![ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]](https://asset.asean.biz.id/zodment--academy-of-zodiac-element-.webp)
Hari itu matahari sudah ada di seperempat langkahnya, namun cahayanya sudah amat terik dan menyilaukan, suhu pagi itu pun terasa cukup panas tetapi tetap tidak menghentikan anak-anak untuk bermain diluar.
"Haha! Nava gak bisa nangkap aku wlee!" Anak laki-laki yang kerap disapa Ben itu terus menghindari Nava yang hendak menangkapnya.
"Ben!! Awas aja ya-" Nava terhenti dari larinya, ia merasa amat lelah, napasnya memburu, jantung nya berdegup kencang. hosh.. hosh.. Nava memperhatikan pergerakan Ben yang teramat lincah itu, Ben hendak membebaskan rekan setimnya dari penjara.
"1, 2, 3, 4, 5!" Ben berhasil membebaskan Ray-rekan setimnya setelah menepuk tangannya sebanyak angka yang iya utarakan sebelumnya.
"Ben!! gak boleh bebasin teman lagi loh, capek tau!!" Nava berdecak kesal. Ini sudah yang kesekian kalinya Ben berhasil membebaskan rekan setimnya dan membuat rekan setim Nava selalu menjadi tim penyerang (anggota yang mengharuskan menangkap lawan dan memasukkan nya ke dalam penjara), tim Ben sendiri bergerak sebagai penahan (mereka bertahan dari serangan tim lawan agar tidak dijadikan sandra)
Nava tak habis pikir, bagaimana mungkin timnya hanya berisikan anak perempuan yang sudah jelas tak sanggup mengejar mereka. Ini pembagian tim yang sangat tidak adil, menurutnya. Apalagi rekan setimnya sudah tepar ditengah jalan. Seharusnya Nava sudah menyadari hal itu sejak awal.
Kesal karena ulah Ben, Nava langsung mengejar Ben tanpa memedulikan Ray yang hendak membebaskan rekan setimnya itu. "Haha! Nava larinya lambat banget sii kayak keong keberatan cangkang!" Ben kembali tergelak setelah mengatai sahabatnya itu. Nava semakin kesal dibuatnya.
Ray sudah berhasil membebaskan rekan tim yang lainnya. Rekan tim Nava sendiri sudah selesai mengisi energi dengan memakan sedikit cemilan dan minum air dari botol yang mereka bawa masing-masing.
Dan inilah saatnya... "KEJARRR!!" Ujar Lia lantang. Seketika anggota setimnya yang beranggotakan 6 orang itu pun langsung menyerbu tim lawan yang beranggotakan sama.
Zack dengan tubuh mungilnya tidak berhasil di tangkap oleh Lia karena perbandingan kecepatan yang 'nihil' itu. Radit sendiri sedang bersembunyi dari kejaran polisi galak, Lily. Okta (via) sudah tidak sanggup mengejar meski ia sudah beristirahat cukup lama tadinya dan membuatnya jatuh terduduk. Semuanya berjuang untuk keberhasilan tim mereka dalam permainan kejar-kejaran (1-2-3-4-5) tepuk ini.
Mereka tertawa riang disana hingga lonceng pergantian pelajaran pun berbunyi. Permainan kejar-kejaran pun berakhir. Saat itu adalah saat anak kelas 1 pulang dan kini saatnya para siswa kelas 2 menggantikan para penghuni kelas itu. Karena memiliki ruang kelas yang tidak mencukupi, pihak sekolah pun pada akhirnya mengakali waktu pembelajaran siswanya sehingga mereka tetap mendapatkan pembelajaran meski dalam waktu yang relatif singkat.
12 anak yang bar-bar nya tak ketara ini pun segera berlari masuk ke kelas masing-masing. Mereka berada dikelas yang berbeda. Namun mereka tinggal di lingkungan yang sama. Itulah yang membuat mereka dapat berteman sedekat ini.
Ben dan Radit masuk lebih dulu sementara Nava dan Lily mengikuti di belakang. Mereka ber 4 berada di kelas 2B. Sementara Ray, Zack, Okta, Firza, Lia, sikembar tak identik Gea dan Gildan berada di kelas A. Mereka semua tersenyum tanpa beban dan siap melaksanakan pembelajaran hari ini.
Di pagi hari Sabtu yang indah itu*
__ADS_1
~|~
"Jadi kangen, kira-kira sekarang mereka lagi apa ya?" Batin Nava yang telah membenamkan wajahnya di bantal guling kesayangannya.
~|~
Aku terdiam memandang lurus kedepan, jujur saja saat ini aku sedang bermimpi, dan aku amat sadar saat ini.
"A-aku dimana?" Tanyaku sembari menatap sekelilingku yang didominasi warna putih. Oh, sepertinya aku sedang bermimpi. Ujarku dalam hati.
