(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Elvina


__ADS_3

“Cucu nenek yang cantik, kalau makan sendiri nanti make up nya berantakan. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kedatangan tamu? Soalnya sekarang sudah jam 11 pagi, sebentar lagi tamu akan datang.” tutur Nenek ke dua menjelaskan dengan lembut padaku.


Akhirnya, aku pun makan disuapi oleh Uncu. Aku merasa menjadi wanita mehong sekarang. Ini bukan gayaku!


Hari ini, semuanya bukan seleraku. Dari warna baju dan make up, duduk anggun dan feminim, sekarang makan pun harus disuapi. Apakah nanti masih banyak hal yang tidak aku sukai lainnya? Entahlah....


“Mau telor gak?” tanya Umi. Dia adalah Tante pertama ku. Kakak Ibu ku.


“Telur bulat atau mata sapi, Umi?” tanya ku.


“Kesukaan mu...” ucapnya, lalu meletakkan 2 buah telur mata sapi setengah matang di atas piring yang dipegang Uncu ku.


Ya, telur goreng mata sapi yang kuningnya belum matang, di taburi bawang goreng diatasnya adalah favorit ku.


Sayangnya, aku tidak bisa melahapnya dengan buas. Ya, Uncu membelah telur itu agar kecil dan muat di mulutku. Alasannya, agar riasan di wajahku tidak berantakan. Alasan yang membuatku jengkel.


Kesal sekali rasanya, lihat itu! Kuning telur yang belum matang itu meleleh di piring, seharusnya meleleh nikmat di mulutku.


Aku berguman-gumam kesal. Uncu dan Nenek ku hanya tersenyum saja. Mereka mengerti, kalau aku tidak menyukai semua ritual yang membosankan ini.


Setelah makan, aku duduk termenung sendirian di kursi kebesaran ku itu. Uncu, Nenek dan semuanya sibuk kembali dengan urusan mereka masing-masing.


Bagaimana dengan kehidupan ku kedepannya ya? Apakah aku masih bisa menangguk ikan di sawah dan parit? Apakah aku masih bisa memancing dan mandi di sungai bersama adik-adik ku? Apakah aku masih bisa bermain bersama teman kecilku Boy?


Entahlah...


Aku menggoyang-goyangkan kaki ku karena mulai merasa bosan. Kenapa sih aku harus memakai baju Anak Daro ini begitu cepat? Kenapa tidak nanti malam saja, pas acara puncak?


Kalau begini, kepala ku bisa copot menahan beratnya, apalagi aku tidak bisa duduk santai dengan leluasa, harus duduk anggun.


Tiba-tiba...


Mama terburu-buru mendekat, dan merapikan di sekitar pelaminan ku yang sempat kotor, karena sepupu ku yang masih batita merobek-robek sorbet, untuk bermain disana tadi.


Mama, dia adalah adik ke tiga ibu ku.


“Duduk yang rapi dan tersenyum Sayang, tamu sudah datang tuh. Sepertinya tamu dari teman sekolahmu dulu, dan guru-guru yang di undang oleh Paman.” tutur Mama.

__ADS_1


Semua tamu mulai duduk di kursi yang telah tersedia di dalam tenda. Dan sebagian langsung menyalami ku, mengajak ku berfoto dan berbincang-bincang ringan. Kemudian kembali duduk di kursi yang telah di sediakan


Seorang gadis cantik dan montok datang mendekat sambil tersenyum kepadaku sepanjang jalan. Kemudian Ia memeluk ku erat. Entah apa derita yang Ia hadapi, sampai-sampai ia menangis tersedu-sedu. Dasar gadis cengeng.


Aku melepaskan pelukan nya, menatapnya lekat, dan cengengesan. “Apa yang kau tangis kan? Apa kekasihmu mati?” ejek ku dengan kejam.


“Rosa!!!” pekiknya.


Aku masih saja terkekeh.


“Kau benar-benar tidak peka. Aku sedih sekaligus terharu. Akhirnya kau menikah dan sekarang menjadi Anak daro. Huu...uu..uu...” ucapnya masih menangis.


“Dasar cengeng. Sudah berhenti menangis.” Ku jitak kepalanya.


“Rosa! Kau ini sungguh belum berubah, sudah menikah masih saja menjitak kepalaku. Apa kau tidak sedih, kita akan jarang berjumpa lagi setelah ini. Huu...uu... uu...”


“Rosa, lihatlah semua teman-teman yang sudah menikah akan menghabiskan waktu bersama suaminya, dan tidak punya waktu lagi dengan temannya.” rengek Gadis montok itu.


“Oh, kalau begitu... Kau tinggal nikah saja! Cepatlah kau minta dilamar oleh pacarmu itu! Jangan sampai jadi perawan tua.” ejek ku.


“Oh, ya. Undangan ku sudah sampai ditangan Uda Qian kan? Aku berharap dia datang di hari persandingan ku ini. Setidaknya, aku bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya...” ucapku.


“Huuuft!” Dia menghela nafasnya.


