ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
Eps 3 ~ Identitas Baru [Revisi]


__ADS_3

Cukup membingungkan memang. Apalagi ketika kamu tidak menyadari bahwa saat itu jiwamu berpindah ke raga yang berbeda. Seperti yang para remaja ini yang baru saja lulus dari dunia. Pergi ke dunia yang berbeda dengan wujud baru, tanpa membawa 1 ingatanpun yang bisa membantu. Tapi syukurlah raga yang para jiwa ini masuki memiliki ingatannya tersendiri. Itu lebih baik dari tak sama sekali.


Bukankah begitu...?


"Mungkin..." Jawab Pemuda berambut abu-abu gelap itu.


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Cukup membingungkan memang. Mereka bahkan tidak sadar akan suatu perpindahan jiwa mereka ke raga yang berbeda. Dan mirisnya lagi, mereka tidak tahu apa-apa. Tidak membawa satu ingatan pun yang dapat membantu mereka. Tapi setidaknya... Raga yang telah menjadi medium bagi jiwa mereka itu, memiliki memorinya sendiri.


Bukan begitu...?


"Mungkin..." Jawab Pemuda berambut abu-abu gelap itu.


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Setelah berjam-jam berlalu, rasa jenuh dan bimbang mulai menghampiri gadis berambut Crimson itu. Helaian rambutnya yang tertiup semilir angin tampak begitu indah. Gadis itu duduk di balik bingkai jendela yang tampak cukup klasik itu. Senyuman sendu terukir di wajahnya.


Derap langkah kaki mulai terdengar dari luar kamar. Gadis itu masih setia menatap mentari yang nyaris bersembunyi. Entah jiwanya masih disini atau tidak... Namun yang pasti, ia sama sekali tak menyadari keberadaan seseorang yang sudah mengetuk pintu kamarnya sedari tadi.


Pintu itu terbuka begitu saja ketika seorang gadis berambut biru panjang menarik tuasnya perlahan. Cklek!


"Eh? Ternyata tidak terkunci..." Bisiknya pelan.


Setelahnya, netranya pun langsung menatap lurus seorang gadis yang sedang duduk di bibir ranjang sembari memandang mentari yang nyaris terbenam itu.


"Zora...? Kamu tidak istirahat?" Tanya gadis itu pada Zora yang tak kunjung menjawab.


"Hmmm... Dia melamunkah?" Tanyanya pelan entah pada siapa. Mulailah ia melangkah kecil ke arah duduknya Zora. Tidak biasanya gadis ambisius itu melamun sampai tidak menyadari keberadaannya.


Sesampainya ia di sana, dipegangnya pelan pundak Zora, membuatnya tersentak hingga mengganti posisi duduknya.


"Hu? A-ada apa?" Tanya Zora panik.


"Eeee... Aku memanggilmu tadi, tapi kamu tidak menyahut..." Jawab gadis berambut biru itu ragu.


Mendengar jawaban itu, Zora pun sontak berdiri tegak. "Oh? M-maaf... Aku tidak bermaksud begitu! tadi... Tadi aku sedang memikirkan sesuatu... Emm..." Tatapan bingung dari Zora seketika tertuju pada wajah gadis berambut biru itu. Ia merasa agak asing.


"Ahahaha, Mirae, barangkali kamu lupa." Jawabnya cepat setelah menyadari kebingungan Zora.


"O-oke... Ehehehe..." Dalam lubuk hati terdalam, jujur saja Zora merasa bersalah karena tidak mengingat orang yang ada di hadapannya. Apalagi... Gadis itu... Statusnya apa yak?


'Tunggu... Bagaimana jika dia sebenarnya lebih tua dariku? Aku tidak sopan dong!' pemikiran gila itu tiba-tiba saja melintas di kepalanya. Mau bagaimanapun... Pasti akan sangat merepotkan jikalau melupakan hal sepenting ini. 'A-aku harus bagaimana...'


