
Sementara, acara pun menjadi sangat meriah aku pun larut di dalam pikiranku.
Ahahhahaha, akuu, sudah pasti, aku gagal kan???!!? Ahahahahaha, entah bagaimana nasibku kedepannya, akuu, hahaha, ini, terlalu menyakitkan sialan. Air mata ku keluar, aku tidak bisa menahannya.
Aku, hanya bisa melihat para sang juara yang sedang berfoto-foto dengan piala, piagam, medali, dan novel mereka.
Apa aku menyerah soal menjadi novelis saja ya?? Pikiran seperti itu pun langsung memenuhi isi kepalaku.
Acara terus berlanjut, aku hanya terdiam dan tidak bisa memikirkan akan melakukan apa aku selanjutnya, Aku yang merasa putus asa karena gagal untuk meraih juara 3, aku sangat berambisi untuk mendapatkan juara ke 3, tetapi, aku gagal.
Sekarang adalah waktunya untuk pengumuman juara harapan, aku masih saja terjebak di pikiran ku sendiri. Aku, gagal, aku, gagal, aku... Itu adalah semua isi kepalaku setelah pengumuman 3 besar, aku kehilangan harapan, tujuan, dan juga mimpi ku.
Saat pengumuman juara harapan dimulai, aku pun masih tenggelam dalam pikiran negatif ku.
"Baiklah, waktunya pengumuman para juara harapan," samar-samar kudengar apa yang dikatakan Akira-Sensei.
Aku mencoba untuk menenangkan pikiran ku dan menyimak pengumuman ini sampai selesai.
Suasana di ruangan menjadi hening, aku mendengar sekilas bahwa ada 5 orang yang mendapat juara harapan ini, dan sedikit harapan mulai tumbuh dalam diriku. Aku berharap setidaknya aku bisa meraih juara harapan ini..
Lalu, Akira-Sensei dengan penuh antusias menyebutkan nama-nama pemenang, samar-samar terdengar nama Elina. Yah, dia memang pantas untuk mendapatkannya. Sebelum akhirnya mencapai peserta ke-5. Suara itu menggema di ruangan, "Dan, peserta terakhir yang berhasil meraih juara harapan untuk kategori novel adalah... Alvaro Nagiru!"
Hati dan pikiranku seketika terkejut. Aku terpaku di tempatku, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja kudengar. Aku berhasil! Aku mendapatkan juara harapan!
Suarapun terdengar meriah saat tepuk tangan memenuhi ruangan. Aku berdiri, langkahku gemetar menuju panggung. Terlihat olehku Elina, Dia tersenyum hangat padaku, memberikan dukungan dan mengucapkan selamat.
Saat aku berada di panggung, Akira-Sensei menyerahkan medali dan piagam penghargaan kepadaku. Aku benar-benar tidak mempercayai momen saat ini, ini, terlalu sulit dipercaya, walaupun bukan juara 3 yang kuraih, setidaknya aku akan mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tuaku.
"Hehe, kamu hebat, padahal kata kamu ini pertama kalinya ikut perlombaan," Elina berbisik.
"Aku enggak sehebat itu kok," jawabku.
"Hahaha, kamu merendah mulu tau, padahal kamu itu beneran hebatt," pujinya kepadaku.
"Yahh, terimakasih kalau begitu," jawabku sedikit tersenyum.
"Baiklah, baiklah, soro soro jikan da, kita berfoto dahulu dengan para peraih juara harapan inii," ucap Akira-Sensei dengan antusias. Ada beberapa asisten Akira-Sensei yang membawakan novel kami masing-masing.
__ADS_1
Fotografer pun mengambil beberapa foto dari kami berlima, kami memegang piagam, medali, dan juga novel kami masing-masing.
Lalu, aku pun turun dari panggung bersama dengan Elina, dan tak lama, acara perlombaan itu pun ditutup.
......................
Aku pun memutuskan untuk makan siang bersama dengan Elina, karena sekarang adalah jam makan siang. Elina pun menyetujui ajakan ku, dan kami pun memutuskan untuk makan di restoran saat kita pertama kali bertemu.
Di tengah perjalanan kami ingin ke restoran itu pun, Akira-Sensei yang sepertinya sedang sendirian muncul di depan aku dan Elina, "Ohh, shounen dan shoujo, sang juara harapan," Akira-Sensei terlihat sangat senang ketika bertemu aku dengan Elina.
"Akira-Sensei? Aku tidak menyangka kalau aku bakal bertemu dengan Sensei lagi," ujarku.
"Aku senang bisa bertemu lagi dengan Akira-Sensei," ucap Elina.
Akira-Sensei pun langsung mendekati kami berdua dan mengatakan, "Kalian berdua, pacaran yahh??"
Aku terkejut dengan apa yang diucapkan Akira-Sensei, "Yaahh, kami berdua sebenarnya teman, tidak lebih kok, hehe," jawabku dengan santai.
"Iya, Alvaro benar, kami tidak mempunyai hubungan seperti itu kok," jawab Elina dengan wajah datarnya yang khas.
