
Aku masih duduk termenung di sudut kasur. Sedangkan Hanan sudah berbaring tidur. Ia menutupi dirinya dengan selimut tebal, bergelung dibawah selimut itu.
“Batam? Bukankah kota itu, kota bahaya?” gumam ku dalam hati.
Ya, dulu waktu aku masih SMA, kota Batam dan Jakarta adalah kota rantau yang menyeramkan untuk para gadis. Banyak gadis-gadis di kampung, kalau merantau ke kota itu, sudah membawa perut besar, yang awalnya memakai hijab, tiba-tiba pulang kampung mereka langsung memakai baju kekurangan bahan.
“Hm, Bukankah dia tamatan pesantren ya? Kenapa dia bekerja di PT? Dan dia juga bekerja di Batam? Bukankah seharusnya, yang tamatan pesantren itu menjadi Ustadz ya? Atau bekerja dibagian keagamaan gitu?” pikirku menatap tubuh yang ditutupi selimut itu.
“Ah, pusing!” Aku merebahkan tubuhku, dan tentu saja kasur lebar itu aku batasi dengan 2 buah guling, supaya aku tidak diterkam pria yang berstatus suami ini, saat aku tertidur.
“Ros, bangun lah.” Hanan membangunkanku lembut, Ia mengelus pipiku.
“Woy!” Aku terkesiap, langsung duduk.
Ia menatapku bengong. Aku memegangi kepalaku, sungguh pusing rasanya, saat bangun dengan tiba-tiba seperti ini.
“Kamu sudah sadar Ros?” tanyanya, Ia duduk ditepi kasur, di dekat kaki ku.
“Ambil wudhu lah, aku tunggu. Kita Sholat berjamaah ya.” ucapnya tersenyum mengelus rambut pendekku.
Ku tepis tangan itu. “Jangan sentuh-sentuh!” ucapku kesal.
“Maaf.” ucapnya tersenyum. “Wudhu lah cepat, nanti waktu subuh bisa lewat.”
Dengan kesal dan berat hati. Seolah kakiku sedang diberi beban yang berat, badanku terasa lelah dan air yang ku sentuh terasa saat dingin. Ya, aku pemalas bangun pagi, aku pemalas sholat subuh, pokoknya aku pemalas. Sekarang aku dibangunkan pagi-pagi olehnya.
Apakah aku boleh memberontak?
Aku cukup lama dikamar mandi sampai bunyi ketukan di pintu memanggilku.
“Ros, apa masih lama? Gak baik, menunda waktu subuh dengan berlama-lama.” ucap Hanan di luar pintu.
__ADS_1
“Kalau kau mau sholat. Sholat saja sendirian, gak usah urusi aku!” jawabku bersorak dari dalam kamar mandi.
“Astagfirullah, jangan berkata seperti itu Ros. Gak baik. Baiklah, kalau begitu aku sholat duluan. Nanti kamu susul aku aja ya.” sahutnya di balik pintu itu.
Dan kesalnya, kata-kata nya menari dalam otakku. Dia memintaku menyusul nya. Aaahhh!!!!
Aku pun dengan sangat malas keluar kamar mandi, lalu memakai mukena. Dia tersenyum, rupanya dia masih menungguku. Ah, kesalnya aku!
Dia tersenyum, dua sajadah sudah ia kembangkan. Ia mulai berdiri, aku pun mengikutinya dengan berat hati bercampur dongkol. Lalu Ia mulai membaca takbiratul ihram.
Dan saat aku mulai mengikutinya. “Allahuakbar.” Di sana aku menemukan perasaan yang aneh, hatiku yang kesal tadi menjadi hilang, kakiku yang tadi berat menjadi ringan, walaupun otakku masih menari-nari, jujur aku masih tak bisa Khusyu' dalam sholat ku.
Sholat subuh yang hanya 2 rakaat itu terasanya begitu damai dan tenang. “Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” ucapnya membaca salam, dan aku pun mengikutinya.
Kemudian Ia berzikir, dan membaca banyak bacaan, lalu berdo'a. Aku hanya duduk mendengar dan menampung tangan. Pas seperti saat aku belajar mengaji dulu. Guru mengaji memimpin, kami murid mengaminkannya.
Setelah Ia berdo'a, Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku pun meraih tangan itu dan meletakkannya di keningku.
Lagi dan lagi, Ia memintaku membuat teh tanpa gula. Baiklah, sekarang aku sudah bisa membuat teh.