Raut wajah yang begitu jarang di tunjukkan oleh Zora berhasil memancing sesuatu yang terasa menggelitik. Ia pun sontak tertawa renyah, "Pfft... Ahahaha... Tidak perlu panik begitu Zora... Kita sebaya, kok." Ucapnya diakhiri gelak tawa lagi.


Terdiam dengan wajah yang sudah Semerah tomat, Zora pun langsung menutup wajahnya malu. 'Akhh... J-jangan tertawa dong...! Apa aku semudah itu untuk di tebak??' Batinnya kalut.


'Aaaaaa ternyata sepupu kecil- sudah besar ku ini punya sisi imut juga!!' Batin Mirae dengan senyum tertahan. Mulutnya sudah nyaris tak dapat menahan teriakan gemasnya akan tingkah imut sepupunya itu.


Berusaha menetralkan ekspresinya yang sedang menahan tawa, Mirae berdehem pelan. "Ekhem... Uhuk... Emm.. Sebenarnya aku datang kesini bukan tanpa alasan, Zora..." Aura dingin mulai menyeruak, membuat Zora seketika menelan salivanya susah payah.

__ADS_1


'Ugh... Seram...'


"...Imut..." Sambung Mirae pelan yang berhasil membuat Zora terdiam (lagi).


"Ha??"


"Ehh...! B-bukan! Bukan itu...! M-maksudku hal lain, yang pasti bukan ini...! Itu..."


"Ukhuk... Ukhuk... Ayahmu, maksudku Raja Leomord Faston... Menunggumu di ruang kerjanya..." Sambung Mirae lagi dengan ekspresi seriusnya.


"Baiklah aku mengerti." Dengan langkah ringan, Zora melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang kerja sang Ayah. Meski ia sendiri merasa asing dengan koridor yang ia lalui dan banyaknya pintu berlapiskan sesuatu yang mirip... Api...?


Zora tetap melangkah kemana raganya ingin pergi, anggap saja sebagai sebuah clue. Sesampainya ia di depan sebuah pintu bertuliskan Leomord dengan warna keemasan, ia pun membuka pintu yang tingginya sekitar 3 meter itu dengan senyuman manis namun dengan penuh wibawa.


"Apakah Ayahanda memanggil saya?"


Sementara itu...


Seorang gadis berambut biru muda yang masih berdiri di kamar tidur Zora itu menutup wajahnya yang sudah ketara merah.


"Uh... Wibawaku sirna..." Ya, dia Mirae. Kini ia sudah terduduk lemas sembari berharap dapat menghapus ingatan yang barusan itu dari kepala Zora. Tapi... Dia bisa apa??


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Kunang-kunang berterbangan di sekitar halaman rumah seorang gadis dengan gaun putih itu. Netranya tak pernah luput akan satu pergerakan pun dari kunang-kunang di sekitarnya. Melodi dari harpa yang dipegangnya mulai mengalun merdu. Meski iramanya terdengar ceria, namun wajahnya yang ayu tak memperlihatkan hal yang serupa.


Ia... Sedih...


"Hei... Bukankah irama ini yang dulu sering terdengar di alun-alun?" Tanya sosok berbju hitam yang sedang mengintai Putri satu-satunya dari keluarga Vendebird.


"Ssstt... Jangan berisik... Kalau ketahuan bisa gawat!" Jawab salah seorang dari mereka yang mengenakan jubah abu-abu.


"Omong-omong kapten... Apakah kamu tahu kenapa Tuan S meminta kita mengintai Putri keluarga Vendebird??"


"Hm? Kalau tidak salah... Si kecil ini akan menjadi salah satu boneka terbaik untuk Tuan S..." Sosok berjubah abu-abu itu menggantung kata-katanya.


"Boneka??" Beo mereka bersamaan.


"Ya... Sebaiknya tidak perlu banyak bertanya. Perhatikan dan pelajari saja setiap gerak-geriknya!" Titah sosok berjubah abu-abu.


