(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Aku Percaya Padamu


__ADS_3

Aku jadi teringat kata Uncu saat itu.


“Saat menjadi menantu, jika kamu pemalas, setidaknya berpura-pura rajinlah. Jika kamu sangat menginginkannya, bertahanlah dengan anggun seolah kamu tidak terlalu ingin, begitu pula jika ada yang kotor, maka bersihkan.”


Aku yakin, arti dari kata Istri Kakak Iparku ini. Ia hanya berbasa-basi kan? Menilai seberapa pintar atau bodohnya aku?


Jadi, aku putuskan membantu.


“Gak apa-apa Kak, Aku disini saja bantuin Kakak. Nanti kalau sudah selesai kita ngobrol-ngobrol bareng di depan.” ucapku tersenyum.


“Baiklah kalau begitu Ros.” jawabnya dengan tersenyum juga.


“Kan? Lihat itu, dari awal cuma basa-basi, kalau disuruh duduk, jangan duduk.” gumam ku dalam hati.


Apakah itu perbuatan benar atau tidak? Yang jelas, sebagai menantu bukan tunjukkan sifat manja mu bukan?


Waktu terus berputar, hingga jam sudah menunjukkan jam 8 malam. Aku dan Hanan kembali ke rumahku.


Sampai di rumah, Aku langsung masuk ke dalam kamar, mengganti bajuku, karena Aku sudah mandi di rumah mertuaku. Namun aku tak punya baju ganti, sedangkan Hanan memiliki baju ganti.


Setelah berganti baju, aku keluar, pergi ke samping rumah, menemui teman kecil ku, siapa lagi kalau bukan Boy.


Aku melihat Boy termenung di kebun belakang. Aku berjalan menginjit-injit, agar ia tak mendengar derap langkahku. “Woy!!!” teriakku menepuk pundaknya.


Dia bergeming, seolah jiwanya melayang, hanya tubuhnya yang ada di sana. “Kau kok gak kaget?” tanya ku.


Ia menghembus nafas panjang, lalu duduk di kursi yang terbuat dari batang pinang. “Untuk apa aku terkejut? Aku sudah melihatmu sejak tadi, sejak kau datang bersama suamimu, sampai kau keluar dari rumah hendak kesini.” ucapnya masih menatap lurus ke depan.


Aku menatap wajah Boy dari samping. Ada apa dengan teman kecilku ini?


“Jangan tatap aku lama-lama, nanti kau jatuh hati padaku, bagaimana nasib suamimu nanti, jika istrinya jatuh hati pada pria lain.” ucapnya sembari menyunggingkan senyuman.


Brugh! Ku pukul kepalanya.


“Ros! Kau ini...” Boy merungut kesal.


“Kau selalu saja percaya diri, jika aku memandang wajahmu, aku akan suka padamu. Apa kau sudah berkaca?” sahutku.


Ya, Boy memang sudah terbiasa mengatakan hal ini padaku sejak dulu.

__ADS_1


“Karena ada kaca dirumah ku, makanya aku punya kepercayaan diri, kalau aku ini tampan, banyak gadis-gadis yang jatuh hati padaku.” ucapnya sambil terkekeh.


“Kalau banyak gadis yang suka padamu, kenapa sejak dulu kau tidak punya pacar? Huh?” Ku towel kepalanya.


“Ya..... Karena, aku tak mau membuat kau sendirian jomblo, jadi biar aku temani.” ucapnya tertawa di akhir kalimat.


“Alasan!!! Aku kan 5 tahun pacaran dengan Uda Qian, kau masih saja jomblo. Bilang saja tidak ada satupun wanita yang menyukaimu, hanya kau yang menyukai mereka, dengan mengejar-ngejar mereka. Iya kan?” ejek ku.


“Ros, kau menyepelekan ku? Kau tatap mataku, lihat aku!” Boy megangi wajahku dengan kedua tangannya. Aku menatap wajah Boy sembari mengerutkan keningku.


“Aku sudah menatapmu, sampai kapan aku menatapmu? Dan sampai kapan kau memegang wajahku ini? Kau cari-cari kesempatan karena kelamaan jomblo ya?” ucapku terkekeh.


“Dasar tidak peka!!” ucapnya sambil melepaskan tangannya dari wajahku. Kemudian bersender di kursi batang pinang itu.


