(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Aku pun akhirnya memilih untuk naik berbocengan dengan pria itu. “Mau pulang atau langsung ke rumah sakit?” tanya pemuda itu, sok akrab padaku.


“Langsung pulang aja, Kak.” jawab ku cepat.


“Oh, ok deh.” Ia melajukan motornya cukup cepat dari pada Revand. Dan pasti, aku lebih sampai duluan dari pada Filya.


“Makasih ya, Kak." ucap ku.


“Iya, sama-sama. Nanti, jam berapa ke rumah sakit?” tanya pemuda itu.


“Mungkin jam 4 sore, Kak. Aku mau siap-siap dulu ya Kak, mau beres-beres untuk barang bawaan ke rumah sakit.” Aku berkata padanya dengan ramah.


“Oh, Ya udah. Nanti, aku datang lagi jam 4 sore ke sini ya. Biar aku antar.” Ia menawarkan diri.


“Ah, gak usah Kak. Ngerepotin. Nanti aku pergi sama Paman atau Tante aja deh.” tolak ku.


“Gak apa-apa kok, sekalian juga mau jenguk Ibu kamu. Soalnya tadi Revand dan Filya juga yang ajak. Biar kita pergi bareng.” ucapnya dengan tersenyum manis, menunjukkan 2 lesung pipi yang terlukis cantik di pipinya.


“Hm... gitu, Ok deh, kalau gitu Kak. Aku tunggu ya, sekitar jam 4 an.”


“Baiklah. Aku pulang dulu.”


Ia pun pergi dari rumahku. Aku langsung tukar baju, makan dan meminta Uncu (Tante, Adik Ibuku yang paling kecil) menyiapkan barang yang akan di bawa ke rumah sakit.


Jam 15.45, Filya sudah datang bersama pacarnya Revand dan pemuda itu. Setelah mereka sampai, Aku pun pamitan kepada Uncu untuk ke rumah sakit bersama mereka.


“Sini, letakkan di depan aja barang-barang nya.” tawar pemuda itu padaku.


“Gak usah Kak, nanti Kakak kerepotan lagi.” tolak ku sopan.


“Gak apa-apa, yang bawa kan motornya.” jawabnya sembari tersenyum.


“Apa masih ada lagi, barang-barang yang akan di bawa?” tanya Filya menatap ku.


“Enggak, ini aja."


“Kalo gitu, ayo kita berangkat.” ajak Filya menepuk pundak pacarnya.


Kami pun berangkat dengan memberikan klakson pamit pada Uncu yang berdiri membantu kami. Ya, Aku dan Filya di bagi barang masing-masing.


Di pertengahan jalan, tanganku benar-benar pegal dengan barang bawaan ini. Andaikan saja aku pergi dengan teman kecil ku alias tetanggaku, Aku lebih nyaman berboncengan dengannya, atau dengan Paman keren ku, atau dengan Kakak dan Adik sepupuku.


Aku berdecih beberapa kali, menukar kantong kresek penuh itu ke kiri, lalu bertukar lagi ke kanan. Sembari meniup-niup jari tanganku yang memerah.


“Aaah!! menyesal sudah tadi aku menolak tawaran pemuda yang menggoncengku ini, padahal tadi dia sudah menawarkan barang bawaan itu untuk di letakkan di depan.” gumam ku di dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba, Pemuda itu menghentikan motornya menepi dari jalan raya. “Berat kan? Sini, tarok di depan.” tawarnya mengulurkan tangan dengan posisi tubuh masih menghadap ke depan. Sungguh Pemuda yang sangat peka.


“Hm, apa gak apa-apa, Kak? Ntar kakak kesusahan lagi, soalnya sudah ada barang juga di depan.” ucapku merasa tak enak hati. Karena Uncu meletakkan 1 kantong kresek penuh dengan pakaian di depan juga tadi.


“Iya, gak apa-apa. Bisa kok. Sini!" pintanya.


Aku memberikan kantong kresek penuh yang ku pegang ke tangannya, Ia menyusun barang-barang itu di depan, sampai Ia merasa nyaman dan yakin, barulah Ia kembali melajukan motornya ke rumah sakit.


Aku, Filya, Revand dan pemuda itu akhirnya sampai di rumah sakit. Aku langsung menelfon Ayahku, menanyakan di ruangan mana ibuku di rawat sekarang.


Setelah Ayah memberitahuku, kami pergi bersama ke sana, Revand dan Pemuda itu membawa semua barang-barang, Aku dan Filya hanya jalan melenggok.


Saat sampai di ruangan, Filya, Revand dan Pemuda itu langsung bersalaman dengan Ibu dan Ayahku.


Mereka juga berbincang-bincang dengan Ayah dan Ibu ku. Lalu, melihat adik laki-laki ku yang lahir prematur di tabung kaca. Kami semua hanya bisa menatapnya di sebalik kaca itu.


Setelah berbincang, melihat Ibu dan Adik bayiku, Aku dan yang lainnya pulang, karena besok aku harus sekolah kembali. Aku hanya diminta mengantarkan makanan dan pakaian bersih, lalu membawa pakaian kotor pulang.


“Kita mampir dulu ya, di Caffe Ceria." ajak Filya. Ia langsung berhenti tanpa mempedulikan jawabanku.


Mau tak mau, pemuda itu juga menghentikan motornya. Aku hanya bisa pasrah. “Tau gini, mending aku pergi sama Boy." gerutu ku dalam hati, mengingat teman kecilku itu.


