
Pria asing itu, masih menatap ku. Dan Aku, tentu saja sedang mendongkol di dalam hati, karena Ia telah berpikir Aku bodoh kan?
“Hm... Itu tadi sholat sunah masuk ke dalam kamar pengantin.” Tiba-tiba Ia langsung menjelaskan kepada ku dengan lembut.
“Wah, ada ya kayak gitu?” Aku membatin.
“Ini pertama kalinya Aku masuk ke kamar Istriku, jadi alangkah baiknya sholat sunah dulu. Semoga hubungan kita di Redhai dan diberikan Rahmat oleh Allah.” ucap nya lagi.
“Kita tidur yuk.” ajak nya kemudian kepadaku.
Ia satu persatu membuka kancing baju kemeja nya di hadapanku, sambil duduk di tepi ranjang. Tanpa sadar, mata ku berkedip beberapa kali saking terkejutnya.
“Dia mengajak ku tidur? Jadi, dia mengajak ku melayani nya sekarang? Dia sungguh tidak sabaran. Di luar begitu banyak orang, aku pun juga masih letih.” Aku berkata di dalam hati ku.
Setelah semua kancing baju nya terlepas, Ia meletakkan baju itu diatas kursi riasku, lalu mendekat ke arah ku.
Deg! Jantung ku berdetak cepat.
Ia semakin dekat. Dan jantungku juga semakin cepat memompa, rasanya sekarang jantung ku meronta ingin keluar dari tubuhku.
Deg! Deg! Deg!
Dekat semakin dekat, beberapa senti lagi mengenai tubuh ku. Namun, ia melewati ku.
“What? Apa yang terjadi?” Aku terkejut dengan apa yang di lakukannya.
“Aaaaahhhh! Malu nya Aku.” ucap ku di dalam hati.
Pipi ku rasa nya ingin terbakar sekarang, karena hawa panas yang menerjang perasaan ku. Dan sekarang, tubuh ku melemah karena saking terkejutnya. Uffttt! Aku menghembuskan nafasku, kemudian langsung merebahkan tubuhku menyamping tanpa melihat Dia.
“Semoga saja, tadi... Dia benar-benar tidak melihat ke arah ku. Aaaaahhh! Aku malu sekali rasanya atas pikiran mesum ku.” Aku merutuki diri ku sendiri.
Ya, pria asing itu hanya melewati tubuhku. Dan mengambil bantal tepat di belakang ku. Kemudian langsung membaringkan tubuhnya disebelah ku, dengan tidur menelentang. Menaikan kedua tangannya ke atas kepalanya, menunjukkan otot-otot tangan di kedua tangan nya.
Aaaaaaah! Aku bahkan sempat memejamkan mata ku tadi. Aku mengira dia akan mencium ku, lalu mengajak ku bercinta. Hahahaha.
__ADS_1
Rupanya, dunia fantasi alam pikiran ku tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya di dunia nyata ku.
“Tapi syukur deh, aku memang capek. Dan malu juga kan, begitu banyak orang di luar. Besok juga masih ada acara, bagaimana caranya mandi? Apakah masih pantang mandi, gitu? Entahlah....”
“Selamat malam, malam pertama ku. Hahahaha.” Aku berkata di dalam hati sambil menutup mulutku, agar suara ku tidak keluar.
Tidak lama, aku masih berkutat dengan pikiranku. Tiba-tiba ada suara aneh dibelakang ku.
Krek! kruk! kretak!
“Hah? Suara apa itu?” pikirku.
Aku menoleh kebelakang dan menemukan pria asing itu tengah memejamkan matanya, sepertinya dia sudah tertidur lelap dengan sangat nyenyak.
Tunggu!
Suara itu bersumber dari bibirnya. Ya, tepat sekali. Dia tidur menggertakkan gigi.
“Pufft!!!” Aku membekap mulut ku sendiri, agar tidak tertawa kuat.
Dia seperti sedang makan bongkahan es, nyaring sekali bunyinya. Hahahaha.
Wow! Aku langsung terlonjak kaget dengan hebat. Ya, dia baru saja selesai mandi dan masih melilitkan handuk di pinggang nya, otot perutnya seksi sekali. Mata ku ternodai dengan sosok mahkluk ciptaan Allah di depan ku.
