
Saat aku mencium punggung tangannya, tangan Dia yang satunya lagi juga mengelus kepala ku lembut. Sungguh, tangannya terasa hangat menjalar sampai ke dalam otak ku, bahkan menembus semua saraf-saraf otak ku.
“Oh otak ku, asal jangan sampai kau traveling saja, ok!” tegas ku di dalam hati pada otak ku.
Kemudian Ia bertanya Al-Qur'an pada ku. Aku menggaruk-garuk kepala ku, aku seorang gadis pemalas mengaji, di dalam kamarku yang tersusun hanya kaset VCD, album nyanyi yang sangat banyak, mulai dari album penyanyi favorit ku sampai album penyanyi zaman 70 an kesukaan Ibu, Bapak ku.
“Sebentar ya.” ucapku, kemudian bergegas keluar, bertanya pada Ibu ataupun nenek.
“Ah, biasanya mereka sudah bangun jam segini. Dimana ya mereka tidur?” tanya ku dalam hati, masih mondar-mandir mencari sosok Nenek atau Ibu.
“Eh, Anak Daro.. sudah bangun aja, apa gak bisa tidur karena, ehemm..” sapa seorang Tante yang sedang menunggui dapur.
Ya, selama pesta akan ada yang gantian bergadang untuk menjaga dapur, tenda, dan rumah. Agar tidak terjadi hal-hal buruk, kata orang-orang sih, begitu.
“Ah, itu Nenek!” gumam ku setelah melihat Nenek.
“Nek, pinjam Al-Qur'an Nenek sebentar.” ucap ku.
“Al-Qur'an Nenek ada di rumah, jemput saja.” balas nya.
Aku pun bergegas ke rumah Nenek yang berada di sebelah rumah ku. Hanya beberapa langkah sudah sampai, Aku langsung masuk ke kamar Nenek dan mengambil Al-Qur'an. Kemudian, kembali ke kamar ku.
“Maaf, sedikit lama.” ucap ku terengah-engah, karena terburu-buru berlari dengan cepat mengambil dan membawa Al-Qur'an ini untuk nya.
“Ini.” ucap ku.
Dia menatap ku, lalu mengurut dada nya dan mengambil Al-Qur'an itu. Kemudian langsung meletakkan di atas kepalanya.
“Lain kali, pegang Al-Qur'an dengan baik ya.” ucapnya, lalu membelakangi ku dan mengarah duduk ke kiblat.
“Aku memegangnya dengan baik kok!” gerutu ku dalam hati.
Emang memegang Al-Qur'an dengan baik seperti apa yang Dia maksud? Aneh!
Dia membaca ayat suci Al-Quran itu beberapa ayat, kemudian menyudahinya. “Sadaqollahul adzim. (Maha benar Allah yang Maha Agung)”
Suaranya yang indah membuat hatiku tersentuh, jika dia jadi penyanyi pasti sangat merdu.
Ia mengulangi hal yang sama, mencium Al-Qur'an dan meletakkan di kepalanya, lalu memberikan kepada ku. Kemudian ia melipat sajadah dan sarung nya.
__ADS_1
“Pakai mukena memegangnya, atau penutup kepala. Al-Qur'an bukanlah buku yang di pegangi diapit seperti itu.” ucap nya tiba-tiba.
Aku menoleh bengong. Yang benar saja? Aku berkeliaran dengan mukena mengembalikan Al-Qur'an ke rumahnya Nenek. Pasti Aku akan di kira setan, jalan-jalan pake mukenah.
“Atau Aku akan di bilang sama yang lain, langsung berpura-pura alim saat bertemu suamiku, agar memikat hatinya.” gumam ku dalam hati.
“Ros, kau mendadak alim saking pengen kawin nya ya?? Ahhhhhhh!!! Pasti seperti itu endingnya.” Aku memukul-mukul kepala ku membayangkan nya.
Srak! Al-Qur'an itu di ambil dari tangan ku.
“Kalau kamu gak mau, letak kan di sini saja dulu. Tak perlu memukul kepala seperti itu.” ungkap pria asing berstatus suami ku itu, meletakkan Al-Qur'an itu tinggi, diatas lemari.
Kemudian ia duduk di tepi ranjang. “Dek, bikin kan teh hangat gak pake gula ya.” pintanya.
“Hah? Berani sekali dia nyuruh-nyuruh aku? Emang nya Aku babu nya.” protes ku dalam hati. Tapi, kenyataannya, aku pergi juga keluar dengan menggerutu.
Aku melihat Umi yang sibuk membuat teh dan kopi. “Mi, buatkan teh tanpa gula dong.” pinta ku.
