ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
14


__ADS_3

Proses ajar mengajar telah dimulai sejak pukul 07.30 WIB pagi tadi. Sementara kini, jarum pendek pada jam yang terus bergerak setiap 3600 detik itu nyaris menunjuk ke angka 3. Itu artinya, bel pulang akan segera berdering.


Beberapa siswa yang sempat menahan kantuk itu tampak mulai kembali segar, ketika ekor matanya menangkap waktu yang ditunjukkan jam dinding. Beberapa siswa yang jauh dari jangkauan guru juga tampak mulai mengemas barang mereka dengan hati-hati.


Jam pelajaran terakhir ini terasa amat membosankan. Hal ini dikarenakan apa yang disampaikan guru mereka terasa terlalu monoton, apalagi tampak amat jelas pembelajaran ini amat terpaut dengan buku pedoman belajar, bahkan seakan menyalin seluruhnya!


"Hah~ terkadang aku menyesal memilih jurusan IPS..." Keluh seorang pemuda bernama Gio. Ia duduk tepat di sudut paling kanan serta terbelakang dari meja guru.


Keluhan dari Gio itu pun disaut oleh sang sahabat, Noel. Ia mengangguki keluhan dari Gio karena itu benar adanya. Tapi ketimbang memilih pindah jurusan, ia lebih memilih pindah tempat duduk saja agar Bu Betsi (Guru sejarah/IPS) tak meliriknya sinis begini.


"Sinis amat buk, tatapannya!" Noel meringis pelan saat netranya dan Bu Betsi sempat bertemu.


Yap! Sekarang mereka tengah berada dalam lingkup pembelajaran IPS yang tak lain berhubungan dengan sejarah. *Sejujurnya author lumayan tertekan Ama yang namanya sejarah🥲


Akhir-akhir ini pembelajaran IPS entah mengapa terasa semakin membosankan bagi para siswa. Jika diizinkan, tepatnya mungkin jika bisa, mereka sudah pindah kejurusan IPA meski tetap terikat dengan yang namanya Se-ja-rah!


Tidak terasa bahwa detik demi detik telah berlalu. Bel pulang pun berbunyi nyaring. Soarak-sorai siswa terdengar. Ada pula beberapa siswa yang telah meninggalkan kelas bahkan sebelum Bu Betsi mengizinkan, hal itu pun membuat Bu Betsi berang.


"Hei kalian! Belum ibu izinin pulang udah pergi duluan. Kembali duduk!" Ujar Bu Betsi kesal. "Heran, generasi sekarang kok gak ada sopan santunnya!" Bisik Bu Betsi.


Beberapa siswa yang sempat bergegas pulang sebelum Bu Betsi mengizinkan itu kembali duduk, tentunya diiringi gelak tawa para siswa. Dan ya, seperti biasanya Bu Betsi akan meninggalkan tugas rumah yang mungkin tak ada ujungnya, mungkin itu cukup untuk menguras dompet mereka. Ya, meski cuma 2 ribuan, demi membeli beberapa pena untuk meringkas 1 bab sejarah tak berujung.


"Yahhh~ gagal deh bergadang buat push rank!" Keluh seorang pemuda bersurai cokelat tua yang duduk tepat di sisi lain dari duduknya Gio. Hal itu pun memancing amukan Bu Betsi yang notabenenya garang ini. Sebuah penghapus papan tulis pun melayang dan mencium mesra jidatnya.


"Wakakakaka! Makan tuh penghapus, Luh!" Noel tergelak


Embun pagi mulai beruraian dan menghilang tanpa jejak. Kicau burung terdengar mengalun mengisi sepinya pagi ini. Jalanan mulai dipadati kendaraan bermotor, mulai dari roda 2 hingga roda 4 sedang berjuang dalam kemacetan. Jangan lupakan mobil truk angkat yang memiliki 6 pasang ban, yak!


Derap langkah kaki juga turut terdengar di trotoar jalan. Mengisi hari dengan segala kesibukan, para pejalan kaki hilir mudik di sepanjang jalan. Padatnya trotoar tampaknya tidak mau kalah dengan padatnya jalan raya.

__ADS_1


Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu serta rompi dongker itu tengah memacu langkahnya menuju sekolah. Dengan langkah cepat ia menghindari serta mendahului beberapa orang yang turut melangkah cepat sepertinya. Angin pagi itu terasa amat sejuk. Angin yang berhembus cukup kencang membuat kerudung putih miliknya sedikit berantakan.


