(Sedang Revisi)Rosalinda

(Sedang Revisi)Rosalinda
Salah 1


__ADS_3

Malam hari, di Kerajaan Palala.


Suasana istana tampak sepi dan sunyi, penjaga yang berjaga digerbang istana itu tampak menuangkan kopi ke dalam gelasnya untuk bergadang, beberapa maid telah mulai mematikan lampu dibeberapa tempat, semua jendela dan pintu dikunci rapat, kemudian barulah para maid kembali ke tempat peristirahataannya masing-masing.


Di dalam kamar yang mewah bernuansa merah muda, tirai jendelanya telah ditutup oleh maid dan kini berganti dengan lampu bercahaya remang. Seorang gadis cantik duduk dari tidurnya, kemudian turun dari ranjangnya yang empuk berukuran king itu dengan berjinjit, agar tak ketahuan oleh Maid atau pengawal yang berada di luar kamarnya.


Perlahan ia masukkan peralatan yang dibutuhkan ke dalam tas. Ia tutupi bantal dan guling dengan selimut, membuatnya seolah sepertinya dirinya yang tertidur.


Ia memanjat jendela kamarnya, kemudian menutupnya kembali. Perlahan masuk ke dalam kamar bernuansa biru putih. Tampak seorang pemuda tampan sedang berbicara pada gantungan giok yang ia gantung di atas mahkotanya.


“Kak, ayo, kamu sudah siapkan?! Ayo, kita pergi dari sini! Aku sangat bosan, terkurung dan diatur tentang ini dan itu! Ayo, kita harus pergi sekarang, sebelum ketahuan!” Gadis cantik itu mengajak Kakak laki-lakinya pergi.


Ya, kamar ini adalah kamar kakak laki-lakinya.


“Ayo!” jawab Kakak laki-lakinya itu sembari menyandang tas ransel dibelakang punggungnya.


Mereka adalah pangeran dan putri kerajaan Palala, karena bosan dengan kehidupan yang monoton serta larangan ini dan itu, membuat dua beradik kakak itu kabur melarikan diri dari kerajaan.


Putri itu bernama Cherly Lycene, sedangkan kakak laki-lakinya bernama pangeran Jefry Lycano.


Entah kemana arah dan tujuan mereka, tetapi mereka terus berlari dengan membawa barang bawaan yang dipikulnya dipunggung. Ini pertama kalinya mereka membawa barang berat yang cukup jauh, biasanya akan dibawa oleh pelayan. “Huh! Hah! Huh! Hah! Sebentar, aku lelah!”


“Ayo, cepat!”


Mereka kembali berlari, hingga menemukan jalan raya dan angkutan umum yang lewat dan untuk pertama kalinya dua beradik kakak itu menaiki angkutan umum.


“Kalian mau kemana? Ini adalah angkutan umum terakhir, jika kalian beda arah denganku, sebaiknya kalian pulang saja!” ucap pengemudi itu mengingatkan, sepertinya dia sudah lelah dan mengantuk, hingga ucapannya terdengar ketus.

__ADS_1


“Tolong antarkan kami ke sekolah Star School Internasional!” seru Cherly menyebutkan alamat tujuannya. Ya, ia baru beberapa hari ini mendengar tentang nama sekolah terbaik di kelas dunia.


“Kalian masih pelajar? Kenapa keluyuran malam-malam begini?! Aku hanya bisa menghantar kalian disimpang jalan, kalian harus berjalan ke gerbangnya, angkutan umum dilarang ke sana.” jelas pengemudi itu.


“Iya, terimakasih, Pak! Itu sudah cukup.” jawab Cherly, sedangkan Jefry hanya diam saja menatap tajam pengemudi.


Tak lama, sampailah mereka di simpang jalan sekolah. “Bagaimana lagi ini, Dik?” tanya Jefry.


“Ayo, kita cari dulu penginapan!” jawab Cherly.


Mereka berjalan kesana kemari, akhirnya menemukan penginapan yang terlihat seram dan kusam, jaraknya cukup jauh dari bangunan yang lain. Tertera di sana kemana mereka harus menghubungi jika ingin menyewa.


Tak jauh, sekitar 30 meter dari rumah seram itu ada sebuah kedai kecil. Pemilik kedai kecil itu adalah pengelolanya. Lalu, mereka melakukan pembayaran untuk menyewa rumah.


