![ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]](https://asset.asean.biz.id/zodment--academy-of-zodiac-element-.webp)
Tepat pada hari Sabtu, SMP Gaharu 3 akan melaksanakan karyawisata sebagai bentuk pelepasan peserta didik tahun ajaran 2018/2019. Senyum semringah merekah di wajah para peserta didik. Meskipun di lain sisi, ada perasaan tidak terima yang terselip di antaranya. Kesedihan akan sebuah perpisahan yang akan segera menjemput mereka. Namun semuanya tertutupi rasa lega.
3 tahun sudah mereka lalui bersama, susah senang bahkan dalam ketidaksukaan pada beberapa mata pelajaran. Mereka tetap menjalaninya dengan senang hati. Urusan paham atau tidak dipikirkan nanti-nanti saja. Kini, sudah saatnya untuk melepaskan segala hal yang sempat membebani pikiran mereka semua.
Dua hari sebelum hari-H, pihak OSIS perwakilan kelas 9 sudah meminta izin kepada pihak sekolah agar dapat meminjamkan peralatan yang berhubungan dengan audio dan video. Mengisi hari itu dengan meriahnya tawa para peserta didik kala menyanyikan lagu bersama di hari Kamis.
(Mereka melakukan Farewell perpisahan formal dan juga karyawisata/tur. Disini mereka melakukanya dengan sederhana karena hanya akan melakukan kemah di bagian Barat kota.)
Hari dimana karyawisata akan dimulai, membuat banyak siswa-siswi yang menyuarakan kebahagiaan mereka dengan berkumpul dan menceritakan segala hal yang sempat melintas di benaknya. Seperti yang dilakukan ke-empat gadis dengan kepala yang sudah dipenuhi aksesoris itu.
Setelah memainkan beberapa ronde permainan Ludo, pada akhirnya mereka tetap menyerah dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Meski permainan Ludo tidak menghabiskan energi secara signifikan. Namun, ketahuilah... Ini cukup untuk menguras kesabaran!
Sungguh... Mereka memerlukan istirahat sekarang. Tidur sejenak, sebelum akhirnya kembali kerumah masing-masing dan berkumpul lagi di tempat yang sudah di janjikan sebelumnya.
Jarum merah pada jam dinding terus bergerak. Suara khasnya pun sudah mulai mendominasi ruangan itu. Tik... Tik... Tik... Dan secara tidak sadar... Suara itu telah menjadi penghantar tidur bagi mereka.
Tak terasa, waktu telah berlalu begitu cepat. Waktu pada jam sudah menunjukkan pukul 3.21 sore. Seorang gadis yang tak lain adalah sang tuan rumah pun langsung membangunkan ke-tiga sahabatnya.
"Eh? Sudah sore begini... Yang lain belum bangun...? Hei... Ayo bangun...! Jangan cosplay kebo, deh!" Ucapnya sembari sedikit mengguncang tubuh para sahabat secara bergantian.
"Tunggu... Lima menit lagi..." Rengek salah satu gadis berambut abu-abu sembari menarik kain sarung guna menyembunyikan dirinya.
"Nggak, nggak! Kamu harus bangun. Nanti kita telat loh!" Ucap sang tuan rumah lagi.
"Iya deh..." Gadis berambut abu-abu itupun langsung beranjak bangun. Di kuceknya matanya pelan, kemudian ia pun langsung mengedarkan pandangannya.
"Eh loh? Kok cuma aku yang dipaksa bangun si, Zaraaa!" Saking kesalnya, gadis berambut abu-abu itu langsung melempar pelan bantal yang ada di dekatnya pada Zara.
"Hehehe, kamu kalau bilang lima menit yang ada bangunnya pas dunia udah keriset...!" Jawab Zara asal yang justru membuatnya langsung di jadikan sasaran lempar oleh gadis berambut abu-abu itu.
"Aduh... Jangan di lempari mulu dong, Va...!" Zara memohon dengan suara yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan tawa.
Ketika kedua insan itu sibuk melakukan perang bantal, salah seorang sahabat pun sontak terbangun. "Ukh! Hah-hah... Siapa yang ngubur aku dalam tumpukan bantal??" Tanya gadis berambut Bob itu dengan napas tersenggal.
"Oh? Ehehehe... Dia pelakunya... Mi!" Jawab Zara dan Nova yang justru saling menuduh.
"Hmph!" Bellamy atau yang kerap disapa Amy itu mendengus pelan. Kalau sudah begini, keduanya pasti salah! Begitu pikirnya.
Dikala perang kecil sedang terjadi, suara igauan seorang sahabat berhasil merebut eksistensi mereka, "Aaaaaa tidak! Pudding karamel itu punya Risha... Tidakk!! Huh?!" Gadis yang sempat terjatuh dari ranjang big size itu sontak terbangun dan langsung menampar pipinya pelan.
"Eh? Ahahaha, mimpi apalagi beliau ini?" Canda ketiga gadis itu kompak di akhiri kekehan lagi.
...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
Usai sudah candaan mereka, semuanya pun sudah pulang kembali ke rumahnya masing-masing. Kini, dikamar ini, Zara duduk sendirian di bibir ranjang big size-nya.
