
06 Juni 2006.
Aku telah dirias sejak pagi tadi, oleh perias Make Up. Dan sekarang, Aku sedang duduk di kursi kebesaran ku. Ya, kursi yang disebut pelaminan.
Kursi berwarna merah, yang senada dengan baju ku yang berwarna merah menyala, seragam dengan aksesoris yang melekat di seluruh tubuhku yang berwarna emas. Bahkan Suntiang yang berada di atas kepala ku juga berwarna emas.
Payung kiri dan kanan di kursi pelaminan ku juga berwarna kuning emas, semua yang berada disini hampir semuanya berwarna kuning emas.
Bibir mungilku yang berisi ini, di warnai dengan lipstik merah menyala yang senada dengan bajuku yang seperti Ratu.
Warna lipstik yang tidak pernah aku sukai sedikit pun. Namun apa boleh buat, perias mengatur make up ku sesuai dengan baju yang aku gunakan. Aku sebenarnya ingin memakai baju Anak Daro berwarna hitam atau mungkin berwarna putih, warna kesukaan ku.
Namun, menurut semua keluarga besar ku. Lebih baik menggunakan baju anak daro berwarna merah, itu terkesan kuat. Aku tidak mengerti dengan alasan itu. Sungguh, aku tidak mengerti dengan semua ritual ini.
Suntiang, aksesoris yang melekat diatas kepalaku ini sangat berat, karena itu yang paling besar, katanya ini Suntiang yang asli, Suntiang lama.
“Huuuuuuffttt!!!” Ku Hela nafasku panjang. Aku sungguh tidak suka, tapi apa daya...
Semua keputusan ada pada Datuak, Kakak laki-laki ibu ku, yang menjadi Kepala Suku di keluarga ku. Dan kesepakatan musyawarah seluruh keluarga.
Kata nya, Suntiang melambangkan kekayaan dan tanggung jawab besar. Yang artinya, gadis Minang adalah seorang wanita ahli waris, yang memiliki harta pusaka dan penerus suku, yang harus dijaga dan dilindungi, yang memiliki banyak tanggung jawab kedepannya.
Menjadi Bundo Kanduang, wanita yang akan mendidik anak-anak ke jalan yang benar, mengajarkan adat istiadat, Adat basandi Syara', Syara' basandi Kitabullah.
Entahlah...
Begitu banyak ceramah yang keluar dari mulut para tetua, seperti Mamak, Datuak, Inyiak, Enek, Uci, Unyang, Guru, Etek, Mak Uwo, dan lainnya. Membuat kuping ku terasa panas.
Ya, aku adalah gadis Minang Kabau, bersuku Tanjung. Namun, kemungkinan Minang ku hanya setengah, yang tersisa hanya kabau nya saja. Itu kata Mamak ku sih! Bukan kataku.
Dulu, Ibu ku merantau ke provinsi Riau, tepatnya di daerah Pekanbaru. Di sana, Ia sempat menjadi pembantu di rumah makan padang. Yang sampai akhirnya, Ia bertemu dengan Ayah ku yang bekerja menjadi sopir oplet.
Mereka akhirnya saling jatuh cinta, dan memilih untuk menikah. Kata Ibu ku pernikahan mereka tahun 1973. Sudah lama sekali. Setelah menikah mereka menetap di sana, dan ayahku bekerja di PT. INDAH KIAT yang baru berdiri saat itu Tahun 1976.
Setelah itu, Ayah ku dipindahkan bekerja di perusahaan lain, di PT. WKS, di daerah Jambi. Akhirnya kami sekeluarga pun juga pindah kesana, sampai aku tamat Sekolah Dasar.
Waktu aku kelas 6 Sekolah Dasar, Aku mendengar orang tuaku berencana akan pulang ke kampung. Karena akan ada pembagian harta warisan. Akhirnya setelah aku tamat Sekolah Dasar, Ayah ku berhenti bekerja dan memilih pulang kampung bersama.
Harta warisan...
Jangan pernah berpikir harta warisan itu seperti bongkahan emas, atau pun berlian, atau segepok uang. Harta warisan itu hanya hutan belantara...
Aku merasa bingung. Apa hebat dan bangganya memiliki hutan belantara itu? Ya, itulah pikiran kecil ku.
