
Lega rasanya, saat Aku mengetahui tidak memakai baju berwarna merah menyala itu. Sekarang, Aku memakai baju berwarna ungu. Entah baju apa ini, yang jelas rok nya batik dan dilapisi dengan kain lebar berwarna ungu yang senada dengan baju diatasnya.
Dan kepala ku hanya dikasih mahkota bunga, bukan lagi suntiang emas yang berat itu. Sungguh melegakan. Setelah semuanya selesai, aku dipasangkan sepatu yang runcing kecil dan tinggi. Aku ngeri melihatnya, apalagi memakainya.
Suamiku dan perias laki-laki masuk ke dalam kamar, setelah periasku menyuruhnya, Ia langsung menyarungkan pakaian yang senada denganku, tanpa membuka pakaian. Kemudian dipoles sedikit bedak dan lipstik tipis.
Ia memegang tanganku berjalan ke arah pelaminan, dan para perias memegangi rok ku yang panjang seperti tikar itu. Sedangkan Elvina memegangi tangan ku satu lagi nya. Aku takut tergelincir dan jatuh, Aku pegang erat tangan mereka berdua.
Jujur, Aku belum pernah memakai sepatu tinggi seperti ini dari dulu, sepatu ini lah yang paling ekstrim menurutku. Dan, ada yang membuatku berpikir. Kenapa sih rok batik ini dilapisi dengan kain berwarna ungu sepanjang tikar? Bukannya ini cari ribet aja?!
Aku dan Suamiku bersanding di pelaminan. Menebarkan senyum kepada semua orang. Untung saja ini adalah hari ke tiga, besok adalah hari bebas, Aku sudah tidak sabar lagi.
1 Minggu yang lalu, waktu semua tetua dan keluarga bermusyawarah di Rumah Gadang, banyak yang meminta untuk Alek (pesta) 7 hari 7 malam.
Rumah Gadang adalah Rumah atau tempat yang dijadikan tempat berkumpul memutuskan sesuatu, atau berunding tentang masalah apapun.
Untung saja, akirnya keputusan itu di ambil menjadi 3 hari, dengan alasan terlalu lama ternak dan sawah ditinggalkan. Kebetulan beberapa Paman dan Tante ku, padi mereka sudah menguning.
Aku tidak bisa membayangkan, jika seandainya 7 hari, mungkin tubuhku akan encokan, mataku akan berubah jadi mata panda, karena begadang dan AKU AKAN STRESS!!!
Siangnya, Aku makan sepiring berdua dengan Suami ku. Tepatnya, dia menyuapi ku makan. Malu dan kesal rasanya. Yang pertama, awalnya aku hanya berfoto romantis atas permintaan fotografer saling suap-suapan, namun akhirnya aku makan beneran disuapi olehnya.
Setelah selesai makan, Aku dan Dia pun berganti pakaian. Baju yang aku pakai sekarang berwarna putih kebiru-biruan, rok nya tidak lagi panjang, tapi lebih berat dengan rok yang menggembung seperti rok Cinderella di dalam buku dongeng ku waktu kecil.
Manik-manik di bagian depannya juga terasa berat, seperti terbuat dari batu. Apakah mereka menempelkan batu kerikil di baju ini? Ya, manik-manik ini berwarna hitam mengkilat, seperti batu kerikil.
Aku dan Dia kembali duduk di kursi pelaminan. Tidak selang beberapa lama, rombongan besar datang dengan Arak-arakan. Beberapa ekor sapi juga di seret pakai tali, kambing dan begitu banyak bingkisan mulai turun dan di tumpuk di depan pelaminan ku.
__ADS_1
“Oh, jadi, untuk ini karpet merah itu di kosongkan sedari tadi?” pikir ku menatap karpet merah.
Semalam, masih ku ingat jelas, ada 4 meja bundar di sana. Sekarang malah dibentangkan karpet merah di hadapan kami.
Tari persembahan dan taring piring menyambut rombongan besar dan panjang itu. Yang disebut Alek Induak Bako
Alek Induak Bako adalah Kedatangan seluruh keluarga dan tamu dari keluarga Ayah ku dengan Adat.
Satu orang laki-laki yang sangat aku kenal, memakai jas hitam celana dasar dan sarung dililitkan di pinggang nya setinggi lutut menutupi celananya. Keris terselip di pinggang yang sengaja di perlihatkan.
