![ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]](https://asset.asean.biz.id/zodment--academy-of-zodiac-element-.webp)
Gadis dengan tinggi sekitar 150an itu memacu langkahnya menembus derasnya hujan. Rambut kuncir kudanya menari indah kesana kemari. Wajahnya yang pucat masih tampak cerah karena senyuman yang senantiasa terbit.
Gadis itu berbelok ke kanan setelah 6 langkah kakinya baradu dengan bumi, yang membawanya masuk ke sebuah gang kecil dengan jalan buntu, membuat gadis itu langsung menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menyetabilkan degup jantungnya yang berdetak abstrak.
Gadis itu berjongkok di depan sebuah rumah papan berukuran sekitar 30cm². Seulas senyum kembali terbit diwajahnya tatkala melihat seekor anak kucing bewarna mocha yang menampakkan dirinya dari dalam rumah itu. Seekor anak kucing berwajah bulat, tubuh mungil, dan kaki yang pendek, kucing itu menggaungkan sepatah kata seolah hendak mengucapkan terimakasih.
Gadis itu berteriak gemas menyaksikan keimutan tiada tara dari kucing kecil itu. Ingin sekali ia mencubit, merangkul, dan mencium kucing itu. Namun ia tidak bisa melakukannya karena tubuhnya yang sudah basah kuyup, apalagi bulir-bulir air hujan yang masih menyerbu kota kelahirannya.
Gadis itu pun terdiam dan menggigit bibir bawahnya menyiratkan bahwa ia sedang menahan diri untuk tidak memeluk si mocha. Ia juga tampak sedikit menggigil karena sudah cukup lama ia di guyur derasnya hujan. Gadis itu menghela napasnya dan kemudian menghembuskannya ke telapak tangan.
Tidak merasa cukup hangat, gadis itu pun melepaskan tasnya yang dibalut mantel cyan dan mengambil sebuah jaket disana. Dikenakannya jaket bewarna hijau army itu dengan perasaan kalut. Melihat warna dari jaket yang ia keluarkan membuat dirinya bergeming.
"Eh?"
__ADS_1
Tatapan heran terlontar begitu saja ketika gadis itu menyadari bahwa jaket yang hendak ia kenakan bukan miliknya. Jaket itu adalah milik teman kelasnya yang sempat berdebat dengannya setelah sekolah. Gadis itu berusaha mengingat apa yang telah terjadi hingga jaket itu ada di dalam tasnya.
Ia pun hanya bisa menggaruki pipinya heran, ia tidak mengingat apapun tentang jaket hijau army yang sempat bersemayam di tasnya. Terlarut dengan pikirannya itu, membuatnya tidak menyadari bahwa ada pemuda yang sedang berjalan kearahnya.
Seorang pemuda dengan payung biru dan seragam putih abu-abu yang melekat ditubuhnya itu, tersenyum simpul. Ketika tangan kanannya sibuk memegang payung miliknya, tangan kirinya justru sedang memegang sebuah jaket bewarna kuning lemon.
Derap langkah kaki si pemuda mulai merambat ke gendang telinga si gadis. Kepalanya seketika bergerak menatap pria jangkung yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa hujan-hujanan? Nanti sakit." Suara bariton itu sampai ke gendang telinga gadis itu, menyebabkan sensasi aneh yang terasa menggelitik.
Setelah lama terdiam, pemuda itu akhirnya menjawab, "Karena dimana pun Neira berada, Elang pasti akan datang." Jawabannya sembari menyerahkan jaket kuning lemon milik gadis bernama Neira itu.
Neira merasa tak puas dengan jawaban Elang. Namun daripada itu, karena sudah tidak tahan dengan suhu dingin yang menusuk sampai ke tulang membuatnya langsung menyambar jaket kuningnya.
__ADS_1
"Maaf ngerepotin, kak Elang. Dan terimakasih sudah membantu." Ucap Neira diakhiri senyuman simpul. Sementara Elang hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kita pulang ya, Neira? Kucingnya dibawa sekalian aja." Bujuk Elang karena Neira selalu bersikukuh untuk tidak pulang kerumahnya.
Neira menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak ingin terus-menerus merepotkan keluarga Elang yang sudah amat baik padanya.
Karena sudah mengetahui jawaban apa yang akan ia terima, Elang pun berjangkok guna menyamatinggikan dirinya dengan Neira setelah sempat menghela napas pelan.
Meski sudah mengetahui alasan ketidakinginan Neira untuk berada di rumahnya, Elang tetap bertanya hal yang sama untuk kesekian kalinya.
"Kenapa tidak mau pulang?" Pertanyaan itu seketika terlontar dari lisan Elang tanpa permisi.
"Karena.. Neira bikin Elang jauh dari Mila." Mendengar jawaban itu, Elang hanya bergeming tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
Setelah beberapa lama dinaungi keheningan, Neira pun bangkit dengan jaket kuning lemon yang membalut tubuhnya. Hujan sudah mereda sejak beberapa saat yang lalu, kehangatan mentari terasa mulai menyebar dan menerpa wajah pucatnya.
Neira bangkit setelah berjongkok cukup lama, ia berlalu pergi setelah berpamitan dengan mantan calon suaminya.