“Untuk siapa? Suami mu?” tanya Umi.
“Iya.” jawabku sambil menganggukkan kepala ku.
“Hah?!” Aku kaget sekali, Umi tidak pernah menolak apapun, biasanya yang aku minta buatkan.
“Mi, aku gak bisa...” rengek ku.
Jujur saja, aku memang tidak bisa. Aku gak bisa ngapa-ngapain, aku hidup terlalu manja dan malas. Jadi, tidak pernah memasak.
“Begitu saja tidak bisa. Umur kamu sudah berapa Ros?”
Jedar!!! Tiba-tiba Paman ku yang pemarah itu muncul. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala ku yang tidak gatal itu.
“Biarkan saja dia buat sendiri, jangan di bantu.” tegas Paman pada Umi.
“Yo, Utiah.” ucap Umi, lalu berlalu pergi membawa nampan yang berisi gelas-gelas yang telah terisi teh dan kopi.
(Utiah adalah panggilan untuk Kakak laki-laki)
“Kenapa masih berdiri bengong? Ayo buat!” perintah Paman galak ku itu.
__ADS_1
“Aaaaahhh!!! Sungguh sial aku pagi ini, ini semua gara-gara pria asing itu.” dongkol ku dalam hati.
Paman menekan kening ku dengan telunjuknya. “Apa isi otak mu sekarang membangkang?” tanya nya.
“Enggak, Paman.” jawab ku dengan cepat.
“Kalau tidak, kenapa masih bengong? Ayo, cepat buat!” perintah nya lagi.
“Hm, anu Paman...” Aku tersenyum kikuk.
Paman menghela nafas panjang. “Ambil gelas dan piring kecil itu untuk tadah nya, kemudian masukkan teh celup ini, kalau dia tidak mau pakai gula jangan diberi gula, tuangkan air panas jangan sampai penuh di dalam gelas yang berisi teh, lalu aduk agar teh nya menyatu dengan air, setelah air nya beraroma teh dan warna coklat tua, tambahkan sedikit air dingin agar tidak terlalu panas.” jelas Paman.
Aku pun mempraktekan yang di ucapkan Paman.
Tentu saja dengan panduan Paman yang masih berdiri disamping ku membuat teh tanpa gula. Ini adalah hasil karya pertama buatan ku sendiri, aku merasa bangga telah menyelesaikan misi ku.
“Begini aja gak bisa.” ketus Paman galak ku.
“Sabar Ros, sabar!” ucapku membatin. Pagi-pagi duniaku sudah di perintah-perintah dan dimarahi. Duniaku sudah tak sebebas saat Aku lajang lagi.
Aku berjalan ke kamar dengan sangat hati-hati, takut teh itu tumpah. Perjalanan ku benar-benar kaku. Untuk pertama kalinya semua ini terjadi dalam hidup ku, mulai dari membawa teh dan sekarang harus menghidangkan.
Dengan berjalan yang masih sangat hati-hati dari dapur menuju ke dalam kamar, aku melihat nya sudah duduk bersila di luar, di dinding kamar ku bersama dengan yang lain. Ada tukang unjuik, Paman, dan yang lainnya. Aku pun meletakkan teh itu di hadapannya.
“Makasih, Dek.” ucapnya tersenyum kepadaku.
Deg! Deg! Jantungku berdetak cepat saat melihat senyuman nya. Ahhhhhhh!!! Sungguh aneh, ada apa dengan jantungku?
Semuanya telah di hidangkan minuman oleh Umi. Dan hanya dia yang tidak di beri minum. Apa kah ini juga tradisi? Kalau Aku yang harus membuatkan minumnya?
“Ros.” panggil Umi, saat aku hendak membuka pintu kamar ku. Aku pun menoleh pada Umi.
Ia melambaikan tangannya dan aku pun mendekat. “Hidangkan cemilan itu pada suami mu.” kata Umi menunjuk piring yang telah terisi kue, lalu ia berjalan membawa 1 piring kue yang sudah di potong-potong kecil ke arah mereka duduk, tepat di sana, di depan kamar ku.
“Apa salahnya, tadi Umi langsung bawa!” Aku mengerutkan keningku merasa kesal sekali. Padahal, Umi memberikan kue ketempat dimana pria asing itu dengan yang lainnya duduk.
Aku mengambil kue yang sudah di siapkan Umi dan membawanya, meletakkannya tepat di hadapan pria asing yang berstatus suami ku itu.
“Makasih, Dek.” ucapnya lagi dengan tersenyum.
__ADS_1