(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Mengantar Marapulai ke Pintu Kamar


__ADS_3

“Ah, banyak alasan!” elak ku. Menepiskan tanganku, Aku tidak percaya.


“Ya, sudah kalau tidak percaya. Tadi aku sama Juliana sudah sampai, setelah Sholat Isya di sini. Terus, diajak jemput mempelai laki-laki.” jelasnya.


“Tau gak, Ros...”


“Gak tau!” balas ku cepat memotong.


“Kau ini, aku kan belum selesai ngomong.” Ia menyedekapkan kedua tangannya di dada, dengan memonyongkan bibirnya.


“Makanya di kasih tau,” kata ku.


“Dari jam 8 malam kami sampai di sana, selesainya baru jam 12 malam lebih. Lama sekali mereka balas membalas pantun, sampe pinggang ku pegal. Dan kata Tetua, itu sudah termasuk cepat. Biasanya ada yang sampai dini hari.”


“Hah? Bahas apa-an aja tuh? Apa mereka lomba pantun?” tanya ku terkikik.


“Hust, ngomong apa sih kamu, Ros.” potong Uncu di sela pembicaraan ku dan Elvina.


“Memang begitulah musyawarah, mereka memakai bahasa kiasan, bukan pantun itu. Sekalian juga gelar nama suami mu, Sutan Marajo.” sambung Uncu lagi.


Aku masih duduk dengan anggun ditemani oleh Elvina dan Uncu, yang berdiri disamping kiri dan kanan ku.


Marapulai, atau yang disebut mempelai laki-laki itu, setelah di payung kan perlahan berjalan ke arah pelaminan ku, dengan di iringi tari piring dan musik nya.


Ah, tunggu! Entah tari piring, entah tari persembahan ini. Aku pun juga bingung. Soalnya, 3 penari yang membawa Carano itu berhenti di depan mempelai, dan memberikan sirih. Lalu keluarga mempelai mengambilnya. Sedangkan yang lain masih menari dengan piring kecil di tangan mereka.


Entah tari apa, aku juga bingung. Yang penting mereka menari dengan baju Bundo kanduang, yang runcing diatas kepalanya seperti tanduk kerbau itu.


Gemerincing-gemericing suara gerakan mereka dan gerakannya memang indah.


Akhirnya, mempelai pria sampai juga di hadapanku.


Deg! Jantung ku tiba-tiba ingin melompat dari dalam tubuhku. Uncu dan Elvina langsung pergi menjauh meninggalkan dia yang berancang-ancang ingin duduk di sampingku. Aku menggeser pantatku agar memberi nya ruang, lalu dia duduk di sampingku.


Setelah itu, sirih yang diambil keluarganya tadi langsung disuapi ke mulutku dan mulutnya. Aku kaget, apa aku harus menjadi orang tua dengan Sugi?


Ini bukan gaya ku!!


Ah, sudah lah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku terpaksa. Lagian dia juga memakannya, bukan aku saja. Katanya, sirih ini wajib di kunyah, jika tak bisa meminum atau memakannya, tak apa asal di gunam di dalam mulut. Mitosnya, biar mempelai gak di ganggu makhluk ghaib.

__ADS_1


Apa hubungannya menikah dengan makhluk ghaib? Ah, entahlah... Apakah di kampung orang lain juga begitu? Atau hanya kampungku yang terlalu kolot?


Hm, ada yang mengganjal di benakku sekarang. Aku heran, kenapa dia bisa memakai baju yang sama dengan ku? Apakah waktu penjemputan marapulai, tukang rias langsung dibawa?


“Ah, aku ingat!!! Si perias memang pergi satu orang lagi semenjak selesai sholat magrib.” Aku bergumam dalam hatiku.


Sekarang, aku duduk dengan pria asing yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, namun dia adalah suamiku. Dan sekarang, aku sepenuhnya menjadi istrinya.


Keluarganya dan tukang foto, langsung menyuruhku berfoto mesra dengannya. Ya kali, gimana bisa mesra? Aku gak kenal sama dia, gimana bisa?


Aku dan dia benar-benar kaku. Sampai-sampai tanganku diajari sang fotografer itu. Ia menempelkan tanganku di dada bidang pria asing itu, kemudian tangan pria asing itu di letakkan di pinggangku. Aku sungguh risih dan malu.


Beberapa gerakan dan entah berapa banyak jeprat-jepret mengarah kepada kami. Setelah itu, ia memegang tanganku, agar aku bisa duduk kembali dengan baik. Karena mahkota yang ku pakai memang berat dan aku kesusahan.


Bukan hanya Suntiang atau mahkota di kepalaku yang berat, namun seluruh pakaian ini berat, penuh dengan pernak pernik emas di seluruh bagian, sampai aksesoris lainnya.


Pria asing dengan tinggi 175 cm, kulit hitam manis, bulu mata dan alis tebal, hidung mancung, bibir sexsy berisi dan berwajah tirus. Begitu lah wajah pertama yang terlihat oleh ku.