Ia menghela napas pelan, "Tak terasa... Waktu berjalan secepat ini ya? Kita juga udah mau bubar aja... Hiks..." Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Sakit.
"Kenapa harus berpisah lagi?" Tanyanya lirih. Ia pun langsung memeluk erat bingkai foto berisikan dirinya dan para sahabat.
...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
Jam yang terus berdentang dirumah Amy membuatnya tersenyum riang sedari tadi. Jam yang berdiri tegak di ruang tamunya itu sudah menunjukkan pukul 4.39 sore.
Mengetahui bahwa perjalanan menuju ke tempat perkumpulan mereka memiliki waktu tempuh belasan menit. Ia pun langsung beranjak dari duduknya sembari menenteng sebuah tas ransel dan sebuah lentera.
Tanpa berpamitan dengan orang rumah, Amy langsung berlalu pergi. Kendati demikian, ia tetap berpamitan kepada para pekerja rumahnya, ia tidak ingin mereka lagi-lagi dijadikan kambing hitam oleh pihak keluarga.
__ADS_1
Ia berbuat baik pada mereka juga bukan tanpa alasan. Setidaknya... Ia merasa yakin bahwa... Kebaikan mereka bukan hanya pencitraan.
"Mbok Sarni, Pak Gani, Amy pamit ke perkemahan dulu, ya?" Pamitnya pada kedua pekerja rumahnya.
"Eh? Non, mau pergi keluar? Kenapa gak bilang sama bapak toh, non? Sik, sik, biar bapak ambil mobil dulu." Belum sempat melangkah pergi, Amy sudah mencegat Pak Gani untuk pergi ke garasi.
(Sik\=Mengko Dhisik\=Tunggu/sebentar)
"Eh-eh, gak usah Pak! Saya udah mesan taksi soalnya..." Dustanya pada mereka.
"Oh..? Emangnya gapapa, non?" Tanya Mbok Sarni.
"Gak papa kok, Mbok. Mbok sama Bapak gak usah khawatir... Kalau gitu Amy pamit dulu..." Tanpa berpaling ke belakang lagi, Amy pun berlalu pergi ke terminal bus terdekat.
"Non Amy... Kabeh rasane nyesek ya pak..." Ucap Mbok Sarni yang tertunduk sedih.
"Iya Mbok, padahal na dulu non Amy selalu seneng di antarin jalan-jalan. Ya... sama... Tuan besar..." Timpal Pak Gani yang turut tertunduk sedih. Semuanya memang sudah tidak sama.
...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
Lantunan lagu dari sebuah radio membuat gadis berambut abu-abu itu turut berdendang sesekali, "...huu... Perang kan berakhir, cinta kan abadi... di tanah anarki, romansa terjadi..."
Lantunan yang kemudian terhenti ketika ia menyadari bahwa waktu pada jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 4.47. "Eh? Aduh, bisa telat ini!" Ujarnya cukup panik.
Dengan gerakan cepat, gadis berambut abu-abu yang tak lain adalah Nova itu langsung menyambar jaket Cobalt blue yang di gantung di belakang pintu.
Dikenakannya segala keperluannya misalnya kacamata minusnya itu.
Sebuah ransel berisikan perlengkapan medis, beberapa makanan serta beberapa helai baju sudah di gendong pergi olehnya. Ia pun akhirnya meninggalkan kediaman setelah mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.
"Bang Excel! Kuncinya di ventilasi, ya!" Teriaknya kepada tetangganya yang sok sibuk bernama Excel itu. Ia pun kembali berlari kecil ke trotoar di jalan utama guna menaiki angkot langganannya.
"Karyawisata ke alam lain bang, ehehehe!" Jawab Nova asal hingga kemudian menghilang di balik gang kecil di sana.
Jawaban nyeleneh dari Nova pun pada akhirnya membuat Excel menghela napas lelah, "...Hah... Punya tetangga gini amat."
...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
"Mama, Biola yang ada di lemari di taruh mana, Ma?" Tanya gadis berambut pirang itu setelah menyadari bahwa Biola pemberian sang Ayah tidak ada di lemari kaca.
"Oh? Mama pindahin ke ruang musik kamu, Sha." Jawab sang ibunda lembut.
"Oke deh, Mah. Kalau gitu, Risha pamit ke perkemahan ya, Ma..." Pamit Risha pelan.
"Iyah Sayang, jaga diri baik-baik, ya? Oh iya, bekalnya ada di tas yang warna pastel! Terus kalau ada apa-apa kamu bisa telpon orang rumah, ke si'mboh juga boleh. Atau kamu mau mama kirimin bodyguard...? Mama-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan Risha sudah terulur untuk mengusap lembut wajah sang Ibu.
"Mah... Risha gak papa..."
Ibunya pun menghela napas pelan, "Hah... Mama cuma khawatir aja, Sha. Perasaan mama agak gak enak." Ucap sang ibunda jujur.
"Mamah tenang aja, Risha akan jaga diri baik-baik, kok. Mama bantu jaga dengan do'a ya?" Bujuknya sembari mengelus lembut pundak sang ibu.