Serasa masih mimpi.
“Dek...” panggilnya.
“Ya.” jawab ku dengan suara serak.
“Ayo mandi, kita sholat jamaah ya.” ucap nya.
“Eh, bukan nya di larang mandi ya?” tanya ku.
Dia cuma tersenyum kecil menanggapi ku.
__ADS_1
“Masih subuh juga, jam segini pun hujan tak apa kan? Jadi lebih baik mandi sekarang. Emangnya, Adek nyaman gak mandi-mandi beberapa hari?” tanya nya lagi.
You Right!
Tentu saja pria asing itu benar. Bagaimana rasanya gak mandi? Kemarin sore, Aku hanya boleh cuci-cuci gitu aja.
“Agak cepat ya Dek, mandinya. Soalnya, subuh hampir habis.” lalu Dia tersenyum hangat.
Aku mandi secepat kilat. Aku memang mandi cepat sih, gak kayak teman-teman ku yang mandi nya lama, padahal gak putih-putih. Entah apa yang di gosok sampe begitu lama.
Aku keluar kamar mandi dengan handuk di dada. Agak malu dan canggung sih, tapi aku usahakan terlihat santai.
“Sudah wudhu kan, Dek?” tanya nya. Aku pun menjawab dengan anggukan kepala.
“Baiklah, pasanglah baju dulu. Uda wudhu dulu,” kata nya, lalu pergi ke kamar mandi.
Aku pun bergegas memakai baju kaos dan celana pendek ku. Kemudian Ia keluar dengan wajah dan rambut sedikit basah karena selesai wudhu.
Aku sudah menggelar sajadah untuknya dan untukku. Kemudian kami pun sholat berjamaah. Entah angin dari mana yang datang menghembus ku. Rasanya, seluruh tubuhku mendadak ringan, mendadak sejuk sekali. Perasaan yang sangat aneh dan melegakan yang Aku rasakan.
Tak terasa, air mata ku menetes tanpa ku minta saat sholat. Padahal aku sudah mencoba khusu'. Aku tidak memikirkan apa-apa, tapi hati ku berubah menjadi wanita cengeng.
Untuk pertama kali nya aku sholat berjamaah di dalam kamar. Aku dan keluarga ku bukan lah orang yang taat beragama. Bisa dibilang, kami lebih sering sholat sendiri-sendiri dan lebih sering bolong.
Di rumah ku ini, yang paling sering sholat, gak pernah bolong, dan sering ke mesjid, cuma Ibu dan Nenek. Ayahku, kalau ke mesjid cuma sholat Jumat, lebaran, dan bulan puasa. Adik laki-laki ku pun juga begitu.
“Tiba-tiba pria asing ini menyentuh hati ku. Apakah dia benar-benar seperti ini? Atau hanya pria pamer yang pura-pura baik dan alim di depan ku?”
Setelah sholat, Ia langsung memimpin do'a dengan setengah berbisik namun masih jelas ku dengar. “Sebenarnya, suami seperti apa yang menikahi ku ini? Bacaan do'a nya yang panjang seperti doa ustadz. Aku jika berdoa hanya membaca doa untuk ibu bapak.” batin ku.
Ya, doa yang ku baca selalu pendek. Dan itu hafalan yang ku hafal saat aku kecil. Setelah dewasa, aku tidak belajar apa-apa lagi. Malahan yang aku hafal hanya lirik lagu, lagu dan lagu.
Aku tertunduk malu, Aku merasa rendah di depan pria asing ini.
“Aamiin.” ucap nya di akhir do'a yang ia lafaz kan.
__ADS_1
“Aamiin.” Aku mengusap wajah ku dengan kedua tangan ku. Bergetar semua tubuh ku rasanya, yang paling bergetar adalah jantung dan hati ku.
Ia memutar duduknya, kemudian menjulurkan tangannya ke arah ku. Aku menatap tangan itu beberapa detik, kemudian aku teringat, dengan cepat aku menyalami tangan itu dan mencium punggung tangan nya.