“Dik, apa kau yakin ini sebuah rumah?” tanya Jefry, ia melihat bentuk rumah dan sekitarnya. Benar-benar buruk, lusuh dan suram, berbeda dengan istana kerajaan Palala yang biasanya mereka tempati.


“Ini paling murah!”


Keesokan harinya mereka mendaftar dan menjadi murid baru di sekolah kelas terbaik di dunia itu yang bernama Start School Internasional.


Hari-hari terus berlalu, mereka pergi ke sekolah, pulang kerumah sewa yang suasananya seram itu.


“Dik, malam ini Kakak keluar ya, mungkin akan pulang agak larut. Jaga diri!”


“Ok!”


Malam harinya.

__ADS_1


Cherly bersiap hendak tidur setelah membersihkan diri. Baru saja ia hendak menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia mendengar suara ketukan dijendela kamarnya.


“Kak? Itu kau? Apa kau sudah pulang?” tanya Cherly. “kenapa kau mengetuk jendela? Kita tidak lagi tinggal di kerajaan, tidak harus bertemu diam-diam saat malam lagi!”


Suara ketukan terus terdengar. “Kak? Itu kau?” teriak Cherly, ia mulai khawatir.


Dirumah sewa ini, hanya dia dan Jefry yang tinggal. Semenjak kabur, Jefry tak pernah lagi lewat jendela saat ingin bermain bersamanya. Ya, peraturan dikerajaan Palala dilarang anak laki-laki dan perempuan bermain bersama, tidak boleh makan bersama dan lainnya sampai sang perempuan menikah. Membuat dua kakak beradik itu memutuskan bertemu diam-diam.


“Kak?” Perlahan Cherly berjalan mendekati jendela, memutuskan untuk membuka jendela itu.


“Aaaaa!” Cherly terpekik. Saat membuka jendela yang terlihat adalah tangan penuh darah. Seketika Cherly merasa takut, rumah sewa seram yang ia tinggali ini benar-benar berhantu.


Ia segera menutup kembali jendela itu, hingga tangan berdarah yang ia kira tangan hantu itu terjepit. Namun, terdengar suara erangan kesakitan setelahnya, “Auuwch!”


Akhirnya, Cherly kembali membuka jendela itu, terlihat seorang pria dengan wajah penuh darah dan lumpur, sungguh terlihat sangat menyedihkan. Pria itu terus berusaha naik ke atas dan terjatuh ke dalam kamar Cherly.


Cherly hanya menatap saja, terbengong sesaat, kemudian baru menyadari jika pria itu penuh dengan luka parah. Ia memapah pria itu ke ranjangnya, membersihkan wajah dan tangan yang penuh darah, lalu mengobati dan membalutnya dengan perban.


Pria itu terkulai lemas dan memejamkan matanya. Cherly menatap dan mengamati wajah tampan dan rupawan pria itu, bulu mata yang lentik, alis mata yang tebal beraturan, rambut hitam lebat, hidung mancung.


Bibir merah muda, lembut dan terlihat seperti permen kapas, manis, pipinya halus dan lembut, kulit putih bersih, namun terlihat kekar dan perkasa. Ia terpukau, rahang pria itu begitu tegas, menunjukkan wajah yang sangat jantan dan macho. Cherly tak pernah melihat pria tampan dan memesona seperti ini sebelumnya, selama ini hanya Kakak laki-lakinya lah yang paling tampan dan keren.


Hingga tanpa sengaja, tangannya meraba pipi dan bibir pria tampan itu sampai ia tertidur sendiri dengan posisi tangan masih diwajahnya pria tampan itu, sedangkan tubuhnya duduk di sisi ranjang.


Keesokan paginya,


Cherly terbangun, ia menemukan dirinya sudah diatasi ranjang. “Bukankah aku semalam bertemu dengan pria tampan, kapan aku naik ke atas ranjang, lalu mana pria itu?” gumam Cherly saat ia melihat tak ada pria tampan itu, dia sudah menghilang.

__ADS_1


“Apakah semalam aku hanya bermimpi? Tidak ada yang terjadi, ya? Aaahh!” Cherly mengelak nafasnya kasar.


“Andai saja, aku memang bertemu pria tampan itu...” lirih Cherly, ia merasa kecewa.


__ADS_2