"Begitu yah, sayang sekali," entah kenapa Akira-Sensei terlihat kecewa.
Aku dan Elina pun tidak keberatan dengan ajakan dari Akira-Sensei, karena hal itu, aku bisa belajar sedikit dari ahlinya.
......................
Kami semua pun sudah berada di restoran yang cukup mewah, aku dan Elina duduk bersebelahan, dan di seberang meja kami adalah Akira-Sensei.
"Jadii, sudah berapa lama kalian kenal satu sama lain?" pertanyaan dari Akira-Sensei selalu bisa membuatku heran.
"Uhh.. Kita kan, baru sampai di sini, Sensei, bagaimana kalau pertanyaan yang biasa saja?" ungkap ku.
Mendengar jawaban ku, Akira-Sensei pun hanya tertawa, "Oke, oke, jadi, sudah berapa lama kalian menyukai novel?"
Pertanyaan kali ini lebih masuk akal, "Kalau aku sih, semenjak SD, yah, kira-kira 4 tahun yang lalu."
"Ohh, sudah lama juga yah, Alvaro. Kalau aku, mungkin 6 tahun yang lalu," jawab Elina.
__ADS_1
Elina bahkan sudah menyukai novel lebih lama dariku, yah itu mungkin bisa dibilang masuk akal.
"Hmm.. Begitu yah, kalian sepertinya sangat berbakat yah dalam membuat novel," ungkapan dari Akira-Sensei membuatku sedikit terkejut.
Aku? Berbakat? Itu tidak mungkin, aku saja hampir kehilangan harapanku untuk menjadi seorang penulis. Jadi, mana mungkin aku berbakat...
"Yah, kalau Elina mungkin sangat berbakat, tapi itu sepertinya tidak berlaku untuk ku, ahahah," ucapku sambil tertawa datar.
"Gak, gak, gak, aku enggak bisa dibilang berbakat, aku hanya menulis apa yang kupikirkan, gak lebih," ujar Elina.
Akira-Sensei pun hanya tertawa melihat interaksi kami berdua. "Hahaha, kalian benar-benar anak muda yang menarik, kalian menyebut diri kalian tidak berbakat, padahal diri kalian ini sangat berbakat."
"Apa Sensei benar-benar berpikir seperti itu?" tanya Elina.
"Yupp, tentu saja 100%"
"Lagipula, kamu bisa membuat cerita sebagus itu hanya dari pemikiran kamu, bagaimana mungkin itu bukan sebuah bakat??" lanjut Akira-Sensei.
"Sensei benar loh Elina, kamu mungkin adalah orang jenius yang berbakat, orang biasa mana mungkin bisa membuat cerita bagus karena ide yang muncul dari pemikirannya," ucapku.
Elina sepertinya terlihat sedikit senang, Elina pun tersenyum mendengar pujian dari Akira-Sensei dan diriku, mungkin.
Setelah itu kami pun berbincang-bincang cukup lama, aku menanyakan beberapa saran dan masukan novel dari Akira-Sensei, dan kami berdua pun ditraktir makan.
Setelah hampir 1 jam kami makan dan berbincang-bincang, aku pun memutuskan untuk pulang duluan, karena ibuku sudah menyuruhku untuk pulang. Aku pun mengucapkan "sampai bertemu lagi," lalu berpisah dengan mereka berdua, melambaikan tangan ku, tak lupa aku meminta nomor HP Akira-Sensei.
......................
Di perjalanan menuju rumah, aku pun bersiap untuk sedikit berdebat dengan ibuku, karena aku gagal meraih juara 3 itu dan hanya berhasil mendapat juara harapan, aku pasti harus meminta izin dan sedikit berdebat dengan ibuku, untuk menjadi seorang novelis. Aku pun bersiap-siap, aku sudah sampai di depan pintu, memegang piagam juara harapan.
Lalu, Aruna keluar dari rumah, dia terkejut dengan kehadiranku yang berada di depan pintu.
Aku masuk ke dalam rumah dengan hati yang berdebar-debar, memegang piagam juara harapan dengan erat. Aruna memanggil ibu, dan aku tahu saat ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan impianku. Ibu keluar dari ruang tamu dengan tatapan serius yang membuatku semakin gugup.
"Apa dia berhasil meraih juara 3?" tanya ibu pada Aruna, sementara matanya terpaku pada piagam yang kupegang. .
Aku, siapp! "Ibu, aku gagal meraih juara 3, tetapi, aku berhasil mendapat juara harapan, apalagi ini masih perlombaan pertamaku, jadi-"
__ADS_1
Belum selesai menyelesaikan kalimat ku, ibuku pun langsung menentang keras, "Ohh, jadi kamu gagal dapat juara 3 kan?? Itu berarti, sudah saatnya kamu menyerah soal impian mu menjadi penulis novel, iya kan?" bentak ibuku dengan melontarkan beberapa pertanyaan yang tidak mungkin bisa kujawab.
Siall... Apa, sampai sini saja kah???