“Kamu duduk di sini ya, aku duduk di sana.” ucap Filya menunjuk tempat Ia bersama Revand. Ia langsung pergi dan tersenyum aneh bersama pacarnya kepadaku dan pemuda itu.


Caffe Ceria, tempat yang di kelilingi dengan sawah, air parit yang mengalir jernih dengan batuan kecil di dasarnya. Dindingnya dari bambu, tempat duduknya terbuat dari kayu dan lantainya papan. Angin berhembus bebas menyapa tubuh ku yang canggung ini.


“Mau pesan apa?" tanya pemuda itu padaku.


“Samain aja sama Kakak." jawabku sekenanya.


“Jus alpokat suka gak?" tanyanya, Aku jawab dengan menganggukan kepalaku.


“Lalu, makanannya apa? Ada soto, bakso, mie ayam, atau mau nasi?" tanyanya menatapku dengan tersenyum hangat.


“Mie ayam bakso deh.” jawabku cepat.


Ia pun memesan makanan. Tak lama, makanan pun sampai. Mie ayam bakso, soto untuk pemuda itu dan 2 gelas jus alpokat serta 2 botol air mineral.


Aku langsung melahap rakus mie ayam bakso itu.


Sluuuup! Slurrp!! Aku meminum kuah mie ayam itu sampai habis. “Mau tambah lagi?" tanya pemuda itu tersenyum mengagetkan ku.


“Shiit!!!” umpat ku dalam hati.


Aku melupakan kehadiran pemuda di depanku, gara-gara tergoda mie ayam bakso. Malu tak tertolong rasanya, biasanya Aku makan bersama keluarga dan teman kecilku. Aku bisa makan sepuasnya dengan mereka, tanpa menjaga image sebagai perempuan.

__ADS_1


“Ee...enggak Kak, udah kenyang." jawab ku sedikit terbata. Ia mengangguk lalu ber-OH ria.


“Mie ayam nya enak ya? Soalnya soto nya enak. Pantas aja ya, Filya dan Revan ajak makan di sini."


“Iya, enak Kak." jawabku, lalu menyedot habis jus alpokat di depanku. Semua makanan dan minuman di depanku sudah habis, termasuk sebotol air mineral. Sedangkan pemuda itu makannya seperti siput, lama dan pelan.


Setelah makan, Ia mulai bertanya ini dan itu padaku. Bertanya hobi, makanan kesukaanku, warna favorit ku, dan banyak lainnya. Sudah seperti polisi yang lagi interogasi saja cerewetnya. Tak ku sangka Kakak Kelas ku ini, rupanya tak sekalem yang ku bayangkan selama ini.


Ia mulai menceritakan tentang dirinya, mengatakan apa saja yang ia suka dan tak ia suka, padahal aku tak bertanya. Sungguh pria sok akrab. Aku jadi ingat teman kecilku saat ini.


“Boy walaupun cerewet tapi bikin aku ketawa, bukannya ngebosenin kayak gini. Ngomongin yang gak penting, serius lagi.” gumam ku dalam hati.


Setelah banyak berbicara. Tiba-tiba dia ingin mengatakan hal yang sangat serius. Mulai dari menatap ku lekat dengan wajah serius dan mengajukan pertanyaan yang sangat lama, bikin aku kesal saja.


“Kamu suka pria seperti apa untuk menjadi pacarmu?" tanya nya.


“Oh, cuma mau tanyain itu. Kirain apa-an, bikin cemas aja deh, Kak.” Aku bernafas lega, setelah mendengarkan pertanyaan yang aneh itu.


“Yang pastinya laki-laki, bukan lekong. Lalu baik padaku."


“Hanya itu?” tanya nya lagi. Aku balas mengangguk.


“Gak ada yang lebih spesifik gitu, misal dari wajah, hobi atau apa gitu?"


“Gak ada. Wajah tampan dan gagah bisa jelek suatu saat nanti, hobi dan sifat seseorang bisa berubah jika ingin berubah, yang penting ada rasa padaku dan memperlakukan aku dengan baik, itu sudah lebih dari cukup." jawab ku.


Ia menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. “Benar seperti itu?" Ia bertanya kembali dengan tersenyum. Aku menjawab mengangguk.


“Aku sudah lama suka padamu. Mau gak, kamu jadi pacarku?”


Deg!!! Jantungku hampir saja melompat mendengarnya.


Ingin rasanya sekarang aku mengorek gendang telingaku, memastikan apa yang aku dengar. Kakak kelas yang populer itu mengatakan cinta padaku?


Tunggu! Aku bukanlah wanita yang mudah di permainkan. Jangan di kira karena dia tampan dan populer, aku bisa mudah di dapatkan. Aku langsung terkekeh.


“Kakak bilang apa tadi, sepertinya telingaku agak bermasalah deh. Masak aku dengar Kakak bilang suka aku?”


“Iya, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku?” Ia mengulang kembali perkataannya dengan serius dan menatapku lekat.


Ku remas celana pendek ku, aku sedikit gugup. “Kak, bercandanya jangan gitu dong.” balasku.


“Aku gak bercanda, aku serius.” Ia mempertegas ucapannya.


Aku terdiam, dan suasana pun menjadi hening seketika. Hanya terdengar suara hembusan angin dan gelak tawa, di meja yang lain.

__ADS_1


__ADS_2