ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
12


__ADS_3

Embun pagi mulai beruraian dan menghilang tanpa jejak. Kicau burung terdengar mengalun mengisi sepinya pagi ini. Jalanan mulai dipadati kendaraan bermotor, mulai dari roda 2 hingga roda 4 sedang berjuang dalam kemacetan. Jangan lupakan mobil truk angkat yang memiliki 6 pasang ban, yak!


Derap langkah kaki juga turut terdengar di trotoar jalan. Mengisi hari dengan segala kesibukan, para pejalan kaki hilir mudik di sepanjang jalan. Padatnya trotoar tampaknya tidak mau kalah dengan padatnya jalan raya.


Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu serta rompi dongker itu tengah memacu langkahnya menuju sekolah. Dengan langkah cepat ia menghindari serta mendahului beberapa orang yang turut melangkah cepat sepertinya. Angin pagi itu terasa amat sejuk. Angin yang berhembus cukup kencang membuat kerudung putih miliknya sedikit berantakan.


Arloji di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 06.47. Itu artinya, bel akan berdering 3 menit lagi. Semakin mempercepat langkahnya, ia pun segera mencapai gerbang sekolah. Gadis itu terus melangkah, derap kakinya seolah menjadi dentangan jarum jam yang senantiasa berbunyi.


Terlalu memperhatikan jalan serta pikiran yang dipenuhi rasa takut akan di marahi BK, tanpa sengaja batu yang berdiam diri ditengah jalan itu menyandung kakinya. Membuatnya nyaris mencium mesra jalanan yang sempat diguyur hujan tadi malam. Sesaat sebelum itu terjadi, seorang pemuda bersurai kecokelatan dengan sigap menangkap gadis itu, membuatnya termangu beberapa saat.


"Eh?" Gadis itu menatap bingung pemuda yang menahan tangan kirinya sebelum sempat terjatuh.


Dengan tatapan khawatir, pemuda itu bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?" Suara bariton itu sampai ke gendang telinga gadis itu, membuat getaran aneh terasa ditubuhnya.

__ADS_1


Sadar bahwa tangannya dipegang oleh seorang yang bukan mahramnya. Gadis itu dengan cepat menarik tangannya kemudian mundur beberapa langkah. Ia pun menjawab pertanyaan itu dengan gelagapan. "Oh iya kak! S-saya baik-baik saja!" Ujarnya gugup.


Melihat tindakan gadis itu membuat sang pemuda bersurai kecokelatan turut gelagapan, "Eh m-maaf, gak maksud." Ia mengusap tengkuknya dengan ekspresi panik.


"E-eh gak papa Kak, reflek tadi." Jawab gadis itu, suaranya terdengar agak samar. Kemudian ia kembali berkata, "Omong-omong, terimakasih ya kak." Ucapnya dangan tangan kanan yang tengah meremas roknya saking gugupnya.


Guna mencairkan sedikit suasana, pemuda itu tertawa kecil. "Ahahaha... Gak usah terlalu gugup gitu, anggap saja sedang berbicara dengan teman sebaya." Ucap pemuda itu diakhiri senyuman simpul. Gadis itu pun mengangguk sebagai jawaban.


"HEII KALIAN! KENAPA MASIH DI LUAR?!" Tanya seseorang dengan seragam yang sama persis dengan kedua insan yang berdiri didepan gerbang, hanya saja, ia menggunakan rompi maroon. Karena kedua insan itu hanya termenung setelah mendengar teriakannya. Pemuda itu pun langsung menjemput mereka di sana.


"Oh..? Ah, iya! Maaf, Ki"


"Telat minta maafnya...! Yaudah ente ke sana duluan aja, tuh, bantu di koperasi."

__ADS_1


"Oke" Ia pun berlalu pergi dengan langkah cepat.


"Oh, iya... Kamu anak angkatan pertama, kan?" Tanyanya dengan tatapan menyelidik. Aku pun mengangguk ragu.


"Iya kak..." cicitku.


Ia menghela napas panjang, "Kamu masih angkatan satu udah telat... atribut kamu lengkap kan?" Tanyanya lagi.


"Alhamdulillah lengkap kak..."


"Oke, bisa kesiniin dulu gelangnya...?"


"Oh? Iyah kak, maaf saya lupa kalau gak boleh pakai aksesoris seperti ini..."

__ADS_1


"Sudahlah... Kalau begitu cepat berkumpul di lapangan! Yang lain sudah bersiap..."


"Baik, kak."


__ADS_2