Arloji di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 06.47. Itu artinya, bel akan berdering 3 menit lagi. Semakin mempercepat langkahnya, ia pun segera mencapai gerbang sekolah. Gadis itu terus melangkah, derap kakinya seolah menjadi dentangan jarum jam yang senantiasa berbunyi.


Terlalu memperhatikan jalan serta pikiran yang dipenuhi rasa takut akan di marahi BK, tanpa sengaja batu yang berdiam diri ditengah jalan itu menyandung kakinya. Membuatnya nyaris mencium mesra jalanan yang sempat diguyur hujan tadi malam. Sesaat sebelum itu terjadi, seorang pemuda bersurai kecokelatan dengan sigap menangkap gadis itu, membuatnya termangu beberapa saat.


"Eh?" Gadis itu menatap bingung pemuda yang menahan tangan kirinya sebelum sempat terjatuh.


Dengan tatapan khawatir, pemuda itu bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?" Suara bariton itu sampai ke gendang telinga gadis itu, membuat getaran aneh terasa ditubuhnya.


Sadar bahwa tangannya dipegang oleh seorang yang bukan mahramnya. Gadis itu dengan cepat menarik tangannya kemudian mundur beberapa langkah. Ia pun menjawab pertanyaan itu dengan gelagapan. "Oh iya kak! S-saya baik-baik saja!" Ujarnya gugup.


Melihat tindakan gadis itu membuat sang pemuda bersurai kecokelatan turut gelagapan, "Eh m-maaf, gak maksud." Ia mengusap tengkuknya dengan ekspresi panik.


"E-eh gak papa Kak, reflek tadi." Jawab gadis itu, suaranya terdengar agak samar. Kemudian ia kembali berkata, "Omong-omong, terimakasih ya kak." Ucapnya dangan tangan kanan yang tengah meremas roknya saking gugupnya.


Guna mencairkan sedikit suasana, pemuda itu tertawa kecil. "Ahahaha... Gak usah terlalu gugup gitu, anggap saja sedang berbicara dengan teman sebaya." Ucap pemuda itu diakhiri senyuman simpul. Gadis itu pun mengangguk sebagai jawaban.


Dia sangat peduli pada lingkungannya, ia murah senyum dan terbuka, ia bisa humoris dan serius menyesuaikan situasi, ia pintar membuat teori yang cukup rumit, ia setia, ia juga selalu menjaga cara bicaranya agar tak menyinggung perasaan orang lain.


#Sky_Sang_a_Melodys


#Cerbung


#teen


♪~Melodi indah yang terus mengalun


Membuat hatiku kembali mengenang

__ADS_1


Detik-detik di s'buah alun-alun


Rembulanku yang terkenang...~♪


♪~Cahayamu...


Senyumanmu...


Wajahmu yang tersipu,


Segala hal tentangmu 'tak pernah gagal buatku luluh...~♪


♪~Kembali terkenang ketika...~♪


"Langit...!"


Panggilan dari ruang keluarga itu berhasil menghentikan aktivitas sang gitaris misterius, Langit. Panggilan dari sang ibunda itu membuatnya segera melangkah pelan ke arah pintu, kemudian membukanya sedikit.


"Iya mah?"


Turun dulu, nak! Mama mau ukur badan kamu nih...


Loh?" "Bukanya bulan lalu udah ya, Ma?"


Mama lihat-lihat kamu udah tambah gede aja, perasaan kemarin masih bocil SD.


Ma... Langit udah tujuh belas tahun loh ini...


Sewaktu kecil, G terlahir dengan kemampuan untuk melihat yang tak kasat mata. G yang tinggal di sebuah kompleks perumahan memang tak akan luput dari sorotan siapapun, sehingga 'mereka' mungkin merasa enggan menarik G untuk sekedar berkomunikasi. Kondisi lingkungan yang ramah anak juga membuat dirinya merasa nyaman untuk tetap tinggal.

__ADS_1


Hingga setelah beberapa tahun, pada akhirnya kepala demi kepala keluarga harus berpindah domisili. Dengan berbagai alasan yang bervariasi seperti dipecat maupun mengundurkan diri. Hal yang kemudian mendorong 'mereka', untuk melangkah lebih dekat dengan G si bocah spesial.


Hari demi hari silih berganti, G pada akhirnya sudah menjejali taman kanak-kanak


__ADS_2