(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Punya Pisang


__ADS_3

“Aku ke sana dulu ya, gabung sama yang lain Ros, nanti malam aku datang lagi sama Juliana ya.” ucap Elvina memelukku, kemudian berjalan ke kursi tamu bergabung dengan yang lainnya.


Aku masih curi-curi pandang pada Calon Ibu mertua tak jadi ku itu. Aku masih ingat saat itu. Malam itu, tepatnya di mesjid Al-Mukmin, bulan puasa Ramadhan. Aku dan Uda Qian baru saja putus 3 bulan yang lalu nya.


Aku tak tau, angin apa, gosip dari mana, sampai-sampai Ibu dari Uda Qian menjadi aneh padaku. Entah kesalahpahaman dari mana antara Aku dengan keluarganya.


Aku sholat tarawih dibarisan pertama bersama Ibu-ibu yang lain, kemudian setelah selesai tarawih dan witir, ada ceramah dari Ustadz. Kami pun mendengarkan ceramah itu.


Disela-sela ceramah, seorang ibu yang duduk di sampingku mengajak wanita yang disebelah kirinya berbicara, rupanya wanita disebelah kirinya itu adalah Ibu dari Uda Qian.


“Uni, ini ada calon menantunya disebelah, kapan kita akan makan gulai cubadak?” ucapnya tersenyum, bertanya disela-sela ceramah itu.


“Siapa yang sudi dan bersedia menikah dengan putraku yang miskin dan jelek itu, dikasih makan apa anak gadis orang? Tidak mungkin dikasih makan rumput kan? Anak gadis orang begitu manja dan mewah hidupnya, mana mungkin mampu hidup susah dengan putraku.” jawabnya.


“Apakah ini sindiran? Atau ini yang disebut ereang jo gendeang?” tanya ku dalam hati saat diam-diam menguping.


Tepatnya bukan menguping sih, karena Ibu dari Uda Qian menjawabnya memang cukup nyaring, Aku kira beberapa orang bisa mendengarkan jawaban itu.


Aku hanya bisa diam. Aku gadis yang kurang mengerti tata krama melalui adat, yang katanya Alun takilek alah takalam, Ikan di aia lah jaleh jantan Jo batinonyo.


Yang artinya. Sudah mengerti tanpa perlu dijelaskan. Aku? Mana bisa paham! Aku dari kecil kerjanya main dan tidak mendengarkan tata krama saat tetua berceramah.


Bisa dibilang, aku Minang yang tidak minangnya. Lebih tepatnya, aku pemalas dalam belajar. Jika aku membaca, mau belajar dan mau mendengar para tetua, mungkin aku paham tentang semuanya.


Tapi setidaknya, aku bisa Kato nan Ampek. Tata krama bertutur kata terhadap orang tua, kawan sejawat, dan anak kecil.


“Gimana Ros, kamu bersedia hidup susah dengan Izqian tidak?” tanya Ibu itu menoleh padaku, setelah ia mendengar jawaban dari Ibu Uda Qian.


Aku menjawabnya hanya dengan tersenyum. Memangnya harus aku jawab apa coba?


Aku bukan lah gadis lebay, bermulut manis. Untuk mengatakan aku bersedia menikah dengannya, jangankan gunung ku daki, laut pun ku sebrangi, bahkan nafas pagiku pun ku bungkus. Hadeewhh!


Maaf, aku tidak bisa di depan orang lain seperti itu. Itu sungguh memalukan.


Uda Qian tidak pernah menanyakan hal semacam ini padaku. Yang ada, aku yang pernah bertanya padanya. “Apakah Uda bersedia menikah denganku?” Namun, hanya luka yang aku peroleh. Jadi, kesalahpahaman macam apa ini?


“Woy, Pengantin baru, dari tadi dipanggil malah melamun, udah gak tahan ya pengen ketemu mempelai pria nya?” ucap Boy menepuk pundak ku. Sehingga aku terkejut dari lamunan ku.


Boy sepertinya tidak pernah menganggapku seorang perempuan. Apakah dia sungguh sampai lupa kalau aku memiliki gender perempuan?


Ya, waktu itu aku sedang tidur di kamarku. Boy bertamu ke rumah, dia menanyakan aku kepada Ibu ku.


“Ibu, Rosa ada di rumah gak?” tanya nya pada Ibu ku.


“Ada. Dia sedang tidur.” jawab Ibu ku.

__ADS_1


“Oh, tidur dikamar ya, Bu?” tanya nya lagi. Kemudian langsung menyelonong masuk ke dalam kamarku.


Ibuku sempat terkejut awalnya. Bagaimana mungkin seorang pemuda dengan tidak sopannya masuk kedalam kamar seorang gadis perawan. Sebenarnya perbuatan ini tidak pantas di tata krama Adat. Namun karena aku sudah berteman dengannya sejak kecil, jadi Ibu bisa memakluminya.


“Woy, Ros.” panggilnya berkacak pinggang.


Sontak aku terkejut. Gila! Laki-laki lain masuk kedalam kamarku, biasanya hanya adik laki-laki dan sepupuku saja yang berani masuk menyelonong.


“Ngapain Kau masuk ke dalam kamarku, Hah?!” ucapku marah.