"Baik!" Jawab mereka berbisik.


'Melodi yang indah... Tapi sayangnya itu akan segera menjadi penghantar tidurmu untuk selamanya... Ruisha...'


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Disebuah kamar yang didominasi warna peach, terdengar suara seorang wanita yang sedikit berat. Mungkin di wilayah nada Mezzo sopran.


"Ck! Anak itu masih memiliki mana dan aura sihir yang luar biasa! Kalau begini terus... Fio tidak akan mewarisi sihir kerajaan!


"Si4l! Si4l! Si4l!" Ia lagi-lagi mengumpat untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia pun melempar sebuah bingkai foto yang terdapat potret keluarga kecil dengan 3 orang anak.


*PRANGG!


"Ugh, huhu..." Rengekan dari gadis kecil yang terbaring di kasur big size itu mulai terdengar.


"Oh? F-fio...? Maaf sayang, tidur lagi ya... Mama akan melindungimu... Dengan cara apapun itu..."


*Deg!


Seorang gadis berambut putih dengan gradasi kekuningan itu terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal.


"Hosh... Hosh... Hosh... Apa itu tadi? Aura itu... Terasa amat mencekam..." Tanya gadis itu dengan napas tersenggal. Banyak hal yang ia lihat sewaktu tidur tadi, rasanya seperti melihat sebuah layar tancap yang menayangkan film yang luar biasa panjang.


Diliriknya sebuah arloji bewarna perak dengan simbol dari ke empat mata angin yang ada di atas nakasnya itu.


"Ternyata masih pukul sembilan malam..."


"Omong-omong... Mimpi tadi terasa terlalu nyata..."


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


"Kamu tumben sekali bernyanyi seperti ini..." Sosok berjubah putih kehijauan itu mulai membuka topik pembicaraan.


"Kenapa memangnya?" Tanya gadis berambut cokelat tua itu Tanpa mengalihkan pandangannya dari langit berbintang.


"Entahlah... Rasanya kamu agak berbeda..."


"Hm?"


"Jangan-jangan, setelah terjatuh dari tebing... Jiwamu tertukar dengan sosok lain?!" Tanya sosok berjubah kehijauan itu asal. Pertanyaan tersebut berhasil membuat Gadis berambut cokelat itu tertegun.


'Tertukar... Mungkinkah...?'


"Aha... Tidak mungkin... Kepalaku hanya terbentur terlalu keras kok..." Jawab Weyn berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Yah... Baiklah..."


• • •


"Bagaimana jika... Sosok itu memang bertukar jiwa dengan sosok lain? Apakah kamu masih mau menerimanya? Atau membuat dirinya sadar bahwa sosok yang sesungguhnya kamu kagumi bukanlah dia...? Sama seperti roh pelindung lain yang menaruh hati pada 'sosok' yang harus mereka jaga. Namun sayangnya sudah bertransmigrasi dengan sosok lain."


"Aku ingin menyaksikan hiburan yang amat menyenangkan... Apalagi ini tentang kalian yang pernah melukai adikku, dan sosok baru yang ada di sisimu... Hahaha! Aku menantikannya...!" Tawa penuh dendam menggema di ruangan yang dipenuhi jasad tak bertuan itu.


Sebuah layar yang sempat menampilkan gambaran interaksi Weyn dan sang roh pelindung pun lenyap menjadi serpihan keemasan. Sosok itu pun melangkah pergi dengan senyum penuh arti.


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Tapi mau bagaimanapun... Sebuah kepastian sudah ada di depan mata. Meski terkadang memang tak berjalan sesuai harapan. Setidaknya berusahalah untuk memperbaikinya. Begitulah yang mereka pikirkan. Raga baru dan identitas baru... Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?


Tidak perlu takut, jalani saja.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐✧˖*°࿐


__ADS_2