“Ya.” jawabku. Lalu aku berdiri, dan melipat mukenaku. Namun pria itu malah mengambil Al-Qur'an yang Ia bawa dari rumahnya. Lalu ia membaca ayat suci itu.
Beberapa saat aku masih mematung mendengarkan lantunan yang menyejukkan hatiku itu. Hatiku bergetar dan tersentuh, entah kenapa...
Aku berjalan keluar, lalu membuatkan teh tanpa gula, seperti yang diajarkan Paman waktu itu.
Setelah membuat teh, aku letakkan teh itu di samping meja rias. Karena tidak ada meja lain selain itu.
“Aku letakkan disini ya tehnya. Aku mau menonton di luar.” ucapku.
Ia menghentikan bacaannya sebentar, menoleh padaku, lalu mengangguk.
__ADS_1
Aku pun keluar menonton dengan tertawa terbahak-bahak. Aku menghidupkan kaset VCD Tom and Jerry. Tiba-tiba telingaku diberi jurus capit kepiting.
“Kau ini ya, pagi-pagi bukannya buatkan suamimu sarapan, atau belajar memasak. Malah menonton dan tertawa seperti ini. Seharusnya pagi ini, kau tonton itu ceramah di televisi, bukan menonton hal seperti ini!” ucap Ibu ku
Aku mengelus telingaku. Ooohhhh, telingaku yang malang...
Ibu langsung mematikannya, membawaku ke dapur. Dan seperti biasa, adik-adik laki-laki ku yang tidur di kamar belakang juga sudah dibangunkan Ibu.
Namun, sejak aku menikah, ibu tidak bersorak-sorai lagi membangunkan kami. Apakah Ibuku sedang menjaga image di depan menantunya? Hihihi.” Aku tertawa geli mengingatnya.
Bagaimana tidak, kami semua sudah tau bagaimana sifat Ibu dan Uncu. 10 deretan rumah akan terbangun oleh suara mereka, mereka akan bersorak membangunkan semua Adik-adik ku, mulai adik kandung, adik sepupu, dan teman-teman mereka.
Di kamar belakang, tidak ada kasur, hanya disediakan tikar, selimut dan bantal, karena mereka ramai dan entah berapa banyak mereka merusak ranjang dulu. Apakah mereka gulat diatas ranjang? Entahlah...
Aku dan mereka saling terkekeh, saling ejek. Mereka kena marah, aku pun juga kena marah, karena menonton dan tidak membuat sarapan untuk Hanan.
Biasanya aku juga kena marah kok! “Ros, bangun!!! Kau ini anak gadis, tapi bangunnya selalu siang, bangun!!!” Kira-kira begitulah Ibu berteriak membangunkanku.
“Bangun!!! Kalian ini kerjaannya begadang aja, Rezki bisa dipatok ayam kalau begini, bangun!! Prank! Prank!” teriak ibu sambil memukul tutup panci dengan sendok. Nah, kira-kira begitulah Ibu meneriaki adik-adik ku.
Ayahku, sudah sibuk memberi makan ayam dan bebek di belakang pagi ini. Sedangkan Uncu dan Nenek terasa hening pagi ini.
Namun, sebentar lagi, tepatnya jam 8 pagi sampai seterusnya, Uncu ku akan bersorak-sorai setelah kepergian suaminya bekerja, anak-anak nya yang masih kecil itu jahil dan suka mengotori dan merusak barang-barang di rumah.
Aku membantu ibu menyiapkan bahan untuk membuat gulai. Ibu mengajarkanku nama-nama bahan, ini dan itu. Sebenernya, ini sudah cukup telat untuk aku belajar, tapi dari pada tak belajar sama sekali kan?
Setelah semuanya masak, aku membantu Ibu menghidangkan. Hanan, Ayah dan Adik-adik ku sudah duduk bersila di atas tikar diruang tengah. Dan kami pun makan bersama.
Setelah makan, aku dan Ibu membereskan, lalu membantu Ibu mencuci piring. Ini semua ku lakukan karena terpaksa, ada Paman pertamaku yang datang dengan tiba-tiba saat kami makan.
Dia menyuruhku mencuci piring. Padahal biasanya aku tak pernah mencuci piring.
__ADS_1
Aku menatap tanganku, ku tiup-tiup tanganku. “Baru saja cuci piring segini, biasanya Ibumu lebih banyak cuci piring dari ini, mencuci, memasak, membersihkan rumah sendirian.” ucap Paman pertama mengejutkan ku.