ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]

ZodMent [Academy Of Zodiac-Element]
Eps 2 ~ Terbangun di raga yang berbeda [Revisi]


__ADS_3

Semuanya berlangsung cepat, dunia sudah kehilangan beberapa jiwa lagi. Dan mungkin secepatnya pula, jiwa baru akan terlahir dengan wujud dan takdir yang berbeda.


"...Sejauh ini baru ditemukan 23 korban kecelakaan yang menurut data merupakan siswa dari sekolah XX dan 3 orang dewasa yang merupakan guru dan supir bus. kemudian data terbaru telah kami terima, 4 korban yang merupakan siswa ditemukan di sekitar bebatuan jurang. Dugaan sementara, kemungkinan mereka sempat melakukan penyelamatan diri namun takdir berkata lain. Sekian dari kami..." Siaran berita itu mulai menampilkan beberapa gambaran di TKP dimana bus karyawisata telah ditemukan.


Seorang pemuda yang sedari tadi menemani sang adik pun merasakan sebuah kejanggalan.


"Bang!" Panggilnya pada si sulung.


"Ape lagi, Cup?" Tanya si sulung yang sedang sibuk membuat mi kuah.


"Ituloh bang, bus yang ada di tipi kek agak familiar!" Ujarnya sembari menatap lamat televisi yang masih menampilkan T2K (Tempat Kejadian Kecelakaan).


Merasakan hal yang tak beres dengan penuturan sang adik, si sulung pun lekas melangkah menuju ruang keluarga. "Ngomong apa sih, Cil?" Tanyanya.


Netranya pun seketika tertuju pada bus hitam yang sudah remuk di televisi. Nomor unit bewarna kekuningan yang masih terlihat cukup jelas itu seketika membuat dirinya terdiam.


"Eh?..."


"Weh, Nyil!" Panggilnya pada sang adik pertamanya yang sedang menuruni anak tangga.


"Apa bang? Pagi-pagi udah meng-cosplay emak-emak yang anaknya ngadu dimarahi tetangga. Awokawokawok." Candanya sembari melangkahkan kakinya ke arah si sulung.


"Bukan waktunya bercanda, Nyil! Lo liat beritanya!" Si sulung pun menekan tombol pause pada remot televisi sehingga menghentikan siaran tepat pada saat kamera menyorot nomor unit bus tersebut.


"Eh...? 387, jangan bilang..." Netranya seketika terbelalak ketika menyadari sesuatu yang janggal. Si sulung dan Unyil pun seketika saling tatap.


"Cup, ente jagain adek ye! Kami ada perlu!" Titah si sulung pada adik keduanya yang langsung mengacungkan jempolnya.


"Ca-ca~ aha..." Si bungsu hanya berdumel pelan sembari memainkan krincingan-nya.


Dengan sigap, kedua kakak beradik itu langsung melangkah masuk ke dalam mobil sport oranye yang terparkir di halaman rumah.


"Bang... Si Ara gak akan kenapa-kenapa kan...?" Tanyanya dengan tatapan yang sudah menyiratkan kekosongan.


"Udah, Nyil! Jangan Nethink dulu. Mending lu search jalan pintas ke tempat kejadian!" Titah si sulung yang berusaha tetap tenang.


"OK!"


"Dari sini lewat jalan alternatif di depan sana...!"


Disaat yang bersamaan...


"Woi Xel! Ngapa muka lu panik gitu?! Mana lu nonton tipi-nya kedekatan, njir!" Tanya Jason – sahabat Excel – bingung dengan tingkah sang sahabat. Sementara Excel terus-menerus menggumamkan nama sembari menunjuk daftar korban di televisi.


"Nova... Nova..." Suaranya terdengar amat serak.


"Woi Xel! Xel! Lu ngapa sih, njir?! Kek orang gila kehilangan sesuatu aja! Lu kenapa...?!"


"Nova... Nova... Dia..."


