(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Vr


__ADS_3

Indonesia, 2019.


Di sebuah rumah tua dengan atap berbentuk segitiga, loteng yang menghadap jalan raya berbentuk ukiran seperti dobel L yang terbalik saling memunggungi. Di lantai bawahnya tampak jelas batu sungai yang besar sebagai pondasi lantai yang digunakan untuk bahan bangunan rumah.


Di sekitar rumah yang cukup besar itu, di kelilingi oleh sawah nan luas berwarna hijau dan kuning. Tampak beberapa orang sedang membersihkan petak-petak sawah dan rumput di sekitar padi.


“Jun, Mandeh ka parak dulu, nak mamanen jariang jo cimangko,” ucap seorang wanita paruh baya.


“Iyo, Mandeh, bia denai caliakkan padi nan tajamua,” jawab seorang pemuda.


Dia adalah Arjuna Malik, anak yatim dari desa di daerah Sumatra Barat. Wanita tadi adalah Ibunya, bernama Syamsinar. Ibunya berkata kalau dia akan ke kebun untuk memanen jengkol dan semangka, lalu Arjuna menjawab, pergilah, dia akan memperhatikan padi yang sedang dijemur.


Padi tak bisa ditinggalkan begitu saja saat dijemur, akan ada ayam atau bebek yang akan datang jika tak dilihat. Lalu, bisa saja datang hujan sewaktu-waktu. Padi tak bisa sedikit pun basah, karena bisa menjadi beras ba'atah dan tumbuh.


Arjuna baru saja tamat Sekolah Menengah Atas, ia tak melanjutkan kuliah, karena kehidupannya yang kurang mampu, untuk tamat sekolah menengah atas saja, ibunya harus menjual sayuran di kebun, telur ternak dan ternak. Dia tak ingin menyusahkan ibu lagi, rencananya dia akan pergi merantau ke daerah Jakarta, Pekanbaru, atau Batam, banyak teman-teman yang merantau ke sana. Jadi, dia ingin mencoba juga.


Dia memiliki dua hp, satu hp android dan satu lagi hp butut yang hanya bisa menelfon dan mendengarkan radio. Arjuna memasang handset dan menekan loud speaker agar suara radio terdengar jelas. Alasan memasang handset karena begitu aturan dari hp bututnya.


“Pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih ekstra untuk segera menanggulangi masalah penyebaran virus colourna di Tanah Air. Sebab, Indonesia kini tengah menjadi negara dengan angka kematian tertinggi bila dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara atau ASEAN.” Terdengar suara seseorang yang menjawab pertanyaan host radio.


“Dilansir dari data sebaran virus colourna yang dirilis Jony Iskandar Unileverly, saat ini ada 550 kasus virus colourna yang ada di Indonesia. Dilihat dari sebarannya, Indonesia juga telah mengalahkan Singapura yang kini hanya memiliki 432 kasus.”


“Tingkat penyembuhan penyakit ini di Negeri Singapura pun cukup tinggi yakni 140 kasus. Sementara, dua kasus diketahui meninggal dunia, di mana salah satunya merupakan warga negara Indonesia (WNI).”


“Di wilayah ASEAN setidaknya ada delapan negara yang diketahui tengah menghadapi kasus ini. Lima negara lainnya yaitu Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, dan Kamboja.”

__ADS_1


Arjuna terus mendengarkan isi berita tentang kasus baru-baru ini yang ramai diperbincangkan, sebuah virus mematikan. Beberapa hari lalu, dia pernah menonton video orang yang terkena virus itu, tiba-tiba orang yang sedang berdiri dan berjalan roboh, menggelepar, dan mati.


“Saroman ayam di akuak?” Arjuna bergumam. Dia mengatakan virusnya seperti flu burung.


Virus colourna, virus yang membuat tubuh si korban menjadi berwarna, sama seperti namanya colour, warna. Ada yang berwarna hijau, orang itu langsung mati di tempat, berwarna biru, orang itu akan menggigil sampai mati, sedangkan dengan tubuh seseorang yang berwarna kemerahan, dia akan merasakan kepanasan luar biasa sampai ajal menjemput.


