ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
8


__ADS_3

Suka selai strawberry? Sama, author juga! Eits! Tapi beda artian nih.. kamu tau kan genrenya apa? Kalau tau dan mental kamu break dance mending pamit undur diri deh~ kenapa? Karena ada- xixixi~ udah deh! Kayaknya aku ngomong eh ngetiknya cukup jelas dan.. Selamat menikmati hidangan Selai Strawberry nya, yak!


~|~


Awan gelap menutupi langit yang seharusnya cerah hari ini. Mentari tampak enggan menunjukkan sinarnya hingga membuat seorang pemuda merasa gundah untuk meninggalkan rumah dan menuju kesekolah.


Pemuda berseragam putih abu-abu dengan rompi Dongker yang menyelimuti kemeja putihnya itu tengah memandangi langit dengan sendu. Surai hitam dengan gradasi biru tua itu melambai indah. Tidak seperti perasaannya saat ini. Pemuda itu merasakan perasaan yang campur aduk. Ia bingung, amat bingung. Ia bingung harus apa sekarang. Karena sang ayah berangkat lebih dulu dan meninggalkannya yang saat ini baru sadar bahwa... Ayahnya membawa kunci motornya serta merta.


Pemuda itu menghela napas panjang. Ia lelah. Bagaimana bisa ia baru sadar bahwa kunci motornya ada pada ayahnya? Karena dirinya yang sempat ugal-ugalan dijalan membuat sang ayah harus mengambil tindakan tegas! Beliau menyita kunci motor sang putra dan menautkannya pada kunci mobilnya. Dan mirisnya, beliau sepertinya lupa tentang putranya yang harus pergi ke sekolah.


"Hah~ Ayah tidak mengembalikan kunci motorku seperti biasanya. Ia bahkan lupa kalau seharusnya aku berangkat pagi hari ini. Dan mirisnya lagi.. bagaimana bisa ia tak meninggalkan uang saku untukku?" Pemuda itu meletakkan kepalanya di jendela tepat disamping pintu depan rumahnya. Ia pasrah sekarang. Ia benar-benar siap diomeli para babu sekolah yang diketuai oleh dirinya sendiri. Hamba ikhlas~


Air hujan tampak mulai menyerbu bumi dan nyaris membasahi permukaan kota kelahiran sang pemuda itu. Pemuda itu menatap keluar jendela dengan posisi yang sama. Deru napasnya meninggalkan jejak embun di jendela. Pemuda itu mengangkat kepalanya kemudian berdiri tegak dengan senyum yang terlampau tipis. Ia menatap jendela yang berembun karenanya itu, hal itu mendorong tangannya untuk menggoreskan sebuah gambar disana.

__ADS_1


Gambar loli berponi diatas alis itu. Dasar bocil pedo!


"Sadar diri itu penting, pren~"


"Ugh!"


Pemuda itu mengabaikan segala pemikiran abal-abalnya dan lekas mengambil payung merah muda- tunggu! Ia mengambil warna biru. Gosah malu-malu pinky boy~ swing~ heh! Bahaya!


Pemuda itu pun memanjatkan doa sebelum keluar rumah. "Bismillah.." pemuda itu pun langsung melangkahkan kaki jenjangnya menembus hujan bersama payung biru pemberian sang ibu. Tak lupa pula ia mengunci pintu dengan kunci cadangan yang bertaut dengan gantungan kunci hello kit-


"Bisa gak deskripsin yang normal aja?"


"Tentu saja.. nggak-"

__ADS_1


"Bocil luknut!"


Sampailah ia disebuah halte bis yang berjarak 30 meter dari rumahnya. Arlojinya telah menunjukkan pukul 06.35 WITA. Meski sebenarnya bisa menaiki bis setiap hari, pemuda itu lebih memilih menggunakan sepeda motor karena ia sampai 7 menit lebih cepat dari pada saat menaiki bis.


Bis pun tiba 5 menit kemudian. Pemuda itu segera menaiki bis dan segera melipat payung birunya. Ia pun segera duduk dibangku yang letaknya di pertengahan. Orang-orang berjas maroon mengikuti dibelakang pemuda itu. Ia menatap diam pada ke 5 pria berjas maroon itu. "Hmm.. aneh" ia terus bergumam sembari sesekali menggoreskan gambar pada jendela berembun disampingnya. Sementara ke lima pria bejas maroon itu duduk beberapa bangku di depan sisi kanannya.


Bis silver bernomor unit 069 itu melaju menembus derasnya hujan. Dengan perasaan yang mulai aneh pemuda itu terus menghela napas gusar. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasakan ada tragedi besar yang akan terjadi. Salah seorang pria berjas maroon yang tak jauh darinya tiba-tiba bangkit dari duduknya membuat pemuda itu tersentak.


Deg!


Sekilas pemuda itu melihat pisau lipat disaku celana pria itu. Tapi.. pria itu tak berniat jahat. Pria itu bangkit untuk membantu seorang wanita hamil turun di halte ini. Pemuda itu pun menghela napas lega. Ia pun mengalihkan pandangannya menuju jalanan. Sementara pria berjas itu kembali duduk setelah memandang bingung pada dirinya.


"Astaghfirullah haladzim, gaboleh suudzon!" Pemuda itu menyapu kasar wajahnya. Ia turut mengelus dadanya gusar berusaha mengembalikan tempo napasnya seperti sedia kala.

__ADS_1


Waktu telah menunjukkan pukul 6.47, bis kembali berhenti untuk menaikkan penumpang. 4 siswa SMA dan 3 siswa SMP mulai melangkah masuk. Seorang wanita parubaya dengan kerudung merah muda pun turut naik. Bis ini tampak mulai padat. Membuat pemuda itu mulai merasa sesak.


__ADS_2