Dengan ragu, sang ibu pun langsung mengangguk pelan. "Iyah Sayang..."
Senyuman lembut pun kembali merekah di wajah Risha. Beberapa saat kemudian, sang ibunda pun menghantarkan Putri satu-satunya itu ke pintu utama. Risha pun masuk ke dalam mobil hitam kepunyaan sang Ibunda. Barang-barang pun juga sudah dimasukkan ke bagasi oleh Pak Dikta, sopir pribadi keluarga mereka.
"Pak Dikta, jangan ngebut ya Pak? Pelan-pelan saja bawa mobilnya." Ucap sang ibu beberapa saat sebelum pak Dikta kembali ke singgasananya.
__ADS_1
"Siap, nyonya... Nyonya tenang saja... Selama jiwa dan raga ini masih bersatu, saya bisa jagain non Sasha sekuat tenaga!" Jawab Pak Dikta sembari mengacungkan jempolnya. Ibu Risha pun hanya terkekeh kecil. Ia sudah maklum dengan tingkah pekerja rumahnya yang satu ini.
Beberapa saat sebelum mobil melaju meninggalkan kediaman, Risha membuka sedikit kaca mobilnya sehingga memperlihatkan wajah sendunya.
"Mah... Titip salam buat Papa, ya?" Ucapnya hingga kemudian terdengar samar karena mobil itu sudah melaju lebih dulu. Sang Ibunda hanya bergeming di tempatnya.
"Maafkan Papamu, nak. Dia bisa sesibuk ini juga agar kamu tidak merasakan penderitaan yang sama seperti ayahmu dulu..." Lirihnya pelan.
...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*...
Tepat di sebuah lapangan dengan 2 unit bus, puluhan siswa sudah berkumpul di sana dengan senyum semringah. Sebentar lagi mereka akan memulai perjalanan ke perkemahan. Nova dan Amy tiba secara bersamaan, Zara datang lebih dulu karena ia bertugas sebagai pembimbing, dan Risha baru saja turun dari mobilnya.
"Baiklah... Karena anggotanya sudah lengkap, kalian dipersilahkan naik ke bus yang sesuai dengan pembagiannya kemarin, ya?" Intrupsi Zara kepada para sahabat.
"Siap, Ra!" Jawab mereka serempak.
Seluruh siswa pun masuk ke dalam bus yang sesuai dengan hasil pembagian kemarin. Seluruh barang sudah di muat rapi. Risha berpamitan pada Pak Dikta kemudian melangkah masuk ke dalam bus sembari menenteng sebuah tas pastel berisikan kotak bekal.
Bus pun melaju cepat mengarungi jalan raya. Beberapa bait lagu terus mengisi perjalanan mereka. Matahari baru saja terbenam di ufuk barat. Nyanyian yang sudah berhenti sedari tadi memberikan kesan sepi dalam bus itu.
Hingga kemudian... Bus tersebut kembali ramai dengan keriuhan kecilnya, karena beberapa siswa sudah mulai berbisik-bisik dan bercerita banyak hal bersama. Risha menatap hamparan pepohonan di seberang sana dengan tatapan sendu. Firasatnya tidak enak.
"Sha, ada apa? Kok muka kamu kek lagi sedih plus takut gitu?" Tanya Zara yang duduk bersebelahan dengannya.
"Oh... Em... Perasaanku gak enak, Ra." Jawabnya pelan.
"Eh? Kok bisa git-"
*Drakkk! drakkk!
"Waaaa!"
Salah satu ban dari bus itu tanpa sengaja memasuki lubang yang cukup dalam, membuat banyak siswa-siswi yang reflek berteriak panik. Tak terkecuali Risha yang netranya sudah memperlihatkan kekosongan. Antara takut dan pasrah. Mungkin seperti itu.
"Harap tenang! Kalian jangan panik, jalanan disini memang agak jelek." Tutur guru pengawas disana guna mengembalikan keadaan yang tentram.
Seluruh siswa pun langsung menghela napas pelan.
"Hoho, kirain dah mau pindah Alam aja." Canda salah seorang murid di sana guna mencairkan suasana.
"Gak papa, bisa ketemu ayang nantinya..." Timpal yang lain.
"Gak lucu, oy." Saut siswa kutu buku yang duduk di belakangnya.
"Iyadeh... OSIS sangar... Wkwkwk"
"Iyah, kami kan cuma-"
*DRAKK! BRUKK! VROMM!
"AAAAAKKH!"
Bus tersebut menabrak pembatas jalanan hingga kemudian keluar jalur dan terjun bebas ke dalam jurang. Teriakkan panik mulai menggema. Tubuh sang sopir bus sudah terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
Seluruh penumpang pun semakin panik. Hingga beberapa saat sebelum bus itu beradu dengan tanah, kesadaran sudah lebih dulu meninggalkan mereka.
Bus itu... Terjatuh ke dalam jurang sedalam lebih dari 300 meter. Suara ledakan terdengar menggema sendu. Cairan kental berwarna merah menggenang dan mengalir ke tempat yang lebih rendah.
__ADS_1
Sang maut... Sudah tiba untuk membawa mereka pulang.