Dia adalah Putra pertama Adik perempuan ayahku, Dia selalu memanggil aku Istrinya, selalu menggombali aku karena aku Baipa dengannya
(Baipa adalah orang yang diperbolehkan menikahiku.)
Dia duduk di balerong kusus, di atas kasur bersama Datuak dan petinggi lain nya. Sedangkan yang lain duduk dibawah beralaskan tikar.
Balerong itu terbuat dari bambu dan atap daun. Di atas pintu masuknya ada ijuk yang dibuat menyerupai tanduk kerbau dan beberapa yang digantung terbuat dari daun kelapa muda.
Datuak mencubit daging kepala sapi, kemudian di susul oleh Ipa ku, Ia mencubit kepala sapi dan kambing, kemudian hidangan santapan itupun dimulai, akhirnya semuanya makan dengan lahap.
Ipa adalah Anak laki-laki pertama dari Adik perempuan Ayah ku.
Setelah mereka mulai makan, sekarang Ibu-ibu mulai mendekat ke arah ku. Beberapa karung beras mulai di sediakan, kado-kado disusun tinggi menumpuk. Sapi dan kambing yang mereka bawa di ikat tidak jauh dari tenda.
Setelah itu, semua keluarga Ayah mulai mendekat satu persatu. Aku dan suamiku mulai di tempeli bedak bubuk oleh mereka, lalu ada yang menyorongkan cincin, gelang dan kalung emas. Sekarang aku terlihat seperti orang gila yang sedang memamerkan emas. Sepuluh jari tanganku berlimpah oleh cincin.
Amplop yang mereka salami memenuhi kapasitas tas yang sudah disediakan Umi di sampingku. Setelah acara aneh itu selesai, mereka semua kembali dengan gelak tawa bahagia dan makan bersama di atas tikar, dan ada yang di dalam rumah Nenek bahkan sampai di dapur, saking padat dan banyaknya mereka.
__ADS_1
Bedak ku kembali dirapikan perias. Umi menyerahkan amplop kepada Mak Uwo (Panggilan kepada Kakak perempuan Ayah ku)
Di karpet merah, di depan hadapan dan semua tamu. Mak Uwo dan 3 orang Ibu lainnya, mereka mencatat semua nama yang ada di amplop, dan nama-nama yang di kado itu. Setelah 2 jam lebih, semuanya selesai. Mereka telah membuka semua kado dan amplop itu.
Mengumumkan hasil dari amplop dan hadiah pecah belah, serta beberapa karung beras. Bukan hanya itu, mereka juga mengumumkan emas, ternak dan sebidang tanah dari Nenek ku (Ibu ayah ku). Menurut ku perbuatan seperti ini memalukan.
“Apakah ini semacam pamer?” pikirku.
Namun kenyataannya, memang selalu begitu yang terjadi di kampungku. Bukan hanya pesta ku, tapi hampir pesta setiap perempuan begitu.
Semua bertepuk tangan, semua uang langsung diserahkan ke tangan ku. Ini adalah uang yang paling terbanyak aku pegang seumur hidup. Setelah itu mereka kembali mencicipi hidangan dan berfoto ria bersama ku. Begitu banyak yang tidak aku kenal.
“Aku adik sepupu Ayah mu.”
“Aku dan Kakek mu sepupu.”
“Nenek ku dan Nenek mu baipa.”
Bla, bla, bla, bla.... Mereka menjelaskannya pada ku. Tapi ini terlalu dadakan, di pastikan aku tidak akan ingat. Percaya deh!
Rupanya dikerubungi banyak orang dan berfoto memakan banyak tenaga, aku benar-benar lelah dan haus. Tak terasa jam pun sudah menunjukkan jam 3 sore.
Setelah semua orang makan, sekarang tiba waktu nya aku di arak kampung. Dan aku harus memakai baju merah menyala, yang katanya aku pakai nanti malam. Tapi, sekarang harus di pakai karena akan ada arak-arakan Induak Bako.
Keluarga Inti ayah ku membawaku dan suamiku berjalan mengelilingi kampung dengan iringan musik tradisional daerah ku. Begitu panjang dan ramai arak-arakan ini dari yang tua sampai anak-anak.
Payung emas terkembang diatas kepala kami. Dia, pria asing itu menggenggam erat tanganku, mengiringi langkah ku yang pelan dan hati-hati agar aku tidak terjatuh.
__ADS_1