“Hei, hei!! Kau saja masuk ke dalam kamarku suka-suka, masa aku gak boleh.” ucapnya menyedekapkan tangannya.


“Ya gak bolehlah! Aku ini perempuan, sedangkan kau laki-laki!” terangku.


“Oh, Kau perempuan, Ros?” ucapnya terkekeh.


Aku langsung terperanjak duduk, mengumpulkan nyawa yang baru saja mulai kembali perlahan. “Mampus Kau!” ucap ku ketus dengan suara serak ku. Aku memukuli kepalanya.


Dengan santai tanpa punya rasa malu, dia duduk ditepi ranjang ku. Padahal, Aku sudah memukul kepalanya sekuat hati. “Kau selalu saja tidur, kita keluar yuk!” ajak nya padaku.


“Ngapain?” tanya ku ketus.


“JJS lah, lihat cewek-cewek cantik.” jawab nya.


“Males!” balasku, kemudian berdiri.


“Kenapa harus sama aku? Pergi sama Indra atau Andika saja! Aku bukan martabak pemakan roti, aku masih normal” tolak ku.


“Pfft!” Ia menutup mulutnya menahan tawa. “Bukan begitu maksudku, kalau kau ada kan, aku lebih pede.”


“Bilang aja, kau merasa kalah saing sama Indra dan Andhika? Iya kan?” ejek ku.


“Sama mereka itu gak asik. Aku lipatan selimut kamu ya Ros.” bujuknya, kemudian sibuk mengemasi kamarku yang berantakan seperti kapal pecah.


Buku-buku ku yang berserakan sana sini, selimut ku yang terlempar dan bantal yang sampe jatuh ke lantai. Aku bersiul-siul melihat dia merapikan kasur ku.


“Rajinnya Istriku.” ucapku menepuk-nepuk punggungnya.


“Iya Suamiku, mandi sana deh. Ayo ajak Istrimu jalan-jalan ya.” pintanya memelas, dengan matanya yang berbinar.


“Stress!” ucapku menjitak kepala temanku yang bernama Boy itu.


“Ok. Keluar sana, aku mau mandi.” usirku. Dan Ia pun keluar.


Setelah aku mandi, aku memakai baju kaos putih dan celana pendek dibawah lutut kesukaanku.

__ADS_1


Aku mencari Boy yang duduk di sofa sambil menyeruput teh buatan Ibu ku. Aku berjalan mendekatinya, ku lempar handuk kewajahnya. “Keringkan rambutku, Istriku.” perintahku padanya terkekeh.


Ia pun mengeringkan rambutku dengan handuk. Setelah kurasa cukup kering, aku menyisirnya dan memakai jepitan.


“Bu, aku keluar sebentar sama Boy ya.”


“Mau kemana Boy?” tanya Ibu menatap Boy.


“Mau jemput soal latihan dirumah teman, Bu.” jawab Boy berbohong.


“Oh, ya sudah hati-hati. Jangan pulang lama-lama. Dan jangan ngebut bawa motornya.” Pesan ibu yang hanya tinggal pesan setelah kami di atas motor.


Entah kemana tujuan motor ini melaju, yang jelas hanya menikmati sore hari. “Boy, aku mau ice cream.” tunjukku melihat penjual ice cream parkir di tepi jalan dengan motornya.


Dia pun menghentikan laju motornya. Dan kami pun membeli ice cream vanilla untukku, dan coklat untuknya. Aku tetaplah aku. Makan suka terburu-buru seperti dikejar waktu, dan pasti belepotan. Ice cream itu jatuh mengenai bajuku. Tepatnya di dadaku.


Spontan si bodoh Boy itu menghapusnya di dadaku.


“Bullllllsssssyyyiiiiit!!!! Boy!!!” pekik ku marah.


Dia benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun. Ya, aku bisa melihat dari matanya, tidak ada hasrat sedikitpun terhadapku. Matanya polos, seperti mata adik-adik dan sepupuku saat melihatku.


“Kenapa kau menyentuh dadaku?” tanyaku marah.


“Kapan aku menyentuhnya? Aku membantumu. Lihat bajumu kotor. Bajumu berwarna putih tau. Kalau tidak mau dibantu, ya sudah bersihkan sendiri.” ucapnya tak kalah jutek dariku.


“Hei, aku ini perempuan. Tanggung jawab! Kau memegang dadaku!” pekik ku.


“Hah?”


“Huh Hah huh hah!!! Aku ini perempuan. Awas kau berani pegang dadaku lagi.” ancamku.


“Iya, iya, kamu perempuan. Perempuan rasa laki-laki.” jawabnya.


Ku pukul kepalanya sampai dia minta ampun.


“Ampun Rosa. Ampun!! Aku sungguh tidak berselera, apalagi berniat memegangnya. Aku merasa kau punya pisang.”


“What??!” pekik ku.


Ku pukul lagi dia membabi buta. Dia mengatakan kalau Aku punya pisang, bikin kesal saja.


**


NB:

__ADS_1


Makan gulai cubadak adalah kiasan saat bertanya kapan kita akan makan besar-besaran dalam berpesta.


__ADS_2