(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
AnkS1


__ADS_3

Di sebuah kota besar di salah satu Negara Malta. Pagi hari, cuacanya terang, dengan langit biru putih yang bersih.


Sekolah elite menengah atas. Bangunan megah bertingkat dengan banyak kelas, di tengahnya ada lapangan luas dengan satu buah tiang bendera yang sedang berkibar dihembus oleh angin sepoi-sepoi. Kelas-kelas itu membentuk persegi panjang yang menyatu, hanya terputus pada gerbang utama sebagai pintu masuknya.


Terdengar suara riuh di sebuah lapangan bola basket yang berada di bangunan paling ujung, tingkat lima.


Lapangan basket itu penuh dengan murid-murid, terlihat ada yang sedang bertanding. Tim pria berbaju putih biru melawan tim baju putih merah. Sebagian murid dari kelas satu sampai kelas tiga, bersorak memberi semangat, serta team 'Cheerleading' atau pemandu sorak yang menari dengan aksesoris di tangannya, roknya yang pendek berkibar-kibar, melambai, seolah rok itu juga ikut menari bahagia memberikan dukungan pada idola pemiliknya.


“Oppa! Oppa! Oppaaaaaaa!” Terdengar suara teriakan dari bangku paling atas, seorang gadis gendut membentuk tangannya seperti toa, bersorak-sorak.


Prok! Prok! Ia ribut sendiri, bertepuk tangan, lalu berteriak kegirangan, belum lagi di pipinya masih ada sisa makanan kripik kentangnya.


Dia duduk sendirian, di sampingnya terletak satu kantung kresek penuh makanan dan satu lagi kantong kresek bungkus makanan dengan minumannya. Adapun murid lain yang sebaris dengan bangkunya, memilih duduk menjauh seolah dia adalah monster menjijikkan.


“Oppa, sarang hae!!!” teriaknya lagi, di sela-sela mengemilnya. Ia sungguh tidak peduli dengan orang sekitarnya.


“Oppa, spirit!” Ia mengepalkan kedua tangannya berbentuk tinju, lalu membentuk sudut siku-siku, menaik turunkan tangannya itu dengan penuh semangat. Berdiri dari duduk, lalu bertepuk tangan dengan keras.


“Waaah! Oppa, i love you!” teriaknya lagi.


Pemuda tampan itu menoleh ke arah dimana perempuan gendut itu bersorak, gadis gendut itu kegirangan melihat pria tampan itu mengedipkan matanya.


“Cih! Menjijikan! Hei gendut, berisik banget sih!” Seseorang memarahinya dengan berteriak.


Gadis gendut itu diam sebentar karena dimarahi, namun ia akhirnya bersorak kembali untuk pemuda tampan yang berada di lapangan.


“Oppa! Love you!” teriaknya kembali karena pemuda tampan itu mencetak tambahan gol.

__ADS_1


“Nauval, semangat, aku cinta padamu!” sorak gadis yang lain.


“Nauval!”


“Nauval!”


“Nauval!” Sorak-sorai memenuhi lapangan itu menyebut nama Nauval. Belum lagi nyanyian yel-yel yang selalu memuji pria tampan yang sedang bermain basket di lapangan itu. Mungkin sebagian ada yang cemburu mendengar, apalagi lawan tandingnya, tetapi pada kenyataannya Nauval memang sangat mahir main basket, pesona dan ketampanannya tak terkalahkan.


“Yes!” Nauval melompat riang saat ia memasukkan bola ke keranjang, tubuhnya disambut kawan-kawan teamnya, ia bahkan dilambungkan ke atas berulang-ulang. Terakhir tadi, ia mencetak bola ke gawang dengan loncatan indahnya sambil menyibak rambut yang terlihat berkilau, bahkan keringatnya terlihat seperti intan.


“Nauval!”


“Nauval!”


“Nauval!” Sorak-sorai. Hampir semua hawa meneriaki namanya lagi dan lagi. Bahkan ada beberapa kaum Adam juga.


“Oppa, sarang hae!” Gadis gendut tadi kembali bersemangat. Lalu, langsung berlari ke arah lapangan, membawa sebotol air mineral ke arah Nauval.


“Uuuuuuu! Uuuuu!!!” Orang-orang bersorak, meneriakinya. Terutama kaum hawa.