Kasur yang terkembang di sebelah kiri pelaminan ku itu, di duduki oleh Nenek, Datuak dan Laki-laki yang berbaju kemeja putih panjang lengan, celana dasar hitam.


Laki-laki itu disebut tukang unjuik (Pengiring mempelai laki-laki) yang membawa tas berisikan 2 sampai 3 pasang pakaian mempelai pria.


Yang artinya, keluarga laki-laki telah menyerahkan anaknya kepada keluarga perempuan sepenuhnya, dan di antar oleh mereka melalu Adat. Utuhlah sudah, kini kami telah menjadi syah di mata Hukum, Agama dan Adat.


Karena ia tak akan bisa pulang, sampai Aku besok, aku Menjalang Mertua (Datang bertamu bersama keluarga dengan bekal dan kue pengantin ke rumah keluarga laki-laki dan bersanding di sana).


Tante dan Paman ku kemudian memegang tangan suamiku, mengarahkan aku dan dia masuk ke dalam kamar. Ya, artinya telah direstui pernikahanku, Aku syah menjadi miliknya mulai malam ini.


Ritual terakhir adalah Paman dan Tante mengantar mempelai laki-laki sampai pintu kamar Kopanakan mereka, yaitu Aku.


Dia pun berbasa-basi, mengatakan ingin tidur di luar menemani temannya si tukang unjuik.


“Menantu, biarkan dia tidur bersama Adik laki-laki Ros di sana, sudah waktunya kamu tidur. Masuk lah.” ucap Paman masih berdiri dengan Tante di depan pintu kamarku.


Kalau aku?


Aku sudah masuk ke dalam kamar, dan meminta perias mencopot semua yang melekat di tubuh ku ini.


Akhirnya dengan basa-basi panjang serta pantun dengan Paman ku, pria asing itu masuk dalam kamar ku..

__ADS_1


“Hadeh, bilang aja jual mahal. Padahal sudah dari tadi ingin masuk kamar kan? Ribet amat sih sama Adat Istiadat ini.” Aku bermonolog dengan hati ku.


Ya, memang begitulah seharusnya. Harus berbasi-basi, dan jual mahal.


Dia duduk ditepi ranjang, melepaskan baju mempelainya dan menyisakan baju kemeja putih dan celana dasar hitam miliknya. Begitu pula aku juga sudah melepaskan baju ku dan semua perhiasan. Tersisa aku berpakaian tangtop dan celana ketat selutut. Kemudian perias undur diri keluar, meninggalkan kami berdua.


Aku langsung ke kamar mandi, membersihkan diriku.


Yang paling utama, membersihkan make up tebal ini. Make up ini membuat wajah ku seperti topeng, sangat palsu. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku melihatnya masih duduk di tempat semula, ditepi ranjang.


Kemudian, setelah aku keluar kamar mandi, ia juga masuk ke dalam kamar mandi.


Aku dengan cepat memakai baju tidur yang panjang, agar menutupi seluruh tubuhku. Sebenarnya tadi aku malu, saat memakai tangtop dihadapannya, tapi aku pura-pura gak malu. Bisa dikatakan, aku hanya pakai tangtop di kamar, hanya orang-orang tertentu yang melihat aku seseksi itu.


Tak lama, Ia keluar dari kamar mandi, dengan wajah basah dan rambut sedikit basah. “Dek, pinjam sajadah.” ucapnya kemudian.


Aku langsung mengambil nya.


“Arah kiblatnya ke sini ya Dek?” tanya nya. Aku balas dengan anggukan kepala.


“Apa Adek mau sholat juga?” tanya nya kembali.


“Tidak, tadi aja sholat Dzuhur sampai Isya aku gak sholat. Besok lagi deh aku mulai dari sholat subuh,” kata ku santai.


Dia hanya menatapku, beberapa detik kemudian ia melanjutkan sholat 2 raka'at.


Yang menjadi pertanyaan ku, Dia sholat apa?


Jika dibilang subuh, ini masih jam 3 dini hari. Bila dibilang tahajjud? Dia bukan bangun tidur, jadi dia sholat apa? Apa lagi pura-pura alim di depanku?


Ya, aku mulai berfikiran buruk tentang pria asing yang berstatus suami ini.


Setelah selesai sholat, ia melipat sajadah dan duduk di tepi ranjang. Aku pun juga masih duduk di tepi ranjang sedari tadi, menontonnya sholat.


“Tadi Sholat apa?” tanya ku.


Ia mengernyitkan keningnya padaku. “Memangnya, Adek tak tau ya?” tanyanya.


“Enggak.” balas ku cepat.

__ADS_1


“Apa kemarin waktu training di kantor KUA, Adek gak diajari sama mereka?” tanya nya.


“Shit!!! Maksudnya pria asing ini mengejekku bodoh kan? Dan sekarang aku ketahuan, karena aku tidak mendengarkan manusia-manusia cerewet yang berceramah di kantor KUA kemarin dengan baik?” batin ku.


__ADS_2