Ayah dan Ibu ku bekerja keras siang dan malam mengolah hutan, bukit yang seram itu. Aku saja sangat takut disana, suara jangkrik dan kodok saling bersahutan, bernyanyi riang gembira.
Hutan,
Pohon besar lebih sebesar drum, ular kecil sampai piton sebesar tubuhku, ada di sana. Tempat yang sangat menyeramkan. Aku hanya satu kali ke sana. Setelah itu, aku tidak ingin ikut lagi dengan mereka, begitu banyak nyamuk-nyamuk nakal yang menciumi kulitku sampai gatal dan bengkak.
__ADS_1
Ayahku laki-laki hebat, hutan belantara itu menjadi kebun sawit yang luas sekarang, sebagian juga ada kebun karet di lereng sebelah sungai.
Jadi, Keluarga kecilku memiliki banyak harta dari yang lain karena kerja keras, bukan di beri segepok emas.
Pesta pernikahan ku ini, adalah pesta pertama di suku ku. Pesta yang digadang-gadang, yang dinanti-nanti semua orang di suku ku, dari yang kecil, muda sampai tua.
Eyang ku yang umurnya panjang, hanya bisa duduk tersenyum di atas kasur yang terkembang, disamping kursi pelaminan ku. Ya, beliau hanya sendirian disana, karena suaminya telah meninggal dunia 6 bulan yang lalu.
Eyang ku sudah sangat tua, semua rambutnya sudah putih, semua kulitnya sudah keriput, Ia pun jika berjalan dibantu dengan tongkat, bahkan terkadang kami memapah beliau.
Semua orang tampak sibuk, Adik-adik ku dan sepupuku senyum-senyum melihatku dan beberapa kali jepret-jepret sana sini.
Aku hidup dikampung, yang hanya mengenal dengan nama Kodak. Tustel Film yang ada roler nya. Kamera jadul zaman dulu. Bisa dibilang, hanya hitungan jari yang memiliki Handphone yang ada kameranya.
Jadi, kami semua mengabadikan setiap momen dengan kamera Kodak yang berbentuk kelise. Berbeda dengan zaman sekarang.
Pada zaman ini, handphone Sony Ericsson dan Nokia ketupat kata teman-teman ku adalah handphone yang paling keren. Ya, karena aku adalah ahli waris, tentu saja aku memiliki 2 handphone itu. Dan, sekarang adik-adik ku sedang memakainya untuk berfoto.
Sayangnya, handphone itu tidak secanggih Handphone sekarang. Handphone itu hanya memiliki infla red, bukan bluetooth seperti handphone zaman sekarang. Bahkan, foto atau pun lagu, hanya bisa 10 lagu, dan 20-50 foto maksimal saja.
Sedangkan fotografer, memotoku dengan kamera jadul zaman dulu itu. Ya, KODAK. Itu sudah keren dikampung ku.
Rata-rata, dikampung ku yang memiliki Handphone hanya orang yang memiliki cukup uang, dan Handphone itu hanya Nokia 1600 dan sejenisnya. Dengan stiker hitam putih yang bisa mengirim gambar bunga, serta gambar bertulisan I MISS YOU atau I LOVE YOU.
Ya, kemarin-kemarin nya waktu aku Sekolah Menengah Atas, Aku juga memakai Handphone Nokia 1100 dan Nokia 1600 itu, dan saat aku menerima pesan gambar yang bertulisan I LOVE YOU itu, bangganya setengah mati.
Sekarang sudah jam 11 pagi. Perut ku sudah mulai berbunyi, cacing dan usus ku sudah demo meminta makan. Ya, sejak selesai sholat subuh, aku langsung di Make Up. Sangat lama sekali. Lihatlah, aku merasa dandanan ini sangat norak! Dengan corak mata yang merah, lipstik merah menyala, aku terlihat seperti wanita penggoda.
Ya, mungkin karena aku jarang berdandan. Jadi, terkadang Aku lupa cara berdandan dan berpakaian feminim. Mungkin karena hampir semua adik-adik serta sepupu ku adalah laki-laki.
Dan sekarang, adalah waktu tersulit bagi ku.
Duduk manis yang anggun, dengan baju kebesaran ku yang seperti ratu ini, berwarna merah menyala, dengan Suntiang emas yang berat di atas kepala.
