ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
Eps 4 ~ Pilihan–Zora [Revisi]


__ADS_3

Aroma khas dari bunga lavender yang bermekaran tercium di ruangan yang didominasi warna putih dan emas ini. Aroma yang menenangkan dan lembut itu kurasa cukup untuk kembali menetralkan perasaan gugupku.


Mengingat Ayahanda sempat meminta diriku datang, Aku pun langsung bergegas hadir memenuhi panggilan Ayahanda.


Ku langkahkan kakiku mengarungi koridor yang terlihat cukup hampa ini. Koridor yang terasa cukup sepi untuk seukuran sepertiga kamarku. Beberapa pintu yang sempat kulihat disepanjang koridor ini tidak dijaga oleh pengawal khusus kerajaan. Hingga, sampailah diriku dihadapan sepasang pintu yang cukup besar. Dua orang pengawal berjaga dihadapan pintu itu.


Kedua pengawal berseragam merah itu membungkuk hormat,“Hormat yang mulia Putri Zora Leofatson. Yang mulia raja Leonard menunggu anda.”Aku mengangguk kecil sembari tersenyum sebagai bentuk penghargaan.


Sepasang pintu itupun dibuka oleh mereka. Detail kecil seperti kompaknya pergerakan mereka membuat diriku terpana.


‘Luar biasa...’


Setelah sepasang pintu putih itu dibuka, lekaslah kembali ku langkahkan kakiku masuk beberapa langkah. Pintu pun kembali ditutup tanpa menimbulkan sedikit suarapun.


Usai dengan urusan pintu itu, aku membungkuk hormat pada sosok pria gagah bermantel putih yang sedang menikmati secangkir teh di sofa.


“Saya hadir memenuhi panggilan Ayahanda.”ujarku beberapa saat kemudian.


“Zora, Ayah senang kamu sudah dalam kondisi baik. Duduklah.”titah Ayahku sembari menunjuk sebuah sofa putih yang memiliki rona merah itu dengan jemari tangan kanan yang dirapatkan. Sorot mata beliau menyiratkan kelegaan. Terbukti jelas betapa tulusnya ia menyampaikan kata-kata itu.


Tak menunggu waktu lama, Aku pun melangkah anggun menuju sofa kemudian mendudukkan diriku di sana. Keraguan mulai membelenggu. Aku cukup bingung harus mulai dari mana. Hingga pada akhirnya Aku bertanya tentang alasan beliau memanggilku ke ruang kerjanya.


“Saya disini untuk memenuhi panggilan Ayahanda. Jikalau boleh tau, mengapa Ayahanda memanggil saya?”tanyaku sopan setelah menundukkan kepalaku sejenak sebagai bentuk penghormatan (lagi).


Sang Ayah tersenyum kecil, “Ayah memanggil kamu untuk membahas mengenai kelanjutan pendidikanmu, Zora.”jawab sang Ayah santai.


“Pendidikan?”Zora membeo di tempatnya. Sejauh ini, yang ia ingat adalah ia mempelajari banyak hal dari seorang penyihir putih dan sang Ayah. Lalu, pendidikan apalagi yang Ayahnya maksud?


Raut wajah yang sebelumnya santai seketika berubah serius. Sang Ayah menjawab, “Ini tentang pendidikan barumu di Akademi Sihir ZodMent, Zora.”


Zora tertegun sejenak. ‘Oh? Akademi ZodMent yang Ayah maksud... Yang itu kan?’


“Daftar ulang akademi akan dimulai 6 hari lagi. Minggu depan, tahun ajaran baru akan dimulai.”jelas sang Ayah begitu saja. Diambilnya cangkir perak itu dan kembali menyeruput teh hijau hangatnya.


Zora mengangguk kecil, “Baik Ayah. Zora mengerti.”mendengar jawaban itu, sang Ayah pun langsung tersenyum simpul.


“Bagus. Seorang Leo Zard harus memahami banyak hal. Termasuk tentang sihir dan pemerintahan negara. Kamu harus ingat Zora, alasan utama kamu menempuh pendidikan di akademi adalah mencari pengalaman dan ilmu yang lebih tinggi. Ayah harap, kamu tidak pernah menyalah gunakan kekuasaan kita nantinya. Kamu mengerti 'kan?”


