
Setelah ujian yang cukup lama berakhir, aku sudah kembali membuat novel. Setelah kira-kira seminggu ujian berakhir, aku sudah menyelesaikan setidaknya 3 bab, itu jumlah yang lumayan.
Saat ini, aku sedang bersama dengan Elina di perpustakaan umum. Perpustakaan adalah tempat terbaik untuk mendapatkan ketenangan.
Kami membicarakan novel yang kami buat, sembari membaca beberapa novel yang sudah terkenal di Dunia.
"Yah.. Novel buatanmu ini punya tema dan penokohan yang cukup baik menurutku," Elina memberikan pendapatnya tentang novel buatanku.
"Kamu pikir begitu? Aku senang atas pujiannya, apalagi itu pujian dari kamu." jawabku.
Elina sepertinya tampak sedikit tersipu, "Me-Memangnya kenapa kalau pujian itu datang dari mulut ku?"
"Hmm.. Yahh, soalnya aku merasa senang kalau ternyata novel ku dipuji bagus dengan orang yang membuat novel lebih bagus daripada punyaku." Aku sedikit tersenyum.
"O-Ohh, begitu yah."
"Btw, kamu gapapa kesini gak bareng Aithan?" tanyaku
Elina menidurkan kepalanya ke meja dan melihat ke arahku, "Malah lebih enak kalo gak ada Aithan tau, gak ada yang mengganggu."
"Begitu yah. Ya, kamu mungkin benar," jawabku.
"Kok kamu bisa kepikiran buat novel tema perang Dunia sih? Dapet idenya dari mana?" tanya Elina
"Hmmm... Kenapa ya, karena aku hanya ingin memakai tema itu?"
"Haha, kok bingung sih," Elina tertawa kecil.
"Yaa.. Yaa, karena menurutku membuat novel dengan tema ini akan menarik," jawabku
"Begitu yah, tapi ya, memang menarik kok tema yang kamu ambil untuk membuat novel ini."
"Begitu kah?"
"Yap, btw kamu sudah dapat ide buat judulnya?"
"Aa-Ahh.. Judul yah, akuu masih belum kepikiran sama sekali soal itu," aku masih belum mendapatkan ide sama sekali untuk judulnya.
"Wahh.. Padahal ceritanya sangat menarik dan bagus, apa kamu butuh saran dariku?" tanya Elina
"Yaa.. Kalau kamu enggak keberatan, beri aku saran."
"Hmmm... Bagaimana kalau, 'The Adventure In Time Of War', bagaimana menurutmu? Ini cukup cocok sama ceritanya, MC yang berpetualang di tengah peperangan."
"Hmm.. Boleh juga judulnya, mungkin aku pake saran dari kamu aja yah," ujarku.
"Yaa, kalau kamu merasa suka atau bagus, pake aja saran judul dari ku," Elina sedikit tersenyum.
"Ya, aku merasa senang kamu mau menerima ajakan ku untuk ke perpustakaan ini."
"Ya, aku juga senang kamu ngakak aku ke sini, lagipula aku enggak ada kerjaan di rumah, jadi lebih baik aku ikut denganmu ke perpustakaan ini, dan membicarakan tentang novel," ujar Elina.
"Begitu yah, aku juga senang sih ada orang selain Aithan yang bisa kuajak ngobrol dengan topik yang sama," ujarku
"Yahh.. Aku juga kurang lebih sama denganmu."
__ADS_1
"Btw, kamu tinggal di mana? Kata Aithan kamu bukan orang Yogyakarta yah?" tanyaku
"Yap, aku orang Jakarta," jawab Elina.
"Ohh... Terus, kamu tinggal di Yogyakarta ini, di rumah Aithan?"
"Yap, begitulah, berhubung lomba menulis novel antar pelajar itu diadakan di kota ini, aku jadi tinggal sementara di rumah Aithan, setidaknya sampai pengumuman pemenangnya," jawab Elina.
"Begitu yah. Memangnya kamu sudah selesai dengan ujianmu?"
"Sudah dong, aku ujian lebih cepat dari Sekolah lain," ujar Elina.
"Ohh.."
Tiba-tiba suasana pun menjadi hening, Elina sedang membaca novel, aku pun sedang memikirkan untuk kelanjutan cerita novel yang kubuat.
Aku mendapat inisiatif untuk mengajak Elina ke kafe, "Mau... Ke kafe enggak?"
Elina pun melihat ke arahku dan mengangguk, "Boleh, ayo."
Aku pun mengajak Elina pergi ke kafe terdekat.
................
Aku dan Elina pun sampai di kafe yang berada di dekat perpustakaan, kafe tidak begitu ramai, membuatku merasa lebih baik. Karena, kafe ini punya semacam ruangan pribadi.
Aku pun memesan 1 ruangan pribadi untuk aku dan Elina.
"Waahh... Ternyata kamu tau kafe yang punya ruangan pribadi seperti ini, aku suka, gak banyak orang yang bisa menggangu ketenangan kita soalnya."
Elina mengangguk setuju, "Hmmnhmm.. Aku juga suka tempat yang punya vibes seperti ini."