Menggenggam sebuket bunga palsu ditanganku. Sepatu hak tinggi berwarna emas yang manik-manik nya berkilauan. Rasanya sekarang pinggul ku sudah nyeri duduk anggun. Sampai kapan aku harus bersifat anggun seperti ini?
Ingin rasa nya ku berteriak. “Woy, masih lama?”
Namun aku tak mampu, ada Pamanku yang pemarah di sana! Dari dulu, Dia sering memarahi cara pakaian dan duduk ku. Aku takut padanya.
“Eyang..” panggilku manja menatap Eyang.
“Iya Sayang, ada apa cucu Eyang?” tanya Eyang menatap ku lembut.
“Eyang, sampai kapan Aku harus begini?” tanyaku manja pada beliau.
“Hehehehe.” Beliau malah terkekeh.
“Baru juga jam 11 pagi Sayang, ini masih lama. Mungkin sampai jam 4 pagi nanti.” jelas Eyang.
__ADS_1
“Apa?!! Jam 4 pagi?!” pekik ku kaget.
Yang benar saja? Aku harus duduk dengan anggun sampai jam 4 pagi. Bisa-bisa, tumbuh akar di pantat ku. Mungkin setelah itu, aku akan pincang, karena pinggangku kesemutan.
“Ada apa?” tanya Pamanku yang pemarah itu.
Ya, beliau mendengar aku yang terpekik karena terkejut.
“Paman, benarkah sampai jam 4 pagi aku akan duduk di sini?” tanyaku takut-takut.
“Tergantung Marapulainya (Mempelai laki-laki) datangnya kapan, ada yang datang cepat dan ada juga lama. Tergantung bagaimana keluarga orang itu dengan Adat mereka.” jelas Paman.
Aku menghela nafasku, aku kira akan dimarahi, rupanya Paman cukup mengerti juga. Apa karena sekarang aku sedang menjadi ratu ya, makanya paman tidak memarahi ku? Dia biasa kan galak. Ya, itu lah yang ku pikir.
“Apa kamu lapar, Rosa?” tanya Nenek yang baru saja datang.
Beliau mengira, aku berteriak karena meminta makan. Spontan saja aku jawab, karena aku memang sudah sangat lapar sedari tadi.
“Iya, Nek.” jawab ku bersemangat.
“Upik, ambilkan makan untuk Rosa.” perintah nenek menyuruh Tante ku yang bernama Fitrawati, tapi panggilannya Upit, lebih tepatnya dipanggil Upik. Kenapa gak sekalian dipanggil Supiak saja, artinya gadis. Hehehehe.
“Yo Mandeh (Ibu), Sebentar aku ambilkan dulu.” jawab Tante ku. Lalu, beliau pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian, Uncu ku datang membawa sepiring nasi serta air minum, kemudian duduk di samping ku.
“Kenapa, apa kau lapar?” tanyanya. Ku balas dengan cemberut. “Tentu saja aku lapar.” sahutku.
Uncu, adalah Tante ku yang paling kecil. Sebenarnya namanya cukup cantik, namanya Silvira Hardela. Tidak terlalu jauh terpaut dari usiaku, kurang lebih hanya selisih 3 tahun dengannya. Ia telah memiliki satu orang putra yang berumur 2 tahun sekarang.
Uncu mengaduk-aduk nasi di piring, lalu menyuapiku. “Aa...aamm, buka mulutnya!” perintahnya padaku.
“Aku suap sendiri Uncu, aku gak mau disuapi.” tolak ku.
Yang benar saja, aku sudah tua begini di suapi di depan orang banyak. Aku ROSALINDA TANJUNG tidak pernah menjadi alay dan mehong, ayu kemayu begitu, bersifat manja dengan makan disuapi. Hello??!!!
“Jangan bandel, ayo buka mulut!” paksanya menyodorkan sendok yang berisi nasi dan ikan yang sudah ia buang tulangnya ke mulutku.
Aku mengerutkan keningku, hingga kedua alisku terpaut, menyiratkan ketidaksukaan ku.
**
NB:
Anak daro adalah Mempelai perempuan
Marapulai adalah Mempelai laki-laki.
Jika suka tinggalkan like dan komentar positifnya ya🤗 Terimakasih
__ADS_1