“Baik Ayah. Saya mengerti.”

__ADS_1


"Pliss lah Sia serius dong, sedetik aja gapapa aku ikhlas-" Lee menampakkan wajah memelasnya membuat ku langsung, uhh! Bukan hanya Lee saja yang melakukannya, keluarga besar Universe Fruvege pun turut andil dan mengangguk kecil.


"Eee.. iya deh, iya, aku serius nii-" Aku mengangguk pelan membuat Lee dan seluruh anggota keluarga Univers Fruvege bersorak gembira.


"Akhirnya! WOOOO!!" sorak mereka beramai-ramai.


"Sedetik aja, dah, aku gak mau serius-" potongku membuat harapan dan kebahagiaan mereka Seketika hancur berkeping-keping.


"Hikss.. Sia.." Semua tatapan memohon kembali tertuju padaku saat ini. Bukannya membuat ku iba, aku justru merasa ngeri sendiri*


"Hmm iya deh, aku serius!" Ujarku sembari mengenakan kacamata hitam yang menambah kesan 'keren' milik abangku.


Meanwhile:


"Waduhh, kacamata hitam punya Akbar mana yak? ketuker sama punyaku lagi, kocak-kocak, kalo tu kacamata sempe rusak- yang rusakin auto kujual ginjalnya!" Pria berhoodie hitam itu terus mondar-mandir dan mengacak barang-barang di kamarnya dengan panik. "Kacamata edisi waifu terbatas kuu~"


~|~


*Serious mode [on]


Bro masih terkikik geli ditempatnya, ia masih membayangkan ekspresi wajah Mato nantinya membuatnya semakin tergelak dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Huff.. gawat kalo langsung ketahuan!" Bro menghela napas pelan.


Bro terus mengendap-endap menuju warkop tempat Mato duduk saat ini. Sementara Mato masih santai meminum hot chocolate yang mulai mendingin itu dengan segala kebosanan yang membuatnya semakin jenuh.


"SETAANNN!!" Teriak Bro membuat Mato reflek membuyarkan hot chocolate yang nyaris masuk ke kerongkongannya itu. Mirisnya Bro-lah yang kena batunya, kena karma tepatnya. kasian~


"WEYY TOLONG MUKAKU MASKERAN!!" Ujar Bro asal ketika wajahnya terasa seakan baru terkena lava Merapi itu.


Mato langsung gelagapan, sebagai teman yang baik, ia langsung menertawakan Bro yang iseng mengerjainya itu. "NYAHAHAHA!" Tawa Mato menggelegar puas.


"WEYLAH MATO!! PERIH NI MAA! PANASS!!" Ujar Bro tak kalah menggelegar.


*Yap, sebagai teman yang baik kita harus tertawa baru nolongin ya ges ya.. *DEBUKK!!.. "ADOYY!!"


Mato lekas meminta kotak tisu yang berisi tisu tentunya pada pemilik warkop tersebut. Ia langsung mengambil 4 lembar tisu (bisa dibilang 2 pasang/2×ngambil tisu) dan diberikan pada Bro.


*Kelakuan saat pergi ke restoran, nguehehehe


Bro segera mengelap wajahnya itu dengan kasar, wajahnya terasa amat panas. Mato pun membawakan sebotol air (cucian piring) dan memberikannya pada Bro. Dan dengan cepat pula, Bro membasuh wajahnya demi menghilangkan rasa panas yang nyaris membuat wajahnya terbakar.

__ADS_1


"Parah lu Ma, malah ngetawain!" Bro menggerutu kesal dan terus membersihkan wajah nya dengan tisu.


Bukannya menyesal, Mato justru tergelak renyah. Jujur saja, ia sangat tau apa niat sahabatnya ini dan menganggap apa yang barusan terjadi sebagai balasan instan untuk Bro.