"Selain tempatnya yang menenangkan, makanan dan minuman di tempat ini juga enak menurut ku," ungkap ku.
Aku pun melihat-lihat menu yang sudah tersedia di buku menu, aku memesan cappucino, dan 1 soft cake keju, sedangkan Elina memesan pancake, dan milkshake coklat.
Sembari menunggu pesanan datang, aku dan Elina membicarakan banyak hal, "Kamu, mau lanjut ke sekolah mana?" tanya Elina.
"Hmm... Aku sih berencana melanjutkan ke Saibou Inter High School," jawabku
"Wahh... Aku juga mau lanjut ke sekolah itu, sekolah yang sangat cocok untuk ku," Elina terlihat sedikit excited, padahal ekspresinya terlihat datar.
"Ya, aku akan mendaftar ke sana jika diizinkan kedua orang tua ku juga sih, jadi aku belum yakin akan melanjutkan ke Saibou," ujarku.
"Begitu yah, sayang sekali kalau kamu yang punya bakat ini tidak bisa dikembangkan dengan baik," ujar Elina dengan santai
"Ya, kamu benar, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan kedua orang tua ku."
Elina mengangguk, "Hmm, semangat deh kalo gitu."
"Ya aku akan berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan izin dari kedua orang tua ku," ujarku dengan sedikit bersemangat.
Tak lama, pesanan kami pun datang, aku mengambil bagian ku, lalu menyantapnya dengan keadaan perut ku sedikit lapar.
Aku pun membicarakan banyak hal tentang novel dengan Elina selagi makan, Elina pun sepertinya menikmati makannya.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana menurutmu makanan dan minuman di sini?" tanyaku
"Hmm.. Yah, secara keseluruhan, aku menyukainya," jawab Elina.
"Syukurlah kalau kamu suka," ujarku
"Btw, kamu udah punya pacar?" tanya Elina dengan santainya.
Aku terkejut dan sedikit tersedak soft cake ku mendengar pertanyaan dari Elina itu.
Melihat diriku yang tersedak, Elina pun berinisiatif mengambil minuman milikku, "Kamu gapapa??" tanya Elina khawatir.
"Uhuk.. Uhukk, aku gapapa, uhh, makasih," jawabku.
"Ohh... Syukurlah," Elina merasa lega.
"Umm... Kamu, ngapain nanya aku udah punya pacar atau belum tadi?" tanyaku penasaran.
"Emmm... Aku, cuma penasaran aja sih, hehe.. Gak boleh ya?" jawabnya.
"Uhh.. Gak juga sih, kukira kamu mau apa nanya aku tentang itu,"
"Aku gak ada pacar, gak pernah pacaran juga seumur hidupku, karena kupikir, pacaran hanya akan membuat diri sendiri menjadi bodoh," lanjut ku
"Mmm.. Begitu yah, aku setuju sih, kalau pacaran hanya akan membuat diri sendiri menjadi bodoh, karena dirimu akan dibutakan oleh cinta yang belum pasti."
"Setuju, banyak orang-orang sebagian besar remaja mengganggap bahwa pacaran adalah puncak kebahagiaan, padahal masih ada lebih banyak hal yang bisa membuat bahagia."
"Yap, kamu benar," Elina sepertinya ingin menanyakan sesuatu lagi,
"Kamu, kalau punya perasaan sama seseorang gimana? Mau diapakan perasaan seperti itu?"
Sepertinya itu pertanyaannya, "Hmm, kalau aku merasa sangat mencintainya, mungkin aku akan mengungkapkannya dan sesegera mungkin aku lamar," ini adalah jawaban realistis ku.
Mengingat aku selalu jatuh cinta dengan wanita yang salah, mungkin saat aku merasakan perasaan jatuh cinta lagi, itu mungkin akan menjadi perasaan jatuh cinta ku untuk terakhir kalinya.
"Begitu yahh.. Kamu orang yang benar-benar serius yah," ujar Elina
"Tentu saja, aku selalu serius soal apapun, kalau hanya setengah-setengah, itu tidak akan ada hasilnya."
"Fufufu, aku merasa senang sudah kenal dengan mu Alvaro."
"Begitu yah, ya aku juga senang bisa mengenalmu, kamu mudah kuajak bicara, soalnya kita punya kesukaan yang sama."
Elina tersenyum, lalu kami pun berbincang lagi.
Lalu, aku pun melihat jam, ternyata itu sudah sore, aku dan Elina pun memutuskan untuk pulang, dan membayar semua yang kami pesan,
"Ternyata semuanya gak semahal yang kukira yah," kata Elina.
"Yaa, makanya aku suka tempat ini," ujarku.
Aku pun berpisah dengan Elina, mengingat jalan pulang kami yang berbeda. Aku melambaikan tangan ku, lalu berpisah.
................
__ADS_1
Sesampainya di rumah, aku langsung untuk mandi, setelah itu aku mencoba melanjutkan novel ku. Aku bahkan melewatkan makan malam, dan selesai di jam 10:12, tapi, 1 chapter pun tidak selesai malam itu, setelah itu aku memutuskan untuk tidur dan melanjutkan menulisnya besok.