“Rosa, kau sudah menikah dan sekarang hari persandingan mu, kau masih mengingat mantanmu, Bang Qian? Gila!!!” ucapnya geleng-geleng kepala, yang awalnya masih manja-manja dan merengek padaku, sekarang malah memasang muka galak, mode mengejek pada ku.


“Hm... Bukan begitu maksudku, tapi...” Aku tak tau harus berbicara apa lagi, aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, Aku hanya tersenyum kaku melihat mata temanku yang memelototi ku itu.


Nama nya Elvina. Aku berteman dengannya sejak 5 tahun yang lalu, Gadis yang menjadi saksi aku resmi pacaran dengan Uda Qian saat itu. Dia adalah Gadis tetangga Uda Qian.


Elvina bertubuh tinggi 165 cm dan montok. Dia feminim, lembut, dan suka menempel padaku. Dia mempunyai pacar yang pencemburu, ribet banget kalau harus keluar bersama dia. Pacar nya udah kayak orang tukang kredit cerewetnya, menagih kami dengan beberapa pertanyaan jika bermain.


Uda Qian bisa dibilang, Dia adalah mantan kekasihku. Aku berpacaran dengannya kurang lebih selama 5 tahun. Aku berharap, dia bisa datang hari ini. Aku ingin melihatnya, aku sungguh rindu, rindu sekali.


“Hanya ingin melihatnya saja, walaupun ini untuk terakhir kalinya.” pintaku di dalam hati.


Bukan aku bermaksud untuk menunjukan padanya, aku sudah menikah, aku memiliki orang lain sebagai penggantinya. Sungguh, sungguh bukan itu!

__ADS_1


Aku sengaja meminta Elvina memberikan undangan padanya. Karena dia jarang sekali terlihat. Bisa dikatakan sudah 1 tahun belakangan ini, aku tidak melihatnya, apakah dia merantau?


Kata Elvina, dia dirumah. Hanya saja sedikit sibuk bolak balik pakai motor, entah kemana.


Deg! Deg! Jantung ku berdetak cepat.


Aku melihat gerombolan Ibu-ibu datang, mereka adalah keluarga besar Uda Qian. Diantara Ibu-ibu itu, ada calon Ibu mertua tak jadi ku disana. Siapa lagi, kalau bukan Ibu dari Uda Qian.


Mereka semua mulai menyalamiku, dan memelukku. Bahkan ada peristiwa lebay yang membuat air mataku juga menetes. Untung saja hanya satu tetes. Dengan cepat aku menenangkan perasaanku.


“Sedih rasanya, kamu tak jadi menantu kami. Malah, menantu orang lain.” ucap Tante dari Uda Qian memelukku dengan menangis.


“Sayang sekali, calon menantu secantik ini tidak menjadi milik kami, malah menjadi milik orang lain.” ucap Tante Uda Qian yang lain nya.


“Selamat ya, jadilah Istri yang baik.” satu-satunya ucapan yang terlontar dari calon mertua tak jadi ku. Lalu, dia kembali duduk di kursi tamu yang telah di sediakan itu.


Sedangkan yang lain, masih saja memuji ku dan melontarkan kekecewaan dan kesedihan mereka. Entah itu tulus, atau kah bohong belaka yang hanya menggombaliku. Apakah aku sungguh cantik? Apakah aku benar-benar cantik dan baik dimata mereka? Hanya Allah yang tahu.


Tinggi ku 167 cm dengan berat badan 55 kg. Memiliki rambut pendek hitam yang sedikit ikal diujungnya. Memiliki warna kulit terang, alias putih. Hidungku kecil mungil namun mancung kok, tidak ditabrak kereta api seperti hidung Ayah ku. Hehehe.


Bibir ku juga mungil namun berisi, mataku sedikit sipit dan aku memiliki satu lesung pipi di pipi kanan. Pinggang celana ku 38 size, dan pakaian privasi dalam ku 34D. Tentu kalian sudah paham seperti apa bentuk diriku kan?


Akhirnya, setelah berbincang-bincang dengan para Ibu-ibu itu, mereka pun kembali ke kursi tamu dan mengambil makanan di hidangan ala Prancis itu.


Elvina masih tetap setia duduk di sampingku. “Apa kau sungguh sedih Ros, karena Uda Qian gak bisa datang?” pertanyaan Elvina membuatku bingung menjawabnya.


Aku terdiam sesaat. Memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan. Aku memang sedih dia tidak bisa datang. Tapi, tadi Tante nya berkata kalau dia sedang sakit.


“Tidak, dia sedang sakit. Semoga dia lekas sembuh...” jawab ku lirih.


Mungkin, aku harus menahan rindu ini lagi. “Semoga saja suatu hari nanti bisa bertemu kembali.” bisik ku di dalam hati.


Sedih dan sedikit ada rasa kecewa terselip di dadaku. Dia, yang dulunya selalu memprioritaskan aku walaupun dia demam sekalipun, dia akan menemui aku.


Sekarang, tepatnya setelah kami putus... Aku sudah jarang bertemu dengannya. Begitu mudah kah bagi dia melupakan ku? Kenapa bagiku, begitu sulit?


“Ya Allah, sampai kapan aku masih mencintai dia?” rintihku berbisik dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2