"Waduhh... mana Hoodie warna putih lagi, auto di santet emak ini mah!" Bro mengabaikan sahabatnya, Mato, dan berbisik pelan meratapi nasibnya yang mungkin terjadi nanti sore.


Mato menghentikan tawanya dan melihat Hoodie Bro yang penuh bercak coklat dari hot chocolate yang ia minum tadi. Untung bukan sirup warna merah tadi~


Mato berlalu ke tempat bang Rott--pemilik warkop--yang saat itu sedang berada di dekat meja kasir. Mato pun meminta Hoodie yang kemarin sempat ia pinjamkan kepada Carro yang tidak lain adalah adik dari bang Rott. Ia kembali ketempat awalnya dimana Bro justru asik menghabiskan Hot cokelat-nya yang sudah berubah menjadi Cold cokelat? Hmm...


"Bro, ni ganti pake Hoodie gw aja-" tawar Mato yang langsung diterima oleh Bro yang juga langsung mengucapkan terimakasih.


"Thanks bro- eh-" Bro menggantung perkataannya setelah merasa ada yang tidak benar dengan kata-katanya barusan.


"Haha! Yoi Bro sans aja-" Mato dan Bro pun langsung melakukan tos ala-ala mereka.


"Oh iya, entar protes aja ma si author Sia tentang nama lu-" Mato berbisik teramat pelan membuat suaranya terdengar samar. *TPAKK!! Sebuah sendal jepit pun telah mencium mesra dahi Mato yang nganggur. "Othorrr!!"


*Meanwhile, ditempat yang berbeda...


Chi sedang bermain aplikasi berbasis chat di ponselnya, hal yang teramat seru sedang hangat dibicarakan disana. Banyak dari mereka sedang membicarakan tentang K-Pop, J-Pop, Anime terbaru, cosplay, dan beberapa musik trending akhir-akhir ini.


Chi terkikik geli melihat foto serta video yang dikirim sahabat onlinenya itu. Mulai dari parodi lagu J-Pop & K-Pop, meme, serta beberapa stiker limited edition yang membuat orang yang melihatnya langsung senyum-senyum sendiri.


"Pfftt.. anak meme emang beda.." Gumam Chi yang sedang menahan tawanya karena kakak kembarnya sedang rebahan di halaman rumah mereka itu.


*Halaman rumah mereka ada rerumputan dari jenis Rumput Swiss, didepan rumah Sia adanya rumput Jepang :v


Kakak kembar Chi meliriknya dengan tatapan meledek, ia tau adiknya sedang menahan tawanya, karena jika ia tertawa suaranya pasti amat melengking.


"Pfftt.. dasar.. Chi, Chi, kita kembar tapi gak kembar.. cuma mirip doang. Ketawa aja kali, biar sama-sama ketawa.." Kekehan pelan itu masih dapat tersampaikan ke telinga Chi dan membuatnya langsung menatap Lee dengan senyum yang terlampau manis.


"Walah-" Lee mematung ditempatnya. Ia segera memalingkan wajahnya dan kembali membaringkan tubuhnya di rerumputan yang terasa sedikit menusuk tubuhnya, namun tetap dianggap nyaman olehnya itu. Baginya, senyuman Chi memang manis, cukuplah untuk membuat orang yang melihat langsung tak berkutik. You know lah.. jenis apa itu🗿


Keheningan seketika menaungi sepasang saudara ini, Chi sedang fokus membaca artikel yang dikirim salah satu sahabat onlinenya sementara Lee sedang menatap langit yang cerah dan berawan. "Hmm.. awan yang itu mirip puding susu buatan bunda.." Gumamnya sembari menepuk-nepuk perutnya yang mulai terasa pusing.


Beberapa saat kemudian...


"APAAA?!" Teriakan dari Chi yang teramat keras itu berhasil memecah keheningan di sana.

__ADS_1


Lee yang sempat tertidur itu pun langsung bangun dan memasang kuda-kuda sebagai bentuk kesiagaannya.


"Apa? Kenapa? Ada apa? Mengapa?" Tanya Lee berturut-turut dengan mata yang menelisik segala penjuru tempat itu.


__ADS_2