Aku memegangi kerah piyama ku ketika napasku terasa amat sesak. "A-apa yang terjadi?" Aku bermonolog karena tidak ada siapapun disini. Tiba-tiba tubuh dan lisanku bertindak tanpa di perintah oleh otakku. Sesak napasku juga sedikit berkurang.
"M-maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu" ujarku tertunduk. Eh? Kok ada keong? Eh a-aku ngomong apa?, Batin ku. Aku melihat seekor keong yang sedang bersedih.
T-tunggu, j-jangan bilang gara-gara aku? Batinku dengan keringat dingin yang membasahi pelipisku.
"Wahai manusia, bukankah kamu tau bahwa kita sama-sama diciptakan oleh yang mahakuasa?" Aku sempat tersentak ketika mendengarnya bicara. Namun aku mengangguk pelan karena menyetujui perkataanya.
"Tidakkah engkau tau bahwa sesungguhnya kita ini sama?" Aku kembali mengangguk pelan.
"Jika engkau tau bahwa kita ini sama, mengapa engkau secara tidak langsung sudah menghina apa yang sudah tuhan berikan padaku?" Tanya si keong yang membuatku semakin menunduk, menyembunyikan wajahku dari keong yang terus melihatku.
"Tataplah mataku wahai manusia yang telah menyadari kesalahannya-" aku menggeleng pelan.
Seseorang mendekat kearahku dan mengangkat wajahku yang tertunduk dengan tangan kanannya. Aku tersentak. Si keong sudah menghilang. Apalagi ada seseorang yang tak ku kenali sedang berdiri dihadapanku.
Ia lebih tinggi dariku. Tinggiku hanya sebatas dadanya. Wajahnya tertutup oleh tudung yang ia kenakan, kulitnya tampak pucat, bibirnya juga demikian, orang itu tersenyum kepadaku dan meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"Wahai manusia, ini bukanlah wujudku yang sebenarnya. Ini adalah wujud yang aku tiru atas seizin yang mahakuasa. Aku disini semata-mata hanya untuk menyampaikan apa yang mahakuasa ingin sampaikan kepada hambanya." Aku tertegun ditempatku. Dari apa yang ia katakan jelas saja bahwa dirinya adalah malaikat.
"Ketahuilah wahai hamba ku, sesungguhnya kalian kami ciptakan dengan kekurangan dan kelebihan tersendiri, dan manusia kami ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Maka apabila kamu menghina apa yang telah kami ciptakan itu, sesungguhnya kamu telah menghinaku dan dirimu sendiri." Aku terkesiap mendengar suaranya yang lebih berat dari sebelumnya, cahaya lembut pun memancar dari wajahnya dan mulai memudar.
"Sesungguhnya aku telah menyampaikan apa yang ingin disampaikan oleh yang mahakuasa kepada mu wahai manusia, maka ambillah hikmah dari apa yang baru aku teruskan penyampaiannya kepadamu itu." Aku mengangguk pelan. Orang yang aku duga sebagai malaikat itu kembali mendekat kearah ku dan mengguncang tubuhku, eh, tunggu apa?
"Heiii manusia! Segeralah engkau bangun sebelum hujan dari gayung kebanggaan emak membasahi tubuhmu." Ujar kakak laki-lakiku mendramatisir keadaan. Oh ayolah, perasaan yang tadi mau nyampein sesuatu lagi. Aku menatap kakak laki-lakiku dengan malas. Ia masih terus mengguncang tubuhku.
"Ya Allah berilah hamba kesabaran-" terlambat! Aku sudah terlanjur mengisekai kan kakak laki-lakiku dengan bantal guling kesayanganku. Ia tepar tepat disamping tempat tidurku membuat ku panik ketika sadar ada yang sedang menuju ke kamar ku. Kemungkinan itu ibu, pikirku kalut. Terdengar deru langkah ringan dari luar kamar karena pintu kamarku sedikit terbuka.
"Maaf ya bang, ini demi kebaikan berjamaah-" ujarku sembari menggeret tubuhnya yang kebanyakan beban hidup untuk kumasukkan kedalam lemari. Sementara diriku berlari menuju kamar mandi untuk melaksanakan rutinitas ku setelah membereskan tempat tidurku.
Ibuku melangkah masuk ke kamar ku. Di telusurinya kamarku hanya dengan tatapannya. "Hmm kamar dah beres jendela udah dibuka juga.. mungkin lagi mandi" pikir ibuku yang langsung terjawab oleh gemericik air dari kamar mandiku membuat ibuku mengangguk kecil.
Ibu melangkahkan kakinya menuju dapur dan baru sadar ada sesuatu yang hilang.
"Suwer bang, ini demi kebaikan berjamaah-" gumamku yang was-was setengah mati dengan sikat gigi yang masih berada di mulut ku.
~|~
Don't forget to, take a kind delete a
Hehe
~|~
Aku kasih begitu biar panjang dan sedikit edukasi aja :v see you guys and love you <3
__ADS_1