Di kota-kota besar, virus itu telah menyebar luas. Tampak dari acara tv swasta, petugas memakai pakaian seperti robot, membawa jenazah orang yang mati, orang-orang sakit, dan yang lebih mengerikan kota-kota sekarang seperti kota mati, semua orang di larang keluar dan berkumpul.


Tidak tahu virus ini berasal dari mana, yang jelas virus ini menyebar ke seluruh dunia, karena bukan hanya Asia, tetapi Amerika, Eropa, dan lainnya juga terkena virus ini.


Masyarakat kota yang keras kepala masih memilih keluyuran keluar bahkan ada yang pulang kampung karena merasa tertekan dengan kehidupan kota, sehingga masyarakat desa yang tak terkena virus itu juga terkena dampak penyebarluasan virus.


Pemerintah sudah melarang keras, tetapi banyak oknum yang meloloskan, apalagi jalur darat dan laut.


Dia memandang ke atas langit saat mendengar suara gemuruh kecil, suara yang ia sukai, memandang pesawat terbang dari bawah, dulu saat dia kecil, dia akan berteriak, ‘Pesawat mintak pitih!” Arjuna tergelak saat mengingat kejadian lucu itu, bagaimana bisa meminta uang pada pesawat yang terbang, namun ajaran itu tentu ia contoh pada para tetuanya dulu. Anak zaman 90-an yang kini sudah berkeluarga tentunya.


“Woi, Jun!” teriak seseorang yang sedang berjalan memakai seragam tempur kebun. Ada parang, topi lokoh, unjuik (Tas terbuat dari kain).


“Woi Da, kama Da?”


“Manakiak gatah, pai ndak?” sorak laki-laki itu terkekeh.


“Indak Da, den manjamua padi a, Mandeh ka parak pai panen!” balas Arjuna juga berteriak.


Laki-laki tadi adalah Tasir, sudah punya anak dua orang, pemuda dengan kelahiran 1990, menjadi teman akrab Arjuna sejak dia kecil. Dia akan memotong karet untuk mengambil getahnya, dia menawari Arjuna untuk pergi dengannya, tetapi Arjuna menolak karena dia sedang menjemur padi.

__ADS_1


Arjuna berdiri, mengambil garukan pandu dan membalik padi-padi itu dengan garukan sampai semuanya merata. Keringatnya bercucuran, panas matahari yang terik benar-benar menyengat.


“Indak bisa! Indak ***#&*#!” Arjuna mendengar suara ribut, yang hanya bisa ia dengar adalah awalan tidak, lalu selebihnya tak terdengar jelas. Mereka cukup jauh dari tempat Arjuna berada.


“Apo tu yo, rami-rami?” Arjuna penasaran kenapa di sana ada keramaian.


Tak lama lewatlah seorang ibu-ibu. “Tek, apo tadi tu, heboh di sinan?” tanya Arjuna sambil menunjuk tempat keramaian tadi.


“Oh, itu, anak Tek Radiah, nan sapangkek Jo ang Jun, baru sampai di rumah, nan marantau ka Jakarta tu,” jelas sang Ibu. Dia berkata, ada teman Arjuna pulang dari rantau.


“Tu ba'a ko heboh Tek?”


“Masalah virus. Urang jadi takuik, nak mausia paja tu.”


“Ondeh, ibo e wak leh, Tek,” Arjuna merasa kasihan saat ibu itu berkata masyarakat ingin mengusirnya.


“Itulah, lai tadi Kapalo Desa jo Jorong turun tangan, untuak mamastian paja tu sehaik, harus manguruang diri salamo 14 hari dulu, bia jan manyebar di desa wak ko.”


“Mujua tu Tek.”


“Iyo!”


Setelah menjelaskan pada Arjuna bahwa orang itu akan melakukan isolasi selama 14 hari agar tidak menyebarluaskan virus, beliau pun berlalu pergi. Arjuna terus berpikir, masyarakat sangat takut dan panik.


Untung saja saat itu dia menunda pergi merantau dulu, jika tidak, mungkin dia akan dikira positif virus, karena virus colourna efek pertamanya adalah sesak nafas dan batuk.

__ADS_1


__ADS_2