"Hah? Nova...? Nova yang tinggal di sebelah itu? Emangnya kena- eh...?" Netra Jason seketika membola ketika mendapati siaran berita tentang kecelakaan bus sedang ditayangkan di televisi.


"Tunggu, tunggu! Si Nova yang lo bilang kemarin mau karyawisata itu? Jangan bilang kalo..."


Belum selesai ia berbicara, Excel sudah beranjak pergi karena ia ingin membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri. Diraupnya kunci motor yang ada di atas nakas, setelahnya ia pun langsung melangkah cepat ke arah garasi.


"Woi Xel! Xel! Sadarlah njir! Lo gak bisa gitu doang! Daftar korban masih belum lengkap, lu jangan nethink dulu ngapa...!"

__ADS_1


"Woe Xel! D*mn it. Woe tunggu gue Xel!" Tak mengindahkan perkataan sang sahabat, Excel pun langsung menyalakan motornya dan menarik keras pedal gas-nya..


"VANGKEH!" Umpat Jason begitu saja. Ia juga tidak bisa tinggal diam. Setelah mengunci rapat pintu rumah sang sahabat, ia pun turut melesat di atas jalanan yang sedikit basah.


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


"Ukh..."


"Eh? Hei, Weyn... Kau sudah bangun...? Tunggu, tunggu! Aku akan mengambil beberapa herbal pereda nyeri!" Ucap seorang berambut putih panjang yang menggunakan jubah berwarna putih kehijauan.


"Ehmm? D-dimana ini...?" Tanya Weyn lirih. Tubuhnya terasa remuk redam.


"Jangan bilang kau langsung hilang ingatan setelah berlatih pedang, kemarin!" Serobot seorang berambut putih sekembalinya ia dari ruang medis. Ia kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat teko mungil, 2 buah gelas, dan sebuah mangkuk yang entah apa isinya.


"Eh... P-pedang... A-aku... Ukh..!" Weyn meringis pelan ketika merasakan nyeri yang teramat sangat di perut bagian belakangnya.


"Hei... Sudah ku bilang jangan bangun dulu. Lukanya terbuka lagi!" Ujar sosok itu panik.


"M-maaf..."


"Hah... Berbaliklah. Biar ku periksa apakah rusukmu baik-baik saja..." Interupsi sosok berjubah itu dengan suara yang amat samar.


Tak berhenti sampai disitu, sosok itu mulai berdumel pelan bahkan nyaris tidak fokus dalam mengobati Weyn. "Sudah ku katakan hati-hati dan jangan memaksakan diri. Tapi kamu malah tetap melanjutkan... Ingin lebih kuat~ tapi tidak bisa menjaga diri sendiri. Bagaimana bisa kau terjatuh dari tebing di seberang sana...? Dasar... Kamu hobi sekali membuat orang khawatir... Setidaknya pikirkan-"


"Akh...!"


"Uh? Aaaa....! Maaf-maaf aku tidak sengaja... Ternyata lukanya di sini..." Ucapnya cepat dan kemudian kembali memeriksa bagian belakang tubuh Weyn.


Ia pun kembali menjelaskan, "Karena manaku belum pulih total, aku tidak bisa menyembuhkanmu secara maksimal... Aku..."


'Aku bingung...' Batin Weyn sendu.


'Rasanya agak asing...'


'Raga dan ingatan yang berputar seperti frame video ini... membuatku semakin bingung.'


'Di tambah lagi...' Weyn melirik sesuatu yang mirip ekor dibelakangnya itu.


'Ada sesuatu yang menempel dari tulang rusuk hingga kebawah. Agak tidak nyaman... Bentuknya juga... Tunggu! B-bukannya itu ekor kalajengking?!' Karena terlalu kaget, Weyn pun seketika bangun dan memosisikan raganya dalam posisi duduk.


"Aduh!"


"Heii, Weyn...! Ku bilang jangan bangun dulu. Kenapa kau seperti terkejut begitu...?" Tanya sosok itu dengan nada dinginnya.