“Gempa bumi, woy! Bisa runtuh nih lapangan gara-gara kau Gendut!” seru seseorang.


“Hahaha. Biarkan saja, palingan nanti juga di tolak sama Nauval. Calista saja yang memberikan minuman ditolak, apalagi cewek gendut jelek begitu.” cibir seseorang.


Gadis gendut itu terus saja berjalan mendekat, hingga kini ia sudah sampai di bawah, di lapangan, di hadapan Nauval. Ia memiliki berat badan 105 kg dengan tinggi 175 cm, memiliki rambut ikal nan panjang terurai.


Ia cukup berani berjalan sampai ke lapangan hanya untuk memberikan idola SMA ini air minum. Bukankah itu sesuatu yang keren untuk dipuji? Namun semua murid malah mencibir dan menghinanya sejak tadi.

__ADS_1


“Dasar gadis tak punya malu, gak ngaca apa! Aku aja sadar diri, gak sampai begitunya, malu-maluin!” Lagi, seseorang mengejeknya.


“Cih! Gak punya cermin kayaknya tuh cewek, berani banget goda Kak Nauval!” Yang lain juga menimpali, mengejek dan mencibir.


Banyak cibiran dan hinaan padanya, bahkan teman satu team Nauval sempat tercengang sebagian, bahkan terkekeh, menertawakan gadis gemuk itu yang cukup berani dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


“Oppa!” panggilnya, ia masih tersenyum ceria.


“Turunkan aku!” Nauval meminta temannya menurunkan. Sehingga team yang menggendongnya segera menurunkan Nauval.


Gadis gemuk ini bernama Quinzha Alvira, ia anak kelas satu SMA, baru 2 minggu berada di sekolah ini. Jadi, banyak hal yang tidak dia ketahui di sekolah ini.


Nauval berjalan mendekat ke arah gadis gemuk, mengambil air minum yang disodorkan gadis gemuk itu. Nauval memiliki tinggi 180cm dengan bobot tubuh yang atletis. Mungkin karena ia pecinta basket, tubuhnya jadi terlihat sangat keren.


Nauval meminum air itu, lalu setelah meminumnya, ia mengacak-acak rambut gadis gemuk itu dengan senyuman mautnya.


“Makasih,” ucapnya.


“Sharanghae,” ucap gadis gemuk itu dengan mengadukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk love. Nauval juga melakukan hal yang sama, bahkan mengadukan jari tangan mereka yang membentuk love itu dengan senyuman.


“What?!!!”


Teman satu timnya dan yang lain sampai terpana dan ternganga melihat pemandangan itu. Suatu pemandangan yang langka bin aneh. Nauval yang dikenal cuek dan sering mengabaikan wanita, kini begitu lembut dan perhatian pada sigendut itu. Apa dunia sudah terbalik?


“Cih! Si gendut itu pakai apa, kok bisa-bisanya buat suamiku senyum begitu, menerima botol air minumnya lagi, apa dia mau mengejekku? Dengan membandingkan diriku yang cantik paripurna ini dengan wanita semacam itu!” Calista kesel, ia selalu mengatakan Nauval suaminya, saking fansnya. Tetapi selalu saja di abaikan oleh pemuda pujaannya itu.


Nauval pemuda paling tampan di sekolah ini, ia sekarang kelas tingkatan terakhir. Ia pintar, cool, dipuja-puja banyak wanita dan sebagian kaum pria. Nama keluarganya tidak di publikasikan, tetapi semua murid yakin dia dari keluarga kaya raya dan hebat, bisa dilihat dari kendaraan yang ia pakai hingga Kepala Sekolah yang sangat segan padanya, bahkan jika ada yang membuat masalah dengannya, besok murid itu sudah dipindahkan dari sekolah.

__ADS_1


Ia memiliki rambut hitam legam berkilau, matanya bersinar bagaikan bintang di langit malam, hidungnya yang mancung dengan bibir merah seperti jambu, kulit putih berseri seperti bengkoang, dengan pipi yang terlihat kemerahan saat ia tersenyum.


Giginya putih bersih, rapi tersusun seperti kalung mutiara, sungguh indah. Tapi, senyuman itu bisa berubah suram dan menakutkan saat ia sedang marah, mata yang bersinar seperti bintang di langit malam akan menggelap.


__ADS_2