(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Bukti Cintaku


__ADS_3

“U..Uda Qian mau ngomong apa, kenapa ajakin aku ke sini?” tanyaku sedikit terbata-bata di penyebutan kata Uda, karena belum terbiasa memanggilnya dengan panggilan itu.


“Pengen tau jawaban kamu yang kemarin sore.” jawabnya dengan santai sembari menyedot es kelapa.


“Bukannya Uda bilang, mau menunggu kapan aku bisa jawab?” sahut ku.


“Iya. Kali aja ada jawabannya sekarang. Kalau belum ada, juga gak apa-apa kok. Uda masih bisa menunggu, sampai kamu menerima cinta Uda.” ucapnya mempertegas kata menerima cinta, lalu tersenyum.


Mataku membelalak sempurna, kalau dia menunggu sampai aku terima cinta, bukankah itu sejenis pemaksaan cinta?


“Ros, ayo berfikir.” gumam ku.


“Baiklah, aku punya syarat untuk Uda. Kalau Udah bisa, baru kita jadian.”


“Apa syaratnya?” tanyanya antusias.


“Yang pertama, aku ingin di berikan 7 macam bunga berwarna putih.”


“Yang kedua, aku ingin Uda menanam bunga berbentuk love, di tengah love itu, Uda sediakan bangku tempat duduk. Aku ingin mendengar Uda bernyanyi untuk ku di bangku yang Uda buat itu.”


“Yang ke tiga, aku ingin Uda mengukir namaku di atas kayu papan, untuk karya seni yang bisa aku pajang. Sebagai bukti cinta tulus Uda. Aku ingin ukiran itu di pahat dengan tangan Uda sendiri.”


“Waktunya cuma 3 hari.” jelasku.


Dia mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian mengajukan pertanyaan. “ 7 buah bunga berwarna putih ya?” tanyanya.


“Bukan, aku mau 7 bunga yang berbeda, namun berwarna putih.” terangku.


“Bunga apa itu? Kenapa harus 7?”


“Banyak tanya! Berarti Uda gak mau ya? Ya udah, berarti Uda gak serius, Uda hanya bermain-main, dan tidak ada perasaan sesungguhnya padaku. Masa, mencari 7 macam bunga putih saja gak bisa. Padahal jika mau, sangat banyak, di tepi jalan pun ada bunga berwarna putih, bahkan bunga semak.“


“Jadi, boleh asal bunga, misal seperti bunga jeruk? Bunga jeruk kan putih tu? Gak musti bunga rose dan mawar putih, ataupun melati kan?”


“Kalau ada bunga berwarna putih yang bagus, kenapa tidak? Apalagi kalau bunga itu wangi, aku tentu saja sangat suka.”


“Baiklah Ros, Uda akan mendapatkan bunga itu dan menanam bunga yang kamu minta.” ucapnya tersenyum manis.


Aku juga membalasnya tersenyum. Aku yakin dia tidak akan mampu, apalagi permintaanku masalah menanam bunga berbentuk love dan di tengahnya ada bangku. Dikampung ku hal seperti itu, sangat lucu. Dan belum pernah terjadi.


Aku yakin, dia tidak akan bisa melengkapi permintaanku itu yang aneh dan memalukan itu.

__ADS_1


_______


20 Agustus 2000.


2 Hari setelah aku bertemu dengan Uda Qian di lubuk gajah, aku tak pernah melihatnya lagi. Bahkan aku tak melihat dia nongkrong dengan teman gangnya di kantin.


Ya, para pemuda populer di gang Uda Qian itu selalu menjadi objek cuci mata ciptaan Tuhan untuk para adik kelas seperti kami. Jadi, Aku dan yang lainnya bisa tau, pusat perhatian itu bersumber dari gang mereka. Jadi, saat Uda Qian tidak ada, semua orang sibuk membicarakannya.


“Oh, Bang Qian, aku jadi selingkuhan mu pun tak masalah.”


“Aku benar-benar suka dengan Uda Qian, tampan, ramah, senyumannya membuatku terbayang-bayang.” beberapa gadis alay bin lebay komat kamit.


Perkataan seperti ini sudah sering ku dengar, bahkan juga ada yang terang-terangan menjilat padaku demi dekat dengan Paman kecil dan Kakak sepupuku.


Aku sudah terbiasa melihat yang tampan, jadi aku tidak menggila seperti mereka. Aku sudah puas melihat yang tampan. Sungguh!


Bahkan, kemarin si tampan yang mereka idam-idamkan itu menyatakan cinta padaku.


Drrrt! Drrrt! Suara pesan masuk di handphone ku.


