Jangan boong deh kak Naru, pasti senang kan dipanggil onii-chan~~, aku bisa memanggil kak Naru dengan sebutan onii-chan sebanyak yang onii-chan mau loh~ " Wajahnya yang sempat kecewa tadi berubah drastis menjadi ceria sambil menaruh jarinya di pipi dan memiringkan kepalanya ke samping.


Melihat kelakuannya yang seperti ini pasti kebanyakan orang sudah memikirkan yang tidak tidak, walaupun aku sempat deg-degan, dia tetaplah adikku, dia memang mempunyai sifat jahil dan manja yang keterlaluan.


"Yah, terserah lah, Aru mau menyebut kakak gimana, suka suka Aru aja." Aku yang sudah terbiasa dengan sifat manja dan jahilnya Aruna membiarkan dia dengan bebas menyebutku dengan sebutan yang dia suka.


"Asikkk aku bisa manggil kakak dengan sebutan onii-chan." Aruna terlihat sangat senang ketika aku memberikan kebebasan dalam menyebutku kakak atau onii-chan dan sebagainya.


"Tapi biar kakak jelaskan, mungkin di anime anime dan manga penyebutan kakak laki-laki yang di keluarga sendiri itu onii-chan, tapi penyebutan kakak laki-laki dalam keluarga sendiri yang benar itu ani, itu saja." Aku menjelaskan hal yang kupelajari tentang hal dasar yang ada di Jepang setelah menyukai anime lebih dalam lagi, mungkin kebanyakan di anime menyebutkan onii-chan sebagai penyebutan kakak laki-laki yang ada di keluarga sendiri, padahal itu seharusnya penyebutan untuk kakak laki-laki di keluarga orang lain.


"Hehh.. Masa Aru harus nyebut onii-chan, ani, ani-chan, gak banget, yang masuk akal cuman aniki, tapi Aru gak suka. Pokoknya onii-chan aja sebutan Aru ke kak Naru."


"Yah terserah lah, kakak hanya memberi info yang seharusnya benar saja,"


"Baiklah, karena sepertinya sudah tidak ada yang ingin dibicarakan kakak masuk ke kamar lagi ya." Aku ingin melanjutkan membaca novel, tetapi Aruna terlihat masih ada yang ingin dibicarakan.


"Hmpphh.. Padahal udah dikhawatirin Aru, masih aja cuek, sudah pasti tidak ada perempuan selain Aru yang mengkhawatirkan Naru onii-chan."


"Huh, ya secara harfiah tidak ada anggota keluarga selain Aru yang mengkhawatirkan kakak sih." Ucapku sebelum kembali masuk ke kamar.


Aruna tampaknya terlihat cemberut dan ngambek setelah mendengar jawaban dari ku, "Hmphhh onii-chan baka!" Aruna membuka dan menutup pintu kamarnya dengan kencang.


"Hahh, apasih sebenarnya yang ada di pikiran Aru itu, bikin bingung aku aja." Aku mengoceh dan menghela nafas.


Karena sudah lelah habis meladeni Aruna, aku pun kembali masuk ke kamar dan membaca lagi novel, sambil mengemil makanan yang tadi sore kuambil di kulkas. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, aku memutuskan untuk segera mengakhiri membaca novel dan tidur.


Sebelum tidur aku turun ke bawah untuk meminum segelas botol, dan pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai aku pun merebahkan diri, memasang alarm dan bersiap untuk tidur, sebelum tidur biasanya aku akan mengahayalkan sebuah cerita yang mempunyai alur yang bahagia, biasanya aku akan berkhayal cukup lama, mungkin karena hari ini aku terlalu lelah aku memutuskan untuk tidur lebih cepat.


__ADS_2