“Ros, apa kau masih mencintai pria br*ngsek itu?” tanya Boy menatapku lekat. Aku sesaat diam, aku tak bisa menjawab. Kemudian Ia bertanya lagi.


“Ros, boleh aku bertanya sesuatu, ini sangat pribadi.”


“Iya, tanya apa?” jawabku menatapnya.


“Aku sebenarnya ingin bertanya ini sejak lama, tapi kau jangan tersinggung ya.”


“Selama 5 tahun ini, apa yang kau lakukan dengan Qian?”


“Maksudmu?! Kau tak percaya padaku? Kau menganggap ku wanita gampangan? Aku tak percaya, kau selama ini adalah teman dekatku, aku kira kau sudah tau dan percaya padaku.” Suaraku meninggi.


Boy langsung menggenggam kedua tanganku dengan erat. “Ros, bukankah tadi aku sudah minta izin, kenapa kau seperti ini.” Boy menatapku dengan sendu.


“Aku percaya padamu sejak dulu Ros, aku hanya meyakinkan saja. Karena selama ini, kau begitu tergila-gila pada pria si*lan itu.”


“Boy, berapa kali aku jelaskan padamu, Uda Qian, bukan pria jahat seperti yang kau pikirkan. Percayalah.”


“Ahahahaha.” Boy tertawa mengejek. “Kau tentu saja percaya, karena kau masih mencintai dia. Sedangkan aku? Aku bisa memakai otakku secara sadar. Sedangkan orang yang mabuk cinta, tidak akan memakai otaknya dengan sadar.”


Aku hanya terdiam mendengarkan.


“Ros, sekarang kau telah menikah. Aku melihat, Hanan adalah pria yang baik, aku bisa rela melepaskan mu kepada pria itu, dia juga pilihan keluargamu. Namun, jika ada sesuatu padamu, aku siap menerima, apapun dan bagaimanapun kamu.”


Aku mengerutkan keningku. “Maksudmu bagaimana?”

__ADS_1


“Hehehehe. Tidak apa-apa. Ayo, Amak ku membuat bakwan rinuak.” Boy menarik tanganku ke dapur.


Pas kami berdua menoleh dan hendak masuk ke dapur, kami telah melihat sosok laki-laki tinggi berdiri. Boy segera melepaskan tangannya dari tanganku.


“Hai, Bro.” sapa Boy pada pria itu. Dia adalah Hanan.


“Mari, Amak ku membuat bakwan rinuak.” ucap Boy.


Aku, Boy, dan Hanan memakan bakwan rinuak di ruang tamu bersama dengan Tek Inah, Ibu Boy. Canggung sekali rasanya. “Kenapa pria ini di sini sih?” gumam ku dalam hati.


Tek Inah mengobrol dengan Hanan, Boy juga. Hanya aku saja yang diam. Tak tau harus berbicara apa.


“Ros, ada yang ingin aku bicarakan padamu nanti.” ucap Hanan berbisik, saat Boy berjalan ke dapur.


“Ya.” jawabku.


Selang beberapa waktu, aku pun memutuskan pulang. Padahal aku masih ingin mengobrol dengan teman kecilku.


“Mau bicara apa?” ucapku, setelah kami masuk ke dalam kamar.


Hanan menatapku cukup lama, aku mulai salah tingkah. “Apa yang ada dalam otak pria ini? Jangan bilang, dia mau minta jatah malam ini?”


Ya, sekarang sudah jam 09.30 malam.


“Aku tak bisa libur lama, aku terikat di PT. hanya di beri cuti sebentar. Mungkin hari Minggu besok harus kembali lagi ke sana.” ucapnya masih menatapku lekat.


“Terus?”


“Mungkin ada tempat yang belum dikunjungi, teman atau Tante yang lain?” tanyanya.


“Apa hubungannya?”


“Karena kita akan pergi ke Batam, Ros. Hari Senin depan, aku harus masuk dan bekerja.”


“Kita?” tanyaku melotot. Ya, aku ingat, aku akan dibawa merantau, tapi aku tak menyangka akan secepat ini.


“Iya, kita. Mulai besok, kemasilah barang yang ingin di bawa ya, dan katakan saja padaku jika ingin menemui temanmu untuk berpamitan salam perpisahan.” ucapnya di akhiri dengan senyuman yang sangat manis.


Deg! Tiba-tiba saja aku menjadi malu dan entah apa yang aku rasa saat melihat senyuman itu.

__ADS_1


Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.


__ADS_2