Ku buka pesan di layar handphone Nokia 1100 ku yang berwarna hitam putih itu, di sana tertulis pesan dari nomor baru.


Pesan yang diketik dengan sangat pendek, maklum biaya SMS Rp. 500,- dan kosa katanya terbatas. Anak sekolahan memang harus perhitungan. Untuk hal yang penting dan jajan.


Aku tidak membalas pesan itu. Walaupun itu nomor baru, tapi aku yakin itu Uda Qian.


“Eee...Ciieeeee... yang dapat SMS, langsung di sembunyiin, dari Abang Qian ya?” ucap Filya meledekku.


Ku sentil kening gadis jahil itu, sampai dia meringis, lalu cemberut padaku. Aku tak peduli.


“Ros!” terdengar suara teriakan dari ujung sana, dan suara itu sangat ku kenali.


“Kau tak mendatangiku di kelas, kau tega sekali! Kau ke kantin duluan bersamanya.” Boy protes keras.


“Kau ini, seperti bocah yang sedang cemburu saja.”


“Tentu saja aku cemburu, kau gak peka sekali Ros! Aku selalu menunggumu di depan kelas setiap istirahat, tapi saat kau yang keluar duluan, kau tinggalkan aku, dan pergi bersamanya.”


Plak! Ku pukul bahu Boy.


“Kau ini, bukan bocah SD lagi, gitu aja cemburu. Buka mulutmu jangan cemburu lagi Adikku yang manis.” ucapku menyodorkan bakwan ke mulut Boy.

__ADS_1


“Kau yang adikku Ros! Aku lebih tua 5 bulan darimu.”


“Udah, udah, kalian setiap bertemu selalu aja berdebat. Gak malu apa dilihatin semua orang.” ucap Filya.


“Kamu nih!”


“Kamu!” Kami masih saling tuduh dan bersenggolan sikut satu sama lain.


Walaupun sambil makan, aku masih bisa menjitak kepala Boy. Perdebatan kecil kami masih saja berlangsung, sampai bel masuk berbunyi.


Pulang sekolah Boy sudah menunggu di depan kelasku seperti biasa, sekarang Revand dan Uda Qian juga berada di depan kelasku.


Aku melihat mereka bertiga saling berjabat tangan, mungkin saja mereka saling berkenalan.


Drrrt! Drrrt! Tiba-tiba saja sebuah pesan masuk di handphone ku, itu dari Boy.


“Km mw prg sm Dy?” (Kamu mau pergi sama dia)


“Iya.” balasku.


“Oh, klo gt Q plg dl, ht² y. Ad ap² tlpn Q.” ( Oh, kalau begitu, aku pulang duluan, hati-hati ya, Kalau ada apa-apa telepon aku) Isi pesan dari Boy, kemudian Ia pergi.


Aku di ajak pergi ke rumahnya Uda Qian, dan di perkenalkan dengan gadis tetangga di sebelah rumahnya. Kedua orangtuanya sedang ke sawah. Jadi, hanya dia yang di rumah.


Dia mengganti pakaiannya, lalu membawa gitar dan sebuah kotak, lalu mengajakku dan Gadis tetangga itu ke belakang rumahnya. Di sana, aku melihat dia menanam bunga Asoka (Bunga pagar)


Bunga itu di tanaman membentuk love, dan ditengahnya ada bangku. Aku dan Gadis tetangganya itu menonton Ia sedang bernyanyi dengan gitarnya. Setelah Ia bernyanyi, Ia memberikan ukiran kayu yang sangat cantik dan sebuah bingkisan kado.


“Sekarang, kita jadian ya, Dia adalah saksi kalau kita jadian.” ucap Uda Qian padaku.


“Ini semua beneran Uda yang cari bunganya dan pahat kayunya?” tanyaku tak percaya.


“Iya.” Ia menunjukkan tangannya, yang tergores karena memahat kayu itu.


Ya, mungkin bunga yang Ia tanam itu belum terjamin hidup, namun Ia memang menanamnya. Dan di dalam bingkisan kado itu, ada dompet yang ada fotonya, serta 7 bunga putih yang cantik dan imut.


Aku benar-benar salah prediksi, Aku lupa, siapa yang aku tantang. Izqian Abraham adalah murid yang pintar, tampan dan hampir menguasai semua bidang pelajaran, termasuk olahraga dan seni. Kini, akhirnya Aku resmi menjadi pacarnya.


Hari ini adalah awal dari kisah cintaku bersamanya. 20-08-2000.


*Begitulah kenanganku dengannya.*

__ADS_1


__ADS_2