"Eee... A-ada serangga di kakiku tadi... Iyah-iyah, ada serangga tadi..." Dustanya yang terlihat terlalu jelas.


"Hmmm... Mungkin aku juga perlu memeriksa kepalamu, Weyn."


'Omong-omong... Weyn itu... Aku...?'


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


"Uhm..."


"Eh? Zora?! Kamu sudah bangun! Tunggu sebentar, kakak akan membawa seorang healer kemari...!" Pemuda berambut cokelat kemerahan itu langsung berlari keluar kamar.


'healer... Penyembuh...? Zora... Apakah itu namaku?'

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia pun kembali bersama seseorang berjubah ungu pastel.


"Karena healer matahari sedang pergi, aku harap healer bulan sepertimu bisa membantu. Mohon bantuannya healer Yui." Jelas sang kakak yang mengenakan pakaian kerajaan khas Viktoria untuk seorang pangeran. Hanya saja, warnanya cenderung dominan dengan merah.


"Yang mulia Putri Zora, harap jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal negatif. Tutup saja mata anda, saya akan memulai penyembuhan. Jika pikiran anda tidak tenang, pemilihannya bisa lebih lamban..."


"B-baik..."


Proses pemulihan pun di mulai. Zora menatap sendu sekitarnya. Perasaan aneh dan asing akan hal-hal yang ia lihat... Bahkan identitas dan raganya...


'Apa... yang sebenarnya terjadi...? Lagipula... rasanya ada yang meledak-ledak dalam diriku... Panas...'


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


"Hiks... Hiks..."


"...Mama... Kakak menangis..."


"Eh...?"


"Ya ampun! Harz, tolong panggilkan healer bulan sabit kemari!"


"Baik yang mulia ratu..."


"Anais... Putri kecil mama... Pasti ledakkan sihir itu melukaimu. Maaf mama salah memasukkan ramuan dalam minumanmu. Mama malah memasukkan ramuan perampas sihir..."


'Ukh... Y-yang benar saja...'


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


"Kamu terlalu memaksa dia untuk menguasai sihir harpa itu, Dave."


"Saya tidak bermaksud demikian... Hal ini harus dilakukan untuk mencegah ledakkan sihir yang bisa saja membunuhnya. Dengan menyetabilkan sihir harpa... Jiwanya dapat lebih mudah bersatu dengan sihir keluarga kita..." Jelas seseorang dengan tatapan sendu.


Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk pergi. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk menitipkan pesan. "Oh ya, saya harus pergi mengurus beberapa berkas kenegaraan. Sampaikan maafku Pada Ruisha."


"Baiklah... Cepatlah kembali nanti. Ruisha menantikanmu."


Mendengar jawaban itu, seseorang yang tak lain adalah Ayah dari Ruisha pun berlalu pergi dengan langkah cepatnya.


"Uhm..."


"Mama...?"


'Eh... Kenapa aku memanggilnya mama...? Tunggu! Memori apa yang berputar cepat ini...? Membuatku pusing saja...'


Wanita yang di sapanya mama itupun seketika menoleh. "Iya sayang...?"


Tak lama setelahnya, sebuah tanya keluar dari lisan Ruisha begitu saja. "Dimana Papa?"


Wanita yang di sapanya Mama itupun langsung tertunduk diam, "Maaf sayang... Papa sedang sibuk. Nanti malam, Mama akan memintanya menjengukmu sebentar."


'...Kenapa rasanya agak menyakitkan...?'


...˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚...


Selain ke empat jiwa itu tampaknya ada begitu banyak jiwa yang bertukar takdir, ya...? Lihat saja pemuda yang sedang duduk di pinggir jurang itu!

__ADS_1


"Hah... Lagi-lagi terjadi..." Gumamnya sejenak hingga kemudian kembali melantunkan irama dengan sebuah seruling bersimbol bulan sabit.


__ADS_2